Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
65 - Kau menyukaiku kan!


__ADS_3

..."Jika sudah menghadirkan rasa nyaman, jangan pergi dengan menitipkan luka."...


...___________________...


Aleta turun menuju pantry dan meminta sang pelayan menyediakan makan siang untuk Damar. Sambil menunggu, Aleta mencicipi Turkish sweet churros yang diletakkan di atas appetizer plate yang kemudian dibawanya ke meja makan.


Salah seorang pelayan menawarkan diri untuk membawakan makanan itu pada Tuannya namun, segera dicegah Aleta karena tak ingin pelayan itu mendapatkan masalah karena dirinya.


Ia paham bagaimana watak Damar jika memberikan perintah pada satu orang yang ia tunjuk maka, orang itulah yang harus mengerjakan tugasnya, Damar tidak memperbolehkan bagian dari tugas mereka dikerjakan oleh orang lain.


"Sebaiknya saya saja, Nona, yang membawanya!" tawar sang pelayan begitu keluar dari pantry sambil membawa nampan kayu.


Aleta menggelengkan kepala cepat. "Tidak perlu. Biar saya saja, Bu," tolak Aleta segera mengambil nampan itu dari tangan sang pelayan.


"Baiklah. Kalau begitu saya kembali ke dalam, Non," ucap sang pelayan yang hendak melangkah masuk ke dalam pantry.


"Iya. Terima kasih, Bu," balas Aleta.


.


.


.


.


Damar yang saat itu tengah menghubungi Erick dan membahas prihal Emir segera menutup panggilan secara sepihak, sebab ia mendengar suara ketukan pintu dan suara pintu terbuka.


Cepat-cepat Damar kembali terduduk di atas kasur persis seperti sebelumnya dan mengambil salah satu buku lalu, berlagak seperti sedang membacanya. Sedangkan buku yang dipegangnya justru terbalik.


Damar mengintip dari buku itu, melihat Aleta yang telah berjalan ke arahnya. di balik buku, Damar tersenyum sumringah. Entah apa yang dirasakannya hingga sebahagia itu.


"Ini makan siang mu," ujar Aleta meletakkan nampan kayu di atas nakas.


Damar melirik kemudian menutup bukunya yang segera diletakkan di sampingnya.

__ADS_1


"Tugasku sudah selesai, sekarang kau bisa makan. Permisi!" pamit Aleta hendak melangkah keluar.


"Tunggu!" panggil Damar mengehentikan langkahnya.


Aleta menoleh. "Apa lagi?" tanyanya.


"Tanganku lelah, suapi aku." Pintanya segera tanpa basa-basi.


Aleta tertawa dengan smirknya saat menanggapi perkataan Damar yang terdengar garing. Jelas-jelas tangan pria itu terlihat sehat bahkan, sebelumnya ia bisa mengangkat nampan kayu itu ke atas pangkuannya.


"Kenapa tertawa?" tanya Damar heran.


"Berhentilah membuat lelucon, kau sungguh tidak lucu," jawab Aleta tegas.


"Untuk apa aku membuat lelucon di depanmu? cepat lakukan tanggung jawab mu." Damar membalas ucapan Aleta tak mau kalah.


Aleta menghela napas panjang lalu menghampiri Damar kembali. Ia menarik salah satu kursi yang kemudian diletakkan di samping Damar. Dengan sorot mata tajam, Aleta menerima nampan kayu yang tengah disodorkan oleh Damar.


"Ish, menyebalkan."


Gumam Aleta melihat senyum Damar yang terkesan seperti sebuah ledekan. Jika saja pria dihadapannya telah sehat, mungkin Aleta sudah melayangkan tinjunya pada wajah Damar.


Deg!


Jantung keduanya berdetak kencang ketika menangkap pantulan yang ada di manik mata masing-masing. Pipi Aleta bersemu merah, saat jari-jemari Damar menyentuh tangannya.


Kini mata Aleta menoleh ke arah sendok yang sama-sama digenggam oleh Damar dan satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya. Aleta menyembunyikan wajahnya dari pandangan Damar.


Rasa malu pun mencuat jika Damar kedapatan dirinya yang tengah menyembunyikan rona pipinya yang merah padam. Tertunduk berusaha bersikap santai seolah-olah tak terjadi apapun padanya, meski Damar dapat melihat dengan jelas gelagat Aleta yang tengah menyembunyikan wajah darinya.


"Ekhem!" Damar berdeham guna memanggil Aleta agar kembali menyuapinya.


Mendengar suara berat milik Damar, Aleta segera mengangkat kepalanya lalu kembali menyuapinya. Namun tiba-tiba ibu jari milik pria itu mengarah kepada bibir Aleta.


Mata Aleta mendelik sebelum akhirnya memaksakan agar terpejam. Walau tak tahu apa yang akan Damar lakukan di wajahnya dengan jari-jari itu, tak ada reaksi penolakan apapun dari Aleta.

__ADS_1


Sambil mengambangkan senyum Damar berucap, "Seperti anak kecil." Menghapus sisa remahan churros yang ada di ujung bibir Aleta dengan ibu jarinya.


Sontak Aleta tertegun, Matanya yang terpejam kembali terbuka lalu tanpa sadar ia meraih tangan kekar Damar yang masih berada di atas pipinya. Aleta menelan saliva, detak jantung berdetak mulai tak beraturan serta pipinya yang merak bak tomat matang terlihat begitu saja oleh Damar.


"Ya Tuhan, apa ini? kenapa tubuhku kaku seperti ini, tolong hilangkan aku dari hadapannya sekarang juga, aku tidak tahan melihat mata dan senyumnya itu."


Monolog Aleta saat kembali menatap wajah Damar yang teduh dan tampan nan sempurna.


Kring!!!!


Dering Ponsel memekik seisi ruang kamar sehingga membuat Aleta cepat-cepat melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Damar. Matanya mengerling tak tentu arah.


Damar mendengus kesal dalam hati saat suara ponsel itu merusak suasana indahnya bersama Aleta. Ia meraih ponsel segera lalu memerhatikan nama Yuri dari layar ponselnya.


"Ah, sial! mengganggu saja."


Gumam Damar langsung menonaktifkan ponselnya lalu meletakkan ke sembarang arah. Dilihatnya Aleta yang tengah mengibas-ibaskan wajah dengan kedua tangannya.


"Sial, kenapa aku harus dihadapkan dengan pria tampan ini sih! jika terus saja seperti ini, aku bisa pingsan lama-lama."


Monolog Aleta sambil mengibaskan tangan di depan wajah, guna menetralkan pipi merahnya.


"Hei!" panggil Damar.


Refleks Aleta menoleh lalu mengerjapkan mata tanda keterkejutannya. Ia lupa menutup kedua pipinya, sehingga Damar dapat kembali menikmati wajah Aleta yang tengah tersipu malu.


Ditunjuknya pipi Aleta dengan jari telunjuknya. "Pipimu merah? kau menyukaiku?"


Pertanyaan yang terlontar secara spontan dari mulut Damar, membuat Aleta tercekat seakan siap mati di tempat atau menghilang dari hadapan pria itu.


Aleta mengigit bibir bawahnya lalu meremas kuat sendok di tangannya. Ia terpaku sesaat, bibirnya kelu tak dapat merespon apapun dari pertanyaan Damar.


"Kau menyukaiku kan?" Damar kembali bertanya.


......💕💕💕......

__ADS_1


*Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, gift, vote dan bintangnya ya guys🤗♥️


Dukungan kalian sangat berarti untukku, semoga feel di part ini sampai di hati kalian ya😊 di tunggu up selanjutnya ya♥️


__ADS_2