Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
32 - Twenty Four Seven I'm Thinking About You


__ADS_3

..."Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, melihatmu membuat isi kepalaku penuh tentangmu. Aku mencoba untuk berhenti tetapi aku tidak mau, karena selama dua puluh empat jam per tujuh hari aku selalu memikirkan mu,"...


..._________...


"Berhenti melakukan lelucon sampah seperti itu." Gertak Aleta sebelum melangkah pergi.


Namun dengan cepat Damar menarik tangan Aleta, sebelum wanita itu menginjak serpihan gelas kaca yang sempat terjatuh dari genggaman, ketika Aleta terkejut melihat seseorang yang tak ia ketahui tenggelam di dalam kolam saat itu, yang ternyata sosok itu adalah Damar.


Damar membawa Aleta mendekap dalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya seraya mengusap lembut pundak Aleta.


Aleta yang masih tampak terkejut dengan perlakuan Damar hanya bisa terdiam. Ia sedikit meragukan sikap hangat dan lembutnya itu, kendati Aleta memang membutuhkan pelukan seseorang untuk membagikan sedikit keluh kesahnya.


"Siapa yang meminta bantuan mu? kenapa kau menyakiti diri demi aku?" tanya Damar.


Aleta mendongak bermaksud merespon pertanyaan Damar, Namun dihentikan Damar—pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Jaga dirimu dahulu sebelum kau menyelamatkanku." Sambung Damar memberi pesan.


Bulir air mata tiba-tiba mengalir begitu saja, perkataan Damar dan pelukan itu mampu merobohkan benteng pertahanan air matanya untuk menangis. Damar mengerti, jika Aleta membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi tempat bersandarnya.


Ini kali pertamanya Aleta menangis di pelukan Damar. Meski tak mendengar Isak tangisnya, Damar dapat mengetahui kalau Aleta tengah menangis.


Tangannya menepuk lembut punggung Aleta. "Menangis lah jika itu membuatmu lebih baik." Tuturnya.


Tanpa menanyakan lebih lanjut alasan di balik tangisnya, Damar memilih diam untuk sekedar menjadi sandaran kesedihannya. Ia juga tak ingin mencampurinya—memberi ruang privasi untuknya.


...***...


Pagi itu Aleta membuka jendela kamar, menyapa hawa sejuk dari atas balkon yang berhembus menyergap masuk. Untuk sesaat ia menikmati kesejukan itu


dengan memejamkan mata.


Dari atas sana sinar mentari dengan warna kekuningan tengah menerangi seluruh alam semesta


dengan kehangatannya. Sinarnya membawa kehidupan baru dan membangkitkan semangat serta menerbitkan harapan baru.

__ADS_1


Matanya terbuka setelah cukup puas merasakan hangatnya sang surya. Ia berdiri bersandar pada balkon kaca sambil mengedarkan pandangan—melihat sekeliling di bawahnya.


Netra mata coklatnya berhenti memerhatikan sosok pria yang terlihat asyik membaca buku. Tanpa sadar tangan kirinya menangkup wajahnya sendiri, sambil terfokus menatap Damar yang terlihat jauh lebih tampan daripada sebelumnya.


Senyum simpulnya tercetak jelas di wajah manisnya, ketika ia membayangkan kembali pelukan hangat dari tubuh atletis Damar. Seperti berbeda orang, Damar yang dilihatnya saat ini bukanlah pria kejam dan arogan seperti dulu.


Masih di ambang-ambang khayalannya, Aleta tak menyadari jika Damar ikut menatap dirinya dengan tatapan teduh. Saat Erick datang menghampiri Damar, Aleta tak jua berhenti menatap Damar, meski netra mata Damar kini beralih ke arah Erick.


Erick menoleh ke atas balkon, menelisik kemudian menyadarkan Aleta untuk berhenti sambil memberikan kode silang pada kedua tangannya, isyarat jika Aleta dilarang untuk jatuh cinta pada Bosnya itu—tertera pada surat perjanjian yang sudah ia sepakati.


Aleta pun tersadar hingga membuatnya salah tingkah, kini pipinya bersemu merah bak tomat matang. Ia bergegas masuk ke dalam, merasakan degup jantung yang berdetak kencang di balik pintu kaca.


"Ada apa dengan ku? kenapa jantungku berdebar?" batinnya seraya memegangi dadanya, merasakan sendiri bagaimana respon jantungnya saat ini.


...***...


Damar memerintahkan Erick untuk mengosongkan waktu kerjanya hari ini, sebab ia berniat pergi ke sesuatu tempat yang tak ingin di ketahui oleh Erick.


"Kosongkan tugasku hari ini, aku ingin pergi!" perintah Damar.


"Kau tetap pantau perusahaan," perintahnya lagi.


Erick mengerinyit bingung kemudian menanyakan kemana Bos nya itu akan pergi, Namun Damar tak menjelaskannya secara pasti hanya mengatakan akan pergi ke suatu daerah dengan pemandangan yang cukup sejuk untuknya menyegarkan pikiran.


"Saya akan mengantar anda, Bos!" tawar Erick sedikit memaksa, ia khawatir jika Bos nya itu berkendara sendirian.


"Tidak perlu!" tolaknya, "aku akan pergi bersama Aleta." Ucapnya sambil menyebutkan nama wanita itu untuk pertama kalinya dengan cukup lembut.


Erick mematung karena keterkejutannya. Ia menganga saat Damar menyebutkan nama Aleta yang akhirnya berhasil keluar dari mulutnya, setelah cukup lama menyebut Aleta sebagai wanita bodoh, burung beo dan panggilan-panggilan buruk lainnya.


Entah sejak kapan Aleta berhasil membuat Damar berubah menjadi pribadi hangat, meski tak sepenuhnya berubah. Namun Erick meyakini jika Damar mulai membuka hati untuk istri kontraknya itu.


Tapi disisi lain, Erick tak ingin Damar berada dekat bersama Aleta, sebab sepengetahuannya Aleta menyimpan sebuah rencana bersama Ayahnya untuk menjatuhkan Damar. Ia khawatir Damar masuk kedalam perangkap Aleta.


"Baiklah. Tapi pesan saya, anda harus tetap berhati-hati dengannya. Karena bagaimanapun dia tetaplah anak dari Tn. Emir." Ungkap Erick mengultimatum agar Damar sadar untuk tidak mudah terbujuk rayuan Aleta.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mudah termakan segala ucapannya. Rasa benciku terhadap keluarganya masih tetaplah sama." Balas Damar bersiteguh.


.


.


.


.


Kini Damar dan Aleta tengah menuju ke suatu tempat. Keduanya masih berdiam tak membuka percakapan apapun. Damar memutar lagu dari dalam mobilnya, untuk sekedar memecahkan keheningan yang terjadi antara dirinya dan wanita yang tengah duduk manis disampingnya sambil terfokus menatap jalanan ibu kota.


Lagu Celina Sharma dan Harris J dengan judul cause twenty four seven, i'm thinking about you terputar di audio mobilnya. Keduanya menoleh ke arah layar tape mobil setelah mendengar setiap lirik lagu yang seakan menggambarkan pikiran mereka saat ini.


Spontan Aleta dan Damar sama-sama saling bertatap wajah selama 5 detik, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan, akibat rasa malu yang dirasakan keduanya.


Hanya karena saling pandang, lantas membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat dan lidah seakan kelu mengekspresikan otak yang buntu, karena perasaan aneh yang mulai berkecamuk di dalam hati keduanya.


"Pipimu memerah dan bola matamu bergerak ke kanan dan ke kiri lalu kau tersenyum canggung dan menghindari tatapan ku, apa kau malu?" tanya Damar memecahkan rasa malu yang juga di rasakan olehnya.


"Tidak, Bukankah kau juga begitu? Aleta melemparkan pertanyaan yang sama.


"Ya, memang benar aku memandang mu dan aku tidak ingin menutupinya." Balas Damar jujur yang kemudian menatap kembali Aleta.


"Berhenti melihat ku seperti itu!" tegurnya.


"Kenapa?" tanya Damar mengangkat alisnya.


"Aku risih." Jawab Aleta cepat.


"Bukankah seharusnya kau menyukai tatapan seperti itu? apa kau ingin aku menatap tajam?" tanya Damar memberikan pilihan.


"Lebih baik kau menatap jalan dan fokus menyetir daripada banyak bicara." Komentar Aleta yang tak menjawab kedua pertanyaan Damar.


Damar terkekeh melihat sikap Aleta yang tampak grogi. Ia merasa berhasil membuat Aleta salah tingkah. Sementara Aleta sendiri tengah merutuki dirinya yang tampak bodoh di depan Damar.

__ADS_1


...💕💕💕...


__ADS_2