
..."Siapapun yang berani menyentuhnya, ku pastikan hidupnya akan berakhir saat itu juga"...
..._______...
Pria itu membawa Aleta menaiki perahu meski menaruh sedikit perasaan curiga terhadap pria yang membawanya kini. Pikirnya, apa benar Damar yang memintanya untuk bertemu setelah ia terlihat bersama wanita lain kemarin malam.
"Silahkan naik, Nona!" pintanya.
Aleta duduk diatas perahu dengan was-was, ia berharap jika memang benar pria yang saat ini tengah duduk dibelakangnya adalah anak buah dari Damar.
Setengah jam berlalu, akhirnya Aleta dan pria itu tiba di tempat penginapan yang berbeda. Resort nya berdiri diatas air laut dan tak seluas penginapan sebelumnya.
Pria itu menuntun Aleta menuju salah satu kamar dan memintanya untuk segera masuk kedalam, namun tiba-tiba pria itu dengan cepat mengunci Aleta dari luar.
Sontak Aleta terkejut melihatnya yang sengaja mengunci pintu. Mendapati kecurigaan membuat Aleta tak ingin berlama-lama disana, ia segera mencari cara agar dapat keluar.
Sialnya akses untuk ia bisa pergi hanyalah menyelam dari bawah tempat penginapan. Aleta panik kala menatap air dibawahnya, jika saja menyelam itu mudah baginya mungkin ia telah menyelam sejak tadi tanpa harus berpikir panjang.
Dari ambang pintu kamar terlihat seorang pria bertubuh kekar memerhatikan Aleta sembari menyeringai puas. Aleta pun menyadari keberadaannya saat pria itu bertepuk tangan alih-alih mengejek.
"Siapa kau?" Tanya Aleta takut.
"Aku! Hmm, aku pengagum rahasiamu!" Pria itu menghampiri Aleta sambil menyentuh beberapa rambut Aleta yang kemudian dihirupnya.
"Tolong jangan kurang ajar, Tuan!" Aleta mendorong tubuhnya kuat saat pria itu mulai bersikap kurang ajar.
"Wanita jual mahal sepertimu membuatku semakin tergoda, sayang!" Rayunya dengan raut wajah mesum.
__ADS_1
"Pergi dariku atau ku patahkan lehermu!" Ancam Aleta bengis.
Pria itu lantas tertawa geli mendengar ancaman Aleta, ia justru semakin berani menyentuhnya. Menerima perlakuannya yang tidak mengenakan Aleta terkesiap menamparnya kuat. Pria itu kemudian murka saat mendapatkan sikap Aleta yang berani melayangkan tangan diatas pipinya, ia pun membalas dengan memukul tengkuk Aleta, hingga membuatnya terjatuh lemah di lantai.
...•••...
Damar baru saja tiba di penginapan melihat kejanggalan yang terjadi, sebab pintu masuk tidak terkunci bahkan terlihat secangkir teh dan roti diatas meja yang masih tersisa.
Ia juga tak melihat Aleta berada didalam kamar setelah memeriksanya, bahkan kopernya pun masih tersusun rapi didalam lemari.
"Kemana lagi wanita itu pergi! senang sekali membuatku marah." gumam Damar kesal.
Damar bergegas menuju ruang cctv guna memeriksa keadaan penginapan saat ia tak berada disana kemarin malam. Melihat seorang pria yang membawa Aleta pergi, membuat Damar curiga terlebih ia tak mengenal sosok pria itu.
Damar terus mencari walau senja hampir tiba. Ingatannya kembali mengulang saat berada di bar malam itu, sempat bertemu dengan salah satu wanita yang selalu bertanya mengenai Aleta. Ia pun segera menemuinya untuk menanyakan keberadaan Aleta, ia beranggapan jika wanita itu pasti tahu dimana Aleta saat ini.
Setibanya Damar berlari sibuk mencari alamat keberadaan Aleta, raut wajahnya tampak gusar dan cemas meski ia tak menyukai Aleta.
Ia tak ingin seseorang menyakiti istrinya selain di tangannya sendiri. Damar terus saja menelusuri setiap penginapan, begitu menemukan alamat yang sama segera ia menghampiri tak peduli dengan dua orang bertubuh tambun yang berjaga di depan pintu.
Dengan sarkasnya Damar memberikan tinjunya kepada dua orang tersebut. Walau sempat terkena pukulan dari keduanya, ia tetap melawan hingga kedua orang itu tergeletak di lantai.
Sementara Aleta kini sudah tak lagi sadarkan diri saat berada di dalam kamar bersama pria mesum yang ingin menikmati tubuhnya. Pria itu menyeringai penuh hasrat seksual ketika melihat mangsanya tepat di depan mata.
Perlahan ia mendekati Aleta dan mulai melucuti pakaiannya, setelah jari-jemari besar itu berhasil menyentuh pipi dan bibir Aleta dengan liar. Pria itu terkesiap melepaskan celana dan tengah berlutuh di bawah sela kedua paha Aleta.
"Tubuhmu begitu indah, baby! Aku tak sabar untuk menikmatinya malam ini."
__ADS_1
Setelah bergumam pria itu tak lagi bisa menahan otak mesumnya untuk segera menikmati tubuh Aleta dengan binal. Saat ingin mencium bibir Aleta, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar, memperlihatkan Damar yang berdiri diambang pintu.
Sorot mata merah padam dan tangan yang telah terkepal kuat, mengisyaratkan jika emosinya meradang. Damar menghampiri pria tersebut dan membabi buta dengan buas hingga menyebabkan pria itu babak belur.
Tak memperdulikan rintisan ampun pria itu yang terus saja memohon padanya agar menghentikan perlakuannya. Sayangnya kemarahan Damar tak sampai disitu saja, ia justru mengeluarkan pistol dari saku celananya dan langsung menodongkan pistol pada pria yang saat ini tengah lemah di lantai vanly.
"Ampun, saya mohon jangan lakukan itu! saya hanya diperintah, tolong jangan tembak saya, Tuan!" Renggeknya bersimpuh di bawah kaki Damar.
Duarrr!!!
Duarrr!!!
Tanpa basa-basi yang keluar dari mulutnya, Damar melepaskan peluru tepat diatas alat vit*l pria itu. Damar tidak lagi bertanya lebih lanjut siapa dalang yang memberi perintah pada pria itu.
Meninggalkan pria yang terkapar tak berdaya–Damar segera menutup tubuh Aleta kemudian menggendong diatas punggungnya untuk membawanya keluar dari penginapan itu. Seketika keduanya disambut dengan semburan api yang mulai merambat ke semua ruang penginapan saat hendak keluar kamar.
Asap yang telah mengepul di dalam ruangan membuat Damar sulit menemukan pintu keluar. Ia kembali ke dalam kamar guna menggambil selimut tebal yang sudah dibasahinya lalu menutupi dirinya dan Aleta dari balik selimut tersebut.
Damar berjalan sangat hati-hati ketika melewati kobaran api, ia tak ingin percikan api melukai dirinya dan Aleta. Beruntung keduanya berhasil keluar dari sana, namun tiba-tiba penginapan itu mengeluarkan api yang cukup besar, hingga suaranya terdengar seperti dentuman bom yang meledak.
Damar dan Aleta terjatuh saat merasakan hawa panas yang menerpa mereka. Damar berusaha bertahan untuk tetap membawa Aleta pergi dari tempat itu.
"Tidak akan ku biarkan kau mati di tempat seperti ini, meski aku terluka karena mu."
...
...
__ADS_1
...♡♡♡...