Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
30 - Rumah Kasih


__ADS_3

..."Pada titik tertentu kau akan menyadarinya, bahwa dunia tidak hanya menawarkan kehidupan yang bahagia kepada siapapun."...


..._________...


Aleta menutup pintu kamar rapat-rapat sekembalinya dari kamar Damar. Terduduk lemas di ujung ranjang, jantungnya berdegup kencang serta kakinya gemetar cukup hebat. Rasa takut membuncah di atas kepalanya setelah ia tertangkap basah oleh Damar.


Tak ingin memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya, Aleta berangsur berbaring di atas ranjang dan menutup seluruh tubuh dengan selimut tebalnya.


"Bodoh...bodoh! bagaimana bisa kau lengah dari pengawasannya? sial, ku harap dia tak mencurigai ku." Batin Aleta merutuki dirinya sendiri.


.


.


.


.


Sementara Damar enggan mengejarnya, ia justru segera memeriksa ponselnya yang sempat disentuh Aleta. Untungnya Damar tak mengetahui tujuan Aleta mengambil ponselnya dan ia juga tak menyadari jika fotonya baru saja di ganti oleh Aleta.


"Sebegitu bosannya kah dia? hingga memainkan ponsel tanpa seizin ku. Untung saja dia tidak bisa membukanya, karena aku menguncinya dengan finger print." Gumam Damar.


Damar meletakkan kembali ponselnya sesaat melihat kartu undangan yang terselip di antara lampu tidur. Ia mengambilnya lalu membaca isi surat undangan itu.


Undangan yang datang dari panti 'Rumah kasih'. Kemal, sang pemilik panti mengundang Damar sebagai donatur tetap untuk dapat menghadiri acara bakti sosial. Tertera nama Damar dan Aleta di atas lembar undangan tersebut.


"Sepertinya ini ide yang bagus, aku akan membawanya kembali ke tempat asal, dengan begitu aku bisa mengetahui rahasia yang saat ini di simpan olehnya bersama si tua bangka itu." Batin Damar.


Ia menyusun sebuah rencana agar mendapatkan jawaban mengenai keberadaan Emir, Ayah Aleta. Ia berpikir masak-masak sebelum menghubungi Erick untuk membantunya melakukan rencana tersebut.


...***...


Siang pukul 13:55 Aleta masih mengayuh kata—menolak untuk ikut bersamanya. Ia tak ingin kembali ke tempat yang menjadi saksi kisah pahit hidupnya, setelah puluhan tahun lamanya ia berjanji tidak akan lagi menginjakkan kaki di rumah panti asuhan itu.


Namun nyatanya janjinya itu terpaksa di patahkan, akibat seorang pria yang dengan sengaja membawa luka lama untuk datang menjumpai Aleta. Meski ratusan kali pun ia menolak, Damar tak akan pernah mendengarnya.


Kini mereka dalam perjalanan menuju rumah panti, Aleta terdiam kendati di dalam batinnya terus memberontak keras. Di tengah distorsi nada sumbang, Damar memperingatkan Aleta, agar tak membuat gaduh acara seperti saat itu.


"Bersikap baik di depan mereka dan jangan membuat kehebohan di sana! kau selalu merepotkan," tegur Damar mengultimatum.


Hatinya melemah pasrah tak membalas perkataan Damar, netra matanya menatap jalan dari balik jendela mobil. Mulutnya terbungkam setelah Damar tak pernah mendengar antipatinya.


.

__ADS_1


.


.


.


Mobil berhenti tepat di depan pintu, Erick turun lebih dulu bermaksud membukakan pintu untuk keduanya. Kedatangan Damar dan Aleta pun di sambut hangat oleh Kemal, walaupun sikap ramahnya hanya sebuah kepalsuan.


"Apa kabar Tn. Damar dan Ny. Aleta?" sapa Kemal seraya menarik sudut kanan bibirnya.


"Baik, anda sendiri!" balas Damar basa-basi.


"Seperti yang anda lihat, saya baik meski berjalan dengan tongkat ini." Jelasnya sambil memperlihatkan tongkat di depan Aleta.


Sedangkan Aleta hanya memalingkan wajah sejak ia menginjakkan kakinya, enggan melihat wajah Kemal yang sangat munafik. Ia ingat betul, bagaimana sifat Kemal yang berpura-pura ramah di depan donatur sementara sifat aslinya benar-benar jahat dan sadis.


"Mengapa istri anda hanya diam saja?" tanya Kemal memerhatikan Aleta.


"Mungkin istriku, sedang mengingat kembali kenangan indah di sini." Jawab Damar mulai menilik keduanya, agar rahasia Aleta mulai tersibak.


"Oh begitu! baiklah, bila Ny. Aleta bersedia, dengan senang hati, saya akan membantu anda mengulang semua kenangan itu," ucapnya menyeringai seraya memberi penekanan di ujung kalimat.


...***...


Langkah kakinya terasa menjegal untuk memintanya berhenti. Memori yang terpatri seolah melemahkan derap langkahnya, kenyataan yang sekarang berhadapan dengannya seakan berubah menjadi penuh bencana.


Aleta berpegangan pada tembok sembari memegangi dadanya yang sesak. Semua ingatannya kembali mengulang dan meninggalkan jejak trauma mendalam.


"Nona, baik-baik saja?" tanya Erick yang memang saat itu berjalan di belakangnya.


Aleta tertunduk diikuti peluh yang jatuh sesenggukan, sebelum akhirnya ia terjatuh lemah di atas ubin dingin.


Erick tercengang melihat Aleta yang tiba-tiba ambruk di depannya. Pria itu juga sempat memanggil Aleta berulang-ulang kali, guna menyadarkan dirinya.


Damar dan Kemal yang melangkah lebih dulu, sontak memutar tubuh—melihat Aleta terjatuh lemah di sana. Damar bergegas menghampiri dan melihat Aleta dengan raut wajah pucat serta seluruh tubuhnya di penuhi keringat dingin.


"Apa yang terjadi?" tanya Damar panik.


"Saya tidak tahu, tiba-tiba saja Nona terjatuh!" jawab Erick ikut cemas.


"Mari, bawa Ny. Aleta ke kamar." Tawar Kemal mengarahkan ruang kamar.


.

__ADS_1


.


.


.


Aleta mengerjap perlahan—menatap atap langit dengan pikiran kosong. Ia kembali terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun, meski Damar menanyakan kondisinya saat ini. Pria itu terlihat panik dengan keadaannya yang sering tak sadarkan secara tiba-tiba.


"Kau sudah sadar?" tanya Damar, "Kau baik-baik saja kan?" tanyanya lagi.


...... hening ......


Damar menghela napas. "Aku akan tetap di sini sampai cairan saline NaCL itu habis." Tegasnya.


Tangan Aleta terinfus akibat berkurangnya cairan dalam tubuhnya, beruntung Dokter yang menjadi tamu dalam acara bakti sosial di sana, menanganinya dengan cepat sehingga tak membuat keadaannya semakin memburuk.


"Aku sadar, di mana marah itu percuma dan menangis pun percuma." Ucap lirik Aleta.


Damar menoleh ke arahnya, mendengar jelas ucapan Aleta meski terdengar pilu. Ia meyakini jika ucapan itu tertuju padanya, kendati netra mata Aleta tak beralih kearahnya.


"Tolong tinggalkan aku sendiri." Pinta Aleta lagi tak menoleh kearah Damar.


Damar berdiri dari duduknya. "Baiklah, aku menunggu di luar." Balasnya sebelum melangkah keluar.


Aleta menoleh, menatap punggung Damar yang kian menghilang dari pandangannya. Ruang keheningan itu menjadi saksi bisu akan suara jerit tangisnya yang tertahan. Ia menumpahkan semua keresahan yang ada didalam batinnya, meski tak semua lepas.


Gores demi gores tinta memunculkan sajak nan bermakna. Ia berusaha mengungkapkan kesedihannya, namun tak bisa memakai suara, berusaha bercerita, namun tak ingin lagi dengan air mata.


Bagaimana ia mengeluarkan rasa kesedihan bercampur kekecewaan itu, agar tak lagi tertekan oleh mental. Bahkan berteriak dan menangis pun tak juga membuat guncangan jiwanya menghilang.


.


.


.


.


Damar berdiri mematung disamping pintu ruangan sembari menatap Aleta dari celah jendela. Ia mendengar sekaligus menyaksikan bagaimana Aleta berusaha menahan kesedihannya, agar tak di dengar oleh siapapun.


Meski tak mengetahui lebih jelas kesedihan apa yang dirasakan Aleta, namun ia bisa menilai dari raut wajahnya bahwa tangisan itu benar-benar berasal dari dalam lubuk hatinya.


"Jangan berpura-pura baik-baik saja, jangan berpura-pura tidak sakit. Aku tahu kau menyembunyikan itu." Gumam Damar.

__ADS_1


...💕💕💕...


__ADS_2