Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
44 - Semua Hanya tentangmu


__ADS_3

..."Berusaha membenci sesuatu yang sangat kau sukai adalah hal yang sangat menyakitkan."...


...________________...


Pagi itu Aleta kembali berkunjung ke rumah sang Ayah, namun tak terdengar sahutan apapun dari dalam sana setelah Aleta mencoba mengetuk pintu dan memanggil beberapa kali.


Aleta semakin khawatir dengan keadaan Ayahnya. Tinggal seorang diri di rumah yang jauh dari tetangga dan lingkungan ramai bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih yang ia tahu Ayahnya tidak bisa melihat.


Aleta mengintip dari celah-celah jendela, barangkali menemukan sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Sayangnya ia tak menemukan apapun, suasana dalam rumah tetaplah hening.


"Apa Ayah sedang keluar? tapi Ayah bilang, Ayah tidak pernah pergi kemanapun karena kondisi matanya." Aleta terus saja mondar-mandir sambil mengigit kuku jarinya akibat menahan rasa cemas.


Cukup lama Aleta berada disana, hampir 30 menit menunggu namun tak terlihat sedikitpun pintu gerbang itu terbuka. Aleta melihat jam tangan digital yang menggantung melingkar di pergelangan tangannya.


"Sisa 5 menit lagi waktuku berada disini, aku harus segera kembali sebelum bodyguard Damar menemukan keberadaan ku!" Aleta bermonolog.


Aleta pun melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah Emir yang kemudian berjalan mendekati mobil panti.


"Maaf, Nona ini siapa ya? saya sering lihat Nona sering datang ke rumah ini," tegur salah seorang wanita paruh baya yang saat itu berjalan melewati rumah kosong tersebut.


Aleta bergeming mencoba memikirkan jawaban yang sekiranya masuk akal. "Saya dari petugas sensus, Bu," kilah Aleta meremas kuat-kuat tali tas selempang yang bergantung di salah satu pundaknya.


"Sensus? tapi maaf nih, Nona! rumah itu tidak berpenghuni. Sudah sekian tahun tidak pernah ditempati setelah pemiliknya pindah keluar Kota." Ungkap wanita itu sambil menelisik.


Aleta tercengang mendengar penuturannya, pasalnya Ayahnya bilang rumah itu sudah ia tempati selama bertahun-tahun. Sedikit rasa ragu mencuat di batinnya, lagi-lagi Aleta berusaha menepis rasa tak percaya itu. Ia meyakini bahwa Ayahnya memiliki alasan mengenai rumah yang di tempatinya saat itu.


"Nona, Nona!" panggil wanita itu ketika melihat Aleta diam mematung.


Aleta tersadar dari lamunan dan kembali bersikap senatural mungkin agar tak dicurigai. Ia juga merespon ucapannya dengan ramah.


"Oh, begitu ya Bu, saya pikir rumah itu ada pemiliknya." Ujarnya sambil mengulas senyum.


"Tidak ada. Hmm, apa mau Ibu antar ke kantor Kepala Desa disini?" tawarnya berbaik hati.


Aleta melambaikan tangan diikuti gelengan kepalanya. "Tidak perlu, Bu! terima kasih." Tolak Aleta cepat-cepat.

__ADS_1


Wanita itu pun beranjak pergi setelah percakapannya dengan Aleta berhenti dan Aleta juga melakukan hal yang sama. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu.


...***...


Malam hari tiba, terlihat dua insan manusia sedang menyantap makan malam di ruang makan. Keduanya tertunduk tak saling menatap, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring, seakan mengisi senyap dalam ruangan tersebut.


"Ekhem!" Damar berdeham berusaha memecahkan suasana canggung di antara keduanya.


Namun sayangnya Aleta tak merespon apapun, Ia tetap menatap makanan dengan pikiran kosong. Hanya sedikit makanan yang ia masukkan ke dalam mulut, selebihnya ia diamkan saja di atas piring.


Melihat sikap Aleta yang tak biasa membuat Damar bertanya-tanya. Damar kembali beraksi yang di rasanya akan berhasil membuat Aleta tersentak.


Brakk!!


Aleta tersentak hingga membuatnya terkejut bukan main, aksi Damar berhasil membuat Aleta tersadar dari lamunan yang kesekian kalinya.


"Kau gila ya? kenapa memukul meja seperti itu?" tanya Aleta kesal.


"Kau yang gila," balas Damar tak mau kalah.


"Aku bosan melihatmu mengaduk-aduk makanan itu! kau benar-benar terlihat bodoh," lanjut Damar dengan kata-kata mengolok-olok.


Mendengar itu, Aleta bangkit dari duduknya hingga tanpa sadar menyenggol gelas kaca yang membuat benda itu terjatuh di atas lantai.


Prankk!!


Terdengar suara serpihan gelas yang telah berserakan. Damar ikut berdiri menghadap Aleta, ia ikut terkejut.


"Jika kau bosan melihat ku, maka lepaskan saja aku. Biarkan aku pergi dari hidupmu," terang Aleta membalas ucapan Damar penuh penekanan.


Damar bergeming, ia menatap lekat netra mata Aleta yang terkesiap mengalirkan bulir air matanya. Sejak kepulangan Aleta dari Panti Asuhan, Damar merasakan sikap Aleta yang berbeda dari biasanya.


Aleta sering melamun dan tak fokus saat melakukan sesuatu hingga detik itu pun Damar merasa jenuh melihatnya. Ia mencoba mencairkan suasana, namun ternyata caranya salah. Akibat dari ucapannya itu Aleta justru marah padanya.


"Hei, tunggu!!" panggil Damar saat Aleta beranjak pergi dari ruangan.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya dengan wanita itu? apa dia sedang PMS? ahhhh!!"


Gerutu Damar sambil mengacak-acak rambutnya tampak frustasi karena Aleta.


...***...


Saat mentari pagi menyapa, Aleta melangkah menuju balkon. Ia hendak menghirup udara segar yang sekiranya dapat merilekskan setengah beban pikirannya.


Dibukanya pintu kaca yang kemudian berdiri di atas sana. Sambil memejamkan mata Aleta merasakan hangatnya sang mentari. Rambutnya ia biarkan tergerai agar merasakan sensasi udara pagi yang cukup menyejukkan hati dan jiwa.


"Aku mencintaimu, Aleta!"


Sayup-sayup ia mendengar suara familiar di telinganya. Merasa terusik dengan suara bisikan itu, lantas Aleta segera membuka matanya. Menolak untuk tidak mempercayai halusinasinya.


Aleta menatap pandangan ke bawah balkon, dilihatnya Damar yang saat ini tengah memandanginya dari bawah. Cepat-cepat Aleta membuang pandangan ke segala arah sebelum akhirnya ia melangkah masuk.


"Bos, mobilnya sudah siap! kita harus segera berangkat." Tegur Erick saat mengetahui bahwa Damar memerhatikan Aleta sejak tadi.


"Bos," panggilannya lagi.


Damar tersadar dan segera berlalu masuk ke dalam mobil diikuti Erick. Mobil pun bergerak menjauh dari kediaman Damar.


Dari dalam mobil Erick memerhatikan raut wajah Damar dari dalam kaca spion. Kentara sekali jika Damar tengah memikirkan sesuatu yang menurut Erick itu berhubungan dengan Aleta.


"Anda baik-baik saja, Bos?" tanya Erick prihatin.


Damar menoleh, "Hm." Jawabnya singkat.


"Seharusnya aku tidak perlu mengucapkan kata-kata itu di depannya. Sejujurnya aku tidak bermaksud membuatnya marah tetapi karena ucapan ku itu, dia semakin marah padaku." Batin Damar terus bergelayut tentang kata-kata yang sering ia ucapkan pada Aleta.


Damar memandangi jalan dari dalam jendela mobil, meski pandangannya tertuju pada suasana Ibu Kota namun pikirannya tetap berada di tempat. Semua yang dirasa saat ini terfokus pada satu titik, yaitu Aleta.


Wanita yang kini telah berhasil menghancurkan benteng keangkuhan dan keegoisan Damar. Semakin hari sifat yang dulu ia tabur ke dalam jati dirinya setelah kematian orang tuanya kian memudar.


Ia mengikis sifat buruknya demi Aleta. Aleta mampu menggeser posisi Yuri di dalam hatinya. Sekarang ini tidak ada lagi bayang-bayang Yuri di pikirannya. Yuri telah tergantikan oleh Aleta.

__ADS_1


...💕💕💕...


__ADS_2