
..."Aku tahu kau ragu. Bahkan jika kau mengatakan kau bersungguh-sungguh, pada akhirnya semua akan kembali sebagai bekas luka dan aku tidak akan mengatakan hal klise seperti, Kau harus kuat!"...
...______________________...
Jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, namun Aleta belum juga membuka matanya sejak ia pingsan di depan meja Nurse. Untungnya kejadian itu tak sampai memperburuk kondisinya kesehatannya.
Erick duduk di sebelah ranjang Aleta, menunggunya bangun. Ia takut jika Aleta akan berbuat hal nekat setelah sadar, karena wanita itu dinilai terlalu berani melakukan hal-hal gila tanpa berpikir terlebih dahulu.
Sebelumnya Erick sudah di ijinkan oleh pihak Rumah Sakit untuk menemani Aleta sampai terbangun, ia ingin memberitahukan keadaan Damar saat ini setelah salah menyangka.
Pihak Kepolisian memberitahukan kronologi kecelakaan itu pada Erick. Ia pikir kecelakaan itu murni atas kesalahan yang Damar lakukan tapi ternyata mereka berdua lah yang menjadi korban dalam kecelakaan truk pengangkut barang.
"Erick," panggil Aleta lirih setelah melihat Erick menyilangkan tangan sambil memejamkan mata.
Membuka mata dan menoleh. "Nona, sudah sadar!" serunya.
"Beritahu aku apa yang terjadi dengannya!" pinta Aleta tanpa membalas pertanyaan Erick.
.
.
.
.
Derap langkah kaki lemah menghampiri ruang kamar Damar, ia mendorong pintu kamar lalu berdiri di ambang pintu menatap Damar yang tengah memejamkan mata. Aleta kembali melangkah mendekatinya.
Rasa penyesalan kini hadir di dalam hatinya, teringat akan ucapan Erick ketika menjelaskan bahwa Damar masih dalam keadaan koma akibat benturan keras di bagian kepala belakang.
Erick juga mengatakan bahwa saat itu Damar berusaha menyelamatkan Aleta, namun nahas ternyata truk itu lebih cepat menghantam tubuhnya sehingga Damar hanya bisa mendorong tubuh Aleta untuk menjauh dari truk.
__ADS_1
Kini Damar belum juga terlihat membuka mata setelah Dokter mengatakan bahwa ia akan siuman 2 jam setelah selesai melakukan operasi kecil, namun tak terlihat tanda-tanda gerakan apapun dari tubuhnya.
Aleta menatap lekat raut wajah Damar, kemudian di belainya pipi Damar dengan lembut. Tangan hangat Aleta juga sempat menggenggam erat tangan kekar Damar sambil menciumi punggung tangannya.
"Kenapa kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkanku? bukankah kau pernah mengatakan bahwa harus memikirkan diri sendiri lalu boleh memikirkan yang lain, kau berbohong aku tidak ingin mempercayai kata-kata itu lagi!" sesal Aleta.
"Segeralah sadar, aku tidak suka melihatmu seperti ini! aku tidak punya lawan untuk berdebat, Bangunlah Damar aku mohon!! jangan seperti ini!! kau belum menyelesaikan tugasmu untuk membuatku mati di tanganmu sendiri," ucap Aleta menyindir Damar berharap pria itu merespon ucapannya.
"Damar, DAMAR!!!!!" jerit Aleta dengan tetesan air mata yang terus mengalir.
Tangis Aleta pecah di pelukannya, meski ia terus mengguncangkan tubuh Damar tetap saja tak ada reaksi apapun darinya. Matanya tetap terpejam dan tubuhnya tak bergerak sedikitpun untuk merespon pelukan Aleta.
Erick yang melihat sikap Aleta segera menghentikannya. Ia paham bagaimana perasaan Aleta saat ini, namun ia tak mau Aleta membuat kehebohan di dalam ruang kamar Damar karena itu akan menganggu kenyamanan di Rumah Sakit, terlebih Damar masih dalam keadaan koma.
"Nona, sudah hentikan! sebaiknya Nona kembali ke kamar!" ujar Erick menarik pundak Aleta.
"Katakan pada Bos mu untuk segera membuka matanya," pinta Aleta tanpa mengindahkan ucapannya.
"Ini semua salahku, jika saja aku tidak mabuk dan melakukan hal nekat diluar pikiranku, mungkin dia tidak akan seperti ini!" ungkap Aleta menyesali perbuatannya setelah ia mengingat semua kejadian yang terjadi.
"Mari saya antar ke kamar! biarkan Tuan untuk beristirahat." Ajak Erick menghiraukan perkataan Aleta, sebab ia tak ingin memperpanjang masalah itu.
Akhirnya Erick berhasil membawa Aleta pergi dari ruang rawat inap Damar sebelum wanita itu membuat kehebohan yang lebih parah lagi di ruangannya. Jika petugas tahu adanya kehebohan bisa-bisa Aleta tidak dapat diijinkan kembali memasuki ruang rawat inap Damar.
...***...
Pagi-pagi sekali Aleta sudah bangun dari tidurnya, meski tak dapat tidur dengan nyenyak. Ia menunggu Erick untuk datang ke kamar inapnya, karena pria itu berjanji akan membawa Aleta kembali menemui Damar.
Jika tidak ada Erick maka akan sangat sulit baginya untuk meminta ijin mengunjungi Damar. Aleta tampak gusar, ia terus menatap jam dinding yang ada di ruangan. Sudah hampir lewat 30 menit batang hidung Erick belum juga terlihat.
"CK, lama sekali!" Aleta berdecak sebal.
__ADS_1
Rupanya orang yang di tunggu-tunggu itu sudah lebih dulu berada di kamar inap Damar karena mendapat kabar dari Nurs yang berjaga bahwa Damar telah siuman 30 menit yang lalu.
Dokter yang merawat Damar juga telah mengatakan bahwa kondisi Damar akan berangsur membaik jika pasiennya itu tetap menjaga kondisi kepala dan tubuhnya dengan baik. Dalam waktu 3 hari ke depan cervical collar yang ada di lehernya pun sudah bisa di lepas.
"Damar, tolong jaga baik-baik kondisi anda!" pesan Dokter begitu selesai memeriksa keadaannya.
Damar tersenyum tipis. "Ya. Terima kasih, Dok," balasnya.
"Kalau begitu saya permisi!" pamit Dokter hendak berjalan keluar.
"Mari saya antar ke depan Dok," tawar Erick ramah.
Erick dan Dokter itu pergi keluar meninggalkan Damar yang masih merasakan perih di sekujur tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki. Ia menyesali kebodohannya yang merelakan tubuhnya hancur hanya untuk menyelamatkan wanita yang masih di bencinya hingga saat ini.
"Bodoh sekali aku, seharusnya aku tidak melakukan hal gila untuk menyelamatkan wanita itu!" gumamnya menggerutu.
"Ada apa Bos? apa anda memikirkan sesuatu?" tanya Erick begitu kembali, ia berhasil menangkap raut wajah Damar yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ambilkan ponsel ku!" kilah Damar Tah mengindahkan pertanyaan Erick.
Erick segera memberikan ponsel Damar lalu berdiri di samping ranjangnya karena ingin memberitahu kejadian semalam saat Aleta datang mengunjunginya sambil terisak-isak.
Namun ia urungkan, sebab mendengar suara ketukan pintu di depan kamarnya. Erick menoleh ke pintu disusul Damar yang hanya menoleh dari ujung ekor matanya, akibat kesulitan bergerak.
Seseorang itu masuk ke dalam ruang kamar Damar dan berdiri di depan pintu. Sosok wanita yang tak asing bagi Erick dan Damar, kini tampak terkejut dan menangis sendu saat melihat kondisi Damar yang sudah sadar.
Dan tiba-tiba saja wanita itu berlari dan menghambur ke tubuh Damar diikuti suara Isak tangisnya. Damar merasakan pelukan itu begitu erat hingga sulit ia lepaskan karena terasa sesak.
...💕💕💕...
*Hai pembaca setia aku ingin membagikan sedikit cuplikan trailer Marriage of the game ke kalian semua, bagi yang penasaran bisa lihat melalui media sosial Facebook ataupun Instagram ya, dengan pencarian nama Sophia Verheyden. Jangan lupa untuk follow ya😁terima kasih ❤️
__ADS_1