
..."Ikhlas itu bohong, yang benar itu terpaksa lalu terbiasa."...
...______________...
Pagi itu Erick tiba di rumah Damar dan segera melangkah masuk setelah memarkirkan mobil di teras. Ia disambut salah seorang pelayan yang kebetulan bertemu dengannya di bawah tangga.
"Pagi Tn. Erick," sapa pelayan itu sambil menundukkan kepala sedikit.
"Pagi. Apa Tn. Damar sudah turun?" tanya Erick melirik ke atas.
"Tn. Damar dan Ny. Aleta sudah pergi pagi-pagi tadi Tuan," jawabnya.
"Pergi?" tanya Erick heran, sebab Damar tak memberikan pesan apapun padanya terkait kepergiannya bersama Aleta.
"Iya. Saya permisi dulu Tuan," ujar pelayan itu berlalu meninggalkan Erick yang masih bertanya-tanya.
Erick mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menekan tombol angka satu yang di mana akan langsung tersambung dengan nomor Damar. Dering panggilan terus saja terdengar di telinganya.
Panggilan itu rupanya beralih menjadi pesan suara otomatis dari ponsel Damar, memberitahukan bahwa nomor ponsel Damar berada di luar jangkauan.
Erick mengerinyit penuh tanda tanya, sebab tak biasa-biasanya Damar pergi ke daerah yang sulit mendapatkan sinyal. Segera ia membuka salah satu aplikasi guna mengetahui keberadaan Damar dan Aleta saat ini.
Rupanya terlihat mobil Damar bergerak menuju kawasan pegunungan Pokut Yaylasi yang terbilang cukup jauh dari Istanbul. Erick semakin penasaran dengan tujuan Damar yang pergi kesana bersama Aleta.
Atas dasar apa Bosnya berkunjung ke wilayah pegunungan, sementara Bosnya belum benar-benar recovery. Tiba-tiba ingatannya kembali mengulang percakapan antara Emir dan Kemal malam itu.
Erick bergegas melangkah keluar menuju mobilnya sambil terus menghubungi Damar sampai dapat tersambung. Ia khawatir jika Damar akan masuk ke dalam perangkap yang telah direncanakan oleh kedua pria paruh baya itu.
Mobil melaju dengan cepat begitu keluar dari pekarangan rumah Damar. Erick berharap bisa dapat sampai di tempat dan segera bertemu dengan Damar. Memberitahukan semua yang ia temukan dan obrolan yang sempat didengar.
'Aku harap bisa segera sampai dan bertemu dengannya, sebelum rencana mereka berhasil.'
__ADS_1
...***...
Pagi, 06.10 am
Sebelum kedatangan Erick, ternyata Damar telah bersiap-siap pergi untuk menghadiri acara yayasan panti asuhan, di mana dalam acara itu ia di undang sebagai bintang tamu.
Damar juga telah meminta pelayan untuk memberitahukan perihal undangan itu kepada Aleta, sebab malam kemarin pesan dan panggilannya tak digubris oleh Aleta.
Sama halnya dengan Damar, ucapan pelayan itu rupanya juga dihiraukan oleh Aleta. Bahkan pintu kamar yang sejak tadi diketuk tak juga dibuka. Wanita itu justru menyumbat kedua telinga dengan headphone dan memainkan musik keras, agar tak mendengar suara ketukan pintu dan kebisingan lainnya.
Tak menyerah sampai disitu saja, Damar menjalankan aksi keduanya. Ia masuk ke kamar Aleta tanpa sepengetahuan pemiliknya. Beruntung kunci cadangan kamar Aleta ada dalam genggaman, sehingga memudahkannya untuk masuk tanpa menunggu untuk dibuka.
Damar melangkahkan kaki menghampiri ranjang, berdiri sejenak sambil mengamati Aleta yang membelakanginya. Ia memanggil wanita itu namun, sang wanita tak mengindahkan panggilannya.
"Aleta!" panggilannya berulang-ulang kali.
Tiba-tiba Damar mengangkat tubuh Aleta beserta selimut yang masih terbalut di tubuhnya. Aleta terkejut bukan main, ia menoleh ke arah Damar sambil berontak.
"Diam dan ikuti saja aku," balasnya sambil berjalan tegak hendak keluar dari kamar.
"Turunkan aku sekarang juga!" perintah Aleta segera dengan raut wajah kesal.
"Tidak." Sahut Damar singkat.
"Turunkan aku, cepat!" ucapnya lagi dengan intonasi nada cukup tinggi.
"Jika ingin ku turunkan, kau harus ikut denganku hari ini," tutur Damar memberikan penawaran untuk Aleta.
"Aku tidak mau pergi denganmu," tolaknya tegas.
"Baiklah, kalau begitu. Kau sendiri yang memaksaku untuk melakukan ini!" serunya menatap Aleta.
__ADS_1
Aleta masih menatap Damar dengan sengit, meski dalam hati memujinya karena penampilannya pagi itu terlihat rapi walaupun gaya busana yang ia kenakan terbilang santai.
Hanya dengan memakai kaos kasual berwarna putih yang tertutupi sweater abu-abu serta celana jeans berwarna hitam, mampu membuat Aleta terpukau. Belum lagi ciri khas wangi Damar yang selalu membuat candu.
"Aku tidak sedang bercanda, tolong turunkan aku!" tekan Aleta sekali lagi.
"Jawab dulu ucapan ku barusan," pinta Damar tak peduli.
"Turunkan aku!" pekik Aleta kesal.
"Jawab pertanyaan ku," balasnya tak mau kalah.
Aleta memekik sambil terus memberontak, sehingga membuat Damar hampir goyah. Kesal melihat Aleta yang terus berontak membuat Damar menarik punggung Aleta hingga mendekati wajah Damar yang saat itu tengah menoleh ke arahnya.
Mereka beradu pandang dan bicara dalam diam. Netra mata Aleta sibuk menilik setiap inci wajah Damar, terlihat sembab di bawah matanya. Meski begitu, Aleta tetap menilai jika pria yang dilihatnya saat ini adalah pria tampan yang pernah ia temui.
Aleta menggelengkan kepala cepat, menampik lamunan yang sempat membuatnya tidak sadar. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara kembali.
"Baiklah." Aleta menyetujui ucapan Damar untuk ikut bersamanya. Pikirnya, keluar sebentar akan membuat penat di dalam batinnya hilang meskipun pergi bersama orang yang menyebalkan.
"Ok." Balas Damar puas karena telah berhasil membuat Aleta ikut pergi.
Aleta mengerutkan kening menunggu Damar untuk menurunkannya namun, pria itu masih saja menggendongnya dan terus menatap. Hingga akhirnya Aleta berdeham guna menyadarkan Damar, merasa canggung dengan situasinya.
Damar bingung melihat raut wajah Aleta yang tiba-tiba melotot lalu mengerlingkan mata. Jengkel dengan sikap Damar yang entah pura-pura bodoh atau memang sengaja, akhirnya Aleta mengomel pada Damar.
"Cepat turunkan aku, jangan pura-pura bodoh!" tegur Aleta kesal.
Mendengar itu, Damar pun menurunkan Aleta dengan caranya sendiri. Pria itu rupanya sengaja mencari masalah dengan Aleta. Membuat Aleta marah agar terus mengomel padanya.
...💕💕💕...
__ADS_1
*Maaf lama up, lagi kurang fit. Semoga feel-nya sampai di kalian ya😘 Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan berikan gift atau vote dan jangan lupa untuk di favoritkan cerita ini♥️ Terima kasih 🤗