
..."Bersama memang tidak akan menyelesaikan segalanya, tapi setidaknya dengan bersama kita bisa bertahan lebih kuat."...
...___________________...
Ting!
Ponsel Yuri berbunyi, memunculkan notifikasi pesan masuk. Sang pemilik yang baru saja keluar dari kamar mandi segera meraih benda pipih tersebut dari atas nakas.
Dilihatnya nama sang pengirim yang kemudian beralih untuk membuka pesan yang berisikan sebuah video dan beberapa foto. Ia mengulirkan layar untuk melihat foto-foto sebelum akhirnya membuka video itu.
Seketika Hawa panas berdesir hebat di dalam hati, matanya mendelik lebar serta tangan ikut bergetar, kala melihat video yang menampakan Damar dan Aleta tengah berciuman mesra di bathtub kamar mandi.
Raut wajahnya tak lagi sesegar tadi begitu sikap emosional kembali mencuat. Yuri mengumpat kata-kata kasar yang ditujukan untuk Aleta. Ia marah sekali pada wanita yang kini mengisi hati Damar.
Cepat-cepat ia merapikan diri kemudian bergegas menuju kediaman Damar. Yuri masuk ke dalam mobil yang terparkir rapi di dalam garasi, setelah memasang seat belt segera ia menancapkan pedal gas dengan kuat.
Ia tak sabar ingin menghujat Aleta, istri palsu Damar. Tak peduli lagi bagaimana nanti penilaian Damar mengenai dirinya, yang jelas Yuri telah terbakar api cemburu.
Namun sayangnya Yuri terjebak dalam kemacetan Kota, sebab jalan dipenuhi pengendara yang hendak melakukan perjalanan liburan mereka di akhir pekan. Yuri pun berdecak kesal, klakson mobil terus saja ia bunyikan, meski mobilnya tak sedikitpun bergerak.
"Argghhh! sial, karena wanita murahan itu hidupku selalu tertimpa kesialan. Lihat saja Aleta, aku akan memberimu pelajaran setelah ini dan kau tidak akan lagi bisa mendekati Damar ku!"
Yuri yang tak sabar segera meninggalkan mobilnya, ia membanting pintu mobil kemudian berjalan melewati kemacetan itu guna mencari taksi agar segera sampai di kediaman rumah Damar. Sebelumnya ia telah menelepon sopir untuk mengambil mobilnya yang terjebak dalam kemacetan.
...***...
Aleta dan Damar serta Erick berada di teras samping, keduanya terlihat membicarakan kejadian yang baru saja terjadi di depan Erick. Keduanya berdalih, bahwa itu hanya ketidaksengajaan saja.
__ADS_1
Meski begitu Erick tak mudah begitu saja mempercayai alasan keduanya. Ia juga kembali mengingatkan akan janji mereka pada kertas yang telah di sepakati keduanya.
Aleta menunduk malu pada Erick dan Damar. Jika saja kejadian itu tak jadi tontonan seisi rumah, mungkin Aleta tak akan semalu saat ini. Tak bedanya dari Aleta, Damar pun bersikap demikian, kendati ia masih berlagak seolah tak terjadi apa-apa.
"Tolong jaga sikap, saya yakin Nona dan Tuan bukan orang yang ingkar janji dengan kesepakatan yang telah ditandatangani." Ungkap Erick.
Ajudannya itu bukan tak mau melihat Damar dekat dengan Aleta, ia hanya takut jika Aleta benar-benar terbukti bekerjasama dengan Emir, Ayah dari Aleta. Itu sebabnya, Erick sedikit kecewa melihat keduanya bermesraan ketika di rumah.
"Apapun alasan yang diucapkan, saya tidak membenarkannya karena jelas tertulis di kertas ini, bahwa kedua belah pihak dilarang untuk melakukan kontak fisik tanpa terkecuali." Sambung Erick menambahkan.
"Ya. Sudahlah Erick, kejadian itu hanya ketidaksengajaan. Lagipula untuk apa aku menciumnya," balas Damar dengan alibinya.
Aleta menoleh ke arah Damar, matanya menatap sengit pria yang dengan mudahnya bicara seperti itu, sedangkan Damar lah pelaku utama yang lebih dulu menciumnya.
"Brengsek! bisa-bisanya bersilat lidah. Jelas-jelas dia yang lebih dulu mencium ku. Dasar pria batu otak mesum."
Aleta mengumpat Damar dengan tatapan yang dapat diketahui oleh Damar. Ia tahu betul bagaimana perasaan Aleta saat ini, begitu mendengar ucapannya.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit undur diri." Tutur Erick melangkah pergi sembari membawakan beberapa lembar map coklat.
Tak berselang Erick pergi, Aleta pun ikut melangkah meninggalkan Damar yang masih terduduk di kursi sambil memandangi kolam ikan. Namun dengan gerakan cepat, Damar menghadang langkah Aleta.
"Tunggu!" cegahnya seraya menggenggam pergelangan tangan Aleta.
Aleta menoleh dan bertanya, "mau apa kau?"
Damar berdiri mendekati Aleta, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Ia menunjukkan sebuah video kepada Aleta.
__ADS_1
"Ini, kau lihat dan dengar sendiri!" ujarnya memberikan ponselnya.
Aleta pun meraih ponsel tersebut dengan raut wajah bingung. Diputarnya video yang berdurasi 5 menit itu dengan memperlihatkan salah seorang Dokter yang tengah duduk di kursi tahtanya.
"Hai Nona Aleta, saya Dr. Burhan! saya Dokter yang menangani Damar. Maaf jika saya hanya dapat bicara melalui video ini, sebab kita belum bertemu sebelumnya. Video ini saya buat untuk menyampaikan pesan, bahwa saya selaku Dokter ingin meminta anda merawat serta menjaga Damar hingga pulih. Sebenarnya pasien saya yang satu ini belum diperbolehkan untuk pulang, namun dia bersikeras untuk pulang. Ya saya paham, mungkin dia sangat merindukan anda sehingga ingin sekali anda yang merawatnya. Mungkin itu saja pesan yang ingin saya sampaikan, jika ingin bertanya anda bisa menghubungi saya. Terima kasih."
Keningnya mengerut alis mata ikut terangkat sebelah serta mulutnya terbuka sedikit. Ia tak dapat berkata setelah menyaksikan pesan dari sang Dokter melalui video yang dikirimkan melalui salah satu aplikasi di ponsel Damar.
Damar mengambil kembali ponsel miliknya dari tangan Aleta dan langsung memasukkan ke dalam saku. Sambil berkacak pinggang Damar menilik respon ketidaksukaan Aleta menerima pesan itu.
"Kau dengar bunyi pesan itu?" Damar bertanya.
Aleta menoleh dengan kilatan mata tajamnya, ia meyakini bahwa Damar sengaja meminta Dokter untuk mengatakan seperti itu. Aneh rasanya jika seorang Dokter mengirimkan pesan pribadi pada ponsel Damar.
"Itu akal-akalan yang kau buatkan!" tegas Aleta.
"Ha!" Damar menyeringai, "perlu ku hubungi Dokter itu?" tawarnya percaya diri.
"Aku tidak percaya pada manusia sepertimu," ejek Aleta seraya melangkah pergi begitu saja.
Melihat Aleta yang dengan santai berjalan meninggalkan dirinya, cepat-cepat Damar menjalankan strategi kedua yang telah dipikirkannya dengan matang-matang.
"Aahhh!"
...💕💕💕...
Maaf ya jika bab ini kurang dapet feel-nya🙏, maaf juga karena membuat kalian menunggu up cerita ini. Terima kasih masih setia membaca cerita ku😘❤️
__ADS_1
Rekomendasi novel keren karya author Noormy, banyak pembelajaran yang akan di dapat pada ceritanya, kuy sambil nunggu up 😁