
..."Jangan hidup tanpa harapan dan berhentilah mengeluh, kau akan menang jika tidak menyerah."...
...____________________...
"Kau menyukaiku kan!" Damar kembali bersuara.
"Damar!"
Belum juga membalas ucapan Damar, kedua pasang mata mereka mengarah ke arah pintu, menyaksikan Yuri yang berdiri di ambang pintu sambil memasang raut wajah marah.
Mata tajam bak mata elang serta kepala yang seakan di tumbuhi tanduk, siap menerkam umpan yang dilihatnya saat ini. Terlebih yang sudah diincarnya yaitu, Aleta.
Yuri melangkah masuk tanpa permisi dari sang pemilik kamar dan berdiri dihadapan Aleta yang masih terduduk. Tangannya tiba-tiba menarik baju yang dikenakan Aleta.
"Berdiri!" perintahnya kasar.
Melihat sikap kasar Yuri, Damar segera berdiri dari ranjangnya lalu mendekati Yuri dan juga Aleta.
"Apa yang kau lakukan, Yuri?" Damar bertanya bingung.
"Diam. Tidak perlu ikut campur ini urusan antara wanita!" tegur Yuri menoleh sengit dengan ujung ekor matanya.
Aleta meletakkan piring di atas nampan lalu berdiri dari duduknya dan menghadap ke arah Yuri.
"Singkirkan tanganmu," ucap Aleta sambil membalas tatapan tajam Yuri.
Melihat keberanian Aleta membuat Yuri semakin geram, ia pun mulai memainkan tangannya untuk menarik rambut Aleta. Namun sayang gerakannya tak secepat gerakan tangan Aleta, yang berhasil lebih dulu memelintir pergelangan tangan Yuri sehingga tubuhnya ikut berputar.
Aleta menyeringai sambil berkata, "mari kita selesaikan di luar!"
Usai mengucapkan itu, Aleta melepaskan tangannya dengan kasar sampai membuat Yuri hampir terjungkal. Sementara Damar yang melihat aksi kehebatan Aleta hanya tercengang.
"Berengsek!" seru Yuri setelah menatap punggung Aleta yang hendak berjalan keluar.
Mendengar umpatan itu, Aleta justru membalas dengan smirk tajamnya. Ia tak ada rasa takut sedikitpun pada wanita yang pernah menjadi teman masa lalu Damar, justru Aleta merasa tertantang karena sudah lama tak mengeluarkan jurus bela dirinya.
.
__ADS_1
.
.
.
Keduanya telah berganti sport wear, Yuri dengan sport bra dan shorts berwarna hitamnya sementara Aleta mengenakan kaos slim fit berlengan panjang serta legging panjang berwarna senada dengan Yuri.
Rambut milik Aleta diikat cepol sehingga terlihat sexy, terlebih wanita itu memasang sparring gloves sendiri tanpa bantuan siapapun, berbeda dengan Yuri yang tengah dibantu oleh kedua pelayan Damar.
Yuri menatap kesal saat mendapati Damar tengah memerhatikan Aleta sejak tadi. Mata pria itu rupanya tak lepas dari pandangan sosok Aleta, ia terkagum melihat keberanian wanita itu.
Ting!
Bunyi bel boxing terdengar, tanda pertarungan ronde pertama segera dimulai setelah keduanya telah memasuki ring tinju. Sebelum memulai Aleta melakukan shadow boxing terlebih dahulu.
Yuri yang memerhatikan sempat bergidik takut karena gerakan Aleta, namun ia membuang rasa takut itu demi mendapatkan hati Damar.
"Aku akan membuatmu terkapar dengan satu kali tinju," ancam Yuri begitu mereka saling berdekatan.
Sang wasit pun berdiri di antara keduanya sebelum akhirnya meneriakkan mulai pada Aleta dan Yuri. Pertandingan pun di mulai dengan pukulan Yuri yang mengarah pada wajah Aleta, beruntung Aleta dapat mengelak dari pukulan itu.
Kini berganti Aleta yang memukul Yuri dan tinju itu berhasil mengenai bagian perutnya, sehingga membuat Yuri terjatuh dan merintih. Damar sebagai juri segera mengurangi satu poin begitu Yuri knockdown.
Yuri kembali berdiri dan segera mendekati Aleta, ia tak terima mendapatkan pukulan darinya. Gerakan tangannya sangat cepat dan berhasil membuat Aleta terjatuh. Akhirnya mereka mendapatkan skor seimbang.
Berselang 15 menit keduanya diberikan waktu untuk sekedar beristirahat, Damar memberikan botol minum untuk Aleta sementara Yuri tak mendapatkan itu dari Damar.
Melihat itu kemarahannya semakin memuncak, terlebih Damar menyeka keringat di dahi dan pipi wanita itu. Yuri mencengkeram kuat handuk kecil sehingga tercetak garis vena pada punggung tangannya.
"Akan ku buat wanita murahan itu mati di tanganku!" monolog Yuri seraya menatap dengan kilatan-kilatan merah pada matanya yang tajam.
Ting!!
Ronde kedua di mulai kembali setelah terdengar bunyi bel. Keduanya kembali memasuki area ring kali saling berdekatan. Yuri menatap bengis lalu dibalas dengan tatapan yang sama oleh Aleta.
"Sampah tetaplah sampah, sampai kapanpun tidak akan bisa menjadi berlian!" bisik Yuri di telinga Aleta.
__ADS_1
Ingin membalas hinaan itu, tetapi sang Wasit justru berdiri di tengah-tengah sehingga Aleta hanya bisa membalas dengan seringainya.
Yuri melakukan gerakkan jab lalu disusul dengan gerakan cross, meski terkena pukulan itu Aleta masih tetap bertahan dan tak jatuh sedikitpun. Pertarungan kedua terlihat semakin sengit, keduanya diguyur air keringat yang mengalir deras dari area kepala menuju kening lalu terus menetes di area dagu.
Sebagian rambut juga tengah basah diikuti seluruh tubuh keduanya, meski begitu Aleta dan Yuri tak pantang menyerah. Justru keduanya terlihat semakin memanas dan bersemangat.
Kini Yuri mengeluarkan tenaganya untuk meninju Aleta dengan sekali pukulannya, ia berniat memukul belakang kepala Aleta dengan sengaja, meski tahu itu adalah sebuah pelanggaran.
Bukk!!
Bunyi pukulan terdengar keras di telinga semua pasang mata yang saat ini tengah menonton pertandingan tinju keduanya. Damar serta pekerja di rumahnya berteriak histeris, kala melihat Aleta terjatuh lemah di atas kanvas.
Yuri memekik girang saat melihat Aleta tengah terjatuh akibat pukulannya. Tak ada satupun yang mengetahui jika Yuri baru saja melakukan pelanggaran.
Wasit segera memasuki ring lalu menghampiri Aleta, ia menghitung mundur sambil memukul lantai kanvas di dekat Aleta, sebagai tanda kesanggupan Aleta untuk bisa bangkit atau justru kalah begitu saja.
Mata Aleta melihat sosok Damar yang tengah meneriakinya untuk bangun, walaupun pengelihatannya hampir memudar serta suara riuh pikuk hampir hilang dari pendengarannya.
"Demi masa depan yang cerah, kau dilarang untuk lelah."
Sayup-sayup Aleta mendengar suara sang Bunda. Pesan yang sempat ia sematkan di setiap tidur malam Aleta.
"8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, --"
Sang Wasit menghentikan hitungannya sebab, melihat Aleta terbangun lalu bangkit meski langkahnya terseok-seok, akibat menahan rasa pusing di bagian kepalanya.
Aleta menghampiri Yuri yang belum mengetahui jika rivalnya itu sudah berdiri di belakangnya. Begitu sadar, Yuri segera membalikkan tubuhnya dan Bukk!!
Aleta memukul dengan gerakan teknik uppercut, ia mengambil ancang-ancang dengan menekuk lutut dan mengarahkan pukulan dari bawah menuju area sekitar dagu Yuri.
Tubuh Yuri pun sedikit terangkat akibat pukulan sisa tenaga Aleta yang mengenai bagian bawah wajahnya, sehingga Yuri kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh di atas kanvas.
Yuri tergeletak lemah dan pasrah begitu saja, setelah mendengar hitungan mundur oleh Wasit serta mendengar suara bel yang menandakan pertandingan telah berakhir dengan kemenangan yang diraih oleh Aleta.
Aleta memaksakan senyumnya di depan Damar yang saat itu tengah mengacungkan dua ibu jari untuknya, tanda bahwa Damar bangga melihat kegigihan Aleta yang tak pantang menyerah.
...💕💕💕...
__ADS_1