Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
27 - Demam


__ADS_3

..."Bukan berarti aku tidak suka bergandengan tangan. Aku hanya tidak suka saat aku harus melepaskannya lagi. Perasaan hangat itu menghilang dan membuatku merasa menjadi satu-satunya orang yang ditinggalkan di dunia ini."...


...__________...


Damar membaringkan Aleta di atas ranjang dan segera meminta pelayan wanita di sana untuk menggantikan pakaiannya, kemudian Damar memerintahkan Erick menghubungi Dokter Kemal, agar memeriksa keadaan Aleta.


"Bos, sebaiknya anda juga segera menganti pakaian, sebelum terkena flu." Pinta Erick mengkhawatirkan keadaan Damar.


"Aku akan menggantinya, setelah Dokter memeriksa wanita itu," balas Damar menatap cemas Aleta.


Erick menyerahkan handuk, "Kalau begitu ini, untuk mengeringkan tubuh anda," ucapnya.


"Bagaimana keadaan gadis kecil itu?" tanya Damar sambil mengusap-usap tangan dan wajahnya dengan handuk.


"Gadis itu telah berada di rumahnya sekarang. Dia sempat bercerita, bagaimana bisa berkenalan dengan Nona. Gadis itu mengatakan, jika Nona memintanya untuk meminjamkan tablet dari salah satu temannya." Ungkap Erick.


"Tablet? untuk apa wanita itu meminjam tablet?" tanya Damar penasaran.


"Aku kurang tahu pasti, hanya saja dia sempat melihat Nona membuka salah satu kotak bertuliskan kata-kata yang cukup panjang dan setelah itu Nona terlihat murung, katanya." Jawab Erick menjelaskan secara rinci ucapan Ayemi.


"Kotak?" tanya Damar seraya mengangkat salat satu alisnya.


"Mungkin yang di maksud gadis kecil itu, sebuah folder yang di dalamnya berisikan sebuah file." Jawab Erick tepat.


"Cari tahu semua dan segera laporkan padaku," perintah Damar.


"Baik, Bos." Mengangguk patuh.


...***...


Setelah Dokter Kemal memeriksa keadaan Aleta, ia segera berpamitan kepada Damar, sebelum akhirnya memberi pesan pada Damar. Beliau tampak bingung, mengapa Aleta sering sekali mengalami PTSD (post traumatic stress disorder).


"Damar, jika ada waktu, bisa datang ke tempatku?" tanya Dokter Kemal.


"Iya, aku akan berkunjung." Jawab Damar tanpa menanyakan lebih lanjut, tujuan sang Dokter yang memintanya untuk datang.


"Kalau begitu, aku pamit. Ingat jaga selalu kesehatan istrimu." Pesannya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Damar, sebelum beliau masuk ke dalam mobil.


"Baiklah, terimakasih Dok. Hati-hatilah!" balas Damar mengangguk paham.


Setelah mengantar sang Dokter ke depan pintu, Damar berniat untuk kembali ke kamar—menganti pakaian yang akhirnya telah kering sendiri di tubuhnya.


Hatchii...


Huatchiii...


Hatchii...


Damar terserang flu, akibat tak membasuh diri untuk segera berganti pakaian, setelah sebelumnya Erick telah memberi pesan padanya.


"Ini semua gara-gara wanita bodoh itu, jika saja dia tidak selalu merepotkan ku, mungkin aku tidak akan terserang flu, CK sial!" keluh Damar di tengah gumamnya.

__ADS_1


.


.


.


.


Erick meletakkan teh hangat dan obat pereda flu di atas meja kerjanya. Terlihat Damar begitu fokus dengan laptop di depannya, hingga tak menyahut ucapan Erick yang memintanya untuk segera beristirahat, sebab jarum jam telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


Beruntung malam ini Erick menginap di kediaman Damar, sehingga memudahkannya untuk selalu memantau keadaan Damar. Ia menghawatirkan Bos nya, karena yang ia tahu Damar tak pernah memperdulikan dirinya sendiri sekalipun itu cukup berbahaya untuknya.


Damar memanglah pria keras kepala, jika sudah diperingatkan mengenai masalah kesehatannya. Ia selalu bersikap baik-baik saja di depan semua orang, kendati ia terluka dan sakit—semua bisa ia tutupi dengan sempurna.


"Sebaiknya anda beristirahat, Bos." Pinta Erick melihat wajah Damar yang memucat.


"Kau tidur saja, aku perlu menyelesaikan pekerjaan ini." Balasnya sambil fokus menatap laptop tanpa beralih ke arah lawan bicaranya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamit Erick melangkah pergi, ia tak bisa memaksa Damar jika pria itu sedang dalam mode serius.


...***...


Mentari perlahan bersinar melintang berseri-seri dari arah timur dan membentuk warna pedar seperti merah kekuningan. Pancarannya menyebar di celah-celah embun bertaburan butir mutiara berkilauan. Surya yang datang mengecup santun dedaunan yang mulai mengering.


Jendela pagi perlahan terbuka, menyingkap tirai putih dari balik kaca, menampakan cahaya surya yang tak sabar ingin menerobos masuk ke dalam kamar. Sang pemilik kamar, menghirup setiap aroma sinar mentari yang menyapa hangat dirinya.


Sepertinya keadaannya sudah cukup membaik pagi ini, ia terlihat begitu bugar dan bersemangat menjalani kegiatan hari ini, meski hanya berada di dalam kediaman Damar.


Tok..


Tok..


Aleta melangkah menghampiri pintu untuk membukanya. Memperlihatkan Erick yang berdiri di depan kamarnya, membuatnya sedikit bertanya dengan keberadaannya sepagi itu.


"Ada apa?" tanya Aleta to the point.


"Selamat pagi, Nona!" sapanya, "Apa keadaan anda sudah membaik?" Erick balik bertanya.


"Ya. Kenapa memangnya?" saling melemparkan pertanyaan.


"Syukurlah kalau begitu. Saya ingin meminta tolong, apa Nona bisa membantu?" Erick berharap penuh padanya.


.


.


.


.


Damar masih tertidur pulas di ranjang empuknya, sepertinya ia enggan untuk membuka mata, meski sang surya telah menghangatkan seisi ruangan. Sebagai tubuhnya pun masih ditutupi selimut tebal dan handuk kompres yang ikut menempel di atas keningnya.

__ADS_1


Aleta duduk di sebelah pria itu—memandang jelas wajah pucatnya. Tak seperti biasanya ia melihat Damar dengan wajah lemah seperti saat ini, wajah yang jauh dari kata garang.


Kondisi Damar yang terbaring lemah di atas ranjang, membuat Aleta merasa bersalah padanya, karena kejadian kemarin membuat Damar tak memperdulikan keadaan tubuhnya yang memang sudah drop, tapi ia memaksa tetap mencari Aleta hingga melawan derasnya hujan.


Aleta mengetahui kondisi Damar setelah Erick memintanya untuk mengurus Damar selama sehari. Sempat menolak permintaannya, Erick justru mengungkapkan jika Damar sakit akibat ulahnya.


"Untuk apa aku mengurusnya? bukankah dia bisa mengurus dirinya sendiri atau pelayan disini juga bisa melayaninya!"


"Nona akan tahu sendiri jawabnya nanti, jika bersedia menggantikan tugas ku untuk merawatnya."


"Aku sibuk. Lagipula pria itu tidak akan mau aku berada di dekatnya!"


"Jika saja Nona tahu, dia sakit karena perbuatan Nona sendiri, mungkin kondisinya akan baik-baik saja saat ini."


"Apa maksudmu?"


"Tn. Damar yang ku kenal tidak pernah sebegitu pedulinya pada seorang wanita, aku tahu dia begitu mencemaskan keadaan Nona, meski malam itu kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Rela kehujanan demi menyelamatkan Nona yang terjebak di dalam labirin, sedangkan di rumah ini begitu banyak pengawal dan penjaga, tetapi dia malah memilih ikut mencari mu."


Aleta termenung memikirkan perkataan Erick saat di depan pintu kamarnya, sebelum ia terduduk di samping ranjang Damar. Kata-kata yang mampu meluluhkan rasa egonya.


"Untuk hari ini saja, Aleta. Esok, kau tidak perlu repot-repot mengurusnya dan anggap saja ini sebagai hutang balas budimu karena dia telah menyelamatkan mu." Monolognya menatap datar Damar.


...***...


Ia mulai mengerjakan tugas sesuai dengan catatan yang diberikan Erick padanya. Tugas pertama yang dilakukannya adalah, memeriksa suhu tubuh Damar yang kemudian mengganti handuk kompresnya.


Aleta mendekatkan thermogun infrared di atas keningnya, "Astaga, suhu tubuhnya mencapai 38,2 derajat!" serunya.


Merasa kurang puas dengan alat thermogun infrared tersebut, refleks tangan Aleta memeriksa secara langsung suhu tubuh Damar yang memang benar-benar panas.


Ia segera mengganti handuk kompresnya dan kembali menempelkan di kening Damar. Wanita itu terenyuh melihat kondisi Damar yang tak sesemangat seperti biasanya.


"Mom, miss you!"


Damar mengigau, mengucapkan kalimat itu berulang-ulang kali. Aleta mencoba menenangkannya, agar Damar dapat kembali beristirahat dengan pulas tanpa memikirkan apapun.


Dengan hati-hati ia meraih tangan Damar dan mengelus-elus punggung tangannya, agar sang empunya berhenti mengigau. Setelah Damar terlihat lebih tenang, Aleta pun berhenti melakukan kegiatan tersebut.


Grebb!!


Netra mata Aleta mendelik hebat tatkala tangan Damar balik menggenggam tangannya erat-erat. Ia tercengang, menafsirkan jika Damar sejak tadi ternyata sudah bangun tapi enggan membuka mata.


.


.


.


.


"Aku sangat membutuhkanmu, jadi tetaplah disini dan temani aku!"

__ADS_1


...❥❥❥...


__ADS_2