Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
88 - Topeng


__ADS_3

..."Orang hebat tidak berasal dari kemudahan, mereka dibentuk melalui tantangan, kesulitan, kerja keras dan air mata."...


...____________________...


Erick berbalik dan menoleh ke arah tangan suster yang memegangi jas hitamnya. Rupanya suster itu berniat menghentikan langkah Erick untuk mendengarkan perkataannya.


"Bisa dengarkan aku sebentar," ujarnya sambil menatap serius.


"Cepat bicaralah! aku tidak punya banyak waktu," balas Erick tak sabar seraya melirik jam di tangannya.


"Pertama, aku tidak setuju dengan ucapan mu, yang memintaku untuk berlibur alih-alih bekerja dan berbohong pada Dokter Edward."


"Kedua, aku sudah di tugaskan untuk merawat mu jadi, suka tidak suka mau tidak mau kau harus terima keputusan yang dikatakan Dokter."


"Ketiga, kau tak perlu khawatir sebab aku tidak akan menggangu segala urusan duniamu, tugasku hanya merawat saja," perjelas Suster itu panjang lebar.


Erick berdecak kesal, mau sepanjang apapun suster itu menjelaskannya, ia akan tetap merasa terganggu sebab untuk saat ini Erick harus menemukan keberadaan Damar dan Aleta.


Tidak mungkin Erick harus membawa-bawa suster itu kemanapun ia pergi, lagipula situasi sedang genting dan Erick tidak ingin suster itu terkena imbas dari masalah yang terjadi saat ini.


"Dengar ya, aku tahu kau memang punya niat baik untuk merawat ku, tapi untuk saat ini aku tidak bisa membawamu untuk ikut bersamaku," ungkap Erick jujur.


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang membawa mobilmu! kau tidak bisa mengendarai mobil jika tanganmu saja masih terluka," tuturnya menengadahkan tangan di depan Erick, agar ia menyerahkan kunci mobil.


Erick menghela napas pasrah. Selama suster itu tak mengekori kemanapun ia pergi, tak masalah baginya, toh hanya mengendarai mobilnya saja selepas itu ia bisa bebas.


Kunci mobil telah Erick serahkan kepada sang suster dan kini suster itu berjalan mendahuluinya sembari menekan remote kunci mobil untuk membuka pintu mobilnya.


"Kau benar-benar bisa mengendarai mobil, kan?" tanya Erick merasa ragu setelah duduk di samping kursi kemudi.

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir. Dua minggu yang lalu, aku sudah lulus dalam test menyetir dan hari ini aku baru saja mendapatkan kartu sim A," ucapnya antusias seraya dengan santai memasang seat belt lalu, bersiap menghidupkan mobil.


Baru saja mobil itu hendak berjalan setelah dinyalakan, namun tiba-tiba mati. Erick menoleh dengan perasaan ragu dan juga takut. Mobil itu kembali dinyalakan dan suster mencoba menekan pedal gas namun, lagi-lagi mati sehingga membuat mobil berjalan secara maju-mundur tak stabil.


"Lebih baik aku saja yang membawanya!" terang Erick tak sabar setelah merasakan kepanikan yang luar biasa saat mobil itu dikendarai oleh sang suster.


"Tenang saja, ini hal yang mudah bagiku!" sahutnya dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.


Entah apa yang membuat Erick enggan untuk menimpali ucapannya itu. Malas meladeni, Erick pun lebih memilih untuk berkutat dengan ponselnya, mengumpulkan segala informasi yang diberikan oleh bodyguard Damar.


...***...


Rintik hujan terdengar syahdu, tampak pohon-pohon rindang berayun mengikuti kemana arah angin meniupnya meski, awan gelap menyelimuti kala sore itu.


Suasana pedesaan begitu terasa menenangkan saat hujan tiba, sebab suara gemericik air yang jatuh dari atap mengalun asyik di telinga sang penikmat hujan.


Aleta mengerjapkan mata perlahan, dirasanya masih terasa berat untuk membuka mata. Pandangannya juga masih buram belum terlihat jelas akibat tidur panjangnya.


Kepala masih terasa berat saat ia mencoba untuk bangun dari tidurnya dan bahkan seluruh tubuhnya ikut terasa sakit, begitu ia menggerakkannya. Mungkin karena efek terlalu lama berbaring, pikirnya.


Aleta mengedarkan penglihatan yang kemudian terhenti tepat di tiang infus. Deru napas sendu ia keluarkan saat mengasihani dirinya sendiri yang bernasib malang.


Butiran bening berukurang sebiji jagung menetes dari ujung ekor matanya. Ia merancau dalam hati, 'Kenapa kau masih biarkan aku untuk hidup? harusnya biarkan saja aku mati. Aku muak menjalani hidupku sebagai Aleta.'


Aleta menyalahkan takdir yang tak pernah berlaku adil padanya, dari ia berumur 7 tahun hingga saat ini, tak juga kebahagiaan singgah di hidupnya. Sudah banyak rasa sabar yang ia tanamkan dalam diri, agar tak selalu membenci dengan kehidupannya namun, kenyataan berkata lain.


Mulai dari kehidupan, hati dan kesendirian, ia sembunyikan dari balik topeng wajahnya yang pilu. Bersikap tegar, kuat dan pura-pura bahagia ia lakukan demi orang-orang yang tak selalu mengasihani kehidupannya.


Ia sadar semua orang sedang memakai topeng mereka untuk menutupi sesuatu agar tak terlihat oleh siapapun, termasuk ayahnya dan juga Damar. Aleta merasa harus mewaspadai kedua orang itu.

__ADS_1


Tap!


Terdengar derap langkah seseorang datang memasuki ruangan. Aleta yang mendengar suara itu lantas segera berpura-pura memejamkan matanya, berharap orang yang datang itu bukanlah Damar.


"Kau menangis lagi, sayang," ucap Bunda Azra seraya menyapu jejak air mata di sisi ekor mata Aleta.


Mendengar suara yang sangat familiar serta sentuhan tangannya, membuat Aleta membuka matanya lebar-lebar. Ia tercekat seketika, saat melihat sosok Bunda yang selama ini ia rindukan.


Matanya berair dan lidahnya terasa kelu untuk mengatakan semua yang ingin ia tanyakan. Entah itu hanya mimpi atau bukan, ia merasa senang hingga tak dapat diungkapkan.


Sama halnya dengan Aleta, bunda Azra juga diam membeku. Keduanya beradu pandang tanpa suara sebelum akhirnya Aleta menumpahkan tangisan penuh haru di depan sang bunda.


Aleta berusaha untuk bangun dari tidurnya agar dapat memeluk erat bunda Azra yang diyakininya bukan sekedar bayang-bayang saja.


"Bunda!" jerit Aleta memanggil seraya menghambur di pelukannya.


"Kemana saja kau selama ini? kau tahu, aku sangat merindukanmu," imbuh Aleta menumpahkan tangisnya dalam pelukan hangat sang Bunda.


"Maaf, sayang, Bunda memang jahat karena telah pergi diam-diam darimu." Sang bunda ikut memeluk erat tubuh lemah Aleta sambil sesekali mengusap punggungnya dengan lembut.


Aleta melepaskan pelukan itu dan segera menggelengkan kepala cepat. "Tidak! kau bukanlah orang jahat yang sama seperti mereka," terang Aleta segera menampik ucapan sang bunda.


"Berjanjilah untuk tidak lagi pergi dariku, ya!" pinta Aleta memohon pada bunda Azra seraya menggenggam tangan lalu menariknya ke dalam dekapan.


Bunda Azra mengangguk dan berjanji untuk tak lagi pergi meninggalkan Aleta, ia akan selalu berada di samping Aleta, meski harus bertaruh dengan nyawa sekalipun.


Janjinya pada Ibu kandung Aleta harus ia tepati dan rasa bersalah karena telah meninggalkan Aleta harus ia bayar segera, dengan cara melindunginya dari Emir dan semua antek-anteknya.


Sementara dari balik pintu tampak Damar tengah memerhatikan Aleta dan wanita paruh baya yang disebut bunda, ia juga mendengar percakapan keduanya yang cukup membuat rasa keingintahuan lebih dari kehidupan masa lalu Aleta.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2