Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
79 - Loteng


__ADS_3

..."Hubungan yang paling kuat adalah hubungan dengan diri sendiri. Musuh yang paling berat adalah diri sendiri. Kebahagiaanmu tergantung apakah kau bersahabat atau bermusuhan dengan dirimu sendiri."...


...________________________...


Aleta melangkah menaiki anak tangga menuju loteng sembari menyembunyikan Isak tangis dari beberapa orang yang berada di sana. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian mereka karena tengah menangis.


Tangannya memutar handle pintu agar terbuka lalu, Aleta masuk ke dalamnya dan mengunci diri di dalam sana. Ia duduk termangu di atas lantai vinly–meratapi hidup yang begitu malang.


Terdengar suara gelak tawa dari bibir manisnya, ia tertawa seperti hilang akal lalu beberapa menit kemudian kembali menangis. Rasa kecewa, sedih serta marah bercampur menjadi satu hingga membuat Aleta tak kuasa menahan jerit tangisnya.


Aarghhh! jerit Aleta memekik seisi ruangan yang kosong, gelap dan dingin. Ia semakin menyesali kehadiran dirinya di dunia yang tidak pernah sekalipun memberikan kebahagiaan.


Sambil menangis tangannya menepuk-nepuk dada yang kian terasa sesak. Hidup sebagai Aleta ternyata sangatlah buruk, andai saja ia tidak terlahir sebagai Aleta, mungkin penderitaan hidupnya tak akan separah saat ini.


Aleta memeluk lutut lalu, menyembunyikan wajahnya di sana. Lagi-lagi ia harus memendam perih kenyataan yang harus dijalaninya dengan sabar dan keikhlasan.


Berharap suatu hari nanti dapat menemukan kebahagiaan, terlepas bersama dengan ikatan pernikahan kontraknya dan menjauhi kehidupan pria yang saat ini menjadi suaminya.


...***...


Kemal dan Emir tengah dilanda kepanikan karena hilangnya Erick dalam pantauan anak buah mereka. Raut wajah Emir semakin marah setibanya di ruangan selepas ia bertemu dengan Aleta.


"Bodoh! mereka itu tidak berguna," umpat Emir sambil bertolak pinggang.


"Kita jalankan rencana darurat!" tegas Kemal tanpa pikir panjang.


Emir menoleh sengit dan menghampiri Kemal. "Apa kau gila," ejeknya.


"Kita tidak punya jalan lain. Pria itu pasti akan membocorkan percakapan kita pada Damar, apa kau mau semua hasil kerja keras gagal begitu saja?" Kemal mendekati wajah Emir sambil mendelik seakan mengintimidasi sahabatnya itu.


"Pikirkan cara lain, aku tidak ingin rencana itu dijalankan!" larang Emir bersikeras seraya membalikkan badan.

__ADS_1


Kemal menyeringai penuh arti, ia paham mengapa Emir tak ingin rencana yang ingin dikerjakannya segera ditolak.


"Sejak kapan kau memperdulikan, Aleta?" tanya Kemal terus terang sambil menatap sinis punggung Emir.


Emir tersentak lalu melirik dari ujung ekor matanya. Tak ada sahutan apapun yang keluar dari mulut pria tua itu, ia membungkam seribu bahasa. Pikirannya bercabang antara rencana yang harus ia jalankan dan Aleta, anak semata wayangnya.


"Kendalikan dirimu dan sadarlah, kau dan aku memiliki tujuan yang sama," pesan Kemal sebelum keluar dari ruangan.


Kemal berusaha menyadarkan pikiran Emir agar tak mudah goyah sebab itu akan membahayakan dirinya sendiri. Menghancurkan dan melawan Damar bukanlah perkara mudah, sudah sering kali mereka menerima kegagalan demi membunuh Damar.


Oleh sebab itu, Kemal tak ingin mendapatkan kegagalan akan rencananya saat ini. Ia berusaha sebisa mungkin untuk membunuh Damar meski harus melibatkan Aleta di dalamnya.


...***...


Bang!


Terdengar suara tembakan dari arah pintu masuk, dentuman nyaring itu terdengar hingga di dalam gedung, sehingga membuat acara pesta itu terhenti seketika.


Damar segera melepaskan diri dari rangkulan tangan wanita paruh baya itu dan melangkah menuju jendela guna melihat situasi apa yang terjadi di luar sana.


Pantas saja Damar sempat merasa ganjil pada acara pesta yang diselenggarakan oleh Kemal, sebab sejak tadi tak ada sambutan apapun dari sang pemilik acara. Bahkan Kemal sendiri pun tak terlihat lagi.


Shitt! gumam Damar mengumpat ketika menoleh ke arah kursi yang sempat diduduki oleh Aleta. Damar bergegas mencari keberadaan Aleta saat ini, ia harus menemukan wanita itu sebelum benar-benar pergi menjauh darinya.


Langkah kaki Damar terhenti saat hendak menaiki anak tangga karena mendengar bunyi pesan suara masuk dari ponsel pintarnya. Ia memutar bunyi pesan suara tersebut yang dikirimkan Erick.


"Bos, segeralah pergi dari tempat itu! tempat itu tak aman bagimu, mereka merencanakan untuk membunuhmu saat ini, keluar melalui jendela loteng dan di balik bukit ada sebuah truk pengangkut air, kau bisa kabur dengan menaiki kendaraan itu. Cepat pergi sekarang juga!"


Bunyi pesan itu berakhir diikuti suara jerit para tamu undangan yang kembali mendengar suara tembakan dari dalam pintu masuk berbarengan dengan terlemparnya petugas penjaga akibat tertembak oleh senapan yang digenggam dari beberapa orang.


Mereka terkejut sekaligus takut melihat orang-orang berpakaian serba hitam lengkap penutup wajah dan juga senapan, menerobos masuk begitu saja ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Angkat tangan!" perintah salah seorang sambil menodongkan pistol ke arah para tamu.


Ucapan serta perlakuan orang itu sontak memicu para tamu memekik ketakutan dan gemetar, mereka kembali berteriak hingga membuat gaduh ruangan. Melihat kericuhan yang dibuat para tamu memudahkan Damar untuk bisa kabur dari sana secara diam-diam.


Damar segera menaiki anak tangga guna mencari jalan keluar, meski bingung di mana letak ruangan yang memiliki loteng. Gedung itu memiliki banyak ruangan sehingga Damar harus bisa pintar-pintar memilih agar tak tertangkap oleh komplotan Emir.


"Diam!" Hardiknya seraya melayangkan peluru ke atas hingga membuat serpihan pada plafon gypsum itu berserakan hancur di bawah lantai.


Para tamu tertunduk sambil menutupi kedua telinga dengan tangan. Saat itu juga komplotan penculik menarik para tamu untuk berkumpul mengikuti arahan yang mereka perintahkan.


.


.


.


.


Aleta tersentak saat mendengar suara dentuman cukup keras yang terjadi di bawah. Ia mengangkat kepalanya lalu menoleh ka arah pintu dan hendak berdiri.


Melangkah menuju pintu untuk melihat langsung suasana yang terjadi di bawah sana. Aleta mengintip sekilas dari celah pintu ketika pintu dibukanya. Matanya terbelalak kala melihat Damar yang hendak menghampiri ruangan tempat ia bersembunyi.


Cepat-cepat ia menutup pintu itu kembali dan menguncinya dengan cara menekan bagian tengah handle pintu. Setelahnya Aleta menjauhi pintu itu dan berpikir sejenak.


Manik matanya kembali melihat ke arah pintu sebab mendengar suara ketukan pada pintunya. Aleta kembali gugup dan takut, jika Damar menemukan dirinya tengah bersembunyi di loteng.


Kedua tangannya menekan kuat-kuat rok yang saat ini ia kenakan sambil mengigit bibir bawah. Menelan saliva susah payah saat kembali melihat handle pintu yang bergerak kasar, seperti memaksa agar dapat terbuka.


Deru napas terdengar tak beraturan tatkala Aleta benar-benar merasa takut akan kemarahan Damar. Ia meyakini jika Damar telah bertemu dengan sang ayah dan mengetahui semua rencana yang ayahnya buat.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku terjebak dan tak bisa kabur dari tempat ini, bagaimana jika dia tahu aku telah lebih dulu bertemu Ayah? apa dia akan menganggap ku sebagai pembohong?

__ADS_1


...(っ˘з(˘⌣˘ )...


...♥️ T E R I M A K A S I H ❤️...


__ADS_2