
..."Kau bukan lawan yang tangguh untukku, jadi menyerahlah. Waktuku terbuang sia-sia jika aku melawan dirimu."...
...__________...
Baru saja Aleta ingin mendaratkan ciumannya, Damar justru memalingkan wajahnya dan menarik Aleta menuju kamar, yang kemudian melangkah mengarah ke kamar mandi, didorongnya tubuh Aleta ke sudut kaca dan diangkatnya kedua tangan Aleta lalu ia menguncinya erat mengunakan tangan kiri kekarnya.
Setelahnya Damar mendekat hingga tak lagi menyisakan ruang diantara keduanya, mereka menempel seperti perangko. Saat ini giliran Damar yang merasakan napas memburu Aleta, melihat segelintir penuh harap dari netra coklat matanya.
Damar menyaksikan tingkah Aleta yang kembali agresif dan tak sabaran, dengan sigap Damar menundukkan sedikit wajahnya ke arah bibir ranum Aleta. Kemudian tangan kanannya memutar kepala kran dan menarik tombol kecil di bagian tengah dan...
Byuurrr....
Saat itu juga seluruh tubuh Aleta diguyur deras pancuran shower yang sengaja Damar lakukan untuk menyadarkannya dari pengaruh obat perangs*ng. Sementara Damar segera melepaskan tangan Aleta kasar dan melangkah pergi meninggalkannya.
Aleta memekik kedinginan—rasa keterkejutannya seketika mampu membuat ia sadar dari apa yang dilakukannya. Beruntung Damar tak melakukan hal buruk terhadapnya, meski cara ia membantu Aleta cukup menyebalkan.
...***...
Sinar mentari pagi mengusik ketenangan wanita yang masih terlihat nyaman di atas ranjangnya, meski sang Pelayan menyapa paginya, ia tak menggubris. Entah antara enggan membuka mata atau memang ia malu, imbas perbuatannya kemarin malam.
"Selamat pagi, Nona. Sarapan sudah siap, Nona diminta untuk turun oleh Tuan," ucapnya pada Aleta sembari membuka gorden.
Aleta memicing, mengintip sedikit kegiatan sang Pelayan yang sibuk membenahi isi kamar, kendati Aleta bukan wanita yang semerawut.
"Sial, kenapa lama sekali sih pelayan itu pergi!" gumamnya jengkel.
"Saya tahu Nona sudah bangun, sebaiknya lekas bersihkan diri dan segera sarapan bersama Tuan," ujarnya kedapatan Aleta berpura-pura.
Aleta bersikukuh menutup mata rapat-rapat.
"Kalau begitu, Tuan Damar sendiri yang akan membangunkan Nona," tuturnya seolah-olah mengancam.
Aleta menggertakkan gigi, "Aku sudah bangun, tak perlu memanggil pria berengsek itu," balasnya sembari menggeliat palsu guna ditunjukkan kepada sang Pelayan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamitnya sebelum melangkah keluar.
"Tidak ku sangka, pelayan-pelayan disini mewariskan sikap si brengsek itu."
.
__ADS_1
.
.
.
Selang 30 menit, Aleta akhirnya keluar dari kamar setelah cukup lama ia memeras pikiran untuk siap menemui Damar. Langkahnya perlahan menuju ruang makan, meski jantung telah berdegup kencang serta rasa gemetar akibat ketakutan, Aleta berusaha untuk menutupi itu semua dengan menegakkan pundak dan memantapkan kepalanya untuk tetap tegak.
Dari pintu ruangan terlihat Damar tengah menunggu sambil menyilangkan tangan diatas dada, mata tajamnya pun tak lepas menyoroti Aleta saat wanita itu melangkah masuk kedalam ruangan dan duduk dengan tenang.
Meski tak mengeluarkan sepatah katapun, Damar semakin terlihat menakutkan. Ia lebih senang melihat pria itu berbicara ketimbang diam, walau ucapannya itu sangat kasar.
Setelah menyelesaikan sarapan, Damar melangkah pergi meninggalkan Aleta yang masih melakukan aktifitas makanya.
"Jangan lengah tetap awasi wanita itu!" perintah Damar pada kedua bodyguard nya, setelah ia keluar dari mansion.
"Baik Bos," sahut mereka mengangguk patuh.
Aleta memerhatikan Damar dari atas balkon kamarnya, ia meyakini bahwa Damar memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi dirinya. Lantas bagaimana Aleta meluncurkan aksinya untuk bisa melihat isi dalam flashdisk tersebut, sementara Damar memperketat pengawasan terhadapnya.
"Aku memerlukan trik untuk bisa lolos dari pengawasan mereka," gumam Aleta berpikir sejenak.
...***...
"Kau salah menuduhku, untuk apa aku melakukan hal serendah itu padanya," elaknya berulang-ulang kali.
Erik tersenyum simpul seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu memutar isi video dalam ponselnya, tak sampai disitu ia juga mendatangkan seseorang yang bekerja di bawah kaki tangan Andreas untuk membantunya menuntaskan aksi balas dendamnya kepada Damar.
"Kau masih ingin mengelak sekarang? apa perlu aku tunjukkan lagi buktinya?" Erick mengintimidasi hingga Andreas diam terpaku.
"Ck, damn!" Andreas berdecak kesal, matanya menatap tajam anak buahnya yang berani membongkar semua perbuatannya.
.
.
.
.
__ADS_1
drttt...
drttt...
Ponsel Erick bergetar menampakan salah satu nama pada layarnya yang kemudian di jawabnya panggilan tersebut.
"Semua beres, Bos." Ucapnya pada Damar dari sebrang sana.
"Bagus." Damar menyeringai puas menatap layar tv plasma dihadapannya.
Terlihat Andreas berdiri sambil menundukkan kepala, setelah ia mengakui semua perbuatannya pada Aleta. Ia juga berulang kali meminta maaf kepada Aleta dan Damar, meminta ampun agar perbuatannya tidak sampai ke jalur hukum.
Setelah kehebohan yang dibuat Aleta kemarin, Damar memerintahkan Erick untuk menyelidiki semuanya. Ia tak ingin bersusah payah membuang tenaganya hanya untuk menghajar Andreas. Baginya Andreas terlalu mudah untuk ia kalahkan.
...***...
Sore hari di kediaman Damar, Aleta terlihat bosan berada di dalam kamarnya. Ia berniat keluar untuk sekedar berkeliling melihat pekarangan halaman yang terletak di belakang mansion.
"Anda mau kemana, Nona?" tanya salah satu penjaga.
"Aku bosan, ingin berkeliling sebentar." Jawab Aleta datar.
"Kalau begitu, saya temani," ujarnya.
Aleta mengangkat sudut bibirnya, "Terserahlah," balasnya singkat.
Aleta memasuki pekarangan yang terlihat cukup luas, terdapat hamparan bermacam-macam jenis bunga yang mengelilingi area pancuran air taman, bahkan pekarangan itu memiliki labirin kecil yang menambah aksen taman terlihat sejuk nan asri.
*Wah, luar biasa sekali! aku baru tahu, jika kediamannya memiliki halaman seluas ini," gumamnya berseru takjub.
Seketika Aleta memicing, mempertegas penglihatannya, sebab ia melihat sepasang anak kecil yang berkeliaran di halaman itu. Ia pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri kedua anak kecil itu. Terlihat mereka asyik memainkan benda pipih yang ukurannya cukup besar dari ponsel.
"Hai," sapa Aleta kikuk seraya melambaikan tangan diikuti senyumnya malu-malu.
kedua anak kecil itu hanya melirik sekilas dengan tatapan yang cukup mengerikan dan kemudian kembali menatap layar tabletnya.
"Sial, ternyata semua manusia yang mengisi rumah ini memiliki sifat yang tak jauh beda dari pria itu." batinnya mengumpat kesal karena merasa tak dihiraukan.
Aleta pun memilih melangkah pergi meninggalkan kedua anak kecil itu yang terlihat tak ingin diganggu olehnya. Tapi tiba-tiba ia kembali memutar tubuhnya, menatap jelas tablet yang digenggam salah satu dari anak kecil itu.
__ADS_1
...❥❥❥...