
..."Jangan terlalu cepat mempercayai apa yang kamu dengar, karena kebohongan menyebar lebih cepat daripada kebenaran."...
..._____________________...
Begitu Aleta keluar dari kamarnya, ia dihadang oleh 2 pengawal yang berjaga di depan pintu. Kedua pengawal itu memberondong pertanyaan kepadanya, setelah mendapati dirinya yang hendak pergi.
"Nona mau kemana?" tanya salah satu pengawal.
"Aku mau keluar sebentar!" jawabnya cepat.
"Maaf Nona, tapi Nona tidak diizinkan untuk pergi kemana pun." Balas pengawal itu.
Aleta mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan kepada dua pengawal itu isi chat nya. Dua pengawal itu saling menoleh dengan raut wajah tak yakin.
"Kalian tidak percaya? apa harus ditegur Damar, baru kalian mempercayainya!" kilah Aleta menakut-nakuti.
"Maaf, tapi Bos tidak memberikan informasi kepada kami." Sahutnya penuh keyakinan.
"Baiklah, jika kalian tidak percaya. Aku akan menghubunginya sekarang juga!" serunya sedikit ragu.
Aleta berpura-pura menekan nomor asal untuk ia hubungi namun nada panggilan itu terus berdering, tak ada jawaban sama sekali. Aleta menelan saliva susah payah, ia menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Sepertinya Nona berbohong pada kami," ucapnya setengah menyindir.
"Aku tidak berbohong, Damar memang memintaku untuk datang ke Kantornya. Kalian bisa mengantarku kesana sekarang!" tegasnya bersikukuh agar dapat pergi menemui Ayahnya, dengan cara apapun.
"Baiklah, kalau begitu kami yang akan menghubungi Tn. Damar." Tangkas pengawal itu seraya mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Aleta membelalakkan matanya tatkala pengawal itu tengah menghubungi nomor Damar. Ia semakin gugup dan takut jika ketahuan berbohong. Jantungnya berdegup cepat saat pengawal berhasil menghubungi Damar.
"Tamatlah riwayat mu, Aleta!" Batinnya menyumpahi dirinya sendiri.
"*Halo Bos, kami ingin bertanya! apa benar Nona diminta ke kantor sekarang*?"
.....
.....
.....
"*Halo, Bos*!"
"*Bos*!!"
__ADS_1
Panggilan itu berakhir begitu saja saat mereka tak mendapatkan jawaban apapun dari Damar, sebab ternyata salah satu pengawalnya lupa mengisi pulsa sehingga tak bisa melanjutkan panggilan. Sementara pengawal yang satunya lupa untuk mengisi daya pada baterai ponselnya.
Mendengar kecerobohan kedua pengawal Damar membuat Aleta bernapas lega, ternyata Damar memperkerjakan pengawal yang kurang tanggap dan kelewat teledor.
"Sudahlah, lebih baik kalian hantarkan aku ke Kantornya!" pintanya segera sebelum pengawal itu memiliki cara lain untuk menghubungi Damar.
Keduanya saling beradu pandang, menafsirkan jika ucapan Aleta sedikit membuat mereka percaya dan mengiyakannya. Mereka pun akhirnya mengantarkan Aleta menuju Kantor Damar.
...***...
Tok!!
Tok!!
Erick masuk kedalam ruang kerja Damar, ia menyampaikan jika Tn. Edward sudah tiba lebih dulu di shisha lounge 5 menit yang lalu.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!" ucapnya bergegas melangkah sambil memakai jasnya.
Keduanya pun melangkah turun dari ruangan menggunakan lift menuju lantai dasar, setelah tiba mereka melanjutkan langkah menuju pintu utama. Tanpa mereka sadari ternyata Aleta tengah bersembunyi di balik standing banner yang berada di lobby.
Aleta melihat Damar dan Erick setelah keluar dari pintu lift, untung saja 2 pengawal itu tidak mengikutinya masuk ke dalam, sehingga ia bisa dengan cepat bersembunyi tanpa diketahui Damar dan Erick.
"Hufftt!! hampir saja." Gumamnya bernapas lega.
Kini Aleta pun mencari cara agar bisa lolos dengan mudah tanpa dilihat oleh kedua pengawal itu. Aleta mencari jalan keluar menuju pintu darurat dan begitu mudah akhirnya ia bisa lolos dengan menaiki sebuah taksi yang saat itu terparkir rapi di pinggir jalan.
.
.
.
.
"Ya, duduklah Damar," sapa Tn. Edward setelah menerima permintaan maaf dari keduanya.
"Saya bawakan cenderamata untuk anda, Tn. Edward," Damar memberikan paper bag yang berisikan kotak royal tokaji essencia untuknya.
"Wah, terima kasih sekali!" serunya sumringah setelah mendapatkan satu botol wine limited edition dengan harga yang cukup fantastis.
"Sama-sama, anggaplah itu sebagai ucapan permintaan maaf ku kepada anda, Tn. Edward." Balasnya tersenyum lega, tak sia-sia ia meminta Erick untuk menyempatkan beli di salah satu outlet resmi langganannya.
Damar dan Tn. Edward pun memesan menu makan siang, mereka menyantap makanan itu dengan lahap dan nikmat sambil membicarakan kontrak kerja sama antar perusahaan. Tn. Edward sangat senang bisa bekerja sama dengan pemuda gigih seperti Damar, ia juga yakin bahwa proyek kerjasamanya itu akan berjalan lancar dan sukses seperti gambaran bayangannya.
Setelah menghabiskan makan siang, mereka melanjutkan memesan makanan penutup berupa custard atau sejenis puding. Meski Damar sudah tak sanggup lagi memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, ia harus menuruti sang klien demi terjalinnya kerjasama.
"Maaf Bos, anda mendapatkan panggilan dari Nona Yuri!" bisik Erick di telinga Damar saat memotong pembicaraan keduanya.
"Abaikan saja." Ucapnya singkat tak ingin ambil pusing.
"Baik Bos," Erick mengangguk patuh.
Damar melanjutkan kembali obrolan bersama Tn. Edward sampai klien nya itu siap menandatangani kontrak kerjasama dan setelahnya Damar dan Tn. Edward sama-sama berpamitan.
__ADS_1
"Senang bekerjasama dengan anda Tn. Damar," pujinya sambil mengulurkan tangan.
Damar tersenyum, "Sama-sama Tn. Edward," balas Damar seraya menjabat tangannya.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok." Pamitnya begitu hendak masuk ke dalam mobil.
Damar mengangguk, "Baiklah, hati-hatilah di jalan." Pesan Damar.
Mobil Tn. Edward pun melesat pergi meninggalkan Damar dan Erick yang masih berdiam di depan pintu lounge.
"Maaf Bos, sepertinya aku tidak bisa mengantar ke Kantor, sebab aku harus pergi ke kantor polisi!" ucap Erick menghampiri Damar.
Menoleh, "Ada perkembangan dengan orang itu?" tanya Damar penasaran.
"Belum tahu pasti, hanya saja pihak kepolisian memintaku untuk datang ke sana." Jawabnya.
"Baiklah, kau pergi kesana dan laporkan perkembangan mengenai orang itu," pesan Damar sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baik Bos, aku pamit pergi." Ucapnya membungkuk lalu berjalan pergi.
Begitu Erick pergi Damar pun ikut melajukan mobilnya meninggalkan halaman itu. Ia melesat kembali menuju kantor, sebab harus menyelesaikan kembali tugasnya yang tertunda.
...***...
Aleta tiba di klinik, ia menghampiri resepsionis guna menanyakan ruang perawatan Ayahnya. Setelah mendapatkan informasi Aleta segera melangkah menuju ruangan dimana Ayahnya tengah di rawat.
Ia menggeser pintu agar terbuka dan menghampiri ranjang Ayahnya yang berada di dekat jendela. Aleta membuka perlahan tirai sekat yang menggantung di atas. Netra matanya tertuju pada sosok lelaki paruh baya yang tengah tertidur pulas di atas ranjang klinik.
Aleta berjalan mendekati Ayahnya, diraihnya tangan sang Ayah yang mulai mengendur sejalan dengan usianya. Air mata Aleta runtuh saat menyaksikan keadaannya yang kini tengah terbaring lemah.
"Apa yang terjadi Ayah? kenapa kau bisa sampai begini?"
Ucap Aleta di samping sang Ayah sambil menciumi punggung tangannya diikuti tangisnya. Tak pernah terbayangkan olehnya bagaimana rasa penderitaan sang Ayah dengan keadaan tak bisa melihat namun ingin tetap berusaha hidup mandiri tanpa adanya pertolongan dari siapapun, bahkan Aleta sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena tuntutan sebagai istri Damar, sedangkan ia ingin sekali tinggal bersama Ayahnya.
"Aleta!" panggil Emir setelah membuka matanya.
"Ayah, Ayah sudah sadar! sebentar aku panggilkan Dokter." Ujarnya hendak melangkah namun dicegah oleh Emir.
"Tidak perlu Nak, Ayah sudah membaik." Tolaknya segera.
"Tapi yah," ucap Aleta terjeda saat mendengar perkataan Emir.
"Nak, bisakah kau mengabulkan permintaan Ayahmu ini?" tanya Emir begitu memotong ucapan Aleta.
Aleta terdiam tak berani mengambil keputusan apapun, ia yakin jika itu ada hubungannya dengan Damar dan benar saja, Emir meminta Aleta untuk membalaskan dendamnya kepada Damar, bahkan ia tak segan-segan meminta Aleta untuk membunuh Damar.
Aleta pun sempat menolak untuk melakukan hal keji semacam itu, bagaimanapun ia tidak membenarkan perbuatan sang Ayah yang membalaskan dendam dengan cara membunuh Damar.
Namun Emir tetap bersikeras meyakini Aleta untuk membuatnya ikut membenci Damar dengan memberikan bukti foto, surat maupun video kepadanya.
"Kau bisa lihat itu sendiri dan yakini dalam hatimu bahwa Damar itu orang yang jahat, dia sengaja bersandiwara di depanmu, agar kau mempercayainya. Semua bukti ada di kotak itu, kau bisa melihatnya sendiri dan Ayah harap dengan bukti itu, kau bisa yakin bahwa Damar memanglah pelaku di balik ini semua." Ungkapnya bersikeras meyakini Aleta.
Aleta hanya bisa diam saat menerima kotak itu, perasaanya mulai kacau balau. Tak bisa membayangkan kenyataan dari ucapan Ayahnya. Bagaimana kalau Ayahnya benar? sulit baginya menerima kenyataan semua itu. Walaupun sangat berharap bahwa Damar bukanlah pelaku seperti tuduhan sang Ayah.
...💕💕💕...
__ADS_1
**Hai pembaca setia MOTG, aku mau rekomendasi nih cerita seru nan jenaka karya author Liana kiezia. Ceritanya menggelitik, kocak abis bisa bikin awet muda juga, kuy silahkan mampir ya***🤗**