
..."Amarah seorang anak pada orang tua pasti akan menjadi penyesalan. Jangan sampai kau menyesal, sebab penyesalan itu neraka terdalam dalam kehidupan."...
..._________...
Kenangan itu datang bersamaan dengan lamunan dan terbang jauh ke dalam masa lalu yang menyedihkan. Derita itu semakin jelas terasa di saat Aleta melihat sang Ayah yang berdiri di hadapannya.
Keluhan jiwa terus membara akibat tersiksa oleh luka perasaan masa lalu. Meski takdir menjadi hal yang paling menyakitkan namun tak bisa di salahkan, sebab semua bagian dari ketetapan alam yang harus di jalani tidak dengan keluhan.
"Siapa ya?" tanya Emir, menatap Aleta.
Aleta masih terbungkam, rasanya berat untuk menjawab pertanyaan sang Ayah yang memang tak lagi mengenal dirinya, meskipun Aleta mengenali wajahnya dengan jelas. Wajah yang dulu terlihat angkuh dan kasar, kini tak lagi terlihat. Tulang rahang tegasnya dan mata tajamnya telah mengendur sejalan dengan usianya.
"Maaf ya, saya harus menanyakan nama anda terlebih dahulu, karena saya tidak bisa melihat." Ungkapnya sembari tersenyum.
Tes!!!
Detik itu juga air matanya menetes mendengar sang Ayah yang tak bisa melihatnya. Hatinya pun hancur mengetahui kondisi sang Ayah yang tak lagi sekuat dan setegap seperti dulu. Cinta pertamanya itu kini tampak lemah.
Walau Aleta membenci Ayahnya, tapi beliau tetaplah seorang Ayah yang menjadi cinta pertamanya di saat ia terlahir di dunia. Hanya saja keadaan lah yang mengubah ikatan antara seorang anak dan Ayah yang mengubah segalanya.
Aleta berusaha menahan suara isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tak terdengar sedikitpun oleh Emir.
"Ayo, silahkan masuk!" ajak Emir ramah.
Lagi-lagi Aleta tak membalas ucapannya, yang dilakukannya justru bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke dalam mobil.
Ia menangis sekuat-kuatnya di dalam mobil mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya. Tak lagi sanggup melihat keadaan sang Ayah dan menatapnya berlama-lama.
...***...
Damar tiba di kediamannya setelah mengantarkan Yuri pulang ke apartemennya. Ia berhenti di depan pintu kamar Aleta dan mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada respon dari dalam kamar.
"Apa dia sudah tidur?" gumam Damar menatap jam tangan yang melingkar di tangannya.
Merasa aneh jika Aleta sudah tidur di jam 7 malam saat itu. Tak ingin ambil pusing, Damar pun kembali melangkah menuju kamarnya.
Sedang Aleta duduk termangu di samping ranjang menatap kosong di depannya. Terbiasa diam seribu bahasa saat ia merasa bersalah, ingin memulai bersua namun nyali tak seberapa dan mencoba berteriak kepada semesta untuk melepas sesak di dada pun hanya lega sesaat, tapi tetap saja tak dapat mengumpulkan daya untuk berkata.
__ADS_1
"Sekarang aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan? apa aku harus membiarkan Damar membenci Ayahku secara terus menerus atau aku harus menghentikan semuanya?" monolog Aleta dalam diam.
Bahkan Aleta tak sadar percakapan panjangnya itu dengan Tuhan dapat diartikan sebagai doa atau bukan. Berharap ada seseorang yang dapat membantunya memecahkan solusinya saat itu.
Aleta menoleh ke atas nakas—mengambil bingkai foto sang Bunda lalu mengusapnya lembut sambil menatapnya. Rasanya ingin sekali ia mengadu pada sang Bunda, agar hati dan pikirannya merasa lebih baik.
Di setiap tidur malamnya, Aleta selalu berdoa berharap segera dipertemukan dengan sang Bunda, walau itu hanya lewat mimpi atau bertemu dengannya langsung. Aleta yakin suatu hari nanti akan bertemu dengannya, entah dengan situasi apapun.
...***...
Aleta menuruni anak tangga perlahan saat memerhatikan Damar bersama seorang wanita yang duduk di meja makan. Tampak keduanya tengah sibuk membicarakan sesuatu.
Tiba di ambang pintu ruang makan, keduanya pun menoleh ke arah Aleta dan segera menghentikan obrolan.
"Hai Aleta, selamat pagi!" sapa Yuri mengulum senyum.
Aleta diam tak membalasnya, sebab sibuk menelisik wanita yang tampak tak asing di matanya.
"Cepat duduk, jangan hanya diam di sana!" tegur Damar menginterupsi.
"Ah, Aleta pasti kau belum mengenal diriku!" disela-sela keheningan suasana. "Aku Yuri, teman dekat Damar." Sambungnya memberi penekanan di beberapa katanya.
Aleta membalas dengan senyum malas, ia tak begitu memperdulikan ucapan Yuri yang terkesan membuatnya kesal.
.
.
.
.
Sikap Yuri dinilai cukup berani, ketika di depan istrinya yang memerhatikan interaksi keduanya. Yuri mengambil sunny side up yang kemudian di letakkan di atas piring Damar sambil tersenyum manis.
"Selamat makan Damar," ucap Yuri seraya menyentuh lembut tangan Damar
Damar tersenyum dan mengangguk kecil. "Hm." Sahutnya.
__ADS_1
Sementara Aleta merasa risih berada di sana, setiap kali melihat mereka yang sengaja menunjukkan kemesraan di depannya. Belum lagi Yuri yang bersikap manja pada Damar dan dengan santainya Damar justru merespon sikapnya.
"Menjijikan! tidakkah wanita itu merasa malu bersikap manja dengan suami orang dan lagi si kepala batu itu meresponnya. Aku seperti orang bodoh berada di sini!" monolog Aleta menatap sinis ke arah keduanya.
"Ekhem!!" Aleta berdeham menghentikan interaksi keduanya.
"Ada apa Aleta? apa kau butuh sesuatu?" tanya Yuri dengan nada bicara sehalus mungkin.
"Hari ini aku akan mengunjungi panti," ucapnya tertuju pada Damar dan enggan menjawab pertanyaan Yuri.
"Silahkan." Balas Damar singkat.
Aleta sedikit tersentak mendengar ucapan Damar yang terlihat begitu mudahnya mengizinkan dirinya untuk pergi.
"Aku ingin pergi sendiri, tidak perlu di temani Anak Buah mu," ucap Aleta memancing Damar.
"Baiklah, tapi kau tetap di antar oleh supir." Tuturnya santai.
Meski terdengar aneh, namun Aleta senang bisa dengan bebas pergi tanpa di temani Pengawal Damar, sehingga ia tidak perlu merasa was-was jika nanti kedapatan berbohong.
"Ayo Yuri, kita berangkat sekarang!" titah Damar menggenggam tangan Yuri di depan Aleta.
Yuri mengulum senyum. "Ya, Damar!" balasnya senang.
Aleta melihat jelas genggaman tangan Damar yang memperlakukan Yuri dengan hangat dan lembut. Ia juga mendapati Damar yang merangkul pinggang Yuri begitu melewati dirinya.
"Berengsek!"
Umpatnya yang terlontar begitu saja dari mulut Aleta, rasa hawa panas tiba-tiba saja mengepul di dalam dirinya. Ingin rasanya ia menendang bokong Damar sekuat mungkin, agar pria itu terbang melayang dan jatuh ambruk di atas lantai.
Entah apa yang membuat dirinya sangat emosi melihat sikap Damar yang begitu manis pada Yuri, sedangkan berbanding terbalik padanya. Sikap manis yang di berikan Damar pada Aleta hanyalah sebuah rekayasa.
Damar menyeringai puas setelah melihat respon Aleta yang nampak tak suka dengan sikapnya pada Yuri. Kali ini ia menang satu langkah darinya, setelah kemarin-kemarin di kalahkan oleh Aleta.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan ku sampai kapanpun, bodoh!" gumam Damar dengan smirk tajamnya.
...😏😏😏...
__ADS_1