
..."Hidup selalu memiliki sisi yang lebih penting, meski beratnya membuatku lebih banyak menyerah."...
..._______________________...
Sebelum terjadinya ledakan di dalam gedung Damar melihat kedatangan Erick dari jendela loteng, tampak ajudannya itu tengah berlari menuruni bukit. Merasa situasi semakin berbahaya, Damar pun melepaskan pelukannya dan membawa Aleta keluar dari tempat persembunyian. Damar bicara dengan hati-hati pada Aleta agar tidak membuatnya menjadi panik.
"Aleta, dengar kata-kataku sekarang!" tutur Damar hati-hati seraya memegangi kedua pundak Aleta.
Aleta mendongak menatap Damar saat melihat raut wajah keseriusannya. Entah kenapa ia terhipnotis dan menurut patuh dengan perintah yang dikatakan oleh Damar.
"Tempat ini berbahaya, kita harus pergi dari sini secepatnya!" terang Damar menatap penuh Aleta agar memahami maksud yang dikatakannya.
Aleta berpikir, jika memang mereka harus pergi dari sana, lalu bagaimana caranya? sedangkan diluar ruangan itu kelompok pria bersenjata tengah mengawasi sambil mencari mereka dan di dalam loteng tak ada akses untuk kabur.
Damar mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan jendela kaca tebal, matanya mengedarkan pandangan ke segala benda yang ada di ruangan itu dan terhenti saat menemukan benda yang dirasanya dapat membantunya memecahkan jendela.
Aleta terdiam saat melihat Damar mengangkut tabung apar yang kemudian digunakan untuk memecahkan jendela.
"Mundur!" perintah Damar saat ia bersiap untuk memecahkan jendela.
Aleta mengikuti perintah yang dikatakan Damar, sambil berdiri dan melihat usaha Damar agar mereka dapat keluar dari gedung itu. Usaha pada percobaan pertama belum membuahkan hasil sebab jendela kaca itu cukup tebal.
Damar kembali mencoba usaha kedua dengan kembali memecahkannya dan sedikit membuat kaca itu terlihat retak. Begitu percobaan ketiga ia kerahkan seluruh tenaga agar kaca itu segera pecah.
Terdengar bunyi nyaring pecahan kaca yang berhasil Damar lakukan. Kepingan-kepingan tajam menghambur di bawah lantai, membuat Damar berhati-hati dalam menginjaknya.
Jendela itu berhasil dilubangi hingga menyisakan sedikit kaca yang masih menempel dan sulit dipecahkan. Damar meletakkan tabung apar itu dan setelahnya ia menghampiri Aleta untuk membawanya pergi.
"Kita keluar sekarang!" serunya berucap seraya menggenggam tangan Aleta.
Langkah Aleta sedikit ragu dan takut namun, Damar kembali meyakini agar Aleta tak perlu takut, ia menjanjikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Mendengar itu, Aleta pun menaruh kepercayaan pada Damar sepenuhnya.
"Hati-hati," ujar Damar pada Aleta saat keduanya berjalan menghampiri jendela.
__ADS_1
Aleta merasakan tiupan angin yang cukup kuat menerpa seluruh wajahnya begitu mendekati jendela. Ia bergidik ngeri kala melihat tingginya bangunan tempat dimana ia berdiri saat ini.
"Kau keluarlah lebih dulu," tutur Damar.
Aleta segera menoleh dan menggelengkan kepala, ia takut untuk keluar melalui jendela terlebih jarak dari tempat ia berada begitu tinggi untuk sampai bisa turun ke bawah.
"Aku tidak mau," tolaknya sambil melangkah mundur.
Secepat mungkin Damar menahan langkahnya dan kembali berucap, "Lihat aku!" perintah Damar sambil menggenggam kuat tangan Aleta diikuti sorot mata yang menatap lekat wanitanya.
"Aku menjamin semua akan baik-baik saja," imbuh Damar meyakinkan Aleta seraya mengangguk kecil agar Aleta percaya dengan ucapannya.
Aleta membalas tatapan matanya dan melihat kesungguhan yang tersirat dari wajah Damar. "Baiklah," sahutnya lirih meski ada rasa keraguan yang masih mengganjal pikirannya.
Sambil menggenggam tangan Aleta, Damar kembali membawanya mendekati jendela. Ia dapat merasakan bagaimana ketakutan yang Aleta rasakan dari sorot mata serta kegugupan sikapnya.
Tiba-tiba Damar mengecup kening Aleta dengan lembut guna meredakan sedikit rasa ketakutan Aleta. Meski tak bisa sepenuhnya bisa menenagkan perasaan itu namun, setidaknya mampu membuat Aleta sedikit lebih berani dan percaya diri.
Aleta memejamkan mata kala merasakan kecupan lembut di atas keningnya, pria itu berhasil meningkatkan sedikit rasa keberaniannya. Tanpa ragu Aleta akhirnya naik ke atas jendela dengan bantuan Damar yang bersedia menjadi tumpuan tubuhnya di atas pundak.
Kini, Aleta menyandarkan tubuhnya di tembok bangunan tersebut tanpa mau melihat ke bawahnya. Ia memejamkan mata kuat-kuat sambil menggenggam rok yang dikenakannya.
Angin yang berhembus cukup kuat membuat rasa ketakutan Aleta kembali datang. Ia memekik ketakutan dengan suara gemetar.
Untung saja saat itu Damar berhasil keluar dengan mudah meski mendapati goresan luka pada lengan kekarnya akibat terkena pecahan kaca itu. Namun, baginya itu bukanlah masalah besar.
"Aku takut!" ucap Aleta spontan seraya memeluk lengan Damar yang terdapat goresan luka.
Argh! Damar mengerang perih kala tangan Aleta menyentuh bagian luka yang kini tengah mengeluarkan darah segar.
"Tenanglah, kau ikuti sekarang!" perintah Damar setelah menenagkan Aleta.
Damar pun menuntun Aleta untuk mengikuti langkahnya sambil kedua tangan mereka saling terpaut tak ingin lepas.
__ADS_1
Bersamaan dengan keberhasilan mereka saat melewati rintangan membahayakan, tak berselang lama suara dentuman keras menggelegar dari dalam gedung hingga serpihan bangunan tersebut menyeruak ke luar.
Damar serta Aleta terlempar cukup jauh ketika getaran serta dentuman tersebut menyerang tubuh dan hawa panas kini menyerang kulit serta bagian dalam tubuh mereka, bahkan uap panas itu terasa di sekitar lingkungan itu.
Sementara Erick refleks membungkukkan badan di atas dedaunan kering ketika terkejut mendengar suara dentuman dari dalam gedung, beruntung ia belum sampai menginjakkan kakinya di sana.
Akibat dari ledakan boom yang terjadi di dalam gedung itu membuat banyak korban yang tak terselamatkan. Para tamu serta orang-orang yang bekerja di gedung itu mati secara tragis akibat perbuatan Kemal dan Emir.
.
.
.
.
Terdengar sirene ambulance dan mobil polisi berserta mobil damkar berdatangan setelah berselang terjadinya ledakan yang terdengar sebanyak dua kali. Lokasi serta akses jalan yang sulit dilalui membuat petugas-petugas itu sedikit terlambat datang.
Meski begitu, para warga yang tinggalnya tak jauh dari lokasi sudah lebih dulu berada di sana sebelum kehadiran para petugas. Mereka hendak membantu para korban yang ada di luar gedung.
Gedung itu segera di tutup dengan police line begitu petugas kepolisian tiba guna mengamankan lokasi agar aparat hukum lebih mudah melakukan penyidikan atau penyelidikan.
Hanya petugas polisi dan petugas gabungan damkar yang mendapatkan izin untuk bisa masuk ke dalam lokasi. Sedangkan petugas kesehatan hanya menunggu di luar gedung, menunggu petugas damkar membawakan korban yang masih bisa diselamatkan dengan folding stretcher.
"1-1-2!"
Terdengar suara dari handy talky yang memberikan kode *e*mergency pada tim kepolisian.
"10-2," sahut salah satu tim kepolisian sambil menekan push to talk menanyakan keberadaan posisi darurat tersebut.
"Belakang gedung!"
"8-6," balasnya di mengerti. Setelah mengakhiri percakapan melalui HT, ia bergegas menuju lokasi bersama petugas kepolisian lainnya yang saat itu tengah berjaga dan beberapa petugas kesehatan.
__ADS_1
...(〒﹏〒)(〒﹏〒)(〒﹏〒)...
...T E R I M A K A S I H ❤️...