Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
39 - Kecupan gila


__ADS_3

Tok!!


Tok!!


Aleta membuka pintu kamar setelah mendengar suara ketukannya. Melihat salah seorang pelayan berdiri di depan pintu sambil menenteng paper bag.


"Ada apa?" tanya Aleta setelah membuka pintu.


"Ini Nona, dari Tuan." Jawabnya sambil menyerahkan paper bag itu.


Aleta menerima dan mengerinyit. "Apa ini?" tanyanya.


Sang pelayan menggelengkan kepala. "Saya juga tidak tahu. Saya hanya diminta memberikannya pada Nona," jelasnya.


"Ya sudah, terima kasih ya." Ucap Aleta sebelum pelayan itu pergi.


Aleta menutup pintu dan duduk di samping jendela balkon. Ia membuka isi dalam kantong kertas yang ternyata berisikan satu buah smartphone lengkap dengan charger dan di dalam box terlampir selembar kertas. Aleta membaca isi pesan itu.


*Kau boleh menggunakan ponsel itu hanya untuk menghubungiku tidak dengan yang lain!*


Aleta mengoceh sebal saat membaca pesan yang berbunyi seperti sebuah ancaman.


Ting!!


Aleta terkejut saat mendengar suara ponselnya berdering nyaring, segera ia memeriksa ponsel itu dan menatap layar dengan penuh kebingungan, sebab terpampang jelas nama kontak di sana yang bertuliskan *Si Tampan*


Aleta menekan layar untuk menjawab panggilan tersebut—mendengar suara yang tak lagi asing di telinganya.


"Ha..lo!" sapa Aleta penasaran.


"Bersiaplah, malam nanti kau akan di jemput Erick!" perintah Damar saat membuka suara.


"Mau kemana?"


"Tidak perlu banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku pinta." Tegasnya.

__ADS_1


"Ya!" balas Aleta singkat.


"Dan satu lagi, ponsel yang kau gunakan harus tetap aktif saat tidak bersamaku, mengerti!" pesan Damar sebelum mengakhiri panggilan.


"Ya!" jawabnya jengah.


Setelah berakhirnya percakapan, Aleta mengumpat kesal pada si pemberi handphone yang selalu saja memerintah yang tak ia suka. Rasanya bosan jika harus menuruti semua perkataan Damar, ia tak suka di perintah oleh pria yang membuat banyak perubahan ke dalam hidupnya.


"Sebaiknya aku harus cepat-cepat menyelesaikan permasalahannya, agar aku segera bebas dari pria yang memiliki sikap bossy itu!" monolognya jengah.


Aleta tengah bersiap dengan pakaian kasual yang biasa ia kenakan. Tak ingin repot-repot memilih pakaian, meski tidak tahu kemana tujuannya akan pergi. Dengan mengenakan celana wide leg jeans dan kemeja oversize bermotif tartan serta flat shoes hitam, Aleta siap menunggu Erick di depan pintu rumah.


"Maaf Nona, saya sedikit terlambat!" ucapnya begitu tiba.


"Tidak apa-apa." Sahut Aleta santai.


Erick menelisik pakaian yang dikenakannya, cukup sederhana namun terlihat manis, meski penampilannya tak begitu mencolok.


"Mari, saya antar Nona!"


"Tunggu!" sanggahnya, "kau tidak protes aku memakai pakaian ini?" tanya Aleta penasaran.


Erick menggelengkan kepalanya sambil mengacungkan ibu jari. "Anda, sangat luar biasa malam ini!" pujinya yang entah mengisyaratkan kejujuran atau kebohongan.


Mendapat respon dari reaksi Erick, Aleta memicing—menelaah jawab dari ekspresi wajahnya. Ia sengaja memakai pakaian yang sudah lama tak pernah di kenakannya, karena larangan Damar yang bersifat bossy itu memintanya untuk memakai pakaian feminim namun berkelas.


Mobil melaju menjauh dari kediaman Damar. Dari dalam mobil Aleta terus saja menerka-nerka kemana tujuan mereka akan pergi, ia takut jika Damar membawanya ke tempat kenangan buruk masa lalunya seperti waktu itu atau bahkan Damar akan membawanya ke tempat tinggal Ayahnya.


"Ah, sial! kenapa aku jadi gugup begini. Sebenarnya kemana tujuan pria batu itu membawaku?" batinnya sambil memainkan kuku-kuku jari, akibat gugup.


"Ada apa Nona? Anda terlihat gugup," ucap Erick saat menatap Aleta dari dalam kaca spion mobil.


"Sebenarnya kemana tujuan kita?" tanya Aleta untuk kesekian kalinya.


"Maaf, saya tidak di izinkan untuk mengatakannya." Jawab Erick ringkas.

__ADS_1


"Dasar, kalian semua sama saja!" desis Aleta kesal.


Erick berhasil menangkap gestur kepanikan yang Aleta rasakan. Ia menafsirkan jika memang Aleta sedang menyembunyikan sesuatu yang tak diketahui siapapun.


Mobil berhenti tepat di tepi pelabuhan, Erick segera turun dan membukakan pintu untuk Aleta. Ia juga mengajak Aleta untuk mengikuti langkahnya setelah Aleta keluar dari dalam mobil.


Matanya menyoroti semua sudut guna mendapati sosok Damar disana, namun sayangnya batang hidungnya tak terlihat sedikitpun. Pikirannya terus bergelayut kebingungan dengan tujuannya Damar saat itu.


"Mari silahkan naik, Nona!" tutur Erick begitu berhenti tepat di depan kapal pesiar mewah.


Aleta menoleh bimbang ke arah Erick, perasaannya bertambah gelisah. Bertanya-tanya untuk apa ia menaiki kapal mewah itu dan apa tujuan Damar membawanya ke sana.


"Mari, Nona!" ucap Erick lagi.


"Sebentar, aku ingin bertanya. Sebenarnya apa tujuan dia membawa ku kesini?" tanya Aleta penasaran.


Erick mengedikkan bahu, "Saya tidak tahu." Jawabnya jujur.


Erick memang tak mengetahui tujuan Damar membawa Aleta untuk menaiki kapal pesiar pribadi miliknya. Ia hanya diperintahkan untuk mengantar Aleta saja dan selebihnya ia tak tahu apapun.


Aleta melangkah perlahan sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Ia tak terlalu fokus memikirkan isi ruangan kapal tersebut, sebab netra matanya sibuk menangkap sosok Damar.


langkah kecilnya terus saja menelusuri ruang kapal, hingga ia terhenti tepat setelah mendengar suara denting piano dari salah satu ruangan. Aleta menghampiri dan melihat siapa pianis yang sedang memainkan alat musik tersebut.


Suara denting piano yang merdu namun menyayat hati—Damar memainkannya dengan penuh penghayatan. Aleta berjalan melewati Damar yang sedang bermain piano di tengah ruangan yang hening.


Aleta duduk di samping Damar—jari jemarinya mulai menyentuh tuts dan akhirnya Aleta ikut memainkan alat musik itu bersama Damar.


Damar menoleh dan mengulas senyum ringan padanya, senyuman itu pun segera mendapat balas dari Aleta, Ia memberikan senyum simpulnya. Sejenak Aleta melupakan kegelisahannya saat mulai menikmati alunan denting piano itu.


Walau sudah lama tak pernah menyentuh tuts piano, Aleta tak pernah melupakan nada pada lagu yang mereka mainkan saat ini. Lagu yang menjadi kenangan di masa kelamnya.


Setelah menyelesaikan lagu tersebut, keduanya saling pandang dan secara tiba-tiba Damar mengecup lembut kening Aleta cukup lama. Matanya membeliak tatkala merasakan sentuhan hangat pada keningnya.


Jantungnya berdetak cepat hingga melewati batas normal, pipinya merah merona dan merasakan keringat dingin sedang menjalar di dalam tubuhnya. Hanya karena sebuah kecupan dari seorang Damar, si pria batu yang menjadi sebutannya, Aleta melemah dalam waktu sepersekian detik di hadapannya.

__ADS_1


Hembusan napas Damar bahkan begitu terasa di tubuhnya dan lagi untuk beberapa kalinya Aleta menghirup aroma candu yang melekat di tubuh Damar. Membuatnya menggila akan kecanduan itu, rasanya ingin terus berada di dalam dekapan Damar dan tak ingin lepas.


"Aleta, tolong kendalikan jantungmu. Jangan membuatku malu, please!!" monolognya sambil meremas kuat tali tas selempang, berusaha menyembunyikan suara debaran jantungnya.


__ADS_2