
..."Perasaan ini semakin dalam, ketakutan semakin sering menghampiri. Tolong kau jangan pergi."...
...___________...
Aleta mendorong pelan tubuh Damar dan ia segera memalingkan pandang darinya—kecupan Damar pada kening Aleta membuat dirinya salah tingkah, ia mengigit bibir bawahnya sementara Damar menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Keduanya terdiam hingga akhirnya Damar membuka suara lebih dulu.
"Kapan kau tiba?" tanya Damar yang terdengar seperti basa-basi guna melepas kecanggungan diantara keduanya.
"Baru saja." Jawab Aleta singkat tanpa menoleh ke arahnya.
"Hmm" Damar mengangguk kecil.
Suasana ruangan kembali hening, mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Kau pandai memainkan piano," puji Aleta yang kali ini membuka topik pembicaraan.
"Ya, dulu Ayahku yang mengajariku dan karena Beliau lah aku menyukai alat musik ini." Jelas Damar seraya mengingat kembali kenangan bersama sang Ayah.
"Oh, Ayahmu sungguh luar biasa." Puji Aleta lagi sambil mengulas senyuman.
Damar tersenyum membalas pujian tulus dari Aleta. Sekilas ia memerhatikan senyuman dari bibir manisnya.
"Kalau kau sendiri?" tanya Damar balik.
"Aku hanya belajar sendiri dan pernah mencoba memainkannya di kedai kopi tempat ku bekerja. Jawab Aleta.
"Dan lagu itu?" tanya Damar lagi, penasaran.
"Aku tahu lagu itu dari seorang seniman jalanan, ia datang padaku saat aku termenung," jedanya terkekeh kecil, "Dia bilang akan menghiburku dengan lagunya, tapi seniman itu malah membuatku menangis." Sambungnya.
Damar memerhatikan jelas raut wajah Aleta yang menutupi kesedihannya di balik senyuman. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sedikit memahami isi pikiran Aleta.
"Jika saja kau bukanlah anak dari si tua bangka itu, mungkin pertemuan kita tidak akan seburuk ini. Aku menyukai mu!'
"Menyukaimu!"
"Menyukaimu.....!'
Damar tersentak dari lamunannya, sontak ia memukul bibirnya dengan telapak tangan sambil mengumpat dirinya sendiri.
"Bodoh!! bicara apa kau tadi? jangan asal bicara Damar. Sadarlah, kau harus berhati-hati dengannya. Wanita itu terlihat baik di luar tapi busuk di dalam." Monolog Damar yang enggan mengakui bahwa ucapan itu berasal dari kata hatinya.
"Kau kenapa?" tanya Aleta bingung seraya memegangi pundak Damar.
"Ah, tidak! tidak apa-apa." Sahutnya sambil menepis tangan Aleta.
Kini, sikap Damar kembali dingin. Ia menunjukkan raut wajah rasa ketidaksukaan dan kebenciannya terhadap Aleta, setelah beberapa menit yang lalu memberikan kecupan hangat di kening Aleta serta memancarkan senyuman manis untuknya.
"Kepribadiannya benar-benar aneh!" gumam Aleta.
__ADS_1
...***...
Malam itu Kemal mengunjungi Emir, guna mengetahui kabarnya setelah bertemu dengan Aleta. Ia cukup bangga saat membantu keduanya untuk bisa bertemu, meski itu hanyalah sebuah alasan di balik rahasia keduanya.
"Jadi, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Kemal sembari menghisap water pipe rokok.
Emir menyunggingkan senyum. "Ikuti saja permainannya." Jawabnya.
"Tak ku sangka, temanku yang satu ini tak pernah kehabisan akal," puji Kemal terkekeh.
"Anak muda itu tidak akan pernah bisa melawanku!" gertaknya memicing sengit.
"Kau akan tetap menunggu dia mengakuinya, bahwa saat ini anakmu menjadi istri dari seorang pengusaha muda, Damar Emilio!"
Emir hanya diam tak merespon apapun, namun Kemal memerhatikan raut wajahnya yang sulit terbaca. Entah apalagi yang ia rencanakan, Kemal hanya mengikutinya saja.
...***...
Damar berdiri diam di depan pembatas kapal sembari menatap hamparan laut malam dengan kilauan pantulan cahaya lampu dari atas, seakan menambah kesan indah bagi yang melihatnya.
Aleta menghampiri Damar dan ikut menikmati suasana pemandangan itu. Merasakan semilir angin malam yang menyejukkan jiwa dan mendengar suara air laut yang tampak tenang.
"Jadi, untuk apa kau membawa ku kemari?" Aleta menoleh ke arahnya.
"Kita akan bermalam di sini." Jawab Damar datar sambil terus menatap ke depan.
"Hmm." Damar berdeham.
"Aku tidak mau, aku mau pulang sekarang!" Aleta menolak tegas, sebab besok ia memiliki janji dengan Ayahnya.
Mendengar penolakan darinya, Damar melangkah mendekatinya. Perlahan derap langkahnya menghampiri dengan tatapan dingin dan Aleta yang merasa terintimidasi mengelakkan pandangannya untuk tak menatap wajahnya lekat.
Damar mengunci pergerakan Aleta dengan kedua tangannya yang berpegangan pada tiang pembatas kapal. Menatap kemudian mendekati wajahnya.
Damar berkata, "Kau takut bermalam denganku?"
Kedua netra matanya mengarah ke samping. "Ha! ti...tidak, kenapa harus takut."
"Benarkah! bagaimana kalau malam nanti, akan terjadi hal yang tak terduga padamu,"
"Maksudmu!!" kini Aleta menatap sinis Damar.
"Kau dan aku, ah tidak maksudnya kita akan menghabiskan malam yang menggairahkan!"
Bisikkan nakal Damar di telinga Aleta membuat sang empunya bergidik ngeri, segera Aleta mendorong tubuh Damar untuk menjauh.
"Dasar mesum!!"
Umpat Aleta sebelum berlalu meninggalkan Damar di sana. Sementara Damar menahan tawanya setelah melihat reaksi gugup dari Aleta.
__ADS_1
.
.
.
.
Malam itu langit tampak cerah—rembulan yang menjadi lampu penerangan dan bintang yang bertabur berkelap-kelip di atas sana, menambahkan suasana romantis bagi pasangan yang sedang di mabuk asmara.
Tanpa terkecuali, Aleta yang terlihat kelimpungan saat dinner bersama Damar. Meski pandangannya menatap hidangan, namun pikirannya berkeliaran menangkap satu ide agar bisa pergi darinya.
"Apa dia tidak ingin memujiku? padahal aku sudah bersusah payah mengatur tatanan meja makan ini agar terlihat romantis, bahkan aku sengaja memesan daging premium itu beserta candle light limited edition nya." Gumam Damar jengkel sambil menatap tajam Aleta.
Tatapan Damar membuat Aleta kembali gugup sehingga membuatnya tak bisa menikmati steak itu dan tanpa sadar ia menyenggol gelas berkaki yang berisikan wine.
"Ah!!!"
Aleta terperanjat saat wine itu jatuh hingga mengotori kemeja dan celananya. Aleta mencoba membersihkannya menggunakan tisu, namun noda merah itu telah menempel lekat di sana.
"Dasar ceroboh, ikut aku!" Ajak Damar berdiri di sampingnya.
Aleta mendongak. "Ha! mau kemana?" tanyanya ragu.
"Ikut saja." Damar menarik tangan Aleta.
Damar memberikan satu kemeja putihnya untuk Aleta kenakan sebagai pengganti pakaian yang telah kotor.
"Pakai ini!" titahnya melemparkan kemeja itu di wajah Aleta.
"Tidak perlu, pakaianku hanya sedikit kotor." Tolaknya mengembalikan kemeja Damar.
"Jangan terlalu percaya diri, aku meminjamkan kemeja ini bukan karena peduli dengan pakaian mu itu. Aku tidak suka memandangi pakaian kotor!" kilahnya kembali memberikan kemeja.
"Kalau memang tak suka, aku bisa kembali pulang kalau begitu." Terang Aleta sumringah.
"Silahkan!" ujarnya menyeringai.
"Benarkah? kau tidak akan melarang ku?" Aleta meyakinkan ucapan Damar sekali lagi.
Damar mengangguk yakin meski tersirat beberapa arti dari ucapannya. Aleta pun menyerahkan kemeja itu dan melangkah ringan saat keluar dari ruang walk in closet, meninggalkan Damar yang masih menatap punggungnya hingga tak lagi terlihat.
"Ternyata semudah itu aku bisa pergi dari sini! untuk apa tadi aku terus berpikir!" monolog Aleta tertawa kecil.
Tiba-tiba tawa itu seketika terhenti diikuti langkahnya menjadi lambat saat berdiri di ambang pintu keluar kapal. Aleta mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menggertakkan giginya—merancaukan beberapa kata, hingga akhirnya Aleta berteriak sekeras mungkin.
"DAMARRRRR!!!!!!!"
...💕💕💕...
__ADS_1