
..."Walau waktu telah berlalu, rasa itu masih tetap sama. Aku berpura-pura sudah melupakannya, tapi dalam hati yang terdalam terasa menyakitkan."...
...__________...
Setelah tangisnya mereda, ia segera membersihkan wajah agar tak kentara sembab pada kelopak matanya. Mengoles tipis bedak di area bawah mata dan menambahkan sedikit lip tint di bibirnya.
"Huff, semangat Aleta! kau itu kuat, jangan lemah. Lupakan semua masa lalu itu, sekarang kau hanya perlu fokus menata hidup saat ini." Monolognya.
Aleta bergegas keluar dari ruangan selepasnya bersolek—bersiap menerima kenyataan hidup yang menunggu di depannya.
"Ny. Aleta Quenby Elvina," panggil Kemal.
Langkahnya terhenti setelah mendengar suara yang tak lagi asing di telinganya. Aleta menoleh malas kearah pria bertongkat kayu itu.
"Bisa bicara sebentar!" Ajaknya.
Berpikir sejenak. "Baiklah," balas Aleta datar.
.
.
.
.
Kemal dan Aleta berhenti di tengah koridor gedung, melakukan percakapan yang nampak tertutup. Walau sebenarnya Aleta takut menghadapi Kemal. Rasa benci dan dendam itu terus melekat di hatinya, meski begitu Aleta harus bersikap berani, agar pria bertongkat itu tak selalu memandangnya lemah.
Aleta menatap sinis sambil berkata, "Cepat katakan, apa yang kau inginkan?" tanyanya ketus.
Kemal menyeringai. "Tampaknya kau terlihat sehat-sehat saja," terka Kemal.
"Tidak perlu basa-basi." balasnya sengit.
"Rupanya kau cukup pintar membuatnya luluh," imbuh Kemal menyelesaikan kalimat sebelumnya.
"Berhenti bicara omong kosong, kau hanya membuang-buang waktuku," sentak Aleta sebelum akhirnya mencoba melangkah namun terhenti sesaat mendengar perkataan Kemal.
"Apa kau tidak merindukan Ayahmu?" tanyanya tegas.
Aleta mematung diam tak membalas.
"Ayah yang dulu kau harapkan datang, untuk membawamu keluar dari tempat ini!" tertawa mengejek, "Sayangnya dia tak pernah sekalipun berniat melihat keadaanmu, hingga saat ini." Sambungnya menatap punggung Aleta tajam.
Aleta menoleh kesamping tanpa menatap Kemal. "Bagiku dia sudah mati. Tak ada gunanya kau membicarakan orang itu di depanku, karena aku tak mempedulikannya." Balas Aleta tegas kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
__ADS_1
"Setelah ini, aku yakin kau akan kembali padaku untuk menanyakan hal yang sama." Gumam Kemal menyeringai memerhatikan Aleta hingga menghilang dari pandangannya.
Sementara dari jarak yang tak begitu jauh, Erick merekam keduanya yang tengah berbincang sejak tadi. Ia membuntuti Kemal dan Aleta saat ingin menemui Aleta di ruang kesehatan, setelah Damar memberikannya perintah.
...***...
Aleta melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu secepat mungkin—malas berlama-lama bersama Damar, ia marah pada pria itu. Bahkan bibirnya terus terbungkam saat di perjalanan pulang, tak sedikitpun menoleh ataupun mengumpat seperti biasanya.
Damar berhenti sejenak di depan pintu kamarnya, berpikir bagaimana caranya membuat Aleta kembali bersuara, meski ia mengecapnya seperti burung beo jika sudah banyak bicara.
Melihatnya bersikap seperti itu justru membuat Damar tak nyaman, ia menginginkan Aleta yang bawel dan suka beradu mulut dengannya, walau ia tak mau mengakuinya.
"Apa yang harus aku lakukan agar dia berhenti bersikap diam seperti itu!" batin Damar frustasi.
"Ada apa Bos?" tanya Erick melihat Damar yang masih saja berdiri diam di depan pintu kamar Aleta.
Damar menggelengkan kepala kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja. Kini Erick pun ikut sekilas menoleh kearah pintu kamar, terlihat raut wajahnya tengah memikirkan sesuatu.
.
.
.
.
"Hufft!"
Damar membuang napas berharap pikirannya mengenai tingkah Aleta segera hilang. Sudah kesekian kalinya Damar di buat frustasi olehnya, otaknya kini di penuhi dengan sosok Aleta.
"Lama-lama aku bisa gila, jika terus saja memikirkan wanita itu! bisa-bisanya dia membuatku seperti ini, sial!" umpat Damar yang sedikit terdengar oleh Erick.
"Apa Bos? bicara apa tadi?" tanya Erick mencoba memperjelas pendengarannya.
Damar menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa." Jawabnya.
"Apa mau saya siapkan teh hangat?" tawar Erick.
"Tidak perlu, kau bisa kembali pulang." Tolak Damar yang kemudian memerintahkannya agar segera pulang.
Erick membungkuk patuh. "Saya pamit pulang." Ujarnya.
Sepeninggal Erick, Damar lagi-lagi menghela napasnya gusar. Rasanya cukup sesak juga ia menyimpan rasa frustasi itu seorang diri. Sadar menyibukkan diri di ruang kerja tak membuahkan hasil, Damar berniat menyegarkan dirinya dengan berendam di dalam kolam renang.
Ia keluar dari ruang kerja dan melangkah menuju kolam renang yang letaknya tak jauh dari pintu samping dapur. Setelah berganti pakaian dengan handuk piyama, Damar lekas menghampiri kolam. Ia melepaskan handuk piyamanya dan langsung melompat ke dalam, setelah sebelumnya melakukan peregangan terlebih dahulu, guna mengurangi risiko cedera atau kram saat berada dalam air yang bisa membahayakannya.
__ADS_1
.
.
.
.
Aleta pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral bermaksud menghilangkan rasa dahaga. Ia menuangkan air ke dalam gelas sampai terisi penuh dan setelahnya kembali menuju kamar, Namun manik matanya menangkap air kolam yang bergerak tak tentu arah. Biasanya ia melihat air kolam itu tenang tak beriak.
Karena rasa penasarannya, ia menghampiri untuk sekedar memeriksa. Matanya terbelalak hebat, ketika mendapati seseorang yang tenggelam di dalam sana. Gelas yang sempat di pegang pun terlepas begitu saja, akibat keterkejutannya.
Tanpa berpikir panjang Aleta melompat ke dalam air, berusaha menolong seseorang yang tak ia ketahui sosoknya, sebab wajahnya tidak terlihat begitu jelas di dalam air.
Rasa kekhawatirannya bertambah ketika mengetahui bahwa sosok itu adalah Damar. Ia melihat Damar yang sudah menutup matanya—panik dan cemas bercampur menjadi satu, ia takut pria itu tewas di dalam kolam.
Aleta meraih tangan Damar dan membawanya naik. Dengan keahlian berenangnya, membuat dirinya tak begitu sulit membawa Damar untuk naik. Ditariknya tubuh Damar hingga berhasil menyentuh granit batu alam.
Segera Aleta memeriksa napas pria itu dan juga denyut nadinya, namun keduanya tak merespon apapun. Cepat-cepat Aleta melakukan pertolongan pertama padanya, ia menekan dada Damar dengan kedua tangan. Memberi resusitasi jantung paru-parunya guna mengembalikan keadaan napas dan jantungnya.
Damar belum juga terlihat memberikan respon, cara terakhir pun ia lakukan untuk menolongnya segera. Tanpa pikir panjang, Aleta menekan hidung Damar kemudian mendekatkan wajahnya, guna memberikan napas buatan untuknya.
Hampir saja Aleta menempelkan bibirnya di atas bibir Damar, pria itu justru langsung membuka matanya lebar-lebar dan mendorong wajah Aleta untuk segera menjauh.
"Kau mau mencium ku?" tanya Damar tiba-tiba.
"Aku hanya membantu mu," jawab Aleta terus terang.
"Membantu apa?" tanya Damar lagi.
"Aku melihat mu tenggelam di dalam sana, wajar saja aku menolongmu. Jangan berpikir aku ingin menciummu," perjelasnya.
"Dasar bodoh, kau pikir aku tidak bisa berenang!" sentak Damar.
"Jadi, kau membohongiku?" tanya Aleta mengerinyit.
Damar terkekeh garing dan berdiri untuk mengambil handuk piyamanya.
Plakk!!
Satu tamparan mulus mendarat di wajah Damar, setelah Aleta menarik pundak Damar dan membuat sang empunya menoleh. Ia tercengang menerima tamparan dari tangan Aleta.
"Tingkahmu itu tidak lucu," gertak Aleta sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.
Kilatan sorot matanya terpancar jelas di penglihatan Damar, wanita itu tengah kecewa dan marah padanya. Terbukti akal-akalannya justru membuat Aleta semakin kesal.
__ADS_1
...💕💕💕...