Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
37 - Aroma Candu


__ADS_3

..."Ketika denganmu aku merasakan hal lain tentang perasaan yang ikut hadir. Cemburu dan rindu, aku menikmati setiap sensasinya dan karena itupun aku tidak bisa jauh darimu"...


...__________...


Aleta tiba di rumah Ayahnya setelah berhasil mengelabui sang Sopir. Ia kembali memberanikan diri untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Aleta, anak yang pernah beliau tinggalkan di panti asuhan.


Tok!


Tok!!


Aleta mengetuk pintu dan dari dalam sana terdengar sahutan yang melangkah menuju pintu, untuk membukanya.


"Siapa?" tanya Emir saat membuka pintu tersebut.


Aleta menahan kegugupannya meski rasanya takut untuk membuka suara, namun perasaan itu harus dilawannya. Ia tak ingin terus berlama-lama bersembunyi di balik masa kelamnya.


"Say--," terputus.


"Silahkan masuk dulu!" seru Emir mempersilahkan Aleta masuk.


Dengan langkah berat Aleta memasuki ruang tamu. Suasananya tampak begitu gelap dan lembab, sebab tirai gorden menutupi jendela rumahnya bahkan sirkulasi udara dalam ruangan itu terasa pengap dan tidak nyaman karena tidak adanya ventilasi udara dari ruangan itu.


"Maaf rumah saya berantakan dan membuat anda tidak nyaman," kata Emir seraya meraba-raba tirai.


"Biar saya bantu, Pak!" ucapnya ketika melihat Emir kesulitan meraih gorden untuk menyingkapnya.


"Terima kasih, nak!" balas Emir saat mendengar suara Aleta ingin membantunya.


Aleta pun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tak ada satupun bingkai foto atau wall decor apapun di sana hanya ada dua kursi dan satu meja yang mengisi ruangannya.


"Silahkan duduk nak, saya akan buatkan minum dulu!" tutur Emir yang hendak berjalan ke belakang.


Aleta menolak. "Tidak perlu repot, Pak! lagipula saya hanya sebentar saja mampir."


Spontan tangan Aleta memegangi lengan Emir yang tampak rapuh. Bulir air matanya pun membendung saat ia berusaha untuk tak meneteskannya, sebab ia telah berjanji untuk tak menangis saat melihat kondisi sang Ayah.


Dengan lembut Aleta membantu Emir untuk duduk di kursi bersamaan dengan dirinya. Ia hanya ingin berbincang dengan Emir, mengulang di mana ia dan Ayahnya pernah bersenda gurau di saat usianya masih berumur 4 tahun.


Ia ingat, kala itu sang Ayah sering mengajaknya bermain, membacakan buku dongeng hingga sang Ayah sering mengadu akan keluh kesahnya ketika pulang dari Kantor.


"Masa itu aku menganggap dirimu sebagai cinta pertama ku dan sampai detik ini pun, kau tetap akan menjadi cinta pertamaku. Maafkan aku karena sempat membencimu, mungkin kau mempunyai alasan yang baik di saat kau menitipkan ku di panti asuhan itu." Batin Aleta menatap sendu Ayahnya.


"Terima kasih, Nak. Kau sepertinya anak yang baik, saya jadi merindukan Aleta, anak saya." Ungkap Emir berusaha menahan ketegaran hatinya.


"Memang di mana sekarang Anak Bapak?" tanya Aleta sengaja mengumpan penjelasan Emir.


Emir menggeleng pelan. "Tidak tahu di mana dia sekarang. Saya sudah mencarinya kemanapun tapi hasilnya selalu nihil. Hingga akhirnya saya mengalami kecelakaan dan mengalami kebutaan akibat rasa frustasi itu." Ungkapnya.


"Maaf Pa!" refleks Aleta melontarkan kalimat tersebut di depan Emir karena merasa bersalah pada Ayahnya.

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf Nak, kau kan tidak memiliki kesalahan apapun," sahut Emir mengelus lembut tangan Aleta.


"Kalau boleh tahu, namamu siapa dan tujuanmu datang ke sini ada perlu apa?" sambung Emir menanyakan rasa penasarannya sejak tadi.


"Hmm," Aleta berpikir sejenak. "Aku Kyla dan kedatangan ku kemari karena hanya ingin mendata warga di area lingkungan ini." Kilahnya berusaha menutup raut wajah yang tak bisa berbohong di hadapan sang Ayah, kendati Ayahnya tak bisa melihatnya.


"Oh, begitu!" seru Emir mengangguk paham.


"Hmm, kalau begitu aku permisi pamit Pak. Lain kali aku akan datang berkunjung." Sanggahnya tak ingin terus diintimidasi oleh Emir.


"Baiklah, kalau begitu. Hati-hatilah di jalan ya!" tutur Emir menepuk pelan pundak Aleta.


Aleta meninggalkan pekarangan rumah itu dan bernapas lega, pasalnya ia tak bisa berlama-lama berbohong di depan Ayahnya karena Ayahnya bisa dengan cepat mengetahuinya, semua bisa di bacanya melalui raut wajah sang Anak dan itupun yang membuatnya menjadi terbiasa dengan kebiasaan tak bisa bohong di depan Emir, meski Beliau tak lagi bisa melihat raut wajah Aleta.


...***...


Damar tiba lebih dulu di kediaman rumahnya, ia duduk di ruang televisi setelah selesai membersihkan diri. Ia menyalakan televisi guna menghilangkan rasa cemasnya. Berlaga seserius mungkin saat menonton salah satu acara variety show di layar LED berukuran 100inch.


Ia terus melirik jam dinding yang menggantung di atas tembok—menghitung setiap detik ketika jarum panjangnya bergerak.


"Lama sekali dia pulang? apa karena aku memberikan izin lantas dia jadi seenaknya pulang dengan bebas. Bisa-bisanya dia membuatku menunggu seperti orang bodoh!" gumamnya jengkel diikuti suara decakan.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dari arah ruang utama yang di yakini Damar itu adalah Aleta. Damar pun segera mengambil ponselnya di atas meja depan dan berpura-pura sedang menelepon seseorang.


Saat Aleta tiba di bawah anak tangga, Damar mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Aleta. Langkah Aleta terhenti begitu mendengar suara Damar yang sangat bising.


Aleta pun menghampiri Damar guna mengetahui dengan siapa pria itu bicara dan berdalih memberitahukan bahwa dirinya sudah tiba di rumah.


"Aku sudah pulang." Tegur Aleta menghentikan aksi akal-akalan Damar.


Damar mengedikkan kepala saat merespon singkat ucapan Aleta lalu kembali melanjutkan kekonyolannya. Merasa di acuhkan, Aleta melangkah kembali menuju kamar.


"Kenapa? ah tidak perlu memikirkan wanita bodoh itu, santai saja." Lanjut Damar semakin mengeraskan suaranya diikuti gelak tawa yang begitu konyol.


Aleta memutar tubuhnya saat mendengar Damar menyebut wanita bodoh yang sudah pasti itu di tujukan untuknya. Karena kesal ia pun melemparkan slippers dan mengenai belakang kepala Damar, sehingga membuat Damar terkejut dan membalikan badannya ke arah Aleta.


"Ups, sorry!" ledek Aleta sambil menjulurkan lidahnya.


Damar terbelalak dengan ucap dan sikap Aleta yang sengaja melemparkan sendal ruangan ke arahnya. Ia mengambil slippers itu dan berniat membalasnya, namun dengan cepat Aleta berlari menaiki anak tangga mengunakan satu sendal di kakinya.


Nahas begitu ia menginjakkan beberapa anak tangga, kaki kirinya justru terselip oleh kaki kanannya sendiri, sehingga membuat pergelangan kakinya terkilir. Aleta terduduk dan meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.


Damar yang melihat segera menghampiri dan langsung membawa Aleta duduk di atas sofa. Kemudian Damar memegangi pergelangan kakinya untuk memeriksa.


"Aw!" Rintihan Aleta saat Damar menyentuh salah satu titik di bagian sakitnya.


Setelahnya Damar berjalan ke arah dapur dan beberapa menit kemudian kembali dengan membawa ice bag. Ia mengompres pergelangan kaki Aleta yang terasa sakit.


"Tahan ini mungkin akan terasa sedikit nyeri." Kata Damar.

__ADS_1


Sekitar 10 menit Damar mengompres pergelangan kaki Aleta, ia begitu telaten mengobatinya. Aleta terpaku menatap sosok Damar yang saat ini tengah berlutut di depannya. Tanpa di sadari tangannya bergerak mengusap lembut kepala Damar sambil mengulum senyum.


"Aku akan mengungkapkan semua masalah yang terjadi antara keluarga mu dan Ayahku. Aku yakin ini semua hanya kesalahpahaman saja." Batin Aleta.


Damar mendongak begitu Aleta mengusap lembut kepalanya dan segera menyentil kening wanita itu yang seketika langsung membuyarkan lamunannya. Aleta mengaduh kesakitan.


"Aw, ishh sakit!" desisnya merintih seraya mengusap keningnya.


"Kakimu aku perban agar meminimalisir bengkaknya," tuturnya.


Aleta menoleh ke arah pergelangan kakinya. "Terima kasih." Ucapnya sedikit gengsi sebelum ia berdiri dan melangkah.


"Kau mau kemana?" tanya Damar berdiri di depannya untuk menahan langkahnya.


"Aku mau ke kamar." Jawabnya ringkas.


Tiba-tiba Damar membalikkan badan dan berlutut. "Naik ke punggung ku!" perintahnya.


Aleta terpaku sesaat. "Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri." Tolaknya.


"Dasar pembangkang!" sindir Damar.


Damar pun berdiri lalu dengan sigap ia menggendong Aleta ala bridal style. Aleta yang terkejut langsung mengaitkan kedua tangannya di leher Damar.


"Hei!! apa-apaan kau ini, cepat turunkan aku!" jeritnya menolak sikap Damar.


Damar menatap tajam. "Diam atau akan ku cium kau!" ancam Damar mendekati wajahnya.


"Hei!!! Dasar mesum." Cela Aleta begitu mendorong wajahnya mengunakan jari telunjuknya.


Aleta menghela napas pasrah saat Damar membawanya naik ke atas tangga menuju kamarnya. Meski ia terlihat beberapa kali menelan salivanya akibat menatap lekat garis tegas wajah Damar yang begitu memikat dan aroma wangi di tubuh pria itu terasa candu olehnya.


Entah parfum apa yang Damar pakai, hingga bisa membius Aleta yang ingin terus mendekap di tubuh atletisnya. Belum lagi netra matanya memandang bagian dada bidang Damar yang sengaja di biarkan tak terkancing satu pada baju piyamanya.


"Ahh!! aku bisa gila, jika terus menerus menciumi aroma tubuhnya," gumam Aleta menutup mata rapat-rapat dan menahan napasnya hingga sampai di kamar.


Damar menurunkan Aleta di atas ranjangnya, kemudian ia mendekati kembali wajahnya ke arah telinga Aleta yang sedang terduduk diam. Aleta yang berniat menjauh justru terhenti akibat ucapan Damar.


"Bagaimana kau puas menghirup aroma tubuhku? apa aroma tubuhku sudah membuatmu merasa candu?" bisik Damar pada Aleta.


Pipi Aleta bersemu merah saat Damar mendapati dirinya tengah menikmati aroma candu di tubuhnya. Mulutnya terbungkam tak membalas apapun bisikan Damar.


"Selamat malam dan jangan lupa mimpikan aku." Ledek Damar lagi sambil menjulurkan lidahnya.


"Berengsek!"


Aleta segera berbaring dan menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. Lagi-lagi ia di bodohi oleh tingkahnya sendiri. Sambil memekik malu ia menghentakkan kakinya di atas ranjang.


...💕💕💕...

__ADS_1


✨Terima kasih sudah membaca karya ku yang masih remahan ini, tetap dukung karya ini ya dengan cara memberikan like, komentar, vote atau kasih hadiah juga boleh 🤭. Maaf banyak maunya 😅 karena dari dukungan itu aku selaku author jadi semangat untuk melanjutkan cerita selanjutnya❤️. Sekian dan Terima kasih, salam sayang AUTHOR 🌹


__ADS_2