Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
99 - Hipotermia


__ADS_3

Emir tak tinggal diam, ia membalas perkataan Damar setelah beberapa menit terdiam akibat sindiran kasar dari mulut pria itu.


"Lalu, apa bedanya denganmu! Kau pun sama sepertiku," balas Emir menyeringai.


"Rupanya sifat burukmu ini, belum juga hilang." Damar kembali menyahuti ucapan Emir.


"Anak kurang ajar!" maki Emir hendak memberi tamparan di wajah Damar namun, gagal.


"Tidak akan ku biarkan kau, melukaiku untuk kedua kalinya. Setelah luka yang kau torehkan karena membuat kedua orangtuaku pergi untuk selama-lamanya," sungut Damar tegas seraya menangkis tamparan yang akan dilakukan Emir.


Emir mengerutkan dahi karena menahan sakit pada tangan kanannya, akibat dipelintir oleh tangan kekar Damar. Suara rintihan pun, tanpa sadar keluar dari mulut pria tua itu.


"Sekarang katakan, di mana kau sembunyikan Aleta!" desak Damar.


"Singkirkan tanganmu, ini," pinta Emir dengan suara rintihnya.


"Katakan!" bentak Damar seraya menekan kembali tangan Emir, hingga membuat sang empunya menjerit.


"Aah!" pekik Emir saat merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya.


"Hentikan!" tegur Alona saat melihat Emir kesakitan. "Lepaskan tanganmu, itu." Alona menodongkan pistol ke arah Damar diikuti semua anak buahnya yang serempak melakukan hal serupa seperti Alona.


Melihat reaksi mereka semua, Erick pun tak tinggal diam. Ia melangkah mendekati Damar dan berdiri di belakangnya sambil mengarahkan pistolnya ke mereka semua.


"Sebaiknya lepaskan dia, Bos, kita masih perlu informasi keberadaan Aleta, darinya." Erick berbisik di belakang tubuh Damar, meski sorot matanya terus tertuju pada semua anak buah Emir.


Damar pun melepaskan tangan Emir dengan kasar, setelah mendengar bisikan Erick, sebab Erick benar. Damar memang butuh sekali informasi penting itu.


Emir mengibaskan tangan kanannya yang terasa sakit sebelum akhirnya memegangi pergelangan tangannya itu dengan tangan satunya.


"Berengsek! Anak muda itu, memiliki kekuatan yang sulit aku lawan. Aku harus bisa meredamkan emosiku saat ini, sebelum Aleta lepas dari tangan Kemal." Emir bergumam sambil menatap dingin ke arah Damar.


Emir bermaksud menjebak Damar untuk masuk ke dalam perangkapnya. Menjadikan pria itu tameng untuk menukarnya dengan sang anak.


"Dengar ini baik-baik, anak muda. Aleta tidak ada bersamaku, ia dibawa pergi  Kemal dan saat ini anakku menjadi sandera." Perjelas Emir secara ringkas.


Damar tidak mempercayai begitu saja ucapan Emir, ia meragukannya sebab terakhir yang ia lihat dari tangkapan layar cctv, anak buah Emir membawa Aleta pergi dari desa itu.

__ADS_1


"Hentikan kilahmu itu, aku tidak akan tertipu," terang Damar tegas.


Gemas melihat perseteruan antara keduanya, lantas Alona melangkah dan berdiri di tengah-tengah Damar dan Emir. Alona memperlihatkan gambar dan juga rekaman video dari dalam ponselnya.


Terlihat jelas gambar Aleta yang sedang duduk meringkuk dengan tangan dan kaki yang terikat tali tambang goni, serta rekaman video Kemal yang memperlihatkan dirinya sedang bersama Aleta.


"Datanglah kemari, jika kau benar-benar ingin menyelamatkannya." Pesan dari Kemal tersampaikan untuk Damar.


"Biadabb!"  umpat Damar dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, sampai menampakkan garis vena .


Raut wajah kekesalannya tercetak jelas, hingga bisa terbaca oleh Emir. Pria tua itu tersenyum dalam hati, seakan sedang merayakan kemenangannya. Ia berhasil membuat Damar tersulut emosi, karena dengan begitu rencana yang ia susun akan berjalan sesuai keinginannya.


"Aleta disekap oleh Kemal, di Kota Kayakoy dekat dengan lereng bukit." Alona memberikan informasi keberadaan Aleta pada Damar. "Kemal mengancam untuk membawa anda ke tempat itu, jika ingin Aleta selamat," sambung Alona berkilah. Ia sengaja menambahkan kata-kata itu, agar Damar tergerak untuk segera menyelamatkan Aleta.


Benar saja. Tanpa pikir panjang, Damar bergegas melangkah menuju mobil yang terparkir ditepi danau. Erick pun segera ikut menyusul Damar. Namun, ia menyimpan rasa kecurigaan pada Emir dan juga ucapan Alona.


"Bos, apa kita akan benar-benar ke Kota Kayakoy?" tanya Erick meyakinkan Damar sekali lagi.


"Ya." Jawab Damar tegas, meski hanya satu kata saja yang keluar dari mulutnya.


Mendapatkan jawaban, lantas Erick segera melajukan mobil dan meninggalkan Emir beserta antek-anteknya yang terus memandang kepergian mobil milik Damar.


"Ikuti mobil mereka!" perintah Emir kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan." Anak buahnya itu mengangguk patuh. Mobil pun melesat secepat mungkin untuk bisa memantau mobil yang dikendarai oleh Erick.


...****...


Seluruh tubuh Aleta terasa kaku, dingin di kedua kakinya berhasil membuatnya menggigil hebat. Matanya terlihat sayu, bibirnya bergetar dengan wajah yang memucat.


Devano yang sedang duduk bersantai sambil memainkan ponselnya, justru tak memperdulikan kondisi Aleta. Ia asyik tertawa sendiri saat sedang menonton sebuah video.


"Aku tidak kuat lagi ... tolong lepaskan aku," lirih Aleta berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Devano.


Sayangnya, permintaan Aleta tak di dengar sama sekali oleh Devano. Pria itu semakin mengeraskan volume dari ponselnya dan melanjutkan kembali tontonan itu sambil mengunyah cemilan yang dipegangnya.


"Aku mohon ...,"

__ADS_1


Derai air mata terus saja mengalir dari pelupuk mata saat ia tak bisa melakukan apapun, selain meminta pertolongan pada Devano, meski tahu bahwa hasilnya akan sia-sia saja karena pria itu tidak sama sekali memiliki rasa iba dan kepedulian pada Aleta.


Kini Aleta terkena hipotermia, di mana suhu tubuhnya turun secara drastis karena terlalu lama berendam di air dingin dan itu bisa membahayakan dirinya.


"Damar ... tolong aku!"


Tiba-tiba terlintas nama pria itu dipikiran Aleta. Memang sejak tadi ia terus saja memikirkan Damar, sedikit berharap jika Damar bisa menyelamatkan dirinya. Kendati itu mustahil menurutnya, sebab yang ia tahu Damar sangat marah padanya, ketika terakhir kali mereka bertemu.


Bahkan Aleta sendiri yang meminta untuk tidak lagi saling bertemu dan memperdulikannya. Kini, ia mengingkari ucapannya itu. Aleta menginginkan Damar ada di sana.


...****...


Damar tiba-tiba tersentak saat merasakan Aleta sedang memanggilnya. Raut wajah Damar berubah cemas dan khawatir dengan keadaan Aleta saat ini.


Melihat itu, Erick pun menambah kecepatan mobilnya tanpa bertanya lebih lanjut, sebab ia bisa membaca dari raut wajah kekhwatiran Damar.


"*T*unggu aku, sebentar lagi aku akan tiba untuk menyelamatkanmu." Damar bergumam sambil menatap jendela kaca mobil, setelah sebelumnya ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


.


.


.


.


Cukup lama melakukan perjalanan menuju Kota Kayakoy, akhirnya Damar dan Erick tiba. Damar bergegas keluar dari dalam mobil dan hendak berlari menemukan Aleta. Namun, cepat-cepat Erick menghentikan bosnya itu.


Damar memicingkan mata ke arah Erick, saat tangan Erick menahan pundaknya. "Apa yang kau lakukan? Aku tidak punya banyak waktu, aku harus menyelamatkannya!" seru Damar tampak kesal.


"Sebaiknya, Bos tidak perlu gegabah seperti ini! saya meragukan ucapan mereka dan mungkin ini salah satu cara mereka untuk menjebak anda," pikir Erick, mencoba menyadarkan Damar agar tidak terlalu tergesa-gesa dalam melakukan segala sesuatu.


"Aku tidak peduli!" terang Damar. "Aku hanya ingin wanitaku, selamat, kau paham!" serang Damar melanjutkan kembali ucapannya.


"Tapi, Bos --" terputus, karena Damar sudah lebih dulu melangkah pergi, tanpa mendengarkan ucapan Erick.


"Ish!" Erick mendengus kesal, sebab pikiran Damar benar-benar sulit untuk dikendalikan.

__ADS_1


Erick pun segera berlari mengikuti Damar yang sudah lebih dulu melangkah memasuki daerah yang memang tak lagi berpenghuni.


...❤️❤️❤️...


__ADS_2