Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
78 - Feel Like Broken


__ADS_3

..."Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dikecewakan oleh satu orang yang kamu pikir tidak akan pernah menyakitimu."...


..._________________...


Tampak dari kejauhan Emir memperhatikan Aleta yang terduduk diam di depan meja bar, sebelum salah satu anak buahnya yang menyamar sebagai pelayan di sana menghampiri Aleta.


"Maaf permisi Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," tuturnya seraya menunjuk ke atas tangga.


Aleta menoleh ke arah yang ditunjukkan pelayan itu, matanya terbelalak saat rasa keterkejutan akan sosok Emir yang tengah berdiri menghadap ke arahnya.


Gaya penampilan berpakaian Emir sangat dikenali Aleta walau hanya menambahkan topi baret dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya dari Damar.


Setelah melihat sang Ayah, Aleta pun segera menoleh ke arah Damar. Ia takut jika Damar mengetahui keberadaan Ayahnya yang juga hadir dalam acara tersebut.


Raut wajah Aleta tampak khawatir dan bingung. Ia mengigit bibir bawahnya serta secara bergantian mengigit kuku pada jari-jari tangan, tanda serangan kepanikan yang hadir menyelimuti pikirannya.


Beruntung saat itu Damar masih terlihat sibuk bersama wanita paruh baya yang memaksa untuk terus mengikuti langkah kaki dan gerakkannya, meski alunan musik dansa berbeda dari gerakan yang di perlihatkan.


'Mungkin aku bisa menemui Ayah saat dia masih asyik berdansa dengan wanita itu,' gumam Aleta memperhatikan Damar yang tak lagi fokus ke arahnya.


Begitu mendapatkan kesempatan, Aleta bergegas melangkah menaiki anak tangga menghampiri Emir, ketika Damar tak mengetahui kepergiannya dari sana.


.


.


.


.


Emir dan Aleta masuk ke dalam ruangan. Keduanya duduk di antara sofa panjang yang ada di ruangan. Sebelum memulai percakapan Emir menyerahkan map coklat pada Aleta.


"Bukalah," pinta Emir dengan nada sendu.

__ADS_1


Aleta mengerinyit. "Ini apa, Yah?" tanya Aleta bingung.


"Kau bisa buka dan lihat sendiri," jawab Emir seraya memasang mimik wajah sedih.


Aleta pun membuka map dan mengeluarkan selembar foto rotgen thorax beserta dengan amplop putih. Ia tak mengerti apa maksud Ayahnya yang meminta untuk melihat isi map tersebut.


"Bacalah," pinta Emir begitu melihat reaksi tak paham Aleta.


Isi dari amplop putih itu Aleta keluarkan dan segera dibaca secara seksama. Betapa terkejutnya setelah mengetahui jika, Ayahnya memiliki penyakit pada jantungnya.


Di mana deposit kalsium pada jantung Emir bermasalah hingga mengakibatkan adanya gangguan kerusakan dalam rongga jantung serta kantong pelindung yang mengelilingi jantungnya.


Selesai membaca kertas hasil pemeriksaan, Aleta melihat Emir yang tertunduk pilu. Ia dapat merasakan bagaimana rasa sedih dan sakit sang Ayah begitu mengetahui penyakit yang baru dideritanya.


Aleta menggenggam tangan Emir sambil berkata, "Tidak perlu takut, Aku akan selalu ada untuk Ayah." Aleta berusaha menenangkan kesedihan dan kekhwatiran Emir.


"Ayah takut, jika tidak memiliki waktu banyak, Nak!" Emir berkata dengan nada gemetar seakan dirinya tengah menangis namun, tak ingin menunjukkan tangisnya di depan Aleta.


"Jangan bicara seperti itu, Ayah harus yakin jika bisa kembali sehat!" seru Aleta menyemangati Emir.


"Tolong jangan ucapkan kalimat itu, aku tidak ingin kehilangan Ayah untuk kedua kalinya." Aleta memeluk erat tubuh ringkih Emir.


"Maaf Nak, tapi itulah kenyataannya. Waktuku tak banyak dan mulai hari ini Ayah akan mempersiapkan diri untuk menghadapi penyakit yang Ayah derita," terang Emir menekan setiap kata pada kalimatnya.


"Ayah!" lirih Aleta seraya melepaskan pelukan dan beralih menggenggam kedua tangan Emir yang kemudian diciuminya punggung tangan Emir.


Aleta tak ingin ucapan dari mulut sang Ayah benar-benar terjadi. Sudah cukup baginya kehilangan seorang Ibu dan kini ia hanya ingin sang Ayah terus selalu bersamanya sebab Aleta berjanji akan tinggal dengan Emir setelah masa pernikahannya itu berakhir.


"Tapi sebelum itu terjadi, Ayah ingin memberikan balasan yang setimpal untuk keluarga Emilio," sambung Emir bersikukuh.


"Tolong hentikan perbuatan itu, Yah," pinta Aleta memohon dengan sangat agar Emir menyudahi rasa dendamnya.


"Kenapa? Kau mulai menyukainya? Menyukai pria dari keluarga pembunuh ibumu," tuduh Emir dengan pertanyaan yang bertubi-tubi untuk Aleta.

__ADS_1


Aleta terdiam tak berani menyangkal ucapan sang Ayah sebab ia memang menyukai Damar meski tahu bahwa keluarga Emilio penyebab kematian ibunya.


"Apa kau pikir Ibumu bangga melihatmu dekat dengan anak muda itu? Kau senang bisa dekat dengannya meski tahu bahwa Ibu dan Ayahmu tengah hidup dalam kesengsaraan akibat ulah keluarganya, Apa itu mau mu?" terang Emir berusaha mencuci otak Aleta agar mengikuti keinginannya.


"Baginya, kau itu hanya sebuah boneka, sadarlah! Pria itu tidak benar-benar mencintaimu, sudah berapa kali Ayah katakan, jangan mudah percaya dengan sikap baiknya karena semua itu hanya tameng agar dia mudah menghancurkan hidupmu," sambung Emir memperjelas. Seakan-akan paham dengan tujuan Damar.


"Pernikahan yang kau jalani hanya sebuah permainan, dia tak sungguh-sungguh menganggap mu ada," tambahnya panjang lebar.


"Hentikan!" Bentak Aleta.


"Sudah cukup Ayah membicarakan hal yang sama tentangnya. Aku tahu dan aku sadar, semua yang ku jalani hanya buang-buang waktu. Tapi itu kulakukan demi Ayah, tanpa Ayah sadari telah menjerumuskan ku masuk ke dalam permainannya," perjelas Aleta.


"Menuliskan namaku sebagai barang pengganti utang, ayah tak beda jauh darinya. Kalian berdua sama-sama jahat. Mengorbankan perasaan seseorang hanya untuk kepentingan diri sendiri!" ungkap Aleta terus terang.


"Aku lelah, Ayah tidak sama sekali mengerti bagaimana perasaan sakit dan sedih yang aku rasakan." Bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata akhirnya menerobos keluar begitu saja tanpa henti.


"Itu semua karena keluarga Emilio!" seru Emir yang terus menyalahkan orang lain, ia tak henti-henti menyudutkan keluarga Emilio.


"Stop!" Pekik Aleta seraya menutup kedua telinga dengan tangannya serta berdiri menjauhi sang Ayah.


"Aku bosan membicarakan hal ini lagi," ucap Aleta lalu, melangkah keluar dari ruangan yang diikuti suara Isak tangisnya.


Sementara Emir terlihat marah kilatan pada mata tajamnya seakan menggambarkan ekspresi rasa ketidaksukaannya.


'Berengsek, anak tidak berguna!' umpatnya seraya mengepalkan tangan kuat-kuat.


Emir tak menyangka dengan reaksi Aleta yang berani membentaknya. Berkali-kali menghasut untuk membantunya melancarkan aksi justru, selalu gagal sebab Aleta tak berniat sedikitpun untuk berbuat jahat pada Damar.


Kini, Emir tak lagi peduli dengan Aleta. Ada atau tidaknya Aleta, tidak akan merubah apapun tentang keputusannya untuk tetap menghancurkan Damar.


Rencana yang sudah ia susun dengan rapi akan terus ia jalankan bersama dengan Kemal, meski Aleta harus terjerat dalam rencana jahatnya. Ia akan berhenti melakukannya jika Damar mati di tangannya sendiri.


...💕💕💕...

__ADS_1


*Tolong dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan, entah itu kalimatnya, penempatan tanda baca, typo dll. Tolong bantu koreksi ya🤗


... T E R I M A K A S I H ❤️...


__ADS_2