Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
64 - Drama Damar


__ADS_3

..."Sekarang perjuangkan saja sesuatu yang memang baik untukmu. Tidak peduli orang-orang di sana menilai."...


..._____________________...


"Aahhhh!"


Damar memekik sembari memegangi tengkuk kepalanya yang masih dibalut perban. Ia meringis layaknya orang kesakitan. Sontak rintihannya itu membuat Aleta berbalik dan menghampiri dirinya.


"Ada apa? kenapa? apa yang sakit?" Aleta memberondong pertanyaan padanya sambil ikut memegangi perban itu.


"Aahhh!"


Damar kembali menjerit yang kali ini benar-benar terasa sakit saat Aleta menyentuh bagian luka itu, meski telah ditutupi perban. Aleta pun terlihat panik setelah melihat raut wajah Damar yang kesakitan.


"Aahh, kenapa? sakit ya?" tanyanya polos.


"Sudah tahu sakit malah bertanya," protes Damar kesal.


"Ya maaf, aku tidak tahu!" balasnya.


"Cepat bantu aku ke kamar," pinta Damar segera saat mendapatkan kesempatan.


"Untuk apa? yang sakit itu kepalamu kan bukan kakimu, jadi gunakan kaki untuk berjalan bukan berjalan menggunakan kepala, paham!" tegas Aleta.


Damar terdiam sejenak mendengar ucapan wanita di depannya itu, rupanya sulit sekali meyakini Aleta. Tak menyangka jika ia akan mendapatkan jawaban dari otak pintarnya.


"Argghhh! wanita ini benar-benar membuatku gemas." Gumamnya seraya mengeraskan rahang.


Damar menghela napas panjang sebelum berkata, "apa kau tidak sedikitpun merasa iba padaku? setelah aku menolongmu dari peristiwa kecelakaan itu," ungkap Damar menatap tajam Aleta.


"Tidak." Aleta membalas singkat dan tegas.


"Apa!" serunya.


Alis Damar mengkerut begitu terkejut mendapat respon jawaban yang sama sekali tak diinginkannya. Pikirnya, wanita itu akan sedikit luluh dan berterima kasih padanya karena telah menolongnya.


Namun ternyata anggapannya telah salah, Aleta justru merasa tak peduli sedikitpun. Akhirnya Damar memilih mengalah, tak mau lagi membicarakan hal seperti itu padanya karena hanya akan membuatnya jengkel.

__ADS_1


"Aku tidak meminta kau untuk membantuku, untuk apa berterima kasih." Ucap Aleta enteng.


"Hah! sudahlah, aku malas berdebat denganmu," keluh Damar berbalik badan.


Aleta tersenyum di balik punggung Damar sebelum akhirnya ia melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Tak dapat dipungkiri, jika Aleta memang sangat senang melihat Damar telah pulang ke rumah walau dengan cara memaksa.


"Jangan kepedean dulu, aku melakukannya karena harus bertanggung jawab. Kau seperti ini karena aku, walau aku tidak memintanya. Tapi setidaknya aku menuruti pesan yang disampaikan Dokter itu." Penjelasanya menatap Damar sambil melingkarkan tangannya di lengan Damar.


Damar yang sempat terkejut kini membalas tatapan Aleta dengan mata berbinar. Dalam hatinya memekik kegirangan karena mendapati reaksi Aleta yang di luar pikirnya.


Alis Aleta mengkerut. "Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapan ku? tanyanya penasaran.


"Hmm!" Damar menggelengkan kepala pelan, "tapi tidak perlu merangkul tanganku seperti ini, aku bisa jalan sendiri." ucap Damar menahan tawa.


"Ah!" Aleta tergemap dan segera melepaskan lingkaran tangannya pada lengan Damar, lalu sedikit menjauh.


Damar mengulum senyum, gemas melihat reaksi Aleta yang tengah menahan rasa malunya. Cepat-cepat Damar menawarkan lengannya untuk di rangkul kembali oleh Aleta.


"Tidak apa, aku menyukainya!" tuturnya tersenyum.


Aleta menatap sejenak raut wajah Damar sebelum beralih melihat lengan Damar yang ditawarkannya. Meski ragu akhirnya Aleta kembali melingkarkan tangannya pada lengan kekar itu.


"Yes! hari ini aku banjir uang." Gumamnya kegirangan.


...***...


Setibanya di Apartemen, Erick terduduk di sofa lalu membuka isi map yang sempat diberikan oleh Damar. Ia melihat satu-persatu lembar foto serta beberapa lembar kertas mengenai data dan identitas seseorang yang ada di dalam foto tersebut. Ia tercengang melihat Emir yang ada dalam gambar.


"Rupanya pria tua itu benar-benar hidup. Hebat sekali dia menipu dunia dengan menyatakan bahwa dirinya telah mati. Ku harap ucapannya itu akan menjadi bumerang baginya."


Erick membuka laptop guna memeriksa data Emir dari kolom aplikasi media sosial yang ia punya. Malam nanti ia berencana untuk mendatangi alamat rumah yang telah diinformasikan oleh Damar.


Untung saja ia sempat mengunjungi Rumah Sakit, tempat dimana Damar melihat Emir dan Aleta bertemu. Ia juga telah mendapatkan seluruh ringkasan rekam medis dari Rumah Sakit itu, setelah secara sembunyi-sembunyi bekerja sama dengan salah satu petugas medis di sana.


Erick memasukan data-data yang didapatnya ke sebuah folder dengan nama bir suçlu, yang artinya seorang penjahat. Semua Data mengenai kejahatan Emir ada di dalam folder tersebut, yang nantinya akan menjadi barang bukti.


Setelah selesai berkutat dengan laptopnya, Erick sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena seminggu ini jadwalnya full menggantikan Damar di Kantor dan setelah selesai ia harus kembali ke Rumah Sakit, guna menjaga dan merawat Bosnya itu.

__ADS_1


Ia tidak mempercayakan seseorang untuk merawatnya, sebab sebelum diminta orang-orang tersebut akan menyerah lebih dulu. Mereka semua akan angkat tangan, tak bersedia menggantikannya.


"Aku yakin, saat ini Nona Aleta sedang menggerutu dan mengumpan pria batu itu!"


Erick bergumam menyandarkan punggungnya pada sofa seraya tertawa puas membayangkan nasib Aleta yang tengah direpotkan Damar habis-habisan. Bosnya akan banyak omong jika ia memerintah tapi perintahnya itu tidak dikerjakan dengan baik.


...***...


Benar saja. Begitu sampai di dalam kamar, Damar segera memerintahkan Aleta untuk melakukan apa yang ia inginkan dan lama-kelamaan Aleta menjadi kesal, ia terus saja menggerutu dan menyumpahi Damar yang masih memainkan dramanya sendiri. Pria itu selalu meminta ini dan itu darinya.


Mulai dari meletakkan bantal di belakang punggungnya hingga membawakan makanan serta menyuapinya. Semua ia kerjakan meski selalu salah di mata Damar.


"Letakkan bantal itu di punggungku, aku ingin bersandar di tempat tidur." Perintahnya santai.


Tanpa membalas, Aleta segera mengerjakannya. Setelah selesai meletakkan bantal, ia berniat keluar dari kamarnya. Namun Damar mencegahnya.


"Tunggu! kau mau kemana?" tanya Damar basa-basi.


"Keluar," jawabnya singkat.


"Aku lapar! tolong bawakan makanan untukku," perintahnya lagi.


"Kenapa tidak dari saja pergi ke ruang makan!" ucap Aleta mulai jengkel.


"Lupa." Balasnya santai.


"Ha!" mata Aleta memicing serta alisnya saling beradu.


"Sudah cepat bawakan makanan, sebentar lagi aku harus minum obat." Lontarnya yang lagi-lagi beralibi.


"CK, sih!" Aleta berdecak kesal dengan menatap sinis Damar yang saat ini tengah santai berselonjor kaki dan memainkan ponselnya.


Aleta pun melangkah keluar sambil menghentakkan kakinya sebagai tanda kesalnya, namun sikapnya yang seperti itu membuat Damar semakin bersemangat untuk melanjutkan dramanya. Ia tertawa puas merayakan kemenangan di atas kekesalan Aleta.


...💕💕💕...


*Terima kasih telah membaca sampai bab ini, jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan berikan gift serta vote ya sebagai bentuk dukungan untukku ❤️

__ADS_1


By the way, aku mau merekomendasikan karya dari temanku nih, karya dari Leli Leli. Kuy intip sambil nunggu up 👇*



__ADS_2