
..."Hidupmu tidak akan pernah tenang, jika kau berani bermain-main denganku."...
...___________...
Matanya mengerjap perlahan meski belum sepenuhnya sadar ia terbangun, sekilas mengedarkan pandangan keseluruh ruang kamar yang baru saja ditempatinya–terlihat tak asing.
"Apa aku sedang bermimpi! Bukankah kemarin aku berada di Maldives!! Mengapa sekarang aku bisa disini!"
Aleta bergumam penuh pertanyaan didalam pikirannya. Ia kebingungan dengan keberadaannya saat ini, seingatnya ia berada di pulau Maladewa bersama Damar, namun kini ia sudah kembali ke kediaman Damar.
Sambil merias diri Aleta terus saja berpikir bagaimana cara Damar membawanya kembali–keningnya mengerut tanda berpikir keras sembari menatap cermin, berusaha mengulang memorinya saat itu.
.
.
.
.
Aleta bergegas keluar dari kamar untuk menemui Damar dan menanyakan semua enigma yang terkumpul didalam otaknya.
"Selamat pagi, Nona!" Sapa salah satu asisten rumah tangga.
Ia tak menghiraukan sapaannya, sebab bola maniknya sibuk menangkap sosok Damar yang tak terlihat duduk santai seperti biasa di meja makan sambil membaca majalah bisnis.
"Kemana perginya pria brengsek itu?" Tanyanya setengah bergumam.
"Maaf Nona, anda bicara apa?" Tanya sang asisten ramah.
"Apa kau tahu kemana perginya Damar?" Tanya Aleta mengulang.
"Tuan sudah pergi kekantor, Nona." Jawabnya.
"Oh, begitu." Balasnya singkat.
"Apa anda perlu bantuan lainnya?" Tanya sang asisten.
"Tidak, terima kasih." Tolaknya cepat.
"Kalau begitu saya permisi ke dapur, jika Nona perlu bantuan bisa panggil saya." Tuturnya sebelum berjalan pergi.
"Ya baiklah." Balasnya ringkas.
...•••...
Damar terlihat begitu sibuk di ruangan kerjanya hingga melewati jam makan siang, ia memeriksa kembali berkas-berkas yang sempat dikirim oleh Erick melalui email.
__ADS_1
Ting..
Meraih ponsel untuk sekedar memeriksa pesan yang masuk di ponsel pribadinya.
°Yuri°
Selamat makan siang, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu ingat kau perlu mengisi energimu dan kembali bersemangat.
Setelah membaca pesan singkat itu, ia menghentikan sejenak aktivitasnya dan teringat akan pertemuannya yang terakhir dengan Yuri.
Tok..tok..
"Permisi Pak, saya ingin mengantarkan bekal makan siang untuk anda!" Ujar Sekertarisnya sambil meletakkan kotak makan siang di atas meja begitu diperbolehkan masuk.
"Ya." Balas Damar singkat.
Sekilas melirik ke arah kotak makan di seberang meja, setelah sang Sekretaris keluar dari ruangan beberapa menit yang lalu.
Ia melangkah menghampiri kotak makan yang membuatnya begitu penasaran, sebab tak biasanya ia menerima kotak makan siang, entah itu dari kantin perusahaan maupun kiriman dari makanan online.
Isi dari kotak makanan terlihat begitu lezat dan menggiurkan setelah Damar membuka penutupnya. Ia menelan saliva tak sabar ingin segera menyantap habis isi kotak makanan tersebut.
Tingg...
°Yuri°
Ku harap kau menyukai bekal makan siang yang ku berikan, sushi dengan eggroll itu makanan kesukaanmu kan. Selamat makan siang dan tolong nikmatilah ( ◜‿◝ )♡
"Kau masih mengingatnya." Gumam Damar sembari mencicipi makanan buatan Yuri.
"Ahh, nikmat sekali! Sudah lama aku tidak makan sushi dan eggroll buatannya." Menatap bahagia pada sushi di tangannya.
...•••...
Sejak pagi Aleta tak henti-hentinya berusaha mengembalikan memorinya yang hilang, kini isi koper tengah dibongkarnya berharap menemukan sesuatu yang dapat membantunya untuk mengingat, sayang dari semua isi koper tak juga membuahkan hasil.
"Aaahhhh!!!" Aleta memekik frustasi.
Pikirannya gamam akibat ulah Damar, pria yang dapat melakukan apa saja dengan mudah. Baginya Damar sosok pria yang harus dimusnahkan, sebab semua yang berhubungan dengannya akan sulit terlepas.
Mendengar suara berat langkah sepatu membuat Aleta bergegas keluar dari kamar–mengingat derap langkah itu hanya Damar sang pemiliknya.
"Berhenti!!" Ucap Aleta di depan pintu kamar.
Damar memutar dan melihat sekilas Aleta yang berdiam lalu kembali berjalan menuju kamar pribadinya. Merasa diacuhkan oleh Damar, Aleta berjalan cepat mengejar langkahnya.
"Apa kau tuli, ku bilang berhenti!" Sambungnya setelah berdiri dihadapan Damar.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu meladeni ucapanmu, minggir!" Balas Damar dingin.
"Tunggu, aku hanya ingin bertanya satu hal padamu," ucap Aleta penuh harap.
Damar diam tak menghiraukan namun ia menanti pertanyaan yang keluar dari mulut wanita yang terlihat sibuk menyusun rangkaian pertanyaan. Sambil menyilangkan tangan dengan santai, Damar masih menunggu.
"Bagaimana kau bisa membawaku kembali ke tempat ini? bukankah kemarin kau dan aku berada di Maldives, tidak mungkin sepanjang perjalanan kembali aku tertidur kan," menodongkan banyak pertanyaan sebelum Damar menjawab satu-persatu pertanyaannya.
Damar mendekati wajahnya, "Bodoh" Ejek Damar dengan smirk di wajahnya lalu kembali melangkah santai.
Mata Aleta membola saat mendengar Damar kembali menyebutnya bodoh. Ia berharap penuh menerima jawaban dari segudang pikirannya sementara yang diterimanya hanyalah cacian.
"Dasar brengsek!!!"
Aleta mengumpat dan melirik tajam sebelum kembali ke kamarnya, lalu menutup pintu dengan keras sementara Damar terlihat tak peduli sedikitpun, ia masih melanjutkan langkahnya dengan santai.
.
.
.
.
Damar terlihat menunggu sesuatu ketika berada di ruang kerjanya meski jarum jam telah menunjukkan waktu tengah malam. Ia terus saja menatap layar ponsel menanti kabar dari Erick mengenai kejadian kebakaran di penginapan kemarin.
Ia yakin kejadian kemarin ada sangkut pautnya dengan Aleta dan hal itupun yang membuat Damar harus berhati-hati dengannya, sebab ia merasa Aleta sedang menjalani sebuah misi yang diperintahkan langsung oleh Tn. Emir, Ayah dari Aleta.
Drttt...
"Bagaimana?" Tanya Damar begitu menerima panggilan dari Erick.
"Saya telah menyelidiki semua Pak, dan memang benar dalang dibalik kejadian kemarin adalah Tn. Emir. Sebelum kejadian itu terjadi salah satu saksi mata sempat melihat seorang wanita menemuinya dan ciri-ciri wanita yang disebutkan sangat mirip dengan Nona Aleta." Perjelas Erick dari sebrang sana.
"Sudah kuduga mereka memang sedang bekerja sama. Terus cari tahu mengenai keberadaan pria tua itu! Sementara aku akan mengurus wanita bodoh itu karena telah berani bermain-main denganku!" Perintah Damar sebelum mengakhiri panggilannya.
...•••...
Aleta yang saat itu berniat untuk turun ke dapur karena ingin mengambil air mineral, segera menghentikan langkah begitu melewati ruang kerja Damar–menilik sedikit dari celah pintu yang tak tertutup rapat dan mendengar percakapan Damar melalui ponsel dengan seseorang yang tak diketahuinya.
Betapa terkejutnya ia saat mendengar Damar menyebut pria tua yang diketahuinya bahwa Damar sering menyebut Ayahnya dengan sebutan pria tua, sementara yang ia tahu Ayahnya telah meninggal, sebab telah menitipkan surat wasiat mengenai hutangnya dengan Damar.
Dan lagi ia mengetahui Damar hanya sekedar memanfaatkan dirinya untuk menemukan sang Ayah. Damar sengaja mengatas namakan pernikahan hanya untuk menjadikannya istri demi mewujudkan permainannya.
Mendengar semua perkataan Damar membuat Aleta perlu mencari tahu lebih jauh mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi dan mengetahui tujuan Damar yang belum semuanya ia ketahui.
Tujuan Damar menjadikannya sasaran dari masalah Ayahnya seperti tak masuk akal, sementara saat itu ia telah menganti nama dan menjauh dari kehidupan masa lalunya. Aleta ingin semua itu terungkap, agar segera terlepas dari permainan Damar.
__ADS_1
"Jika memang ayahku masih hidup lantas mengapa ia menyerahkan ku pada pria brengsek itu dan apa tujuan Damar mempermainkan pernikahan ini?"
...♡♡♡...