Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
22 - Flashdisk


__ADS_3

..."Kalaupun aku dapat memilih orangtua mana yang melahirkanku, mungkin saat ini hidupku akan bahagia"...


...__________...


Denting sendok dan garpu beradu di atas piring, memecahkan suara ruang makan yang tampak hening meskipun terdapat dua manusia yang menyantap sarapan pagi disana.


Terlihat keduanya tak sama sekali membuka pembicaraan, hanya saja pikiran mereka terus bertanya mengenai satu sama lain.


"Aku pergi sekarang," tutur Damar yang entah bicara kepada siapa ia tujukan, sebab matanya mengarah ke sembarang arah.


Aleta setengah menoleh rikuh tanpa menjawabnya. Ia sangat berharap pria itu segera pergi, agar dapat melancarkan aksinya hari ini untuk mendapatkan sedikit info mengenai sang Ayah.


.


.


.


.


30 menit berlalu Aleta mengamati semua tempat dan cctv yang terpasang didalam mansion. Ia perlu memastikan semua aman sebelum memasuki ruang kerja Damar, tanpa harus tertangkap basah.


"Ku rasa semua sudah aman, aku harus mencari sesuatu didalam ruangan itu!"


Gumamnya sembari melirik ke tempat yang dituju. Ia sengaja menjatuhkan sesuatu di depan pintu saat melewati ruang kerja dan mengambil barang yang sempat terjatuh lalu berusaha masuk dengan cepat setelah berhasil membuka kunci.


"Huuuh, untung saja pagi tadi aku berhasil mengekori Erick hanya untuk mengambil kunci ini dari dalam saku celananya!" Gumamnya lagi setelah berhasil masuk.


Menelisik satu-persatu sudut untuk memulai pencariannya. Ia berjalan perlahan agar tak diketahui siapapun dari luar sana. Mendekati rak-rak buku yang tersusun rapi kemudian mengarah pada meja kerja dan mulai sibuk mencari disana.


Dibukanya satu-persatu laci meja kemudian memeriksa sesuatu yang dirasanya mencurigakan dan benar saja ia menemukan kotak kecil yang tertutup rapat dengan gembok yang menggantung diatasnya.


"Sepertinya didalam kotak ini bisa membantuku menemukan jawaban mengenai semua pertanyaan ku!" Gumamnya sambil mencari kunci yang mungkin berada di dalam laci lainnya, sayangnya tak terlihat sedikitpun kunci disana.


Begitu pintarnya Aleta mendapatkan cara lain untuk membuka kotak itu tanpa harus berpikir panjang, ia menggunakan jepit rambutnya yang ternyata berhasil membuat gemboknya terbuka.


Segera ia membuka penutupnya dan mengambil isi di dalam kotak yang ternyata hanya sebuah flashdisk yang telah dipastikan banyak menyimpan data-data di dalamnya.


Ia pun kembali merapikan kotak itu dan memasukkannya kedalam laci lalu bergegas keluar dari ruangan sebelum diketahui petugas yang berjaga di dalam mansion.


Sambil membawa flashdisk Aleta sukses keluar dari ruangan dengan aman tanpa tertangkap basah dan untung saja cctv masih mengarah kearah ruangan lain.


...•••...

__ADS_1


Damar yang baru saja pulang sore itu meminta assisten rumah tangganya untuk memberikan paper bag pada Aleta dan memerintahkan agar Aleta memakainya malam nanti.


"Berikan ini pada wanita itu dan minta  dia memakainya, lalu pukul 7 malam nanti segera ia turun." Perintah Damar tegas.


Meraih paper bag, "Baik Tuan." Jawabnya sambil merunduk dan pergi mengantarkan pesan dari Damar.


"Semoga malam nanti wanita itu tidak lagi membuatku pusing."


Gumam Damar sambil melepaskan dasi dan kemejanya kesembarang arah, kemudian masuk kedalam kamar mandi dan merilekskan tubuhnya dengan berendam air hangat dalam bathtub.


.


.


.


.


Tiba pada pukul 7 malam Damar tengah siap dengan setelan tuxedo biru navy lengkap dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di kerah kemejanya.


Ia tengah menunggu Aleta di bawah tangga sambil terus memerhatikan jam tangannya. Begitu mendengar suara derap langkah sepatu heels dari anak tangga, Damar segera menoleh menatap wanita yang baru saja menuruni anak tangga perlahan-lahan.


Matanya tak berkedip sedikitpun dan pikirannya terus merapalkan kalimat yang mengungkapkan bahwa Aleta benar-benar terlihat cantik saat menggunakan gaun berwarna senada dengannya, meski riasan wajahnya sangat sederhana Damar sangat menyukainya.


"Ekhemmm!"


Damar tersadar, "Cepat ikut aku!" serunya sambil berjalan pergi.


Aleta berjalan dibelakang Damar tetapi tiba-tiba saja Damar menghentikan langkahnya membuat Aleta terkejut hingga menabrak punggung pria itu.


Damar memutar badan dan menarik tangan Aleta sampai berdiri di sampingnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Aleta.


"Tetap berdiri dan berjalan di sampingku, jangan menjauh sedikitpun dariku!" desisnya.


Aleta bergidik ngeri ketika mendengar ucapan yang menggelikan di telingnya. Kalimat itu membuatnya bereaksi jijik. Damar yang dikenalnya sebagai pria kejam seketika membuat image nya turun di mata Aleta, sebab sudah terlalu sering ia mendengar kalimat itu dari pria-pria buaya darat, kendati Damar memiliki maksud dari kalimatnya itu.


...•••...


Acara dari salah satu kolega Damar begitu meriah dan mewah, ia sengaja menyewa lounge satu malam hanya untuk merayakan anniversary bersama sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Alunan musik juga terdengar hingga di depan pintu masuk. Damar dan Aleta yang baru saja tiba langsung disambut hangat dari para penjaga acara.


Begitu masuk kedalam lounge Damar diteriaki Vincent sang pemilik acara sekaligus kolega dan teman semasa kuliahnya dahulu.

__ADS_1


"Damar!! Hai bro akhirnya datang juga, mana istri mu?" Tanyanya basa-basi.


"Dia Aleta." Ucap Damar datar begitu memperkenalkan Aleta pada temannya yang masih dikenal playboy meski sudah memiliki kekasih.


"Oh, waw cantik juga. Boleh juga seleramu!" menyikut Damar dengan nada jenakanya, "Ah iya, aku Vincent, panggil saja Vin, oke," ucapnya sambil mengedipkan mata kiri diakhir katanya.


Aleta tersenyum malas dalam pikirnya semua teman Damar ternyata tak beda jauh dari pria yang saat ini tengah merangkul tangannya erat.


"Oh iya gimana Yuri apa dia baik-baik saja setelah mendengar kalian menikah, karena kau dan Yuri kan sempat saling su....!" Terpotong.


"Ayo sayang." Tutur Damar mengajak Aleta pergi dari hadapan Vincent sebelum temannya itu bicara panjang lebar mengenai kehidupan masa lalunya.


.


.


.


.


Acara telah berlangsung sejak 10 menit yang lalu dan Aleta sudah merasa bosan dan jenuh berada di tempat yang memang tak ia sukai. Bising dan juga ramai membuat kepalanya pening.


"Aku ke toilet sebentar," ucapnya pada Damar sebelum melangkah pergi.


Saat hendak merapihkan sedikit riasannya di depan cermin wastafel, Aleta mendengar percakapan dua wanita di sebelahnya yang saat itu tengah membicarakan Damar dan Yuri.


"Tadi aku melihat Yuri baru saja datang!" kata Sandra sambil mengoleskan lip tint di bibirnya.


"Benarkah, wah itu berarti Yuri dan Damar akan bertemu." Seru temannya, Grace.


"Iya benar. Sayang sekali yah, percintaan mereka harus kandas di tengah jalan padahal mereka itu best couple di masa kuliah dulu," balas Sandra.


"Semua itu karena perbuatan istri barunya yang tiba-tiba saja datang dan merebut Damar dari Yuri, asal usulnya saja tidak jelas dari keluarga mana dia berasal," timpal Grace.


"Apa mungkin wanita itu berasal dari panti asuhan, anak yang dibuang dari keluarganya!" cibir kasar dari Sandra.


Keduanya terkekeh senang saat membicarakan Aleta langsung di depannya meski dua wanita itu tak mengetahui wajah dari istri Damar.


"Hei, sudah yuk keluar! sepertinya acaranya lamaran Vincent sudah dimulai." Ajak Sandra kepada Grace setelah sebelumnya mereka melangkah melewati Aleta dan sempat memerhatikan wajah Aleta.


Aleta menatap kembali dirinya pada pantulan cermin, kini perasaan kecewa itu bergelayut pada dirinya. Ia menyesal dilahirkan dari orangtua yang memang jelas-jelas tak menginginkannya untuk hidup.


Tangannya terkepal mencoba menahan tangisan yang hendak dikeluarkan saat itu juga, tangis kemarahan dan kekecewaan. Aleta merasa semua orang telah menyalahkan dirinya karena kehadirannya seperti membawa beban dan malapetaka.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2