
..."Aku tidak peduli dengan sikap kasarmu padaku, asalkan kau bisa memuaskan ku malam ini"...
...__________...
Aleta kembali ke mejanya, ia mencari sosok Damar yang ternyata tak lagi berada disana sambil celingak-celinguk. Sempat berniat untuk pergi dari acara itu, namun terhalang karena satu pria yang tiba-tiba menghampirinya untuk sekedar mengajaknya berbincang-bincang.
"Kau Aleta?" Tanya pria itu.
Aleta terdiam sambil menelisik pria yang mengenali namanya.
"Kenalkan aku Andreas, teman Damar dan Yuri." Sambungnya.
Mendengarnya mengucapkan nama Yuri sedikit membuatnya penasaran dengan hubungan masa lalu antara keduanya.
"Maaf, mungkin kau terkejut aku mengenali namamu. Kita sempat bertemu saat di acara pernikahanmu dengan Damar, kau ingat?" penjelasnya mencoba mengingatkan kembali.
"Maaf tapi aku lupa," balas Aleta jujur.
"Ah begitu, mungkin karena banyaknya para tamu undangan sehingga kau tidak mengingatku," ucap Andreas canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ada apa, aku tidak punya banyak waktu." Tegas Aleta padanya, ia terlihat tidak menyukai teman yang berhubungan dengan Damar.
"bisa bicara sebentar?" pintanya dengan sorot mata penuh harap.
.
.
.
.
Duduk di depan meja bar sambil mendengarkan cerita dari pria yang baru saja dikenalnya, itulah yang dilakukannya saat ini, entah mengapa Aleta terlihat tertarik bicara dengan Andreas saat pria itu membisikkan sesuatu yang membuatnya semakin ingin tahu lebih banyak mengenai masa lalu Damar yang memang tak pernah ia ketahui.
"Jika memang mereka saling menyukai, mengapa tidak menikah saja?" Tanya Aleta penasaran setelah mendengar kisah percintaan Damar dan Yuri.
"Aku rasa itu ada hubungannya dengan bisnis yang dijalani Damar!" jawab Andreas yakin.
Mengerutkan dahi, "Maksudnya?" Tanya Aleta tak paham dengan jawabannya.
"Yang aku tahu Damar sengaja menolak perjodohannya dengan Yuri karena bisnis yang dijalaninya saat ini, maksudku seperti menjalankan sesuatu misi." Penjelasnya.
__ADS_1
"Kau tahu misi apa yang ia jalankan saat ini?" tanya Aleta sedikit mendesaknya, mungkin Andreas dapat membantunya menemukan satu-persatu teka-teki mengenai permasalahan antara sang Ayah dan juga Damar.
"Hmmm, aku kurang tahu apa misinya, yang pasti Damar sedang menyembunyikan rahasia besar. Kau harus berhati-hati dengannya, pria itu bisa terlihat baik di hadapanmu tapi tidak di belakangmu." Pesan Andreas pada Aleta.
"Apa memang benar begitu? sepertinya aku harus mencari tahu misi apa yang sedang dijalankan si berengsek itu!" gumamnya sambil meneguk setengah cocktail yang masih tersisa di dalam gelasnya.
Andreas menatap Aleta puas sebelum ia bergegas pergi, "Ah iya, Aleta, sepertinya aku harus pergi sekarang! Terima kasih sudah bersedia berbincang denganku, jika kau ingin tahu lebih banyak mengenai Damar kau bisa hubungi aku," tuturnya setelah menyerahkan kartu nama lalu melangkah pergi.
Aleta mengangguk patuh, "Baiklah, terima kasih," balas Aleta sambil menerima kartu namanya.
...***...
Semakin malam acara semakin meriah terlihat para tamu masih asyik menari dengan iringan musik yang membuat mereka begitu menikmatinya tak terkecuali Aleta yang terlihat menahan sesuatu dari dalam tubuhnya.
Hawa panas dingin yang tiba-tiba saja menggerogoti tubuhnya hingga membuatnya berkeringat dan pikirannya pun tak lagi fokus, menjadikan dirinya terlihat aneh. Semakin ia mencoba menahannya semakin gelisah pula rasa keinginan untuk melepaskan hasrat se"sualnya
Tingkahnya pun hampir tak terkontrol meski berusaha keras mencari kembali sosok Damar yang diharapkan dapat membantunya melepaskan rasa menggila pada tubuhnya kini. Sambil melangkah perlahan ia menatap semua laki-laki yang terlihat menggairahkan.
Aleta menghampiri Andreas, pria yang sempat mengajaknya berbicara. Alih-alih menanyakan keberadaan Damar, justru yang Aleta lakukan saat ini menarik kerah kemejanya lalu duduk di pangkuan Andreas dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Tolong bantu aku melepaskan hawa gila ini!"
Lirih Aleta penuh des*han yang membuat Andreas bersemangat dan tersenyum penuh kemenangan. Dengan sengaja ia membuat Aleta dipertontonkan banyak orang, sayang Aleta tak lagi mempedulikan tatapan dan cemooh mereka.
"Apa dia gila? Bagaimana bisa seorang istri dari Damar Emilio bersikap seperti wanita murahan."
"Menjijikan, tak bermoral!"
"Sudah ku duga, pasti dia seorang pelacur yang haus kekayaan!"
"*Dasar j*lang*!"
"Sangat disayangkan Damar bisa menikahi wanita pelacur itu!"
Mereka semua mencaci tindakan tak senonoh Aleta yang kelewat batas. Adegan tersebut pun segera diabadikan wartawan yang tengah siap dengan kamera dalam genggaman masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
.
Sementara Damar yang sejak tadi berada di rooftop bersama Yuri, mendengar kabar kehebohan yang dibuat Aleta melalui video kiriman Vincent, ia segera berlari meninggalkan Yuri disana.
Setibanya di lokasi yang telah di padati segerombolan orang membuat Damar segera menyelinap masuk, ia terkejut bukan main melihat aksi nekat Aleta. Tanpa teguran apapun Damar menarik tangan Aleta kasar, meski Aleta sempat menolak perintah Damar karena belum puas menuntaskan kegilaannya itu.
Akhirnya Damar terpaksa memanggul Aleta di atas bahunya dan membawanya masuk kedalam mobil setelah berhasil keluar dari lounge. Aleta terus memberontak agar Damar melepaskannya.
Damar memasangkan seat belt pada Aleta dan melesat pergi secepat mungkin, meninggalkan tempat yang masih terlihat gempar akan kehebohan yang dibuat oleh Aleta.
Tampak raut wajah Damar sangat marah dan emosi, hampir saja ia ingin meninju wajah Andreas namun ditahannya, sebab ia tahu wartawan akan menyebarkan berita itu di semua media.
Sementara Aleta masih tidak bisa diam, ia terus saja mengucapkan kata-kata kotor sambil menggerakkan tubuh tak jelas. Pandangannya beralih pada Damar menatap penuh hasrat, tubuh atletis Damar memantapkan hayalan-hayalan kotor di otaknya.
.
.
.
.
Setiba di kediaman, Damar langsung menarik kasar Aleta untuk segera keluar dan menariknya masuk. wanita itu hanya bisa mengikuti langkah Damar yang membawanya. Ia tak peduli dengan sikap kasar Damar, sebab yang diinginkannya hanyalah melepaskan hasrat gairah s*ksualnya.
Damar menghempaskan Aleta di sofa, "Kau sengaja mempermalukan namaku di depan mereka?" gertak Damar sambil mengepalkan tangan.
"Tolong bantu aku, aku sudah tidak tahan!" desis Aleta menatap Damar penuh harap.
"Berhenti besikap bodoh, kelakuanmu pantas disebut murahan!!" hardik Damar meradang sambil mendekati wajahnya, sorot matanya tajam persis saat kejadian di penginapan Maladewa.
Damar tak mengetahui jika Aleta sedang dalam kondisi tak sadar, akibat meminum cocktail yang ternyata telah diberikan cairan blue wizard.
Aleta terus saja mend*sah hebat, sebab aliran darahnya telah meningkat dan menjalar pada puncak daerah pribadinya. Ia tidak lagi bisa menahan hasrat itu, dengan berani Aleta merangkul tengkuk Damar dengan kedua lengannya sehingga membuat keduanya hampir menempel hanya menyisakan jarak 1 senti.
Hembusan napas berat Damar dapat terasa olehnya yang membuat Aleta semakin terangs*ng, rahang yang tegas, hidung mancung bak perosotan TK, bibirnya yang penuh, tebal dan plumpy sedangkan bagian manik biru matanya membuat Aleta semakin menggilai ketampanan seoarang Damar Emilio Kyler.
Aleta melupakan semua sikap kasar pria itu terhadapnya untuk sesaat. Wajah dan postur tubuhnya memungkinkan jika Damar dapat memuaskan keinginannya malam ini.
Sepasang manik mata mereka saling beradu, Aleta memekik kegirangan dalam hati bahwa Damar bersedia membantunya. Dengan piawai dan penuh rayu Aleta menyentuh bibir Damar dengan agresif, setelahnya ia mendekat untuk mencium bibir s*ksi milik Damar.
......( ˘ ³˘)( ˘ ³˘)( ˘ ³˘)......
__ADS_1
*fyi, maaf jika terdapat penulis yang salah atau typo*