Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
73. - Kemarahan dan Kesedihan


__ADS_3

..."Selalu ada hal baru untuk dipelajari, jika kau menganggapnya penyesalan, tamatlah sudah. Tetapi jika kau menganggapnya sebagai pelajaran, ini menjadi awal yang baru. Hilangkan rasa penyesalan dan belajarlah memahaminya."...


...______________________...


Bukk!


Damar menjatuhkan tubuh Aleta begitu saja, hingga menimbulkan suara keras di atas lantai vinly. Sementara Aleta meringis perih sambil mengusap-usap bokong yang terasa panas akibat beradu dengan lantai tersebut.


"Berengsek!" umpat Aleta seraya memandang sinis Damar yang asyik berdiri santai di sampingnya bahkan pria itu pura-pura mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


Meski terasa sakit, ia tetap berusaha berdiri dengan susah payah. Damar yang melihat dari ujung ekor matanya justru sedang menahan tawa. Tak ada rasa empati sedikitpun melihat Aleta.


Aleta berhasil berdiri, matanya masih memandang sinis Damar. Melihat sikap acuh Damar yang tak mengucapkan kata maaf, mendatangkan ide untuk membalas perbuatannya.


Smirk tajamnya seakan yakin bahwa Damar akan merasakan hal yang sama dengannya. Bahkan rasa sakit yang lebih parah di bandingkan dengan dirinya sendiri.


'Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai.' Aleta menyeringai sambil menatap Damar.


Bukk!


Aleta berhasil membuat Damar menjerit kesakitan hingga melompat-lompat menahan denyut yang terasa hingga sampai di ujung kepala karena menendang tulang kering yang terletak di antara lutut dan kaki sebelah kiri milik Damar.


"Ahh, shitt!" jeritnya sambil mengumpat.


Tak sampai di situ saja, Aleta mendorong tubuh Damar agar segera keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Meski saat itu Damar baru saja ingin memaki Aleta.


'Dasar wanita gila!' umpatnya di depan pintu kamar Aleta.


...***...


Emir serta Kemal sudah tiba lebih dulu di lokasi, mereka menunggu kedatangan Damar dan Aleta sambil menyesap wine. Kedua pasang mata tak lepas memandang area pintu masuk dari dalam gedung tingkat.

__ADS_1


"Kau yakin, pengawalnya itu tidak akan ikut?" tanya Emir.


"Kau tenang saja, aku sudah meminta orang untuk mengikuti mobil mereka dan jika pengawalnya itu ikut, rencana kedua akan ku keluarkan." Perjelas Kemal yakin dengan strategi yang dibuatnya.


"Baiklah. Rupanya kau cukup pintar juga," puji Emir pada sahabatnya itu.


Keduanya sempat memeriksa dashcam dari mobil Kemal saat malam itu, dimana terlihat Erick sedang mendatangi rumah sewaan Emir hingga membuatnya hampir ketahuan karena menyenggol tempat sampah.


Dari hasil rekaman itulah yang membuat keduanya segera merubah rencana awal, sebab meyakini jika Erick menguping pembicaraan mereka. Emir dan Kemal berniat mendatangkan Damar dan Aleta saja tanpa didampingi Erick, dengan begitu perubahan rencana mereka akan berhasil.


Ting!


Kemal menjawab panggilan dari ponsel sambil menyeringai puas. Emir yang melihat raut kesenangan di wajah Kemal pun ikut merasa puas dan menilai rencana mereka kali ini akan berjalan sesuai apa yang mereka inginkan.


"Tuan, mereka sudah keluar dari rumah."


"Bagus. Terus ikuti mereka sampai kemari!" perintah Kemal.


"Baik Tuan."


"Mereka hanya berdua di dalam mobil, saya tidak melihat adanya pengawal itu."


"Baiklah. Tetap awasi situasi." Pesan Kemal sebelum mengakhiri panggilan.


"Baik Tuan, saya mengerti."


Setelah menutup sambungan, Kemal mengangkat gelas di depan Emir dan Emir pun melakukan hal yang sama. Mereka bersulang, merayakan susunan tahap awal rencana yang telah sukses.


...***...


Suasana kembali hening di dalam mobil, tak adanya suara yang keluar sedikitpun dari kedua bibir Damar dan Aleta. Damar tengah fokus mengendarai mobil sementara Aleta asyik memandang jalan Kota yang ramai dengan pejalan kaki.

__ADS_1


Sesekali Damar menoleh ke arah Aleta, melihat Aleta yang sejak tadi melihat ke arah jendela di sampingnya. Namun, rupanya pantulan wajah Aleta dapat terlihat dari jendela itu, sehingga Damar dapat melihat raut wajahnya yang sedang memikirkan sesuatu.


"Ekhemm!" Damar berdeham sambil melirik dengan ujung ekor matanya.


Suara deham yang dibuat Damar ternyata tak juga berhasil membuat Aleta beralih ke arahnya. Akhirnya Damar berniat memutar musik dari head unit di mobilnya.


Menekan layar dan memilih salah satu lagu yang menurutnya dapat mencairkan suasana keheningan antara dirinya dan Aleta. Lagu itu pun terputar dan terdengar di telinga Aleta.


Without me lagu milik Halsey itu menggema di dalam mobil. Arti dari lagu tersebut justru menggambarkan keadaannya saat ini, berisikan kemarahan dan kesedihan yang dirasakan namun, sulit mengatakan karena adanya perasaan cinta terhadap pria itu.


Betapa buruknya pernikahan yang ia jalani bersama Damar, sebab semua itu hanya sebatas permainan. Sengaja mengatasnamakan pernikahan untuk membalaskan dendam kepada keluarganya, sementara yang ia tahu dari isi kotak itu, Ayah Damar lah yang membunuh Ibu kandung Aleta.


Merampas kebahagian saat Aleta kecil bersama dengan kedua orangtuanya dan meninggalkan bekas luka di kehidupan Aleta. Ia harus kehilangan kasih sayang Ibu serta Ayahnya secara bersamaan.


Menghancurkan segala harapannya yang dulu saat dimana ia masih berusia 7 tahun. Aleta menilai jika Damar membalikan semua fakta agar dapat menutupi kebohongan yang dilakukan keluarganya kepada keluarga Aleta, persis seperti ucapan Emir.


Pikirnya, pantas saja ia bersikeras mencari keberadaannya sampai harus membuntuti setiap kali kemana Aleta pergi dan memaksa untuk menerima menikah dengannya atas dalih hutang sang Ayah.


Bulir air mata menetes di kedua pipi Aleta saat mengingat rekaman yang ada di dalam kotak tersebut. Bagaimana cara sadis kedua orangtua Damar mengancam Ibunya hingga membuat depresi berat dan berujung bunuh diri.


Bersamaan dengan tangisnya, rintik hujan pun turut meratapi kesedihannya pagi itu. Damar menoleh dan melihat pantulan wajah Aleta dari jendela kaca mobil, menyaksikan tangis air mata yang coba disembunyikan oleh Aleta.


Damar tersentak begitu melihatnya, ia pikir tangis Aleta masih berhubungan soal kesalahan yang di perbuatannya kemarin.


'Dia menangis? apa karena kejadian kemarin? aku pikir dia sudah melupakannya,' gumam Damar merasa bersalah.


Di pemberhentian lampu merah, Damar mengambil tissue di tengah-tengah kursinya dan kursi Aleta. Tissue itu, ia berikan pada Aleta namun, tak diterima oleh Aleta karena tak ingin menunjukkan tangisnya di depan Damar, meski Damar melihatnya dari pantulan jendela.


Aleta menyeka sendiri air mata dengan tangannya dan menepis tissue yang diberikan Damar. Tanpa menoleh ke arah Damar, Aleta kembali memalingkan wajah dan segera memejamkan mata, berharap tertidur agar tak merasakan kemarahan dan kesedihannya pada Damar.


"Maaf."

__ADS_1


...💕💕💕...


*Terima kasih sudah membaca, tetap ikuti terus ya kisah Damar dan Aleta sampai ending 😁 jangan lupa selalu dukung aku berupa vote, like, gift dan favoritkan ya, agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya🤗 Terima kasih ♥️


__ADS_2