Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
26 - Labirin


__ADS_3

..."Sebab setelah hujan selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi, dan memelukmu. Aku ingin orang itu selamanya, mari melangkah bersamaku."...


...__________...


Di bawah salah satu sisi langit, Aleta terduduk lelah setelah perjuangan yang cukup panjang melewati labirin itu. Meski belum jua menemukan titik terang, ia bersikeras untuk tetap melanjutkan langkahnya menemukan Ayemi sekaligus keluar dari labirin yang semakin lama terlihat semakin menakutkan.


Di antara dedaunan yang menari akibat hembusan angin yang cukup kuat, serta diantara kicauan burung yang saling bersautan seakan mengisyaratkan, jika gemuruh akan segera datang. Aleta sekilas menatap langit kelabu diikuti kilatan-kilatannya, sebelum akhirnya ia mempercepat langkahnya.


Ia tampak sangat khawatir pada Ayemi, takut-takut jika gadis kecil itu menangis dalam kesendiriannya. Sedangkan ia sendiripun merasakan hal yang dipikirkannya mengenai gadis kecil itu.


Hanya kesendirian dan kegelapan yang menemaninya saat ini, meski ia menyukai kesendiriannya bukan berarti ia mampu bertahan dalam keadaan yang cukup mengerikan baginya.


Kehidupannya diibaratkan seperti labirin, akan ada awalnya dan ada pula ujungnya. Ia memulai dan kemudian mengakhiri. Ada banyak hal yang akan ia lewati, meskipun tersesat dan berusaha untuk mencari jalan yang benar.


Keindahan tidak akan terlihat ketika ia tersesat, sama halnya dengan kehidupan, ia tak akan pernah belajar menentukan pilihan jalan terbaik, ketika ia dihadapkan dalam banyak jalan di depannya.


Meski ia tak akan pernah bertemu orang-orang yang akan ia temui ketika tersesat, lalu berharap akan melangkah bersamanya menuju pilihan yang terbaik.


...***...


Damar keluar dari mobil setibanya di rumah, kemudian melangkah menuju kamar untuk segera menghangatkan tubuh di dalam bathtub. Pekerjaannya hari ini begitu melelahkan, sehingga ia perlu menghilangkan segala penat dalam pikirannya.


Baru saja ia ingin melangkah masuk ke dalam kamar, dua bodyguard nya berlari menghampiri sambil memanggilnya—melaporkan jika Aleta tak berada di kamarnya sejak kepergiannya pagi tadi.


"Maaf, Bos! Kami...," jedanya melirik teman satu profesinya, mengisyaratkan jika ia tak berani mengatakannya di depan Damar.


Damar menelisik tajam keduanya, "Apa terjadi sesuatu saat aku tak dirumah?" tanyanya penuh penekanan.


"Hmm, begini Bos, sebenarnya sejak pagi tadi kami tidak melihat Nona." Tutur pengawal takut-takut.

__ADS_1


"Kami pikir, Nona memang sengaja tak ingin keluar dari kamarnya, tapi setelah salah satu pelayan memberitahu jika Nona tak berada disana, kami segera mencarinya hingga sampai saat ini kami tak menemukan keberadaanya." Perjelas pengawal satunya.


"Dasar tak berguna!! mengurus satu wanita saja kalian tidak becus, BODOH!!" Hardik Damar, amarahnya meradang.


"Maaf, Bos, tapi.." terputus.


"CEPAT CARI WANITA ITU SEKARANG!!!" Bentaknya kasar.


"Ba..baik Bos." Dua bodyguard itu menunduk dan bergegas pergi mencari kembali Aleta.


Sementara Damar mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian memanggil Erick dari sebrang sana—memerintahkan Erick untuk melacak semua titik tempat kediamannya melalui aplikasi pada ponsel pintarnya.


"Temukan wanita bodoh itu segera!" Damar mengakhiri panggilannya.


Raut wajahnya mengeras diikuti kilat matanya memerah dan garis mulutnya menegang kuat bahkan napasnya berhembus dengan cepat. Kentara dengan jelas jika Damar benar-benar murka pada Aleta, ia mengepalkan tangan hingga tercetak garis vena dan menghantam kuat cermin di depannya sampai serpihan kaca tersebut melukai buku-buku jarinya.


...***...


"Kalau hujan seperti ini, bagaimana aku bisa keluar? huff, tenang Aleta, kamu pasti bisa melewatinya. Selemah apapun cahaya yang menerangi kegelapan ini dan sedikit apapun harapan, aku akan tetap berusaha." gumam Aleta menyemangati diri sendiri.


Tiba-tiba Langit memunculkan kilatan cahaya yang menyilaukan dan beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar dari atas sana.


Aleta terperanjat dan kembali meringkuk takut sambil menutup kedua telinganya. Baru saja ingin melangkah, namun ia urungkan niatnya, sebab suara guruh itu terlalu menakutkan ketika berada didalam labirin yang gelap, terlebih ia hanya seorang diri disana.


...***...


Semua pengawal diutus Damar untuk menyebar guna mencari keberadaan Aleta, ia yakin jika Aleta tak akan bisa pergi jauh dari kediamannya itu.


Erick yang baru saja tiba, segera mengabari Damar jika ia menemukan posisi Aleta terakhir kali pada pagi tadi. Itu terlihat pada kamera pengintai mini dari rumah Damar, untung saja kamera tersebut dapat memantau gambar dari jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


"Bos, saya menemukan keberadaannya pagi tadi," ucap Erick menghampiri Damar yang ikut mencari, sambil memberikan rekaman video.


"Pergi temui gadis kecil itu, sekarang!" perintah Damar begitu melihat isi rekaman yang memperlihatkan Aleta bersama Ayemi memasuki Labirin taman.


"Baik, Bos." Erick bergegas pergi menemui Ayemi.


Sementara Damar segera pergi menuju labirin taman. Ia menerobos masuk kedalam, meski hujan mengguyur dirinya. Di tengah-tengah gelapnya taman tak membuatnya surut untuk tetap mencari Aleta.


Kakinya terus melangkah lebih dalam melewati setiap sudut tembok tanaman dengan hati-hati, meski hanya ditemani penerangan dari cahaya ponselnya.


Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Damar menemukan Aleta yang masih terduduk meringkuk disana. Ia memperjelas sosok yang dilihatnya menggunakan cahaya ponsel.


Damar menghampiri dan memanggilnya, namun Aleta bergeming, wanita itu tetap saja menyembunyikan wajah dari balik lengannya dengan keadaan sudah basah kuyup.


"Hei, bodoh!" panggil Damar untuk ketiga kalinya seraya menendang-nendang pelan kaki Aleta.


Aleta mendongakkan wajah ke arah Damar, raut wajahnya tampak datar. Tanpa membalas panggilan Damar, Aleta berdiri, berusaha melangkah untuk keluar dari sana sendiri tanpa harus ditemani Damar.


"Hei!" panggil Damar lagi setelah melihat respon Aleta yang acuh tak acuh padanya.


Tapi tiba-tiba Aleta terjatuh lemah di atas rerumputan, sontak Damar terkejut dan segera menghampirinya. Damar terus memanggil-manggil namanya saat Aleta tak lagi sadarkan diri.


Mendapati Aleta yang pingsan, Damar pun segera membawanya naik ke atas punggungnya dan melangkah cepat untuk keluar dari labirin yang semakin tampak gelap.


Keduanya menerjang derasnya hujan dan kegelapan di antara tembok-tembok tanaman bersama-sama.


"Derasnya rintik hujan dan gemuruh petir tak ku pedulikan ketika kau tahu bahwa aku akan tetap menemukanmu, kau tidak bisa pergi dariku." Damar.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


*fyi, tolong dikoreksi jika terdapat penulisan atau dialog tag yang salah🙏*


*Maaf jika update storynya lama ya✌️*


__ADS_2