Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
62 - Damar dan Aleta, Kissing


__ADS_3

..."Bertemu denganmu adalah takdir tapi jatuh cinta denganmu, itu di luar kemampuanku."...


..._____________________...


"Aaaahhhhhh!"


Jerit Aleta terdengar seantero Rumah, Erick serta para pekerja lainya sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Mereka pun segera menghentikan kegiatan lalu menghampiri kamar Aleta.


"Ada apa? kenapa Nona berteriak seperti itu?"


Mereka bergumam seperti itu dan saling tatap satu sama lainnya kemudian dibalas dengan mengedikkan bahu, tanda tidak tahu.


Sementara di tempat kejadian, Aleta menjauhi Damar yang masih berdiri didekat bathtub. Ia terduduk di sudut bathtub, lalu menutup bahunya dengan kedua tangan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Aleta menodong pertanyaan dengan kilauan mata tajam bak bilah pisau yang siap menghujam Damar.


Damar menelan saliva gugup, pikirannya melayang entah kemana meski netra matanya tertuju pada Aleta yang dinilai begitu erotis. Surai panjang miliknya diikat cepol dan sedikit basah sementara wajahnya terdapat beberapa busa yang menempel di pipinya, belum lagi bagian leher jenjang serta bahunya telah dibasahi air rendaman, sehingga menambah kesan keseksiannya.


Pria itu tak mengindahkan pertanyaan Aleta, meski dirinya telah mendapatkan teguran beberapa kali dari si pemilik kamar yang memintanya untuk keluar dari sana.


Merasa geram karena tak juga mendengar, Aleta melempari Damar dengan handuk kecil berwarna putih yang terlampir di dekat bathtub.


Bukk!


Handuk itu mengenai wajahnya sehingga membuatnya tersadar akan lamunan kotor. Damar menarik handuk dari wajahnya, lalu mencengkeram handuk itu kuat-kuat sebelum akhirnya melangkah mendekati Aleta.


"M--ma--mau apa kau?" Tanya Aleta dengan suara terbata-bata sambil memojokkan dirinya kembali.


Tangan kanan ia jadikan tumpuan di atas keramik bathtub, sementara tangan kirinya masih menggenggam handuk. Damar mendekati wajahnya dengan wajah Aleta yang akhirnya ditatap lekat.


Baru kali ini Damar dapat melihat jelas kedua manik mata Aleta yang berwarna spektrum dan dilengkapi dengan bulu mata yang lentik, sehingga menambah kesan sempurna pada bagian matanya. Ia terpana melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Aleta, walau tak ada riasan apapun yang menempel di atasnya, semua terlihat natural.

__ADS_1


Bibir merah mudanya yang kenyal bak permen jelly serta pipi yang mulai memerah seperti tomat masak, membuat Damar ingin segera meninggalkan jejak di sana sebagai tanda kepemilikannya, kendati ia sadar akan pernikahan kontraknya pada Aleta dan janji-janji yang telah ditandatangani.


Aleta yang sempat marah kini ikut tersihir oleh tatapan mata dan juga deru napas yang hangat di dekat wajahnya. Damar memajukan sedikit wajahnya hingga jarak keduanya hanya menyisakan 1 senti.


Tiba-tiba Damar melahap begitu saja bibir ranum milik Aleta, sontak bola mata wanita itu mendelik lebar kala terkejut mendapati Damar yang telah berani menciumnya.


Seperti sebuah sengatan listrik yang diciptakan Damar, Aleta pun akhirnya terhanyut. Ia membalas ciuman itu dengan balik menyelami dan mengabsen satu-persatu deretan giginya yang rapih.


Damar sedikit terkejut akan kelihaian Aleta yang ternyata cukup pintar bermain dengan ciuman. Tangan yang ia pakai untuk menggenggam handuk kini terlepas begitu saja saat menanggapi ciuman Aleta yang mulai liar.


Tangan kekarnya itu telah menempel di tengkuk leher Aleta, agar memperdalam ciuman tersebut. Keduanya enggan untuk melepaskan tautan walaupun napas mereka hampir tersengal-sengal.


"Aku merindukanmu!"


Hanya itu yang Aleta ucapkan di dalam batinnya. Entah apa yang merasuki jiwanya hingga berani membalas ciuman itu, ia memang membenarkan bahwa dirinya merindukan Damar.


Pria yang mampu mengacaukan segala pikiran dan jiwanya. Mungkin bagi Aleta ciuman itu hanya sebatas obat akan kerinduannya pada sosok Damar. Entah sebuah halusinasi atau realita, ia tetap ingin menikmatinya.


Prankkk!


Mendapati dirinya dan Damar sedang dipertontonkan membuat Aleta segera mendorong tubuh Damar, hingga membuat pria itu terjungkal. Ia segera menarik handuk yang masih menggantung dan menutupi bahunya dengan handuk tersebut.


Aleta gugup dan salah tingkah saat Erick serta para pelayan itu menyoroti keduanya dengan tatapan tak percaya, sedangkan mereka telah mengetahui perjanjian keduanya.


Sementara Damar masih meringis perih sambil mengusap-usap bokongnya. Ia pura-pura tak ingin melihat mereka apalagi Erick, yang sudah pasti menatapnya dengan tajam sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Kita bicara di ruangan Bos," ucap Erick mempertegas bahwa ia butuh penjelasan sedetail mungkin.


...***...


Emir mendengar kabar bahwa Aleta dan Damar sudah kembali ke rumah. Ia kesal karena lagi-lagi telah gagal membunuh Damar, meski harus mengorbankan Aleta karena ia tak peduli dengannya yang diinginkan pria tua itu hanyalah membuat Damar menghilang dari bumi ini.

__ADS_1


"Hahaha!"


Kemal mentertawakan Emir yang sedang meratapi kegagalannya. Rencana dari temannya itu ternyata tak semulus seperti dahulu.


"Diam, suara tawamu mengganggu ku!" tegur Emir sambil menatap bengis.


"Ku pikir kau masih sepintar dulu," oloknya masih tertawa.


"Semua karena kebodohan sopir truk itu." Balas Emir menyalahi orang lain.


Kemal menyeringai dan menatap remeh sambil berkata, "Hidupmu selalu menyalahkan orang lain."


Emir terdiam tak ingin beradu argumen dengan Kemal karena keduanya memiliki sifat tak mau mengalah.


"Mau ku bantu!" tawarnya pada Emir yang saat ini terlihat sedang berpikir keras.


Kali ini Emir menoleh kembali ke arahnya, sejak keduanya saling kenal, baru sekali itu ia mendengar Kemal menawarkan bantuan. Sepengetahuannya Kemal tak pernah mau terlibat apapun dengan masalah keluarga Emir.


"Apa kau yakin," Emir menaikan sudut alisnya, mencerna apa yang didengarnya benar-benar dari keyakinan Kemal.


"Asal kau bisa menjamin hidupku akan aman." Kemal menjawab dengan penuh percaya diri meski dengan syarat yang diajukan.


"Aku akan lihat kemampuanmu, jika berhasil aku akan menyetujui syarat mu itu." Balas Emir.


"Baiklah."


Keduanya saling beradu pandang dan tersenyum seakan tengah bersiap menghancurkan kehidupan Damar.


...💕💕💕...


*Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan berikan gift atau vote serta rate ya, terima kasih 😘

__ADS_1


By the way, aku mau rekomendasi karya novel teman nih dari Sobri Wijaya. Kuy mampir sambil nunggu up



__ADS_2