Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
Extra part - Bunga Tulip


__ADS_3

Dua Tahun kemudian


Bunyi gemericik lonceng terdengar di telinga, tampak seseorang pria masuk ke dalam toko bunga. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling isi toko–memilih bunga yang akan dibelinya untuk seorang wanita yang sudah lama sekali tak pernah ia jumpai.


"Selamat sore. Apa mau saya, bantu!" tutur pemilik toko bunga saat menghampiri Pria itu sambil menyunggingkan senyuman.


"Hmm ...." pria itu berpikir sejenak sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum malu-malu.


Melihat gelagatnya, lantas pemilik toko 'pun, paham. Ia mengambil salah satu buket bunga mawar berwarna peach dengan ditambah beberapa tangkai bunga daisy kemudian, ditunjukkan kepada pria itu.


Sesaat pria itu melongo tak berkedip, sebelum pemilik toko menegurnya sopan. "Bagaimana dengan ini?" tanya pemilik toko seraya mengulum senyum keramahannya.


"Saya suka, ini cantik sekali." Jawabnya spontan sambil meminta sang pemilik untuk segera membungkus bunga itu.


"Baiklah, kalau begitu saya akan membungkusnya!" tuturnya sebelum berjalan ke arah meja.


Begitu teliti sekali ia membungkus bunga itu dengan wrapping paper lengkap dengan pita berwarna senada dengan bunga mawar. Sejenak sang pemilik memerhatikan buket bunga yang telah siap diberikan kepada pria itu.


"Aku rindu." Kedua manik matanya tampak berkaca-kaca, mengingat seseorang yang sangat ia rindukan.


"Sudah selesai, belum?" tanya pria itu, ketika menghampiri dan melihat sang pemilik toko tengah melamun.


"Ah! maaf," tersentak. "Ini, bunga Anda sudah selesai." Memberikan buket bunga setelah pria itu membayarnya.


"Terima kasih," ucap pria itu sebelum melangkah pergi.


Sang pemilik toko memandangi punggung pria itu hingga menghilang dari pandangan sambil tersenyum bahagia. Teringat akan pertama kali, ia berniat membuka toko bunga karena sebuah alasan.


Baginya, bunga adalah obat yang dapat melepaskan kerinduannya pada seseorang. Selama dua tahun itu, ia menyibukkan diri dengan merawat bunga-bunga yang ditanaminya sendiri. Dengan begitu, ia bisa sedikit melupakan rasa kesedihan dan kehilangan pada seseorang yang sampai detik itu, masih saja berada di dalam hatinya.


Sudah banyak lelaki yang mendekatinya namun, selalu ditolak dengan mengatakan bahwa ia sudah menikah. Sempat tak percaya, tapi dengan jelas ia menunjukkan cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya.


Ia tak ingin lagi membuka rasa kepada pria manapun, sebab rasa cintanya masih melekat untuk pria yang masih diharapkan dapat kembali datang menemuinya, meski hal itu mustahil baginya.


Semenjak tragedi dua tahun yang lalu, ia tak pernah lagi mendengar kabar mengenai pria yang dicintainya. Meski berusaha untuk mencari tahu keberadaannya, tapi hasilnya selalu nihil. Rumah kediamannya kosong tak berpenghuni, bahkan perusahaannya dipegang oleh orang lain.


Satu yang membuatnya bertanya-tanya, mengapa tidak ada berita mengenai prianya itu. Di surat kabar maupun media elektronik, tak satupun terdengar kabar mengenai peristiwa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Aleta!" tegur bunda Azra saat melihatnya termenung sendirian menatap ke arah pintu masuk.


Aleta menoleh setelah tersadar dari lamunannya, lantas ia tersenyum simpul dan membalas panggilan bunda Azra. "Bunda, Ada apa?" tanya Aleta sambil menyamarkan raut wajah sendunya.


"Bunda ingin mengantikan tugasmu, untuk menjaga toko ini," jawabnya segera melangkah menuju meja kasir.


"Tidak apa, Bunda! aku akan menjaga toko ini hingga malam nanti." Aleta menolak untuk tidak merepotkan bundanya, sebab bunda Azra sudah banyak membantunya.


"Bunda bosan berada seharian di kantor Desa," keluhnya dengan memanyunkan sedikit bibirnya.


"Kalau begitu, Bunda bisa duduk saja! biar aku yang melayani pelanggan," saran Aleta tak pantang menyerah.


"Sekali-kali Bunda yang akan melayani pelanggan. Kau bisa berjalan-jalan di taman depan, untuk sekedar menghirup udara segar, sore ini!" pintanya seraya mendorong tubuh Aleta untuk tidak berdiri di depan meja kasir.

__ADS_1


Aleta menghela napas pasrah. Sulit untuk menolak ucapannya jika sudah menginginkan sesuatu. Ia pun berpamitan sebelum melangkah keluar dari toko dan bunda Azra membalasnya dengan sumringah, seperti memiliki arti dari gambaran ekspresi wajahnya.


...***...


Derap langkah kakinya sedikit lambat saat melewati hamparan taman luas, dengan pemandangan danau di depannya. Aleta terduduk di salah satu kursi taman dan bersandar di sana.


Matanya tertuju ke arah danau–melihat sepasang kekasih yang menaiki perahu bebek. Entah kenapa, melihat itu Aleta justru menitihkan air mata. Ia kembali diingatkan dengan Damar.


Sulit membuang rasa cintanya kepada Damar, meski ratusan kali ia mencoba melupakan namun, rasa itu selalu melekat di dalam hati. Ada saja hal yang terus-menerus membuatnya teringat akan kenangan bersama Damar.


Tiba-tiba ia tersentak saat ada yang menyentuh pundaknya dari belakang. Segera ia menyeka air mata di kedua pipinya dan menoleh ke belakang. Melihat pria kecil yang tersenyum padanya sambil memberikan setangkai bunga tulip merah.


"Untukku?" tanya Aleta bingung.


Pria kecil itu bukannya menyahuti ucapan Aleta, ia justru segera berlari dan pergi dari sana begitu Aleta kembali memanggilnya untuk sekedar mengucapkan terima kasih.


Tak ingin ambil pusing, Aleta pun meletakkan bunga tulip itu di sampingnya dan kembali termangu. Namun, lagi-lagi pundaknya ditepuk oleh dua gadis kecil yang membawakan empat tangkai bunga tulip merah, sama seperti sebelumnya.


Aleta pun kembali bertanya, tapi tetap saja selalu tak mendapatkan sahutan dari dua gadis kecil itu. Keningnya mengkerut tatkala merasa kebingungan dengan anak-anak kecil itu, yang tanpa sebab memberikannya bunga.


Ia menyatukan satu tangkai bunga tulip yang diberikan pria kecil tadi dengan empat tangkai tulip yang baru saja diterimanya. Dipegangnya bunga-bunga itu dan kembali terduduk.


Kali ini ia kembali mendapatkan tepukan pundak yang sama, mau tak mau membuat Aleta menoleh lagi. Namun, ia sempat terkejut saat melihat seseorang membawakan satu buket bunga berukuran cukup besar yang menutupi wajahnya dari pandangan Aleta.


"Maaf, saya tidak bisa menerimanya." Aleta menolak dengan tegas. Ia tak mau menerima begitu saja tanpa maksud yang tidak jelas, lagipula ia tak berniat membuka hati untuk siapapun.


Seseorang itu tidak menjawab dan tetap mengulurkan tangannya yang sedang memegangi buket bunga tersebut untuk segera diterima Aleta. Tampak seseorang itu tidak sabaran, terlihat ia menguncangkan buket bunga tulip tersebut.


Dengan berani seseorang itu menyodorkan buket bunga tepat di depan dada Aleta, sehingga secara spontan Aleta memegangi buket bunganya sambil menggerutu.


"Hei!" tegur Aleta kesal karena sikap seseorang itu yang dinilai kurang sopan, setelah ia menolaknya berkali-kali.


"Sudah kukatakan, aku ti--" ucap Aleta terputus.


Kedua manik mata Aleta membulat sempurna dan tanpa sengaja buket bunga itu terlepas dari genggamannya, saat ia memandangi seorang pria yang berdiri dihadapannya sambil tersenyum lebar.


"Kau tidak merindukanku," ucap Damar sambil merentangkan kedua tangan, berharap mendapatkan pelukan dari Aleta.


Aleta melangkah perlahan mendekatinya dan berdiri tepat di depan Damar. Memandangi dengan lekat wajahnya, guna memastikan bahwa Aleta tidak sedang bermimpi atau menghayal bayang-bayang sosok Damar.


"Aku tidak bermimpi!" seru Aleta lirih untuk dirinya sendiri.


"Apa aku hanya bayangan bagimu," kelakarnya sambil mengerucutkan bibir.


Air mata yang berlinang kini runtuh begitu saja saat tangan Aleta terulur menyentuh kedua pipi Damar. Diusapnya lembut menggunakan ibu jari. Damar merasakan getaran tangan Aleta seiring dengan tangisnya.


Aleta menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Damar yang sedari tadi merentangkan kedua tangannya. Membalas pelukan Damar dengan melingkarkan kedua tangan di punggung Damar dan menangis di sana.


Melepaskan kerinduan dan kebahagiannya, sebab Tuhan telah mengabulkan doa-doanya untuk menyatukan kembali dirinya dengan Damar. Selama dua tahun ia membuang pikiran negatifnya– menyangkal jika Damar telah berada di dunia berbeda dengannya.


Damar tak henti-henti menciumi pucuk rambut Aleta. Ia juga membiarkan wanitanya menangis dalam pelukan terhangatnya.

__ADS_1


Aleta melepaskan pelukannya tiba-tiba dan menatap tajam ke arah Damar dengan ekspresi marah. "Kau tega!" omelnya sambil memukul-mukul dada bidang Damar cukup kuat, hingga membuat sang empunya mengaduh kesakitan.


"Selama dua tahun, kau membiarkanku menunggumu seperti kehabisan akal. Membuatku mencari-cari keberadaanmu dan menebak-nebak sendiri mengenai kondisimu, dasar jahat!" sambung Aleta kesal.


Mulutnya terus saja mengoceh tanpa henti, mengeluarkan segala unek-unek yang ia rasakan selama dua tahun itu. Hendak menjelaskan namun, Damar tidak diberikan kesempatan untuk bicara.


Sampai akhirnya Damar melahap bibir Aleta dan membuat Aleta terdiam seketika, tak lagi bersuara. Hanya matanya saja terbuka lebar karena terkejut mendapati reaksi Damar yang tiba-tiba saja mencium bibirnya tanpa permisi.


Damar melepaskan ciuman di bibir Aleta dan menyatukan keningnya dengan kening Aleta. "Aku menunggu jawabanmu!" ucap Damar disela-sela deru napas keduanya.


"Aku akan menjawabnya," balas Aleta yang tiba-tiba meraup bibir Damar dengan agresifnya.


Keduanya berciuman mesra di bawah langit senja yang tampak indah. Kedua pasang mata mereka tertutup, merasakan kenikmatan cinta yang saling mereka berikan. Cukup lama sekali mereka berciuman, hingga membuat kedua tangan Aleta melingkar di leher Damar, sementara Damar menarik pinggang ramping wanitanya itu untuk semakin menempel padanya.


.


.


.


.


Selama dua tahun itu, rupanya Damar menjalankan serangkaian proses penyembuhan pada tubuhnya di Mayo clinic, Amerika Serikat. Rumah Sakit terbesar dan nomor satu di dunia, sengaja dipilih Erick untuk mengobati bosnya itu sampai benar-benar sehat.


Erick juga sengaja meminta seluruh bodyguard dan seluruh pekerja di kediaman Damar untuk tidak mengatakan apapun pada Aleta, bahkan meminta bunda Azra merahasiakan hal itu pada Aleta.


Membayar seluruh media untuk tutup mulut dan tidak menyiarkan apapun mengenai pemberitaan Damar. Bahkan memalsukan identitas perusahaan Damar, mengatakan pada orang-orang di sana bahwa perusahaan itu bukanlah milik Damar lagi.


Ide gila itu sempat ditentang Damar namun, dengan tegas Erick mengatakan semua itu ia lakukan demi kebaikan keduanya. Ia ingin bosnya itu sembuh secara total tanpa memikirkan hal-hal lain.


Damar juga tidak diperbolehkan Erick untuk menggunakan ponsel. Ia di wajibkan fokus pada proses penyembuhannya dan itulah mengapa Damar termotivasi untuk kembali sehat, agar bisa segera bertemu dengan Aleta.


Dua tahun itu ia habiskan secara konsisten, meski sebelumnya dokter memperkirakan kesembuhan Damar akan kembali normal butuh waktu tiga tahun lagi namun, begitu melakukan seluruh pemeriksaan kondisi tubuh Damar sudah benar-benar membaik 99 persen.


Semua dokter yang menangani kesehatannya saja sampai mengacungkan kedua jempol dan bertepuk tangan, melihat semangat Damar yang tak pernah putus asa. Semua itu karena kekuatan cintanya, demi bertemu Aleta.


.


.


.


.


..."I Miss you and i love you!"...


...❤️❤️❤️...


**Alhamdulillah akhirnya karya pertamaku selesai, terima kasih untuk para pembaca MOTG yang selalu mendukung karya ini, hingga akhir. Maaf jika penulisanku kurang rapi, masih banyak kesalahan penempatan tanda, typo maupun pUEBI yang tidak sesuai dan maaf juga, jika karya ini kurang mendapatkan feel di hati kalian🙏🏻*


Terus dukung aku ya di karya terbaruku selanjutnya, pengumuman ada di bawah extra part ini. Jangan lupa mampir ya, terima kasih banyak😘 sayang banyak sama kalian ❤️😘*

__ADS_1


__ADS_2