Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
83 - Saling tuduh


__ADS_3

..."Terlalu percaya, hingga lupa bahwa manusia bisa berubah kapan saja hanya karena sebuah harta."...


..._________________...


Pagi itu Erick terbangun dari istirahat panjangnya, beruntung wajahnya tak sampai di perban hanya bagian lengan saja yang dibalut perban akibat luka serpihan kaca yang menyembur mengenai lengannya.


Saat suster memeriksa keadaannya, ia pun segera menanyakan Damar yang menjadi korban dalam ledakan tersebut namun, sang suster tak mendengar nama korban pasien yang disebutkan Erick.


"Maaf Sus, korban yang bernama Damar Emilio Kyler apa dirawat di Rumah Sakit ini?" tanya Erick pada sang suster.


Suster itu melihat data pasien yang menjadi korban ledakan dalam kertas yang menempel di clipboard. Ia memeriksa satu-persatu deretan nama yang disebutkan Erick.


"Sepertinya nama yang anda sebutkan tidak ada dalam data pasien yang menjadi korban." Terang Suster panjang lebar.


"Apa selain dari Rumah Sakit ini, ada Rumah Sakit lain yang ditempati para korban?" tanya Erick lagi semakin penasaran.


"Setahu saya, hanya Rumah Sakit ini yang menangani semua korban termasuk para korban yang tidak terselamatkan dari ledakan itu," jawab sang Suster meyakini Erick.


Meski ragu, Erick pun kembali menanyakan nama yang sama dari para jenazah. Ia berharap penuh jika Damar tak termasuk dalam deretan nama tersebut.


'Aku harap dia tidak ada dalam nama jenazah itu,' gumam Erick.


"Nama Damar Emilio Kyler juga tidak ada dalam data korban jenazah namun, saya mendengar kabar jika ada sepasang jenazah yang belum terindentifikasi sebab seluruh tubuhnya hancur tak dapat dikenali." Perjelasnya menceritakan berita kehebohan yang terjadi di ruang instalasi pemulasaraan jenazah pagi tadi.


"Bisakah saya melihat jenazah itu," pinta Erick segera.


"Boleh saja, jika kondisi anda sudah stabil," ujar Suster menelaah kondisi fisik Erick yang masih drop.


Tiba-tiba Erick menarik tangan suster itu untuk mendekatinya sambil berkata, "Aku sudah membaik, tolong bawa aku ke sana," pinta Erick memaksa seraya menatap lekat kedua mata suster itu.


Mendapati reaksi Erick yang membuatnya terkejut, suster itu justru terpana dengan wajah Erick, meski terdapat goresan luka namun, tak memudarkan aura ketampanannya.


"I--iya baiklah," ucap Suster terbata-bata.

__ADS_1


"Terima kasih," balas Erick menyunggingkan senyuman.


Sang suster membalas senyuman itu dengan kikuk sambil mengucapkan, "Bisa lepaskan tanganku," pintanya malu-malu.


Erick melepaskan tangan sang suster tanpa ada reaksi apapun, sementara sang suster justru tengah menahan degup jantung yang berdetak cepat serta rona merah di kedua pipinya yang bersembunyi dibalik masker penutup hidung dan mulut.


...***...


Perdebatan tengah terjadi di ruang kantor instalasi pemulasaraan jenazah. Ketua tim ahli forensik serta pihak kepolisian membicarakan masalah pencurian yang terjadi di ruang jenazah.


Polisi menuntut tim ahli forensik untuk segera menemukan barang milik jenazah pria yang telah hilang dicuri, sebab barang itulah yang nantinya akan menjadi bukti kuat untuk mengetahui identitas data diri mayat tersebut.


"Kami tidak mau tahu, barang bukti itu harus ditemukan siang ini sebelum diserahkan ke pihak penyidik!" seru pihak kepolisian itu tegas sambil bertolak pinggang.


"Tapi kami sudah mengumpulkan foto seluruh tubuh jenazah itu dan kami pun telah mencatat serta mendokumentasikan lebel data dirinya. Bapak bisa menyerahkan data ini kepada pihak penyidik," terang ketua tim ahli forensik berusaha meredam amarah pihak kepolisian.


"Data ini tak cukup akurat, keluarga korban dan pihak penyidik butuh bukti dari barang-barang milik korban untuk mereka periksa dan lihat secara langsung!" balasnya sengit.


Suasana ruangan hening seketika saat mendengar penuturannya, sebab semua yang beliau katakan memanglah benar. Prosedur itu harus mereka taati tanpa harus melanggarnya.


Salah satu tim ahli forensik menyikut teman yang satu profesi dengannya sambil berbisik, 'Jujur padaku, kau kan yang mengambil jam rolex milik jenazah itu?'


Temanya pun segera membatah tuduhan yang diarahkan padanya. 'Tidak! aku tidak mengambil jam itu.'


'Jangan bohong! kemarin itu kau sendiri yang mengatakan ingin membeli mobil dengan jam mahal itu,' sindirnya terus menyudutkan temannya.


'Aku memang bicara seperti itu, tapi aku tak cukup berani untuk mengambilnya. Aku takut arwah mayat itu bergentayangan mencari ku.' Temannya berusaha menjelaskan dengan jujur.


Sementara dari kejauhan tempat kedua orang itu berdiri sambil berbisik, terlihat ketua tim ahli memerhatikan keduanya hingga memunculkan kecurigaan pada mereka.


"Stevia dan Agata, saya perlu bicara dengan kalian berdua!" perintah Ketua tim ahli forensik sebelum melangkah keluar.


Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama mereka. Terlihat Stevia dan Agata melirik satu sama lain karena takut jika mereka ketahuan sedang membicarakan masalah pencurian tersebut.

__ADS_1


Keduanya pun melangkah keluar menghadapi ketua tim yang tengah berdiri di area gedung kosong yang bersebelahan dengan tangga. Tampak ketua tim itu sedang menyelipkan tangannya di dalam saku jas medis sambil menatap hamparan gedung yang terlihat dari atas sana.


"Ada apa, Bu?" tanya keduanya begitu tiba di belakangnya.


Ketua tim ahli itu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara. "Sudah berapa lama kalian bergabung di dalam timku?" tanyanya saat membelakangi mereka.


Keduanya saling beradu pandang dan berusaha mengingatnya. "Sepertinya sudah dua tahun, Bu," jawab mereka memperkirakan ingatan yang mungkin saja benar menurut mereka.


"Lalu, apakah dalam waktu 2 tahun itu tak cukup bagi kalian untuk bekerja sebaik mungkin di tim ini!" serunya seraya mencoba agar salah satu dari mereka berkata jujur.


"Maksud Ibu?" tanya keduanya serempak karena tak paham dengan ucapan sang ketua tim.


Kembali ketua tim itu menghela napas dan membalikkan tubuh ke arah mereka berdua sambil menatap jengkel.


"Katakan dengan jujur padaku, dari kalian berdua siapa yang mengambil jam tangan itu?" tanyanya langsung to the point.


"Aku tidak mengambilnya, Bu. Aku bersumpah!" seru Agata membela diri.


Stevia menoleh ke arah Agata yang tiba-tiba bereaksi mencurigakan. Temannya itu juga terlihat membalas dengan melirik tajam dirinya sebelum mengarang cerita yang menyudutkan Stevia.


"Kemarin dia bicara padaku, akan membeli mobil baru dengan jam itu, Bu." Tunjuk Agata ke arah Stevia.


"Aku memang bicara seperti itu padanya, tapi itu hanya sebuah candaan saja," terang Stevia membela dirinya akan tuduhan Agata temannya sendiri.


"Bohong! aku lihat keseriusan dia saat mengatakan itu," serang Agata melirik sinis.


"Aku tidak mengambilnya," tampik Stevia berkali-kali.


"Sudah jangan banyak berkelit, kau yang mengambil jam itu!" tuduh Agata lagi dan lagi.


"Hentikan!" bentak ketua tim ahli. "Kalian berdua ku anggap sebagai tersangka karena telah bersekongkol merencanakan pencurian ini," ucapnya menatap keduanya dengan kesal.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


*Maaf jika terdapat kesalahan dalam penjelasan di bagian tim ahli forensik serta pihak kepolisian dan pihak penyidik karena keterbatasan pengetahuan yang saya punya mengenai bidang di ahli itu. Saya hanya menangkap dari searching di google, jangan bully ya🙏 tapi, jika ada yang menemukan kesalahan mengenai penjelasan di bidang 3 itu, bisa beritahu di kolom komentar ya, agar saya bisa segera merubahnya. Terima kasih ❤️


__ADS_2