Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
96 - Pencarian Aleta


__ADS_3

Bunda Azra dan Rebecca melihat Erick sebelum beralih melihat Damar. Keduanya pun memiliki penilaian tersendiri mengenai Erick yang mengenal Damar.


Erick menghampiri Damar guna memeriksa keadaan bosnya setelah kejadian pengeboman beberapa minggu yang lalu. "Bos, apa kau baik-baik saja?" tanyanya sembari menilik seluruh tubuh Damar.


"Kalian berdua saling mengenal?" tanya bunda Azra memotong pembicaraan Erick.


"Dia, Bosku." Erick segera menjawabnya.


"Ah begitu rupanya. Pantas saja kehadiran kalian membuat kericuhan di desa ini!" balas bunda Azra memicing ke arah Damar.


Damar membalas tatapan itu seraya berkacak pinggang. Meski tidak menggubris perkataan bunda Azra yang seakan menyudutkan dirinya pada permasalahan pagi tadi.


"Maaf, apa maksud Anda berbicara seperti itu pada Bosku?" Erick bertanya sebab tak suka mendengarnya.


"Memang benarkan!" sahutnya cepat, "karena kalian, sebagian warga di desa ini terluka dan bahkan sampai harus ada yang kehilangan nyawanya." Meyakinkan ucapannya yang sesuai dengan fakta.


"Sebentar," sanggah Erick tak terima.


Sebelum melanjutkan ucapan ternyata Damar sudah lebih dulu menghentikannya dengan cara menghadang langkah Erick menggunakan tangan dan memberikan isyarat agar Erick diam.


'Tapi, Bos!' gumam Erick mengeluh yang akhirnya menuruti perintah Damar.


"Maaf memotong pembicaraan kalian. Tapi, saya pikir ini bukan waktu yang tepat untuk saling berdebat." Rebecca membuka suara guna menyudahi suasana yang tak mengenakan dari ruangan itu.


Rebecca pun menghampiri bunda Azra dan mengeluarkan secarik kertas dari saku jas putih kemudian, menyerahkan kertas itu kepada bunda Azra, selaku kepala desa di daerah tersebut.


Begitu menerimanya, lantas bunda Azra segera membaca isi kertas itu dan sangat terkejut setelah mengetahui isi tulisannya. "Siapa yang menulis ini?" tanya bunda Azra.

__ADS_1


"Surat itu ditulis oleh gadis kecil yang terluka pagi tadi. Dia memintaku untuk memberikan kertas ini pada anda," jawab Rebecca.


Merasa penasaran dengan isi kertas itu, Damar pun merampas kertasnya dari tangan bunda Azra dan ikut membacanya. Ia sama-sama ikut terkejut setelah membacanya.


Bagaimana tidak? gadis kecil menuliskan secara jelas bahwa ia melihat seorang wanita yang ingin di bunuh oleh pria pembawa ranting dan wanita itu kemudian diculik pria-pria bertubuh tegap. Namun, sialnya gadis itu tertangkap basah oleh pria bersenjata.


Gadis kecil itu sempat meneriakinya dengan menyebut pria itu, penjahat. Karena takut diketahui oleh warga di sana, pria itu dengan teganya memukul berkali-kali kepala gadis itu dengan senjata yang ia pegang, hingga membuat gadis kecil itu tak sadarkan diri.


Tanpa menyebut nama wanita yang diculik saja, Damar bisa dengan cepat mengetahui bahwa wanita yang dimaksud adalah Aleta. Ia pun menghampiri layar monitor yang ada di meja kerja bunda Azra.


Memutar ulang cctv itu dan meyakinkan tulisan di kertas itu memanglah benar adanya. Melihat Aleta dibawa oleh dua orang pria, membuat Damar geram dan marah.


Tangannya terkepal kuat serta sorot matanya terlihat mengerikan. 'Berani-benarninya kalian membawa wanitaku!' ucapnya dalam hati.


Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu, Damar memerintahkan Erick untuk ikut dengannya. Namun, langkahnya sempat dihentikan bunda Azra.


Damar menghempaskan kasar genggaman tangan bunda Azra pada lengannya sambil menatap tajam. "Aku tidak akan diam saja di sini dan aku bukanlah orang yang selalu ingin bersembunyi sepertimu!" sindir Damar pada bunda Azra.


Mendengar ucapan itu bunda Azra justru terdiam dan tak berani membalas. Sindiran Damar untuknya membuat batinnya telak, sebab ucapan itu memang kenyataan yang masih ia lakukan sampai saat detik itu.


Bunda Azra menatap punggung Damar hingga menghilangkan dari penglihatannya. Damar berhasil menusuk hati bunda Azra dengan kalimatnya. Seharusnya ia tak terus-menerus bersembunyi dengan mengatasnamakan ingin melindungi Aleta.


...***...


Aleta bersembunyi dibalik kumpulan kayu-kayu besar dan mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Rupanya ia belum juga terbebas dari pengejaran anak buah ayahnya.


"Kemana larinya dia?" tanya salah satu anak buah. Berhenti sejenak di depan jalan yang sempit, dekat dengan persembunyian Aleta.

__ADS_1


"Cepat cari dia!" Perintah Alona memberitahukan mereka untuk menyebar agar segera menemukan Aleta.


Mendengar suara jejak langkah beberapa orang membuat Aleta bergidik ngeri karena takut tertangkap oleh mereka. Ia menahan sejenak napasnya yang belum stabil agar tak terdengar oleh orang-orang tersebut serta menutup kedua matanya rapat-rapat.


Tak lama ia buka perlahan kedua mata dan mendengar jejak langkah yang tidak lagi terdengar suaranya. Merasa aman, ia pun berjalan keluar dari tempat persembunyiannya dan mengedarkan pandangan ke segala arah guna memastikan bahwa dirinya bisa kabur dengan melalui jalan yang berbeda.


Sialnya, salah seorang pria bertubuh tinggi tegap menemukan Aleta dan pria itu mengikuti jejaknya, hingga tanpa disadari ternyata pria itu tengah menggenggam sebuah sapu tangan yang kini siap membungkam mulut serta hidung Aleta.


Aleta sempat berontak namun, tenaganya tak cukup kuat hingga akhirnya ia melemah akibat menghirup aroma bius dari sapu tangan itu. Kini ia tak sadarkan diri dan menjatuhkan tubuhnya di pundak pria itu.


"Dia sudah aman di tanganku," ucap pria itu pada sambungan ponsel yang terhubung dengan seseorang. Setelah mendapatkan sautan, pria itu lantas mengangguk patuh dan membawa Aleta masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


Mobil itu berjalan melewati para anak buah yang masih sibuk mencari Aleta. Pria di dalam mobil tersenyum miring melihat raut wajah mereka yang tampak gelisah akibat tidak bisa menemukan Aleta, sebab wanita yang mereka cari sudah berada di dalam mobil bersama pria yang sedang asyik bersiul senang.


"Kemana perginya wanita itu?" tanya Alona pada teman-teman seprofesinya.


"Kami sudah mencari kemanapun, tapi tidak menemukan keberadaan nona Aleta." Mereka yang baru saja datang dari arah yang berbeda segera melaporkannya pada Alona.


"Tn. Emir pasti marah, jika kita tidak membawa nona Aleta pulang," sahut salah seorang anak buah dengan memasang raut wajah ketakutan.


"Benar!" seru yang lainnya.


Hal serupa juga turut dirasakan Alona, saat itu ia juga tengah dilanda gelisah dan ketakutan karena ponselnya berdering menampakkan nama Emir yang tertera di layar ponsel itu.


Sontak semua anak buah melihat ke arahnya dan memandang penuh harap, jika Alona bisa memberi jawaban sebaik mungkin agar tidak terkena omelan dari Emir, bos mereka.


"Halo, bos." Alona menjawab dering ponsel itu dengan ragu serta suara yang gemetar sambil memandang semua teman-temannya.

__ADS_1


...♥️♥️♥️...


__ADS_2