Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
14 - Stupid


__ADS_3

..."Keajaiban yang paling menakjubkan adalah ketika kau berhasil membuat jantung seseorang berdetak hebat dan menatapmu begitu lama."...


..._______...


Aleta mendengar jelas ucapan Damar walau begitu pelan. Seketika kalimat itu mampu membuat hatinya bergetar hebat dan jantungnya juga berdegup cepat, ia pikir ucapan itu di tujukan untuk dirinya.


Belum sempat ia menafsirkan kalimat yang dilontarkan Damar, pria itu dengan berani mengusap pipi Aleta dengan kedua tangannya sebelum akhirnya ia menci*m bibir ranum Aleta dengan lembut, hingga membuat sang empunya terhipnotis akan ciuman yang diberikan oleh Damar.


Kedua pasang mata mereka juga terpejam, seakan menikmati akan sentuhan hangat namun terasa mengairahkan bagi keduanya. Aleta pun tak peduli dengan aroma alkohol yang melekat di tubuh Damar, ia benar-benar terhanyut dalam dekapan pria yang sangat di bencinya.


"Aku mencintaimu, Han Yuri!"


Mata Aleta membola hebat, tatkala mendengar bisikan kecil Damar di telinganya yang menyebutnya dengan nama wanita lain.


Dengan kasar ia pun melepaskan ciuman dan segera mendorong tubuh Damar kuat, hingga membuat Damar tersungkur. Aleta bergegas kembali ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Sementara Damar menyeringai, entah apa maksud dari seringainya itu yang seakan-akan merendahkan Aleta, lagi.


...•••...


Kicauan burung di pagi hari yang cerah tidak juga menganggu waktu tidur Damar. Matanya terus saja terpejam meski ponselnya sudah berdering sejak setengah jam yang lalu.


Erick yang merasa cemas dengan keadaan Bosnya, segera masuk kedalam kamar untuk melihat keadaannya, setelah kemarin malam ia tak dapat mengantarnya sampai di kamarnya.


Ia membangunkan Damar dengan hati-hati sembari menguncangkan tubuhnya. Damar menggeliat sekejap, sebelum ia mengerjapkan mata dan terduduk di ranjang king size nya.


Damar merasakan kepalanya sedikit pusing akibat efek mabuk semalam. Ia juga tak mengingat apapun mengenai kejadian malam kemarin, selain hanya tertidur di depan meja bar.


"Saya sudah siapkan obat pereda mabuk, anda bisa meminumnya setelah membersihkan diri!"


"Ya, kau boleh keluar!"


Erick melangkah keluar dari kamar Damar menuju ruang makan. Ia sempat bertemu Aleta di bawah anak tangga, terlihat Aleta membawa cup mie instan yang asapnya masih mengepul di atas tutup kemasannya.

__ADS_1


"Pagi, Nona!" sapa Erick sambil menundukkan kepalanya.


Aleta tak membalas sapaanya, ia hanya menoleh sekilas lalu melangkah menaiki anak tangga cepat-cepat. Rasanya ia malu harus bertemu dengan orang-orang seisi rumah yang bekerja di bawah kaki tangan Damar.


"Ada apa dengannya? Apa aku salah bicara!"


Erick bergumam sembari menghela nafas ia mengelengkan kepalanya pelan, tak mengerti jalan pikirian wanita yang sulit ditebak.


...•••...


Setibanya di ruang makan, ia mengedarkan pandangan untuk mencari Aleta yang tidak berada di sana. Damar segera memerintahkan Erick untuk meminta Aleta sarapan bersamanya, namun Erick memberitahukan bahwa Aleta sudah sarapan sejak tadi.


Damar menoleh kearah hidangan diatas meja makan yang terlihat belum tersentuh oleh siapapun, Erick kembali memberitahukan bahwa ia melihat Aleta sarapan dengan mie instan cup yang dibawanya ke dalam kamar.


"Berani sekali dia makan tanpa perintah dariku. Cepat panggil dia turun!" perinta Damar.


"Baik Bos!"


"Aku sudah kenyang, aku tidak akan makan lagi!! Dan bilang pada Bosmu itu tidak perlu lagi memintaku untuk sarapan dengannya!!"


Aleta membanting pintu sebelum Erick menyampaikan pesan dari Damar untuknya. Kembali Erick menghela nafasnya sambil mengelus dada.


Begitu kembali keruangan makan, Erick menyampaikan apa yang diucapkan Aleta padanya dengan nada suara yang sama persis seperti yang dilakukan wanita itu.


Damar pun melanjutkan sarapannya tanpa memikirkan celotehan Aleta. Ia juga tak ingin ambil pusing dengan sikap Aleta hari ini, sebab ia ingin mengistirahatkan pikirannya dari masalah apapun.


...•••...


Seharian ini Aleta tetap tak pernah keluar dari kamarnya. Ia tahu, jika hari ini Damar juga berada di rumah dan meliburkan diri dari pekerjaannya, karena Aleta sempat bertanya pada pelayan yang saat itu sedang membereskan kamarnya. Dan karena kejadian malam itu, membuatnya enggan untuk bertemu dengan Damar.


Antara malu dan takut akan sikap bodohnya di depan Damar kemarin malam. Jika Damar sadar dengan kejadian kemarin malam, mungkin bisa saja Damar semakin yakin dengan ucapannya yang menganggap Aleta sebagai wanita rendahan seperti apa yang sering dilontarkannya.

__ADS_1


"Sial karena kejadian kemarin, aku harus menahan rasa laparku! Kenapa aku sebodoh itu, membiarkannya menciumku. Astaga memikirkannya saja membuatku jijik!!"


Cicit Aleta kesal yang sudah kesekian kalinya. Ia tak dapat menahan rasa laparnya, sebab suara cacing di perutnya terus saja berbunyi. Ia pun mencoba menilik situasi di luar kamarnya, setelah dirasanya aman ia segera bergegas menuju dapur dengan mengendap-endap.


Pikirnya mungkin Damar sudah tertidur pulas di kamarnya, karena jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, sehingga ia tidak perlu merasa was-was.


Aleta memeriksa lemari yang banyak menyimpan makanan siap saji disana, namun sialnya ia tak dapat menemukan apapun didalam sana.


"Aneh! Bukankah tadi pagi banyak makanan yang tersimpan disini!"


Tidak menyerah begitu saja, Aleta memeriksa satu-persatu semua lemari kitchen set. Ia mengangkat satu kursi yang diletakkannya dibawah lemari gantung, Aleta berjinjit agar dapat merogoh isi dalam lemari yang ternyata hanya berisikan peralatan makan saja.


"Ekhmm!"


Damar berdeham tepat dibelakang Aleta yang seketika membuatnya memutar tubuhnya dan terkejut dengan kehadiran sang pemilik rumah.


Sialnya kursi itu tak bisa menyimbangi tubuh Aleta yang bergerak secara tiba-tiba, hingga akhirnya membuatnya terjatuh dalam dekapan Damar. Untuk kedua kalinya manik mata mereka saling betemu, beradu pandang melihat jelas wajah satu sama lain.


Keduanya terdiam sejenak pada posisi Damar yang merangkul pinggang dan punggung Aleta sementara kedua tangan Aleta menyentuh dada bidang Damar.


Tanpa kata mereka seakan berbicara lewat mata, entah apa yang diisyaratkan keduanya melalui kedua pasang mata mereka tanpa berkedip sedikitpun.


Ting!!


Sendok-sendok yang sempat tersentuh oleh jari Aleta terjatuh dari dalam lemari. Suara dentingannya pun langsung membuyarkan tatapan keduanya. Mereka segera menjauh dan mengalihkan pandangan satu sama lain.


Sebelum akhirnya Aleta bergegas pergi dari sana dan kembali ke kamarnya. Aleta berdiri dibelakang pintu kamar, menyadarkan dirinya dari kejadian yang baru saja terjadi.


"Kenapa aku merasa tersihir dengan tatapannya itu? Tidak...Aku tidak mungkin menyukainyakan? Jangan bodoh Aleta, dia itu pria jahat yang hanya memaanfaatkanmu saja! Ya... itu benar, kau tidak boleh menyukai pria seperti dia! sadarlah."


Aleta bergumam pada dirinya sendiri, mencoba menyadarkan dirinya untuk tidak memiliki perasaan apapun pada Damar dan meyakinkannya bahwa Damar adalah pria jahat yang sangat dibencinya seperti Ayah dan Ibu kandungnya.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2