
..."Dunia penuh dengan ketidakadilan. Saat kau mencari target untuk di benci, kau membencinya meski tidak tahu bahwa dia tidak layak di benci."...
...___________________...
Damar memerintahkan Erick untuk mengikuti petugas kepolisian, untuk memberikan keterangan terkait masalah yang baru saja terjadi. Ia pun berpamitan kepada Damar dan Aleta saat hendak pergi.
Sementara Damar membawa Aleta keluar dari gedung. Dirangkulnya pundak Aleta untuk menuntunnya berjalan, namun tumpuan kedua kaki Aleta terasa lemas tak berdaya. Damar pun segera berinisiatif untuk membopong tubuh Aleta, ia berjongkok menghadapkan punggungnya di depan Aleta.
"Naiklah! kau tidak cukup kuat untuk berjalan," pintanya.
Aleta tak lagi punya pilihan lain selain memang membutuhkan seseorang untuk membantunya berjalan. Aleta melingkarkan kedua tangannya di leher Damar dan menaiki punggung kekarnya.
Damar pun melangkah setelah Aleta berada di atas punggungnya, mereka meninggalkan tempat yang cukup menyeramkan itu.
Dalam pekatnya sunyi, mereka berjalan di bawah sinar rembulan. Terangnya bulan menjadi penerang bagi keduanya dan desiran dingin angin malam ikut berhembus hingga terasa menusuk di tulang.
Aleta menguatkan rangkulannya dan menyembunyikan wajahnya di pundak Damar dari terpaan angin. Damar melirik sekilas dari ujung ekor matanya, ia pun mempercepat langkahnya menyadari jika Aleta tak menyukai suasana hawa di hutan itu.
Terdengar gemericik air sungai ketika mereka sampai di jembatan kayu, derasnya air yang mengalir dan cuitan-cuitan penghuni alam berbaur menjadi satu sehingga terdengar seperti nada relaksasi yang menenangkan.
"Aku boleh bertanya sesuatu!" ujar Aleta.
Melirik. "Apa?" tanya Damar singkat.
"Kenapa kau mau menolongku?" tanya Aleta penasaran.
"Memangnya menolong orang itu harus memiliki alasan?" Damar balik bertanya.
"Kau kan lebih suka aku tersiksa," ungkap Aleta terus terang.
Damar terdiam cukup lama untuk berpikir, ia sendiri pun bingung kenapa begitu paniknya saat melihat Aleta dalam keadaan bahaya, bahkan tak peduli dengan dirinya sendiri. Saat itu pikirannya hanya tertuju pada Aleta, ia tak mau kehilangan wanita itu, berusaha untuk menyelamatkannya dari Andreas yang ingin membunuhnya.
"Kenapa tidak menjawab!" tegur Aleta.
"Sudah tidak perlu bicara lagi! kau cukup berat," kilah Damar mengalihkan ucapan Aleta.
Aleta sedikit mendengus. "Kau sendiri yang menawarkan punggungmu untukku," balasnya.
__ADS_1
"Sudah diam saja." Perintahnya ringkas.
Aleta menghela napas pasrah mendengar perintah Damar yang selalu terlontar dari mulutnya dan lagi-lagi Aleta mengangguk patuh.
"Aku sendiri juga tidak tahu, mengapa aku seperti ini! aku membencimu namun rasa aneh ini menghilangkan kebencian yang telah ku tanamkan padamu." Batin Damar.
Damar terus saja menyangkal perasaan sukanya pada Aleta, ia tak pernah mau mengucapkan kata suka ataupun cinta pada dirinya sendiri, bersikeras untuk tidak mempercayai perasaan itu pada Aleta yang menjadi sasaran kebenciannya.
.
.
.
.
Damar membukakan pintu mobil untuk Aleta dan juga membantunya memasangkan seat belt, meski awalnya Aleta menolak menerima bantuan Damar karena tak ingin terus bergantung padanya.
"Aku bisa sendiri!" tolak Aleta saat Damar ingin menarik seat belt.
Damar tak menjawabnya, ia tetap memasangkan seat belt itu meski Aleta menolaknya. Damar menyalakan penghangat di dalam mobil agar Aleta nyaman, setelah itu Damar mulai melajukan kendaraannya dengan hati-hati, sebab jalan yang akan mereka lalui jalan berbatu.
"Terima kasih." Ucap Aleta singkat saat mobil sudah berada di jalur aman dan telah keluar dari area hutan.
"Apa?" tanya Damar yang memang tak begitu mendengar ucapan Aleta karena berkonsentrasi mengendarai mobil.
"Tidak, nanti saja aku bicara." jawab Aleta mengetahui momen ucapannya itu tidak pas di ucapkan pada saat Damar mengendarai mobilnya.
"Ya sudah." Balas Damar ringkas sambil melirik sekilas Aleta yang duduk di sampingnya.
...***...
Damar memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya, Ia melepaskan seat belt dan beralih pandangan ke arah Aleta yang dilihatnya sedang tertidur pulas di kursi mobilnya sambil menyandarkan kepala di samping jendela.
Damar melepaskan seat belt Aleta dengan hati-hati karena tak ingin membuatnya terbangun. Ia tak tega membangunkannya yang tampak begitu lelah. Tidak mudah bagi seorang wanita melewati masa sulit yang cukup membahayakan dirinya dan itulah yang membuat Damar paham keadaan Aleta saat ini.
Ia membuka pintu mobil dan berniat mengangkat tubuhnya menuju kamar, dengan sangat hati-hati Damar berhasil membopong Aleta. Berjalan melewati anak tangga bukanlah hal mudah, apalagi Damar harus ekstra kuat mengangkat beban tubuh Aleta.
__ADS_1
"Hufftt, semangat Damar anggap saja kau sedang latihan mengangkat beban di tempat gym." Monolognya saat menatap anak tangga yang akan dilaluinya.
Ia harus bersikap gentleman saat menaiki tangga, raut wajah kelelahannya ia sembunyikan agar tak kentara oleh Aleta yang ditakutinya bangun secara tiba-tiba.
Damar mempercepat langkahnya saat hampir tiba di kamar Aleta. Ia terburu-buru agar dapat meletakkan Aleta di atas ranjangnya, ketika ambang kekuatannya telah berada di puncak kelemahannya sambil mengeraskan rahang.
Damar meletakkan tubuh Aleta di atas ranjang begitu masuk ke dalam kamar. Ia pun bernapas lega setelah berhasil membawa Aleta ke atas ranjang.
Damar meregangkan otot tubuhnya sambil berkata, "Ahh, wanita bodoh ini cukup berat juga ya, berbeda dari sebelumnya. Ah pundak ku!" keluhnya sambil menatap Aleta yang masih tertidur.
Sebagian orang jika sedang tertidur memang menumpahkan seluruh tubuhnya, melemaskan semua otot-otot sehingga akan terasa lebih berat jika kita mengangkatnya dalam keadaan tidur atau tak sadarkan diri.
Damar membuka sepatu yang masih terpasang di kedua kakinya, setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Aleta. Netra matanya memandang lekat raut wajah Aleta sambil mengusap lembut rambut hingga menjalar menuju pipi dan bibir ranumnya.
"Selamat malam dan beristirahatlah! hari ini kau terlihat sangat lelah," ucap Damar setelah mengecup lembut kening Aleta dan hendak melangkah keluar kamar.
Namun Tiba-tiba saja Aleta terbangun dan menghentikan langkahnya dengan cara menarik jari kelingking Damar. Sontak Damar berbalik, melihat Aleta yang kini meneteskan air matanya yang membasahi di salah satu pipinya.
Damar kembali mendekat dan saat itu juga Aleta memeluk Damar untuk pertama kalinya dalam keadaan sadar. Pelukannya begitu erat sekali, Damar sendiri bisa merasakannya.
"Terima kasih, karena kau selalu ada untukku meski aku tahu kau sangat membenciku," ucap tulus dari mulut Aleta seketika membuat Damar terenyuh.
Ingin sekali rasanya ia menjawab bahwa ia akan selalu ada untuknya, tapi mulutnya terkunci rapat-rapat. Damar tak cukup yakin dengan perasaannya saat ini, sambil mengeraskan rahangnya diikuti kepalan tangannya berusaha menahan gejolak rasa pada Aleta.
Damar mempertajam netra matanya dari balik punggung Aleta, ia kembali menjadi pribadi yang membenci Aleta. Membuang rasa kepeduliannya dengan mengingat semua kejadian-kejadian terpuruk yang di alaminya saat kehilangan kedua orangtuanya.
Mengulang ikrar yang pernah ia sematkan dalam dirinya, bahwa ia akan membalas semua perbuatan Ayah Aleta beserta seluruh keluarga yang hanya menyisakan Aleta seorang dan itu artinya ia tidak boleh menyukai Aleta. Bagaimanapun Aleta adalah anak dari seorang pembunuh.
Pembunuh Ayah dan Ibunya serta pembunuh rasa kebahagian yang dulu sering ia dapatkan dari kedua orangtuanya, hingga akhirnya kebahagian itu di hancurkan begitu saja oleh perbuatan Emir.
Damar melepaskan kasar pelukan Aleta, hingga membuat Aleta terdorong. Terkejut dengan apa yang Damar lakukan, Aleta pun memahami sikapnya itu setelah melihat sorot mata Damar yang tak seteduh lalu.
"Maaf."
Gumam Aleta begitu melihat Damar keluar dari kamarnya dan membanting pintunya. Kata itu ia lontarkan sebagai perwakilan sang Ayah yang telah melakukan kesalahan pada keluarganya, terlepas itu benar atau tidak.
...💕💕💕...
__ADS_1
*Hai para pembaca setiaku, aku mau rekomendasi cerita lagi siapa tahu kalian penasaran dengan kisah ceritanya. Boleh silahkan mampir ya di karya author Ghea_In