Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
68 - Bola tennis


__ADS_3

..."Jangan menyerah sekarang! impianmu akan menjadi nyata. Jika kau tidak berjalan hari ini, kau tidak akan bisa berlari esok hari."...


...____________________________...


Kelopak mata yang tertutup kini telah terbuka lebar sambil mengendus aroma kopi yang menyeruak di dalam kamar. Aleta berusaha menyadarkan dirinya mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih melayang entah kemana.


"Good morning,"


Aleta tersentak lalu segera terduduk dan menoleh ke arah seseorang yang tengah menyapa dirinya. Dilihatnya dengan jelas Damar yang sedang duduk bersantai sambil memegangi secangkir kopi di tangannya.


Begitu nikmatnya Damar menyesap kopi tersebut sampai terdengar suara slurup. Aleta menelan saliva saat merasa tergiur dengan aroma kopi tersebut serta suara menyeruput yang di buat pria itu.


"Bagaimana, Tidurmu nyenyak?" tanya Damar basa-basi, sedangkan ia tahu saat mendengar suara dengkurannya saat beberapa menit yang lalu.


"Mau apa kau ke kamarku?" tanya Aleta tak mengindahkan pertanyaan Damar.


"Menunggumu untuk melayaniku," jawabnya enteng.


"Aku bukan pelayanmu. Kau datang ke tempat orang yang salah," jelas Aleta.


"Ok, akan ku ganti kalimatnya. Aku kemari karena menunggumu untuk bangun dan aku ingin sarapan bersamamu," ulang Damar sambil mengulas senyum.


"Ish, kemasukan roh apa dia, sampai bisa mengucapkan kalimat menjijikan itu. Ih!" gumam Aleta bergidik ngeri sekaligus jijik.


"Kenapa raut wajahmu seperti itu? kau terkesima mendengar ucapan ku," tutur Damar berbangga diri.


"Sepertinya otakmu konslet, segeralah periksa ke Dokter. Kau sakit," usul Aleta semakin yakin, jika isi kepala Damar sedang rusak akibat kecelakaan kemarin.


"Iya aku memang sakit, itu sebabnya aku memintamu untuk merawat ku hingga sembuh," kilahnya mencari-cari kesempatan.


"Dasar gila, keluar dari kamarku sekarang!" pinta Aleta sambil melempar bantal.


Damar menangkap bantal dengan cepat. "Aku serius, cepat sembuhkan aku," ledeknya lagi.


"Aku bukan Dokter, pergi saja ke Rumah Sakit." Balas Aleta.

__ADS_1


"Tapi aku ingin kau yang menyembuhkan ku," kelakar Damar yang semakin menjadi-jadi.


"Gila, pergi sana! lelucon mu itu tidak lucu," protes Aleta kembali melemparkan bantal.


Bukannya pergi Damar justru semakin senang menggoda Aleta dan kini mereka terlibat adu perang bantal. Mereka saling melemparkan bantal hingga akhirnya bantal itu mengenai seseorang yang saat tengah berdiri di ambang pintu.


Bukk!


"Selamat pag--" terputus.


Aleta dan Damar pun menghentikan perang. Keduanya terkejut sambil menutup mulut saat melihat sang pelayan itu terkena air minum yang dibawanya dengan nampan, akibat terkena lemparan bantal.


Baju seragamnya pun basah dan air dalam gelas juga tak terlihat lagi isinya, semua tumpah tak tersisa. Cepat-cepat Aleta menghampiri sambil membawakan handuk kecil untuk pelayan itu.


"Maaf ya, ini karena ulah dia," terang Aleta sambil membantunya.


"Enak saja, kau yang lebih dulu melemparkan bantal itu padaku," balas Damar tak terima.


"Ya itu karena kau yang selalu membuatku kesal," ucap Aleta menatap sinis Damar yang kini berhadapan dengannya.


"Apa! kau bilang aku bodoh," sungut Aleta mendekati Damar karena marah.


"Ya, kau itu bodoh!" tantang Damar sambil menatap dengan sengit.


Mendengar pertengkaran keduanya membuat sang pelayan itu mengelus dada. Ia tak habis pikir, pasangan suami-istri itu selalu saja bertengkar karena masalah sepele.


"Tuan, Nona, sudah hentikan. Tidak perlu ribut-ribut seperti ini!" pinta sang pelayan memohon pada keduanya.


Damar dan Aleta tak mengindahkan ucapan sang pelayan, mereka justru sedang mengumpat dalam hati sambil melemparkan tatapan bengis tanpa ada yang ingin mengalah satupun.


"Saya akan panggilkan Erick, jika kalian masih saja seperti ini!" ancam sang pelayan segera.


Begitu mendengar nama Erick, keduanya pun akhirnya menyudahi pertengkaran saling tatapan. Aleta mendorong tubuh Damar untuk segera keluar dari kamarnya lalu, menutup pintu dengan keras.


Sementara Damar mendengus kesal, niat untuk membuat Aleta memuji dirinya kini pupus sudah yang diterimanya justru sebuah makian dan umpatan kasar dari Aleta. Wanita seperti Aleta sulit untuk dirayu dengan kata-kata manis.

__ADS_1


"Argh, dasar wanita gila!" gumam Damar kesal saat di depan pintu kamar Aleta.


...***...


Siang hingga menjelang sore aktifitas Aleta hanya di sibukkan dengan melayani Damar. Pria itu memerintah seperti biasanya, meminta ini dan itu jika tak sesuai dengan keinginannya, Aleta pun harus kembali mengulangnya meski di awal yang dilakukannya sudah benar.


Keringat mulai menjulur dari rambutnya saat Damar memintanya mengumpulkan bola tennis yang ia lemparkan ke sembarang arah. Tak sampai di situ saja, Damar kembali mengerjai Aleta dengan sengaja menendang keranjang rotan yang berisikan kumpulan bola-bola tennis di dalamnya.


Mata Aleta terbelalak melihat bola-bola tennis itu kembali keluar dari keranjangnya dan terlihat sang pelaku yang berpura-pura tidak melakukan apapun. Damar mengalihkan pandangannya dari tatapan mata elang milik Aleta sambil bersiul santai.


"Aarghhh, berengsek!" umpat Aleta di depan Damar sambil mengepalkan bola tennis yang ada dalam genggaman.


Damar hanya mengedikkan bahu dengan sudut bibir yang tertarik ke bawah serta kening yang mengerut. Langkahnya tampak santai saat meninggalkan Aleta disana.


"Semangat!" ledek Damar sebelum melangkah pergi.


Mendengar ledekan dari mulut Damar membuat Aleta bertambah jengkel. Ia menatap punggung pria itu sejenak sebelum akhirnya melemparkan satu bola tennis yang di pegangannya.


Bukk!


Bola tennis itu pas mengenai punggung hingga Damar pun membalikkan badannya, lalu menghampiri Aleta kembali. Derap langkah tegas pria itu membuat nyali Aleta sedikit menciut.


Aleta berjalan satu langkah mundur untuk menghindari Damar yang kini semakin mendekat. Namun, tanpa sengaja Aleta menginjak salah satu bola di sana dan membuatnya hampir tergelincir ke belakang.


Grab!


Damar segera menangkap pergelangan tangan Aleta agar tak terjatuh dan kini posisi mereka sangat dekat karena reflek tangan Aleta yang satunya melingkar di pinggang Damar sementara tangan Damar yang satunya berada di punggung Aleta.


Aleta menatap dalam manik mata indah milik Damar. Pria itu mengangkat salah satu sudut alisnya saat beberapa detik mereka beradu pandang. Terdengar degup jantung yang mereka rasakan masing-masing, meski berusaha menutupi.


Getaran halus lembut menyelusup masuk ke dalam relung hati Aleta saat Damar bersikap hangat padanya. Mencium kening hingga bibir serta mengusap lembut kepalanya telah ia rasakan, hanya saja Aleta masih menampik itu semua. Ia beranggapan jika itu hanya sekedar napsu yang bukan berasal dari kata cinta ataupun ketulusan yang datang dari hati.


Aleta mengerjapkan mata lalu melepaskan tangan dari genggaman Damar dan menjauhi dirinya sambil menatap tajam. Tatapan yang biasa ia tunjukkan untuk Damar seorang.


...💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2