Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
48 - Şimşir Ormani Rize


__ADS_3

..."Aku benar-benar takut dengan perasaanku. Berawal dari membencinya, tidak bisa tanpanya dan kini aku takut kehilangan dia."...


...______________________...


Pria itu menarik wajah Aleta kasar untuk menatap dirinya. Ditekannya rahang Aleta dengan jari-jarinya sambil menatap bengis.


"Jangan merasa dirimu itu berharga, kau hanyalah wanita murahan dan sampah—tidak berguna sama sekali," hardiknya pada Aleta.


Cuuihhh!!!


Aleta meludahi pria itu saat berkata kurang ajar, sungguh Aleta merasa terhina di mata pria itu. Harga dirinya bahkan terinjak-injak, sudah cukup ia menahan kesabaran pada orang-orang yang merendahkannya.


Kini saatnya membalas semua cacian yang ia terima, tak ingin lagi tertindas dan lemah di depan semua orang. Mereka tidak begitu mengenalnya tapi seenaknya saja mereka menilai Aleta wanita rendahan dan menjijikan.


"Berani-beraninya kau meludahi ku!" geramnya melototi Aleta.


"Itu pantas buat manusia seperti mu, ah aku salah!" jedanya, "kau bukanlah manusia, kau adalah iblis," perjelasnya membalas cacian pria itu.


"Shitt!!! rupanya kau ingin cepat-cepat mati," hardik pria itu sambil menarik rambut Aleta kuat-kuat.


"Aahhh!!" Aleta meringis kesakitan.


Pria itu tampak murka, ia tak peduli jika yang di lawannya itu seorang wanita. Emosinya mulai meradang, dengan kasar ia menampar kedua pipi Aleta secara bolak-balik. Pria itu tak lagi peduli suara ringkih dari bibir Aleta yang merasa sakit. Perbuatannya itu membuat Aleta terluka—darah itu mengalir di ujung ekor bibirnya.


Aleta tidak bisa berbuat apa-apa, sebab tangan dan kakinya terikat kuat. Ia pasrahkan dirinya menjadi samsak pria yang tak sama sekali di kenalnya, entah sampai kapan pria itu berhenti menyiksanya atau memang ia sengaja ingin terus melakukan penganiayaan terhadap Aleta hingga dirinya mati.


Kembali menarik rambut Aleta, "Jaga ucapan mu itu, atau kau akan mati di tanganku!" ancamannya sambil mencium pipi Aleta.


Setelah itu ia pergi meninggalkan Aleta yang terkulai lemas, seluruh wajah dan kepalanya terasa perih dan panas ketika menerima siksaan kasar dari tangan pria itu.


Aleta merunduk menangis setelah merasa ketidakadilan selalu menimpa hidupnya. Ia terus mendapatkan siksaan dan cobaan hidup yang berat. Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya saat itu juga.


...***...


Setibanya di kediaman rumahnya, Damar langsung menghampiri Erick guna menanyakan Aleta. Ia tak sempat menghubungi Erick saat perjalanan pulang, sebab sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Damar cemas.


"Nona pergi tanpa pamit dan tidak satupun orang di rumah yang tahu jika ia pergi menaiki taksi." Ungkap Erick sambil menunjukkan video cctv.

__ADS_1


"Dasar tidak berguna kalian semua!!! mengurus satu orang wanita saja kalian bisa kecolongan begini!!" gertaknya sambil menghampiri seluruh pengawal yang saat ini tertunduk.


"Ma..af Bos," ucap kompak para pengawal takut-takut.


"Kata maaf tidak akan bisa menggantikan semuanya!!! sekarang cari dia sampai ketemu, CEPAT!!!" perintah Damar bernada tinggi. Ia mulai geram.


"Ba..ba..baik Bos," sahut mereka terbata-bata sebelum menghambur pergi secepat mungkin untuk mencari Aleta.


Sementara itu Erick menghampiri Damar yang tengah berkacak pinggang sambil mondar-mandir, memikirkan keberadaan Aleta. Erick memberitahu bahwa ia sempat melihat sosok wanita yang mirip dengan Aleta dan ia juga menyerahkan bukti foto plat nomor kendaraan taksi tersebut kepada Damar.


Setelah melihat foto plat nomor kendaraan itu, Damar pun memberi perintah agar Erick pergi menuju kantor pengelola jasa taksi tersebut, guna menanyakan sang Sopir yang membawa Aleta pergi.


Begitu Erick pergi, Damar mengeluarkan ponsel dari saku celana—mencoba menghubungi Aleta.


"The number you are calling cannot be reached. Please try again later."


Damar terus menghubungi Aleta, meski selalu mendapatkan pesan sistem otomatis yang sama dari ponsel Aleta. Ia semakin khawatir sekaligus marah karena sikap Aleta yang tak menuruti perintahnya.


Kembali Damar melihat layar ponselnya, membuka salah satu aplikasi untuk melacak keberadaan Aleta melalui nomor ponselnya. Begitu ditemukan posisi Aleta saat ini, Damar bergegas pergi menuju titik lokasi itu.


Dengan menaiki kendaraan mobil pribadinya, Damar melesat jauh dari kediaman rumahnya. Ia juga mengaktifkan layanan GPS pada mobil pintarnya, guna mempermudahkan perjalanan agar segera tiba di lokasi dengan cepat.


"Şimşir ormani rize!! untuk apa dia pergi ke daerah itu?" Gumam Damar terkejut dan gamang saat mendengar suara sistem pada GPS.


Pasalnya tempat yang di kunjungi Aleta merupakan hutan boxwood di Turki, hutan tak berpenghuni yang masih terjaga kelestariannya.


Damar menekan pedal gas hingga mencapai titik garis speedometer di 80 km\jam, cukup cepat ia mengendarai mobilnya agar dapat sampai ke lokasi dengan jarak tempuh 1,5 jam. Untung saja malam itu tak ada pengendara yang berlalu lalang, sehingga memudahkannya untuk berkendara.


...***...


Pria itu kembali menghampiri Aleta yang tengah terkulai lemah akibat seharian tak mengisi apapun di perutnya, terlebih ia baru saja di perlakukan kasar.


**Drttt**!!!


Drttt!!


**Drttt**!!


Ponsel Aleta berdering di dalam tasnya, cepat-cepat pria itu mengambil ponsel Aleta. Ia melihat nama panggilan yang ada di layar ponsel, merespon dengan semirknya yang juga jijik setelah membacanya.

__ADS_1


"Menjijikan." Ledeknya sebelum ia mencetuskan ide untuk melihat respon kekhawatiran Damar terhadap Aleta.


Pria itu kembali menarik rambut Aleta agar membuat Aleta mendongak ke atas. Ia arahkan wajah Aleta tepat di kamera ponsel lalu memotretnya, setelahnya ia kirimkan gambar itu pada kontak dengan nama *Si Tampan*.


Detik itupun gambar yang ia kirim tersampaikan oleh penerima. Tak sampai di situ, ia kembali memotret dan mengirimkan wajah Aleta dengan pistol yang ia todong di samping kening Aleta.


Setelah puas ia mematikan ponsel Aleta, tak ingin mendengar suara bising dari deringan dan getaran pada ponselnya, saat meyakini jika sang penerima itu pasti akan terus menghubungi nomor Aleta.


Fiuh....


Fiuh...


Fiuh...


Pria itu melangkah pergi diikuti siulan dari mulutnya, ia tampak bangga dengan yang ia lakukan baru saja. Berpikir kali ini ancamannya akan berjalan lancar setelah kemarin surat yang ia kirimkan di acuhkan begitu saja oleh Damar.


...***...


Erick tiba di kantor pengelola jasa taksi, ia langsung menemui sang Owner untuk menanyakan Sopir yang membawa mobil Dengan plat no polisi pada foto yang ada di ponselnya.


Ternyata sang Owner pun sedang mencari keberadaannya, sebab sejak kemarin Sopir itu telah membawa kabur mobil milik perusahaan.


"Shitt!!"


Erick mendengus kesal saat mengetahui hasil pencariannya nihil. Sekarang ia terlihat bingung untuk mencari keberadaan Aleta. Tiba-tiba datang seorang pria berpakaian seragam taksi memberikan informasi mengenai Sopir yang tengah di carinya.


Ia memberikan alamat rumahnya pada Erick dan meminta Erick untuk segera membawanya ke kantor polisi, sebab ternyata Sopir itu memiliki banyak catatan pelanggaran lalu lintas dan juga kriminal.


"Terima kasih." Ucap Erick begitu menerima informasinya.


"Sama-sama Pak, semoga pria itu segera ditemukan." Sahutnya penuh harap.


Setelahnya Erick bergegas pergi menuju alamat yang telah di berikan, berharap kali ini ia bisa menemukan titik terang akan persembunyian Aleta dan memberikan kabar kepada Bosnya.


...💕💕💕...


*Maaf ya jika cerita ini kurang berkenan di hati kalian dan maaf juga tulisan ku tidak begitu rapi, masih banyak kesalahan-kesalahan 🙏


Dan terima kasih banyak untuk para pembaca yang masih setia hingga detik ini untuk membaca karya ku yang gaje ini✌️. Tetap selalu dukung karya ku ya, dukungan kalian menjadi penyemangat untuk aku dalam berkarya ✨💜💜💜 #borahae

__ADS_1


__ADS_2