
Erick memejamkan mata sejenak sambil menghela napas berat kemudian berkata, "Ok, baiklah!"
Meski terdengar terpaksa, akhirnya suster itu menghentikan aksinya. Ia kembali membuka jendela mobil yang hanya setengahnya, berjaga-jaga takut Erick mengingkari ucapannya dengan cara menariknya keluar dari mobil.
"Tapi ada satu permintaanku!" sambung Erick kali ini penuh harap.
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Biarkan aku yang membawa mobilnya," pinta Erick tegas.
Suster itu setengah berpikir sebelum membalas, "Ok." Kemudian membuka kunci mobil dan bergegas pindah duduk di samping kemudi tanpa keluar dari mobil terlebih dahulu. Ternyata suster itu cukup pintar, ia sulit dibodohi.
Secepat kilat ia mengunci dirinya dengan seat belt dan duduk tenang di dalam mobil. Erick yang baru saja masuk ke dalam mobil dengan perasaan jengkel melihat ke arahnya dengan tatapan mengerikan.
Ia tak habis pikir, bagaimana bisa bertemu dengan wanita yang jiwa gilanya melebihi orang-orang yang memiliki penyakit OCD. Kemudian Erick menggelengkan kepala sambil berdecak, sebelum akhirnya mengendarai mobil.
Suasana sepanjang perjalanan terasa begitu hening, keduanya enggan membuka suara lebih dulu. Erick sibuk menatap jalanan sementara suster itu tengah asyik bermain dengan ponselnya.
"Hahaha!" terdengar suara gelak tawa yang keluar dari mulut suster itu, ketika melihat sesuatu yang menurutnya lucu dari layar ponsel miliknya.
Erick yang sebelumnya fokus menyetir tiba-tiba buyar akibat suara tawa yang menganggu konsentrasinya. Menyadari suaranya telah menganggu, suster itu segera melipat bibirnya ke dalam dan terbungkam seribu bahasa.
...***...
Emir dan seluruh anak buahnya kembali mendatangi lokasi gedung kebakaran, dengan didampingi beberapa polisi gadungan yang ia sewa, Emir yakin dapat dengan mudah memasuki kawasan penduduk di desa tersebut.
"Kali ini, kita harus menemukan Aleta dan anak muda itu sebelum Kemal menemukannya lebih dulu." Emir memberi perintah kepada seluruh anak buahnya setibanya di lokasi.
para anak buah serempak menunduk patuh, satu-persatu dari mereka juga telah di tugaskan untuk menyebar di beberapa titik tempat, agar segera menemukan Aleta dan Damar secepat mungkin.
Namun, salah seorang dari anak buahnya justru melaporkan kepada Kemal, mengenai rencana Emir hari ini. Ia berkhianat karena Kemal mengimingi bayaran besar untuknya.
"Buat rencana itu gagal," pesan Kemal dari balik ponsel.
Anak buah itu menjawab patuh sebelum mengakhiri percakapan, ia sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya setelah ini. Menyamar sebagai salah satu penduduk di sana, sepertinya akan lebih memudahkannya untuk masuk ke dalam wilayah tersebut.
"Hei, Dev!" panggil salah seorang temannya, meminta ia untuk segera menjalankan tugas.
Keduanya pun berjalan bersama menuju pedesaan. Berjalan santai agar tak dicurigai penjaga desa tersebut, sambil membawa beberapa batang kayu yang bertengger di atas bahu.
Begitu di depan pagar pintu masuk sang penjaga tak menaruh rasa curiga sedikitpun, bahkan tak menanyakan identitas mereka dan enggan melihat kedua wajah pria yang sedang menyamar itu.
__ADS_1
"Pagi, Pak!" sapa kedua pria itu saat hendak melewatinya.
"Ya, ya, pagi!" sahutnya seraya menyesap secangkir kopi yang masih hangat.
Kedua pria itu melirik penuh kemenangan akan keberhasilan mereka yang tak dicurigai sama sekali. Mereka kembali melanjutkan langkah dan berpisah di salah satu pertigaan jalan.
"Kau kesana dan aku ke situ," ucap salah satu teman Devano.
"Ok, baiklah!" balasnya mengerti sebelum melangkah pergi dan berpencar.
...***...
Aleta menemui Bunda Azra seusai melakukan sarapan, ia hendak membicarakan sesuatu padanya. Ada hal yang sangat ingin diketahui oleh Aleta dan merasa bunda Azra adalah orang yang paling tahu soal itu.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar dan bunda Azra mempersilahkannya masuk. Sedetik ia melihat raut wajah dan tatapan Aleta yang tampak tak biasa. Meyakini jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh anak asuhnya itu.
"Dari raut wajahmu, sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu!" tebaknya benar.
"Aku ingin bertanya, apa benar Bunda mengenal Ayahku?" tanya Aleta tanpa basa-basi.
Bunda Azra kembali menatap Aleta, berpikir sejenak dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya yang diyakini atas informasi dari Damar. Sedangkan Damar tak pernah membocorkan percakapannya bersama bunda Azra saat itu.
"Bunda memang mengenal Ayahmu, tapi hanya sebatas tahu namanya saja." Bunda Azra berkilah.
Pupil matanya terbelalak kaget ketika melihat foto kedekatan mendiang Ibu Aleta bersama dengan Ayah Damar dan tulisan tangan sang Ibu untuk sahabatnya yaitu, Bunda Azra.
"Apa maksud semua ini! tolong jangan lagi menyembunyikan apapun dariku," pintanya dengan suara parau.
"Di mana kau menemukan foto dan kertas ini?" tanya bunda Azra penasaran, sebab sudah beberapa hari ini ia tak menemukan kotak yang berisikan bukti-bukti kuat itu.
"Jelaskan saja, apa yang aku tanyakan!" Aleta mengelak untuk tak memberitahukan di mana ia bisa menemukan kotak tersebut.
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya." Jawabnya sambil berusaha menenangkan Aleta yang mulai emosi.
Bunda Azra memberitahukan secara gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi, ia merasa bahwa sudah waktunya Aleta tahu kejadian yang sebenarnya terjadi mengenai kedua orangtuanya.
Sebelum Ibu dan Ayahnya menikah, rupanya sang Ibu sempat memiliki hubungan dengan Ayahnya Damar. Namun, hubungan mereka harus berpisah lantaran Ayah Damar sudah dijodohkan dengan wanita lain yang menjadi Ibu kandung Damar.
Begitu juga dengan Elvina, Ibu kandung Aleta yang akan menikah bersama Emir. Sehari sebelum acara pernikahan di gelar, Elvina dan Emilio bertemu di salah satu cafe, mereka sengaja melakukan pertemuan untuk terakhir kalinya sebelum Emilio pergi menetap di Luar Negeri.
Sialnya, pertemuan malam itu justru menjadi awal ketidaksukaan Emir kepada Elvina dan Emilio. Emir memergoki keduanya sedang bersenda gurau begitu akrab hingga membuat Emir cemburu dan menyimpan dendam pada Emilio.
__ADS_1
Seusai acara pernikahan digelar, Emir cukup puas mengetahui Emilio telah pergi dari Turki dan sudah menikah juga. Ia lega sebab takkan ada lagi pria yang merusak hubungan cintanya dengan Elvina. Namun, saat Aleta mulai beranjak usia 6 Tahun, pernikahan Emir dan Elvina selalu dihadapkan dengan pertengkaran karena terbongkarnya rahasia Elvina yang meminta bantuan pada Emilio agar memperkerjakan Emir di salah satu perusahaannya, sebab saat itu usaha yang dirintis Emir telah bangkrut dan harus gulung tikar, itulah mengapa Elvina meminta tolong pada Emilio agar memberi pekerjaan pada suaminya.
Tapi tak disangka-sangka Emilio justru langsung memberikan jabatan yang cukup tinggi pada Emir di salah satu cabang perusahaannya, mengingat Emir merupakan pekerja keras dan jurusan terbaik di salah satu Universitas Turki.
Emir marah besar saat itu, ia kecewa pada Elvina karena telah membohonginya selama ini. Bahkan ia menyesal telah meningkatkan perusahaan Emilio dari hasil kerja kerasnya, dan malam itu menjadi malapetaka untuk Elvina.
Ia tak tahan harus selalu menahan kesabaran kepada suaminya yang menjadi tempramen, Emir juga tak ingin mengakui Aleta sebagai anak kandungnya karena mencurigai Elvina telah bersetubuh dengan Emilio sebelum hari pernikahan itu.
Sebelum mencoba menggantung diri, Elvina menuliskan surat yang berisikan pesan untuk sahabat dekatnya, yaitu Bunda Azra. Ia meminta agar bunda Azra menjaga dan melindungi Aleta dari Emir karena takut Emir akan menyakiti Aleta selepas ia pergi.
Tepat di malam ulang tahun Aleta yang ke 7 tahun, Elvina menghampiri Aleta yang tengah tertidur pulas di kamarnya, di usapnya rambut Aleta dengan lembut sebelum akhirnya mencium kening dan pipi chubby anak gadisnya itu.
'Maaf, Nak, mama tidak bisa menemani di hari ulang tahunmu. Mama harus pergi untuk selama-lamanya, Mama sayang Aleta, selamat tinggal sayang!"
Dipeluknya erat-erat tubuh mungil Aleta untuk terakhir kalinya, Elvina memasangkan gelang kecil di tangan Aleta, sebagai kado ulang tahunnya. Derai air mata tak putus-putus mengalir deras dari mata Elvina. Ia tahu perbuatannya yang dilakukannya adalah kesalahan besar karena dengan teganya meninggalkan Aleta seorang diri bersama Emir yang tak lagi mengakui Aleta sebagai anaknya.
Elvina kembali ke kamarnya dan mempersiapkan tali yang akan dikaitkan di kayu atap dekat jendela, dengan menaiki sebuah kursi, Elvina bersiap untuk menggantung diri di sana.
"Aku harap Aleta bisa berdamping dengan Anakmu, Damar. Maafkan, Mamamu yang berdosa ini! selamat tinggal, sayang."
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, Elvina pun mengaitkan tali pada lehernya dan menggantung diri di atas atap kamarnya. Air mata terakhirnya menetes terjatuh di bawah lantai diikuti deru napas terakhir yang terhenti.
Berselang 30 menit kemudian, Emir yang baru saja pulang dari kelab malam berjalan gontai menuju kamar seraya mengucapkan kalimat umpatan untuk Elvina. Dibukanya pintu kamar, ia masih belum sadar jika Elvina menggantung diri di dalam kamar itu. Namun, saat mendengar suara petir yang menyambar membuat Emir terbelalak hebat, melihat cahaya kilat yang menyorot ke arah sang Istri yang sudah tewas di tempat kejadian.
Selepas pulang dari pemakaman sang Istri, Emir sengaja memutar balikan fakta kepada awak media. Ia mengatakan jika, Elvina mati karena adanya sebuah ancaman dari salah seorang pengusaha. Meski tak menyebutkan nama, wartawan itu rupanya paham siapa pengusaha yang telah disebutkan Emir.
...***...
Dari arah kejauhan, samar-samar Damar melihat Aleta yang berjalan gontai saat hampir melewatinya begitu saja. Tanpa sengaja Aleta menabrakkan bahunya pada lengan kekar Damar, tatapan matanya terlihat kosong hingga tak menyadari keberadaan Damar di sana.
Damar yang melihat sikap tak biasa itu, segera mengikuti kemana Aleta melangkah. Pria itu merasa khawatir setelah melihat keadaan Aleta yang terlihat sedih.
Ia paham betul, bagaimana kondisi Aleta jika sedang terpuruk, persis sama dengan kejadian saat di mana ia melihat Aleta duduk di tempat pemakaman dan berujung kecelakaan karena tingkat kesadaran Aleta yang melemah akibat perasaan sedihnya yang ia tuang ke dalam minuman beralkohol.
Tiba-tiba langkah Aleta terhenti, wanita itu menundukkan kepala. Damar dapat mendengar jelas suara Isak tangisnya yang teramat pilu, sesekali Aleta mencoba menghapus jejak air mata yang menetes di kedua pipinya.
Rasa marah, sakit hati serta kekecewaan bersatu, hingga terasa sesak di dada dan membuat Aleta berkali-kali memukul dadanya. Betapa sakitnya ia mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Greb!
Damar berjalan menghampiri dan berdiri di depannya, ia mendekat dan memeluk Aleta, membuat wanita itu secara tidak sengaja menyandarkan kepalanya di dada Damar.
__ADS_1
Aleta menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Damar, sementara Damar memberikan ruang kebebasan Aleta untuk menumpahkan segalanya yang membuat dirinya menangis. Entah apa penyebab yang membuatnya bisa sesedih itu, Damar tak ingin tahu lebih lanjut sebab ia hanya berusaha menunjukkan rasa kepeduliannya dan juga melepaskan rasa ketidak nyamanan yang dirasakan Aleta.
...❤️❤️❤️...