Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
92 - Rasa Kekecewaan Damar


__ADS_3

Damar mengusap punggung dan kepala Aleta dengan lembut serta memberikan ciuman di keningnya, tanda bahwa Damar sangat memperdulikan kesedihan yang dirasakan Aleta.


Tangan Aleta melingkar di pinggang Damar, menangis serta menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan pada dekapan hangatnya. Untuk saat ini, obat penenang yang ia butuhkan ialah; bersandar di dalam dekapan tubuhnya.


"Menangislah! aku tidak akan menggangumu." Sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aleta.


Aleta terisak penuh pilu, sebenarnya ia malu berhadapan dengan Damar. Bagaimana tidak? akibat cerita palsu yang dikarang ayahnya, ia merasa sangat bersalah pada Damar dan juga mendiang kedua orangtuanya.


Bahkan untuk menatap saja rasanya segan. Hanya ungkapan permintaan maaf dalam hati yang bisa ia katakan. Sejujurnya ia juga mencintai Damar namun, rasa itu harus ia elakan lantaran ketidakmungkinan anak dari seorang pembunuh bisa mendapatkan cinta dari seorang Damar yang notabenenya merupakan anak dari korban pembunuhan itu.


Aleta melepaskan pelukan dan melangkah mundur, menjauhi Damar selangkah demi selangkah. Wajahnya terus menunduk sambil berucap, "tolong menjauh dariku!" pesannya memberi penekanan pada setiap kata.


Tidak mengerti apa yang dimaksud ucapan Aleta, justru Damar mencoba melangkah menghampiri. Namun, dihentikan segera oleh Aleta.


"Berhenti di sana!" perintahnya yang kali ini menatap Damar dengan berani.


Suara pekikan itu seketika dipatuhi Damar, netra mata Damar memandang Aleta penuh tanda tanya. Mengapa dan apa yang sebenarnya terjadi dengan Aleta? sikap wanita itu bisa berubah dalam sekejap.


"Kita akhiri saja pernikahan ini! aku sudah cukup bosan hidup bersama denganmu," sambung Aleta mempertegas dengan sorot mata tajam.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Damar tak paham.


"Aku muak dengan semua ini! bagiku rasa benci itu tetap selalu ada dan takkan pernah berganti dengan rasa cinta," ungkap Aleta terus terang.


Bagai disayat sembilu saat mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutnya, Damar kembali terdiam dan tak mampu berkata. Meski tahu, jika itu hanya kebohongannya saja.


"Kau berbohong!" tampik Damar sembari menelaah lebih jauh tatapan mata Aleta.


Aleta menyeringai mendengar kalimat itu. "Dengarkan aku baik-baik!" perintahnya, "aku memanglah seorang pembohong dan kau adalah korban yang berhasil tertipu."

__ADS_1


Damar menautkan alis, tanda bahwa ia semakin tidak mengerti dengan ucapan Aleta. Bukankah seharusnya Aleta yang menjadi korban tipuannya, lantas mengapa Aleta bisa berkata hal demikian?


"Kau menjadikan aku sebagai mangsa! lalu, memainkan peranku dalam pernikahan sampah ini! sementara kau tak sadar, bahwa akulah yang justru menukar peranmu itu sebagai mangsa." Aleta memperjelas ucapannya panjang lebar seraya menampakkan smirk tajam.


Damar mengulang kembali ingatannya saat di mana ia selalu mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkan Aleta. Meski tak sepenuhnya membenarkan pengakuan Aleta, namun ia menyadari akan satu hal yang menurut dirinya ucapan Aleta memang nyata adanya.


Sebisa mungkin Damar menolak keraguan yang belum jelas dirasanya. Bisa saja itu hanya akal-akalan Aleta untuk mengakhiri hubungan pernikahan dengannya. Ia tak yakin jika Aleta berani berbuat seperti itu padanya, setelah banyaknya waktu yang telah mereka habiskan bersama-sama.


"Apa kau tak menyadari itu?" tanya Aleta seraya mentertawakan Damar. "Ku pikir Damar Emilio Kyler adalah pria yang cukup pintar dalam menilai seseorang, tapi ternyata tidak juga."


Tangan Damar terkepal kuat-kuat hingga memperlihatkan garis vena, wajah yang sebelumnya murung seketika berubah marah dan kecewa. Aleta dapat melihat dengan jelas perubahan raut wajah Damar yang terlihat sama seperti pertama kali ia bertemu dengannya.


Damar melangkahkan kakinya hendak berjalan menuju Aleta, langkah tegasnya membuat Aleta sedikit takut meski berusaha untuk menutupi dengan menggenggam erat gelang kecil pemberian sang ibu, sebagai penguat diri.


Langkahnya terhenti tepat di samping Aleta dan dengan berani Aleta menoleh ke arahnya tanpa adanya keraguan yang ia tunjukkan di depan pria itu, agar terwujudnya keinginan untuk segera pergi dari kehidupannya.


Damar membalas tatapan Aleta dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan yang amat sangat dalam. Rahang tegasnya mengeras sejalan dengan ungkapan yang ingin ia lontarkan. Namun, tertahan karena ketidakmampuan dirinya untuk memaksakan rasa cinta itu terbalaskan.


Damar membuang pandangannya dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia meninggalkan Aleta yang sedang berusaha menahan diri untuk tidak menyesali ucapan dan tindakannya barusan.


...***...


Mobil Erick terparkir di lahan kosong tepat di depan pintu gerbang kawasan pedesaan. Sebelum turun Erick berpesan pada suster itu untuk tidak mengikutinya, ia hanya diperbolehkan duduk tenang di dalam mobil.


"Ingat pesanku! jangan keluar dari mobil ini saat aku tidak ada, paham!" perintah Erick cukup tegas, hingga membuat suster itu tak berani membantah.


"Tunggu!" potong sang Suster, menghentikan Erick yang hendak keluar dari mobil.


Erick memutar badan dan bertanya, "Apa?"

__ADS_1


"Ini!" menunjuk ke arah seat belt. "Bisa tolong bantu lepaskan," pintanya. Sedari tadi memang suster itu terlihat sulit melepaskan seat belt. Namun, Erick tidak menyadarinya sebab ia ingin segera bertemu dengan Damar.


Erick berdecak heran, bagaimana bisa ia mendapatkan SIM mobil jika melepaskan seat belt saja terlalu sulit baginya. "Sepertinya hasil kelulusan menyetirmu harus dipertanyakan!" saran Erick sembari membantunya melepaskan seat belt.


Suster itu mengerucutkan bibir mendengar perkataan Erick sambil memasang raut wajah murung. Erick menatap sekilas wajah suster itu yang terlihat mengemaskan, cepat-cepat Erick mengatupkan bibir guna menahan tawanya dan menghindari suster itu dengan segera keluar dari dalam mobil.


"Apa yang baru saja aku pikirkan?" tanya Erick dalam hati, yang kemudian menggelengkan kepala membuang perasaan aneh yang datang di dalam pikiran serta hatinya.


Tidak ingin terus memikirkan hal yang menurutnya tidak terlalu penting, Erick bergegas melangkah menuju gerbang. Ia berhenti tepat di depan pagar besi tersebut dan menyapa penjaga yang sedang duduk bersantai di dalam pos penjaga yang berukuran minimalis.


"Permisi, Pak!" sapa Erick mengulum senyum pada petugas penjaga itu.


"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi disertai raut wajah ketidaksukaannya, sebab ia merasa terusik dengan kedatangan Erick yang menggangu waktu dirinya menonton sebuah drama kolosal.


"Apa saya boleh masuk?" tanya Erick penuh harap, jika ia diperbolehkan untuk masuk ke wilayah tersebut.


"Tidak boleh!" tolak sang penjaga secepat kilat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Erick.


"Tapi sa--" belum sempat menyelesaikan, penjaga tersebut justru segera memotong pembicaraan Erick dengan meminta Erick untuk tak lagi datang ke kawasan tersebut, jika sebelumnya tak memiliki ijin dan kartu identitas diri.


"Cepat pergi dari sini, sebelum kau tertanam di dalam tanah!" perintahnya ketika mengusir Erick.


Tidak menyerah begitu saja, Erick tetap meminta sang penjaga segera membukanya sebelum dirinya bermain kasar. Namun, ancaman Erick tidak diindahkan sama sekali olehnya. Penjaga itu justru menyumbat kedua telinganya dengan headset dan mengatur volume sesuai dengan keinginannya.


"Sial!" Erick mengumpat dan menendang angin, ungkapan kekesalannya karena tak diberi ijin untuk masuk.


"Ekhemm!"


Erick memutar badannya setelah mendengar suara deham seseorang yang berdiri di belakangnya sebelum seseorang itu berdiri tepat di sampingnya. Erick terpaku dan membisu sesaat kala melihat seseorang itu.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2