Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
80 - BOOM!


__ADS_3

..."Pada akhirnya, yang membantu mengatasi rintangan bukanlah otak, tapi seseorang yang akan memegang tanganmu dan takkan membiarkanmu pergi dalam kesulitan."...


...___________________...


Brak!


Pintu berhasil dibuka Damar begitu handle pintu diputar secara paksa oleh tangan kekarnya. Damar segera melangkah masuk dan kembali menutup pintu.


Derap langkah dari sepatu pria itu membuat Aleta segera membungkam mulutnya dan memejamkan mata, ketika dirinya bersembunyi di balik lemari pajangan yang letaknya bersebelahan dengan jendela.


Damar mengedarkan pandangan melihat-lihat sekilas ruang loteng yang tampak mencurigakan karena pintu ruangan itu terkunci dari dalam sementara tidak ada siapapun di sana.


Aleta mengintip Damar yang kini berada tepat di sebelahnya, beruntung Damar belum menyadari keberadaannya saat ini.


Kedua matanya membeliak lebar kala melihat Damar mengeluarkan senjata api dari saku jas yang dikenakan pria itu. Belum lagi, Aleta mendengar jelas percakapan Damar pada seseorang dibalik ponsel.


"Bunuh saja mereka!" perintah Damar kepada seseorang diseberang sana.


Hampir saja Aleta bersuara akibat keterkejutan ucapan yang terlontar dari mulut Damar, jika saja tak cepat-cepat menahannya dengan kedua tangan.


Sekilas bayang-bayang perkataan sang ayah mengenai keburukan Damar terulang di dalam memori otaknya.


Dapat disimpulkan jika Aleta sedikit menaruh kepercayaan kepada sang ayah, meski tak sepenuhnya. Siapa yang mau dia bunuh? gumam Aleta mempertanyakan ucapan Damar yang terdengar enigmatic.


Bang!


Suara tembakan serta jerit tamu yang telah menjadi sandera kembali terdengar jelas di telinga Damar dan juga Aleta.


Damar menoleh ke arah pintu setelah merasakan atmosfer berbeda yang akan datang ke ruangan tempat ia berdiri saat ini.


Firasat itu pun ternyata benar, Damar dapat merasakan derap langkah sepatu seseorang yang hendak berjalan masuk menuju ruangan lorong.


...***...


Erick yang kini telah bersama dengan bodyguard Damar bersatu untuk melawan para kaki tangan Emir dan Kemal.


Tampak dua kubu itu saling serang melemparkan peluru dengan senjata yang mereka genggam masing-masing.


Tak sedikit korban lawan yang gugur dalam peperangan sebab kelihaian tim bodyguard Damar lebih gesit dibandingkan orang-orang bawahan kedua pria tua itu.


Dentuman terus terdengar bertubi-tubi membuat kericuhan yang terjadi di tengah-tengah hutan. Mereka menyembunyikan diri dari  serangan.

__ADS_1


"Kalian alihkan mereka, sementara aku pergi ke sana!" ucap Erick dengan bahasa isyarat.


"Baiklah," balas bodyguard mengangguk paham dari sebrang Erick yang saat ini bersembunyi di balik batang pohon besar.


Mereka pun mengikuti instruksi apa yang dikatakan Erick. Menyerang tanpa henti agar Erick bisa dapat kabur dari peperangan yang saat ini terjadi.


Dengan bantuan dan kerjasama antar tim akhirnya, Erick berhasil kabur tanpa diketahui oleh sekelompok lawannya.


Erick berlari menaiki bukit kecil dengan napas tersengal-sengal. Meski terlihat kelelahan, Erick tak pantang menyerah untuk dapat menyelamatkan Bosnya.


Janjinya dengan keluarga Emilio untuk menjaga dan melindungi Damar akan selalu ia tepati walau sesulit apapun rintangan yang dihadapinya dan harus merelakan nyawanya sekalipun.


...***...


Pintu terbuka lebar menampakkan pria bertubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam lengkap penutup wajah dan senapan panjang yang ia pegang.


Derap langkah sepatu boots berbahan dasar kulit terdengar memekakkan seisi ruangan. Pria bersenjata itu menelisik isi ruangan guna memeriksa keberadaan Damar.


Beruntung Damar berhasil bersembunyi dibalik lemari yang tengah ditempati oleh Aleta. Keduanya sempat terkejut namun, karena terdesak akhirnya mereka memilih bersembunyi bersama.


Kini Damar dan Aleta saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tangan kanan Damar merangkul pinggang Aleta sehingga membuat sang empunya hampir mengeluarkan suara karena ketidaksukaan yang mengira Damar mengambil kesempatan dalam situasi genting.


"Ssst!" desis Damar meletakkan jari telunjuk ke mulutnya sendiri sambil melirik dengan ujung ekor mata ke arah sumber suara.


Sementara Aleta terdiam tak dapat bergerak sambil terus menatap Damar. Ia bergidik ngeri saat ikut mendengar derap langkah sepatu yang terdengar cukup kuat saat menginjak lantai vinly.


Pria itu membuka pintu lemari dengan sangat hati-hati sambil bersiap menodongkan senapan, berjaga-jaga dari serangan Damar. Namun pria itu tak menemukan apapun di dalam lemari.


Ia kembali mencoba melangkah menuju arah belakang lemari, mendengar kembali suara langkah itu membuat Aleta semakin memekik ketakutan.


Tubuhnya gemetar serta kedua matanya ia paksaan untuk terpejam sambil menahan napas, sedangkan Damar bersiap diri dengan penyerangan yang tiba-tiba mengarah ke arah dirinya maupun Aleta.


"Hei!" pekik salah seorang dari kelompoknya yang berdiri di ambang pintu, memanggil pria yang saat itu tengah berdiri tepat membelakangi Aleta dan juga Damar.


"Cepat keluar dari gedung ini, sekarang!" perintahnya memberitahu sebelum melangkah pergi.


Pria itupun segera melangkah keluar saat mendengar perintah yang dikatakan temannya. Kedua pria itu akhirnya meninggalkan ruang loteng.


Damar menoleh ke arah Aleta yang masih gemetar ketakutan. Rupanya Aleta belum menyadari kepergian pria bersenjata oleh karena itu, ia masih memejamkan kedua matanya.


Damar melepaskan tangan yang menempel di bibir ranum Aleta dengan perlahan-lahan dan menarik punggung Aleta untuk mendekap ke dalam pelukan Damar.

__ADS_1


Tanpa kata-kata Damar berusaha menenangkan rasa ketakutan Aleta dengan menepuk-nepuk lembut punggungnya.


Refleks kedua tangan Aleta pun merangkul erat pinggang milik Damar, saat dirinya mulai merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam pelukan Damar.


Respon yang Aleta lakukan membuat Damar menyunggingkan senyuman. Rasa bangga serta bahagia pun hadir menyelimuti hatinya.


Ada hasrat ingin terus melindungi wanita itu dari kejahatan apapun yang membuatnya ketakutan seperti saat ini. Ia ingin menjadi perisai bagi Aleta, dimana pun dan kapanpun ia akan selalu ada untuk Aleta.


...***...


Kemal memonitor kedatangan Erick melalui teropong jarak yang dilakukan dari dalam mobil bersamaan dengan Emir.


Hampir 30 menit memantau, akhirnya ia melihat Erick dari atas bukit hendak berjalan menuruni bukit dan menghampiri gedung.


Kemal menyeringai penuh arti sebelum akhirnya menghubungi anak buahnya guna memerintah apa yang sudah ia rencanakan bersama Emir.


Emir sempat menghadang Kemal untuk tak menghubungi anak buahnya, ia kembali menanyakan pada Kemal mengenai keberadaan Aleta saat ini.


"Tunggu!" cegah Emir.


Kemal menoleh sinis. "Apa?" tanyanya dingin.


"Apa kau yakin, anakku benar-benar tak berada di gedung itu?" tanya Emir mencoba meyakinkan kembali pemberitahuan yang sempat dikabarkan anak buahnya saat menyandera para tamu.


Kemal berdecak kesal dan segera menunjukkan foto bukti para sandera yang dikirimkan oleh salah satu anak buahnya.


"Sudah yakin!" seru Kemal kesal, "hentikan rasa cemas mu itu," tegas Kemal.


Emir pun melihat sendiri foto yang memang tak menunjukkan keberadaan Aleta di sana. Ia sedikit bernapas lega, jika memang Aleta tak lagi berada di dalam gedung.


"Hancurkan sekarang!" perintah Kemal saat panggilan yang ia lakukan tersambung dengan salah seorang dari sebrang sana.


Ia menyeringai puas dan bersandar santai pada kursi kemudi setelah mobil yang dinaikinya bersama Emir bergerak menjauhi pekarangan gedung itu.


Sementara Emir merasa harap-harap cemas. Raut wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya khawatir.


Boom!


Tak lama setelah kepergian mobil itu terdengar dentuman sangat keras yang berasal dari dalam gedung. Suara dentuman itu menggema hingga Kemal dan Emir bisa mendengarnya dengan jelas.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2