
..."Selalu ada sebab dibalik perubahan sikap seseorang."...
...______________________...
"Maaf," ucap Damar sambil menoleh ke arah Aleta.
Ia sadar jika Aleta begitu marah padanya karena kejadian kemarin yang tak sengaja diperbuatnya. Sikap Aleta sangat dingin padanya pagi ini, terlebih ketika ia memberikan tissue namun, tak diterima oleh Aleta.
"Aku tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja aku terbawa suasana." Damar melanjutkan ucapannya yang lagi-lagi tak mendapatkan respon dari Aleta.
Tin!
Terdengar kebisingan yang dilakukan pengendara lainnya begitu memaksa mobil Damar agar segera berjalan namun, ternyata sang pemilik mobil itu masih fokus menatap Aleta yang tak mengindahkan permintaan maafnya.
Lagi-lagi mobil di belakang Damar membunyikan klaksonnya karena menunggu mobil Damar yang tak kunjung melaju, saat lampu lalu lintas berubah berwarna hijau beberapa menit yang lalu.
Mendengar kegaduhan itu lantas Damar pun segera melajukan mobilnya. Ia menghembuskan napas akibat rasa frustasi yang dirasakannya saat ini. Berharap mendapatkan balasan dari Aleta tetapi, ternyata Aleta tengah tertidur.
.
.
.
.
Hampir melewati 1 jam perjalanan, kini mereka hampir tiba. Hujan yang sempat menguyur membuat jalanan agak sedikit licin, sehingga Damar harus berhati-hati mengendarai mobilnya.
Jalan yang menanjak dan bebatuan membuat Damar sedikit kesulitan. Ia berkonsentrasi mengendarai mobil agar tak terjadi hal yang tak diinginkan, sebab di kiri dan kanan mereka jurang.
Sementara Aleta ikut memantau jalan, memberitahukan jika mobil Damar terlalu meminggir, persis mandor yang sedang melatih seseorang yang baru belajar mobil.
"Kanan sedikit, mobilmu terlalu ke kiri!" tegur Aleta duduk tegak dengan mata fokus menatap kiri dan kanan jalan.
"Iya." Sahut Damar spontan.
"Awas itu di depan ada batu cukup besar, ke kiri sedikit!" tegur Aleta lagi dengan intonasi suara sedikit meninggi.
"Iya, aku juga lihat." balas Damar patuh, menuruti semua yang Aleta katakan.
__ADS_1
"Hati-hati saat menikung, jurang di depan cukup seram." Pesan Aleta saat mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk melihat jalan di depannya.
"Baiklah, aku paham." Ucap Damar lagi-lagi mematuhi perkataannya tanpa menolak atau membantah sedikitpun.
Damar memposisikan kaki kirinya pada pedal kopling yang kemudian menginjaknya secara full, sedangkan kaki kanannya tetap bersiaga menginjak pedal gas dan tangan kirinya bersiap mengendalikan tuas rem tangan.
...***...
Raut wajah Erick tampak cemas, sejak tadi mobil pintarnya terus berusaha menghubungi Damar namun, lagi-lagi tak dapat tersambung. Netra matanya memandangi layar di dekat dasboard, menilik keberadaan Damar dan Aleta yang hampir sampai di tempat lokasi.
Citttt!
Suara rem dari mobil Erick berdecit ketika berhenti di depan lampu penyebrangan. Ia tercengang kala melihat pejalan kaki yang hendak menyebrang di depan mobilnya.
Bodohnya, ia lupa bahwa jalan yang dilewatinya itu masih berada di jalan raya dan mobil yang dikendarainya juga terlampau cepat, sehingga dapat membahayakan dirinya dan juga penggunaan jalan lainnya.
Bahkan ia dapat diberikan sangsi tilang oleh petugas polisi lalu lintas akibat kelalaiannya dalam berkendara. Erick mengumpat serta memukul setir mobil tanda kecerobohannya.
Andai saja ia membicarakan hal itu pada Damar, mungkin pagi ini Damar tidak akan berangkat mendatangi Kemal dan Emir yang sengaja mengelabui Damar.
'Shitt! rupanya kedua orang tua itu membuat rencana lainnya. Aku harus menggagalkan rencana mereka, jangan sampai mereka berhasil menghancurkannya.' Monolog Erick diikuti umpatan kesal dari hati.
Netra mata tajamnya sibuk memandang kaca spion mobil di kiri dan kanannya. Mengamati serta berhati-hati dalam berkendara. Beruntung jalan toll yang dilaluinya tak begitu ramai, sehingga memudahkannya untuk berkendara tanpa harus bersusah payah menyalip kendaraan lain.
...***...
Kemal mendapatkan pesan bahwa Damar dan Aleta akan segera tiba di lokasi, mendengar hal itu segera Emir mengambil teropong jarak jauh dan mengamati pintu gerbang.
Tak lama datang sebuah mobil sedan hitam yang memasuki area lokasi acara tersebut. Emir mempertajam penglihatan, menelisik orang dalam mobil itu.
Emir mengangkat sudut bibirnya ketika puas mengetahui siapa orang yang ada di dalam mobil. Keduanya saling pandang dan melemparkan senyum kemenangan seakan bangga akan rencana mereka.
"Let's start!"
Emir memberikan isyarat kepada semua anak buahnya. Bersiap diri menghadapi mangsa yang telah mereka tunggu sejak tadi. Anak buahnya pun mengangguk patuh, mereka juga telah menyamar sebagai pelayan dan sebagiannya menyamar sebagai tamu undangan.
'Kali ini kau akan mati di tanganku, anak muda!'
Emir menggumpal foto mendiang istrinya yang berfoto mesra bersama Ayah Damar. Foto usang itu hancur di dalam genggaman kuat tangan Emir.
__ADS_1
.
.
.
.
Mobil Damar berhenti tepat di depan pintu masuk dan saat itupun valet telah mendekati mobil Damar, menunggu Damar turun dan menyerahkan kunci mobilnya untuk di parkiran.
Damar keluar dari dalam mobil dan menyerahkan kunci mobilnya begitu saja tanpa adanya rasa curiga pada valet itu. Ia berjalan mendekati pintu Aleta dan membukanya.
Damar berdiri tegak di hadapan Aleta setelah wanita itu keluar dari dalam mobil. Tanpa kata, Damar memberikan lengan kekarnya untuk segera di rangkul oleh Aleta.
Raut wajahnya sumringah bahwa ia akan berjalan bersama Aleta sambil bergandengan namun, ternyata itu hanya secercah harapannya saja, sebab Aleta justru melengos melangkah begitu saja tanpa peduli Damar yang masih menawarkan lengannya.
Tampaknya Damar tak kehabisan akal untuk membuat Aleta bisa berjalan beriringan dengannya. Langkah kaki ia percepat guna menghampiri Aleta yang kini telah masuk ke dalam gedung.
Greb!
Damar menarik tangan Aleta hingga membuat wanita itu refleks memutar tubuhnya dan tanpa sengaja mendekap di dalam dada bidang atletis Damar.
Sontak adegan yang mereka buat menjadi tontonan gratis para tamu yang hadir dalam acara itu, termasuk Kemal dan Emir yang melihat dari kejauhan.
Aleta mendongak melihat Damar yang kini tengah menatap dirinya sambil tersenyum. Tatapan mata serta senyum itu membuat hati Aleta terguncang dengan rasa amarahnya.
'Bagaimana bisa aku membenci pria ini, sedangkan aku bisa melihat kehangatan dari sorot matanya. Tolong jangan seperti ini, aku tidak ingin menyimpan perasaan lebih dalam padamu,'
Damar memejamkan matanya sebelum akhirnya mengecup lembut kening Aleta dengan berani. Cukup lama ia mendaratkan bibirnya di atas kening Aleta seakan memberitahukan pada orang-orang yang tengah melihat, bahwa ia mengakui hubungannya dengan Aleta begitu berarti.
Ia ingin semua orang tahu bahwa Aleta hanya miliknya seorang dan bersyukur menjadikan Aleta sebagai istrinya, meski itu hanya sebuah perjanjian. Entah Aleta merasakan hal yang sama atau tidak yang jelas Damar hanya ingin mengungkapkan itu semua dari kecupan di kening Aleta.
'Aku mencintaimu, aku tidak pernah menemukan seseorang sepertimu. Baik atau buruk masa lalu mu, aku akan tetap berada di sampingmu. Aku ada untukmu, Aleta.'
...πππ...
*Sesuai request ya, aku buat sedikit lebih panjang ceritanya π banyak di komplain ceritanya makin pendek π karena keterbatasan ide πβοΈ
Mudah-mudahan ini cukup ya, insya Allah kedepannya akan konsisten rajin up, sampai ending. Jangan lupa dukungannya ya serta share cerita ku ini ke teman-teman yang suka baca novel juga ya π
__ADS_1
...T E R I M A K A S I H β€οΈ...