
..."Jangan pernah mencintai seseorang hanya karena suatu alasan, sebab cinta tersebut akan hilang dengan sendirinya, seiring dengan hilangnya alasan tersebut."...
...___________________...
Greb!
Tangan Aleta di tarik paksa oleh Damar sehingga membuat tubuh wanita itu terjatuh tepat di atas pangkuannya. Sontak kedua tangan Aleta tiba-tiba saja memegangi dada bidang atletisnya.
Aleta menelan saliva sambil terfokus menatap dua gundukan yang begitu empuk nan tegas. Jari-jarinya sibuk meraba-raba dan menekan dada bidang itu dengan ekspresi takjub.
"Sudah puas?" tanya Damar mengangkat satu alisnya ke atas.
"Ha!" seru Aleta masih melongo di depannya.
Netra mata Damar pun bergulir ke arah tangan Aleta sebagai kode bahasa tubuhnya. Menyadari apa yang dilakukan tengah salah, buru-buru ia melepaskan tangannya dari dada Damar sambil mengucapkan kata maaf.
Ia juga ikut sadar akan posisi duduknya yang salah saat ini. Mencoba berdiri namun, tangan Damar tiba-tiba melingkari pinggang rampingnya. Aleta pun berusaha melepaskan tetapi lengan tangannya justru semakin erat memeluk.
"Lepas!" perintah Aleta dengan sorot mata tajam.
Damar menggelengkan kepala cepat sambil berusaha menahan senyum. Di dengarnya suara decak kesal dari mulut Aleta, membuat Damar semakin bersemangat menggodanya.
Tangan Damar semakin menarik pinggang Aleta secara tiba-tiba, sehingga membuat tubuh Aleta lebih condong mendekat. Keduanya beradu pandang, Damar yang mendongak sementara Aleta terpaksa merunduk.
Hembusan napas hangat begitu terasa menyapu di atas permukaan wajah keduanya. Aleta meneguk saliva susah payah saat merasakan detak jantung yang berdegup cepat.
__ADS_1
"Kau menyukaiku?" tanya Damar saat wajahnya mendekati telinga Aleta dan berbisik lembut.
Mata Aleta mengerjap saat mendengar kembali perkataan Damar yang selalu berhasil membuatnya terbungkam sesaat. Deru napas dan aroma candu Damar terasa menyengat di dalam rongga hidungnya.
Aleta tersihir dengan aroma khas pria itu, hingga tak sadar jika Damar telah mengecup lembut belakang telinga sebelum akhirnya menjalar menuju leher jenjangnya. Seperti terbuai nikmat, Aleta memejamkan mata merasakan kecupan yang sedikit menggelitik di area sensitifnya.
'Gila, ini gila! sadar Aleta buka matamu, kau membiarkannya menjamah tubuhmu!' batin Aleta meneriaki sebelum dirinya melewati ambang batas kesadaran dan termakan hasrat gila.
Perkataan batinnya itu ia hiraukan saat Damar mulai asyik bermain dengan lidahnya. Bulu kuduk meremang di kedua tangan Aleta. Pikirannya melayang meminta lebih dari yang Damar lakukan saat ini.
Ekstensi bercumbu super seksi yang baru Aleta rasakan benar-benar gila, sebab detik itu juga kesadarannya telah hilang berkat sensualitas yang memabukkan.
Tangan Damar beralih pada belakang kepala Aleta yang kemudian ditekannya, agar Aleta semakin mendekat hingga tak lagi memberi ruang pada wajah Damar yang kini tengelam di dalam tubuhnya.
Napas keduanya memburu seakan-akan tengah berlari dari jarak beberapa kilometer. Damar mencium setiap inci leher jenjangnya, tak ingin terlewat satupun.
"Ah! shitt!" des*ah Aleta saat merasakan gairah menggila yang semakin memuncak.
Damar juga ikut merasakan hal yang sama dengannya, tak ingin menyudahi hasrat bercumbu begitu saja, ia ingin yang lebih dari itu. Tak peduli jika ia dan Aleta melakukannya di ruang terbuka, tak ada privasi sedikitpun. Siapa saja bisa melihat kelakuan mereka, termasuk para pekerja dan Erick sekalipun.
Pria itu tak lagi memikirkan semua resiko yang akan diterimanya setelah ini, sebelum hasratnya terpenuhi. Sebagai seorang pria saat mendengar desah sexy seorang wanita, membuat rasa sensualnya meningkat.
Kini aset kejantanan Damar berdiri tegak sempurna, Aleta pun dapat merasakannya karena posisi duduknya yang berada di atas pangkuan Damar. Ini kali pertama bagi Aleta merasakan Damar yang ikut terangsang bersamanya.
Bibir Damar kembali menjalar menuju area pribadi wanita itu namun, sebelum menjelajahinya Damar membuka satu kancing baju Aleta. Setelah berhasil ia kembali mengecup dan bermain di sela-sela belahan gundukan tersebut.
__ADS_1
Aleta mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil terus memejamkan mata. Ia merancaukan beberapa kalimat sebelum akhirnya membuka mata dan menjauh.
'Aleta, kau tidak boleh melakukannya. Dia hanya bermain-main denganmu, jangan melakukannya tanpa cinta yang kau lakukan saat ini hanyalah napsu sesaat.'
Plak!
Satu tamparan mulus mendarat di pipi Damar dari telapak tangan Aleta. Tubuh Damar di dorong kasar oleh Aleta saat ia menjauhkan diri darinya. Hasrat nikmat seketika berganti menjadi rasa sakit dan kecewa.
Damar yang masih terkejut menerima tamparan tersebut terpaku sesaat. Kesadarannya tiba-tiba pulih kembali dan mengigat kejadian yang baru saja ia lakukan adalah sebuah kesalahan.
"Berhenti memainkan perasaanku," tegas Aleta yang berdiri di hadapannya.
"Bukan begitu, aku ...," balas Damar terpotong.
"Diam! aku tidak mau mendengarkannya." Aleta menutup kedua telinganya dan berlalu pergi dengan suara isak tangis.
Damar berdiri dari duduknya. "Tunggu, aku bisa jelaskan, Aleta ... Aleta!" panggil Damar mencoba menghentikan langkah Aleta namun, gagal.
"Ah! ****!" Damar mengumpat seraya mengacak rambut tampak gusar dan terduduk lemas.
Sementara Aleta cepat-cepat menaiki anak tangga sambil menyembunyikan tangisnya. Menutup pintu dengan keras begitu tiba di kamarnya, tubuhnya merosot begitu saja saat berada di balik pintu.
Ia menepuk-nepuk kepala dengan tangan, tanda merutuki kebodohan yang dilakukannya barusan bersama Damar. Rasa sesak pun tumbuh di dalam dada, ketika mencoba menghentikan suara tangisannya.
'Bodoh! ya aku memang bodoh, julukan itu sepertinya memang pantas disematkan untukku saat ini,' monolognya sambil menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Ting!
...💕💕💕...