
..."Hanya karena orang lain berbuat tidak baik kepada mu, bukan berarti kau harus membalasnya dengan cara yang sama."...
...__________...
Sudah dua hari ini Aleta sering sekali mengunjungi Ayahnya, ia berdalih kepada Damar bahwa dirinya ingin ikut andil dengan urusan mengenai Panti Asuhan. Cara itu ia lakukan, agar dapat bertemu Ayahnya.
Ia berinisiatif untuk mengubah pola pikirnya tentang sang Ayah—membuang segala rasa kebencian serta kenangan masa kelamnya guna membangun lembaran baru bersama sang Ayah, meski hingga kini Aleta belum mengakui bahwa dirinya adalah Anak kandungnya.
"Kyla, apa kau ingin makan siang dengan Bapak?" tanya Emir berharap penuh.
"Tentu saja aku mau!" jawabnya sangat antusias.
"Baiklah, kalau begitu mari!" serunya pada Aleta—mengajaknya pergi ke meja makan.
Aleta mengikuti langkah Emir tepat disampingnya. Ingin sekali rasanya ia menggandeng pria paruh baya itu dan bergelayut manja di atas pundaknya. Berkeinginan untuk merasakan kembali dekapan hangat sang Ayah.
"Ayo, silahkan duduk Nak!" tutur Emir setelah berhenti di depan meja makan.
Tampak Aleta terkesima menatap hidangan yang telah disediakan Emir. Pria paruh baya itu rupanya cukup pandai dalam mengolah makanan kendati dirinya tak bisa melihat, namun tak jua menyurutkan semangatnya untuk bisa memasakkan hidangan itu untuk Aleta seorang.
"Ayo, Nak!" seru Emir lagi.
Aleta pun menarik salah satu kursi yang kemudian di duduki. Aroma setiap hidangan tersebut berhasil masuk ke dalam hidungnya, rasanya tak sabar ingin segera menyantap makanan itu.
"Ini semua, Bapak yang masak?" tanya Aleta ragu-ragu.
"Kau pikir karena aku tak bisa melihat, lantas aku tak memiliki keahlian lain." Jawabnya dengan nada canda.
Aleta menggelengkan kepala cepat. "Bukan, bukan begitu maksudnya!" ucap Aleta merasa bersalah.
Emir mengusap lembut pucuk rambut Aleta kemudian tersenyum sambil berkata, "Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Sebaiknya kita makan," jelas Emir.
Kembali Aleta terkejut saat jari jemari Emir mengusap lembut kepalanya dan ingatan masa kecil itu terulang kembali di dalam benak memorinya. Kala itu Ayahnya selalu mengusap lembut kepalanya saat waktu tidur malamnya sambil membacakan setiap dongeng-dongeng untuk menemaninya hingga tertidur pulas di pangkuan dirinya.
Setetes bulir matanya mengalir dari pelupuk mata. Rasanya ingin sekali ia menghambur ke dalam pelukan sang Ayah yang sangat ia rindukan dengan sosok hangatnya.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Aleta takut-takut meski berharap penuh.
__ADS_1
"Ya." Jawab Emir sambil mengulas senyum indahnya.
Aleta pun memeluknya erat bahkan sangat erat diikuti tangis sendunya walau tak bersuara. Emir merespon hangat pelukan Aleta, ia menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Sudah jangan nangis lagi. Malu, kau kan sudah besar!" kelakarnya berusaha membuat Aleta kembali tersenyum.
Mendengar gurauannya justru membuat Aleta mengeluarkan suara Isak tangisnya. Ia tak lagi sanggup menangis dalam diam, rasanya sulit menutupi tangis bahagianya di depan Emir.
"Sudah ya, jangan nangis. Bapak akan belikan es krim untukmu, jika kau kembali menunjukkan senyummu," ucapnya yang kali ini berhasil membuat Aleta berhenti menangis dan kembali menatapnya.
"Pak, bisakah kau menganggap aku ini sebagai Aleta!" Pinta Aleta tiba-tiba.
"Kau kan memang anakku. Kau putri Ayah, putri kecil Ayah yang kini sudah tumbuh menjadi seorang wanita kuat dan sabar." Balasnya seraya menyentuh kedua pipi Aleta dengan telapak tangannya.
Terdiam...
"Meski kau mengatakan dirimu Kyla, tapi aku tahu bahwa kau itu Aleta, anakku yang selama ini ku cari. Jadi berhentilah mengatakan bahwa kau Kyla. Aku mengenal putri ku, sangat mengenalnya." Perjelasnya.
"Maaf, Ayah!" ucap Aleta terlontar begitu saja.
Emir langsung memeluk Aleta dan menangis dalam pelukan itu. Hatinya rapuh begitu mendengar Aleta memanggil dirinya Ayah, satu kata yang ia rindukan dari seorang anak yang sudah memaafkan kesalahannya terdahulu.
Tak sampai di situ, Emir pun menampar sendiri wajahnya dengan kedua tangan sambil mencaci maki dirinya sendiri yang sangat menyesal melakukan kebodohan masa lalunya.
Melihat aksi sang Ayah, Aleta segera menghentikannya. Ia tak ingin Ayahnya terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. Kehilangan penglihatannya saja sudah di anggapnya cukup sebagai hukuman kesalahan perbuatannya di masa lalu.
"Hentikan Yah! aku sudah memaafkan semua kesalahanmu dan aku ingin kita membuka lembaran baru sebagai Anak dan Ayah." Pinta Aleta seraya memeluknya.
Setelah terungkap identitasnya, Aleta pun akhirnya mengaku dan ia menceritakan semua masa hidupnya saat pergi diam-diam dari panti asuhan. Bersembunyi lama-lama nyatanya tak ada gunanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Kini, keduanya duduk bersantai di halaman belakang sambil menikmati secangkir coklat hangat. Aleta kembali menatap sang Ayah, rasanya seperti mimpi ia bisa duduk bersantai dengan Ayahnya. Ia membuang jauh kenangan buruk dan hanya mengingat hal-hal positif bersama Emir.
"Nak, boleh Ayah bertanya sesuatu padamu?"
"Iya, silahkan." Jawabnya.
"Apa kau sudah bertemu dengan Damar?"
Aleta terdiam sesaat tak mampu menjawab pertanyaan Emir.
"Damar, anak dari pemimpin perusahaan yang dulu Ayah kelola." Lanjut Emir memperjelas.
"I..ya." Jawab Aleta ragu-ragu.
"Apa dia berbuat jahat padamu?" tanyanya khawatir.
"Tidak Yah," Aleta menggelengkan kepalanya.
"Jangan membohongi Ayah, Nak!" Emir sangat mencemaskan keadaan Aleta sekarang.
"Ayah tidak perlu cemas, aku bisa menjaga diriku. Lagi pula Damar bukan pria yang jahat." Ungkapnya.
"Tetap saja Ayah mencemaskan keadaanmu. Keluarga mereka itu bukan orang sembarangan, mereka bisa melakukan apa saja termasuk membunuh seseorang." Perjelas Emir yang seketika membuat Aleta tersentak.
Meski Aleta juga tahu bahwa Damar memang tak pernah main-main dengan seseorang yang mengusik ketenangan hidup keluarganya. Ia juga membenarkan perkataan Emir, sebab yang di katakan Emir telah terjadi padanya. Bahkan Damar pernah melayangkan pistol di hadapannya.
"Mereka sengaja memfitnah Ayah, mengatakan jika Ayah yang mengelapkan dana perusahaan dan membunuh kedua orangtuanya. Ayah sama sekali tidak melakukan hal keji semacam itu, kau percayakan pada Ayahmu ini!" sambungnya lagi menceritakan semua pada Aleta.
Saat itu pun Aleta semakin yakin, jika semua terjadi karena kesalahpahaman. Ia sangat mempercayai Emir yang tak akan melakukan kejahatan itu. Semua terjadi karena ketidaksukaan salah seorang karyawan pada Ayahnya.
Aleta pun meyakinkan Emir untuk tak perlu khawatir, ia juga berjanji akan membersihkan nama sang Ayah yang telah di cap buruk oleh semua orang. Memperbaiki keadaan agar tak ada lagi dendam di antara dua Keluarga.
"Kau harus berhati-hati dengan pria itu, Nak!" pesan Emir pada Aleta yang tertuju pada Damar, pria yang kini menjadi suami kontraknya.
Aleta belum mengungkapkan jika Damar menjadi suaminya saat ini, ia mempersiapkan waktu untuk bisa mengatakannya pada Emir. Menjelaskan semua kronologis yang terjadi dari ia bertemu Damar hingga bisa menikah dengannya.
"Aku akan menceritakan semuanya lain kali, ini bukan waktu yang tepat untuk Ayah mendengar kenyataan yang terjadi." Batin Aleta.
__ADS_1
...✨✨✨...