Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
67 - Mengintai


__ADS_3

..."Hidup tidak seperti matematika, seperti kalkulus tidak ada cara menghitung dan jawaban yang paling benar. Kau dan aku hanya diberi soal, lalu penyelesaian sesuai dengan yang kita inginkan."...


..._________________...


Di tengah keheningan malam Damar tersipu membayangkan kejadian siang tadi. Ia tak menyangka jika, Aleta berjuang sungguh-sungguh hanya untuknya.


Damar duduk bersandar di bangku malas ditemani lampu temaram yang berada tak jauh dari sisi kolam renang. Netra mata memandangi rembulan Perak yang saat itu menjadi teman bicara.


Wajahnya nampak sumringah dan sesekali tersenyum lalu tertawa kecil, persis orang gila yang sedang di mabuk asmara. Bayang-bayang wajah Aleta kembali terbesit, di bawah garis-garis sinar rembulan Damar memagut belai lamunan.


"Aku sadar, mencintai seseorang itu berat sekali. Aku mencintainya, bukan hanya senang bila di dekatnya tapi, aku juga harus menyesuaikan diri saat bersama dia." monolog Damar di sela-sela lamunan.


Sementara saat itu, wanita yang ada bayangan Damar sedang terlelap dalam hangatnya selimut yang menutup sebagian tubuhnya. Terdengar dengkuran halus dari si pemilik kamar.


Rupanya, Aleta cukup lelah dengan segala aktifitasnya seharian itu, belum lagi saat ia beradu kehebatan bersama Yuri. Tubuhnya serasa linu dan sakit, jika harus kembali melanjutkan aktifitasnya untuk melayani Damar.


Untung saja Damar memberikan toleransi untuk tak mengizinkan Aleta melakukan tugas apapun tanpa terkecuali. Damar paham betul, bagaimana lelahnya tubuh setelah melakukan pertarungan tinju, terlebih Aleta seorang perempuan.


...***...


Erick mengentikan laju kendaraan tepat bersebrangan dengan kediaman rumah Emir. Ia sedikit membuka jendela kaca lalu, menilik dari jauh keadaan rumah yang tampak gelap gulita.


Terlihat tak ada seorangpun yang berada di dalam rumah itu. Namun, berselang kemudian datang sebuah mobil mewah dari arah berlawanan dan berhenti tepat di depan pintu gerbang.

__ADS_1


Cepat-cepat Erick menutup kembali jendela kaca dan mematikan mesin mobil, agar tidak dicurigai oleh seseorang dari dalam mobil mewah tersebut. Ia menyembunyikan wajah saat seseorang itu memerhatikan mobil Erick.


Ternyata benar dugaan Erick, pria dengan mobil mewah itu adalah Emir yang turun bersama dengan Kemal. Ia sempat terkejut saat melihat keduanya bersama memasuki rumah itu.


Rasa penasaran pun hinggap di pikirannya. Erick berencana untuk menyelidiki mereka namun, sebelum memasuki rumah terlebih dahulu ia mengamati keadaan sekitar, takut-takut akan tertangkap basah oleh mereka ataupun kaki tangannya.


Setelah dirasa cukup aman, Erick segera turun dan melangkah dengan hati-hati. Ia juga mengantongi sebuah senjata, sebagai alat pelindung diri karena pria yang dihadapinya bukanlah orang sembarangan.


Meski terbilang usianya mulai menua bukan berarti Emir tak cukup pandai dalam melawan orang yang menjadi musuhnya saat ini. Sekalipun menikam dengan sebuah pisau atau menancapkan peluru di dalam kepala, ia bisa melakukan itu semua dengan mudah. Bahkan pria tua itu, dapat mengerjakan hanya dengan tangan kosong.


Erick berhenti di depan jendela kaca yang disinyalir sebagai ruang rahasianya. Menguping pembicaraan mereka dengan seksama sambil sesekali mengintip sekilas dari celah gorden yang sedikit terbuka.


Ia mendengar jelas bahwa mereka mengetahui Damar sudah kembali ke rumah setelah kepulangannya dari rumah sakit akibat insiden kecelakaan beberapa hari yang lalu.


"Lusa aku ingin mengadakan sebuah acara di salah satu tempat dan mereka berdua akan aku undang sebagai bintang tamu." Kemal menyusun sebuah rencana.


"Kau akan tahu setelah mendengar kabar dariku," balas Kemal menyeringai.


"Lakukan sesuai apa yang aku inginkan, aku tak sabar melihat cara kerjamu," timpal Emir sambil meneguk wine.


"Aku yakin kau akan memujaku setelah ini," ucap Kemal membanggakan diri sendiri.


"Jangan terlalu percaya diri, anak muda itu terlalu sulit untuk dimusnahkan." pesan Emir menginterupsi.

__ADS_1


Kemal hanya terkekeh kecil menandakan bahwa ia sedang meremehkan kehebatan seorang Damar. Rasa percaya dirinya begitu kuat, sehingga yakin jika ia mampu mengalahkan Damar.


Mendengar percakapan keduanya Erick semakin yakin bahwa saat ini Damar menjadi incaran mereka setelah sebelumnya Damar dan Erick pikir, Emir lah yang akan menjadi incaran. Entah rencana apa yang akan mereka lakukan pada Damar, ia harus tetap melindungi Bosnya itu.


Erick juga harus mewaspadai Aleta, sebab ia belum menelisik kehidupan terdahulunya. Namun sementara ini, ia harus membuat Damar dan Aleta menjaga jarak. Menjauhi keduanya untuk sementara waktu sampai ia menemukan puzzle-puzzle yang belum terpasang.


Prank!


Tanpa sengaja Erick menyenggol sebuah tempat sampah kaleng di belakangnya hingga terjatuh dan menimbulkan suara gaduh. Emir dan Kemal serta Erick ikut terkejut mendengarnya.


Sang pelaku mengumpat karena kecerobohannya, cepat-cepat ia pergi dari sana sebelum tertangkap basah oleh Emir dan Kemal. Erick masuk ke dalam mobil begitu berhasil keluar dari rumah itu.


Secepat kilat mobil itu akhirnya menghilang dari sana, setelah Emir dan Kemal keluar untuk melihat keadaan di luar rumah. Beruntung begitu tempat sampah itu terjatuh ada seekor kucing yang sedang merogoh plastik sampah di dalamnya, sehingga mereka tidak mencurigai adanya keberadaan Erick.


"Apa kau tak ingin memasang cctv di rumah ini?" Kemal bertanya.


"Tidak perlu. Lagi pun untuk apa aku memasangnya, rumah ini tidak layak di huni dan aku tidak sudi membuang uang hanya untuk memasang cctv." jawab Emir memperjelas.


"Lebih baik kau memasangnya untuk berjaga-jaga," pesan Kemal sedikit memaksa.


"Tidak perlu." tolak Emir tegas.


"Terserah kau saja, aku hanya mengingatkan dirimu." balas Kemal jengkel saat menghadapi sahabatnya yang keras kepala.

__ADS_1


Keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah dan tak mempermasalahkan tempat sampah itu, meski pintu gerbang rumah terlihat terbuka sedikit lebar.


...💕💕💕...


__ADS_2