Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
57 - Cinta


__ADS_3

..."Kenapa kau berpikir aku melakukan segalanya dengan sengaja? satu-satunya hal yang ku lakukan dengan sengaja adalah menyukaimu."...


...______________________...


Seseorang itu masuk ke dalam ruang kamar Damar dan berdiri di depan pintu. Sosok wanita yang tak asing bagi Erick dan Damar, wanita itu tampak terkejut dan menangis sendu saat melihat kondisi Damar dalam keadaan terbalut penyangga leher dan perban di bagian kepala serta tangannya yang ikut di infus.


Tiba-tiba saja wanita itu berlari ke arah Damar dan langsung menghambur ke tubuhnya diikuti suara Isak tangis. Damar merasakan pelukan itu begitu erat hingga sulit ia lepaskan karena terasa sesak.


"Damar, kenapa kau bisa seperti ini?" Wanita itu bertanya dalam pelukan, ia menolak untuk melepaskan pelukan itu.


Erick membantu Damar menjauhkan wanita itu dari Bos-nya, setelah melihat raut wajah Damar yang terlihat tak nyaman dan meringis kesakitan.


"Maaf Nona Yuri, sebaiknya anda tidak mendekati Tn. Damar," tegur Erick setelah berhasil menjauhkannya dari Damar.


Yuri melirik sinis saat mendengar ucapan Erick yang seakan-akan tak menyukainya, lagi. Ia mengetahui dari gaya bicara dan sikap Erick yang tak seperti dahulu sebelum Damar bertemu dengan sosok Aleta.


"Darimana kau tahu aku disini?" Damar bertanya.


"Semua berita mengenai dirimu sudah tersebar seantero Negeri ini! tapi tak satupun ada yang menjawab panggilan ataupun pesan singkat dariku, saat aku ingin menanyakan kebenaran itu." Ungkap penjelasan dari Yuri seraya melirik sinis ke arah Erick.


"Maaf Nona, saya tidak sempat mengabari anda karena-" ucap Erick terpotong oleh Damar.


"Karena aku yang meminta, aku tak ingin siapapun datang mengunjungi ku." Tegasnya.


"Termasuk wanita mu itu!" sindir Yuri berharap mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Damar terdiam sejenak. "Ya, termasuk dia." Ucap Damar lantang.


Yuri yang mendengar itu menyeringai puas, rasanya ia telah berhasil membuat Aleta kecewa dan sedih saat mendengar langsung dari mulut Damar.

__ADS_1


"Aleta, apa kau mendengar itu?" pekik Yuri menoleh ke arah pintu kamar.


Damar dan Erick tersentak kala Yuri menyebut nama Aleta, keduanya pun sama-sama menoleh ke arah pintu. Mereka melihat langsung Aleta yang tengah mematung dengan raut wajah sedihnya.


Bahkan tampak bulir air mata yang mengalir dari pelupuk matanya menuju pipi. Aleta bisa memahami ucapan Damar yang memang tak ingin bertemu dengannya, namun ada rasa kecewa saat Damar mengatakannya di depan Yuri.


Aleta melangkah pelan menghampiri Damar dengan menjaga jarak darinya, sebab tak ingin membuat pria itu risih dengan kehadiran yang tidak diharapkan oleh Damar sendiri. Aleta berusaha menahan rasa sedihnya dengan berpura-pura tersenyum di depan Damar dan juga Erick serta Yuri.


"Syukurlah kau sudah sadar," ucapnya santai. "Aku datang bukan untuk melihat keadaanmu, tapi aku hanya ingin melihat sekuat apa dirimu bisa menahan luka yang saat ini kau rasakan," ledek Aleta sengaja ingin membuat Damar membuktikan padanya bahwa akan sehat setelah ini.


"Wanita macam apa dirimu? bisa-bisanya mengatakan itu di depan Damar setelah dia menyelamatkanmu," tegur Yuri melototi Aleta karena kesal.


Aleta mengangkat sudut bibirnya."Tapi aku tidak memintanya." Balas Aleta dengan berani sambil menatap tajam ke arah Damar.


"Dasar wanita gila! begitulah cara dirimu berterima kasih padanya? wah hebat sekali kau. Jelas terlihat ya, jika wanita sepertimu ini tidak pernah ber-atitude dengan baik." Kritik Yuri berniat membuat Damar jijik dengan Aleta.


"Kau benar, aku memang tidak pernah ber-atitude dengan baik, jika yang ku hadapi adalah manusia-manusia seperti kalian." Balas Aleta tak takut sedikitpun.


"Damar, ku tunggu ucapan mu! sebelum orang lain yang akan membunuhku," ledek Aleta sebelum melangkah pergi.


"Dasar wanita gila!" cibir Yuri melirik sinis Aleta yang saat itu melewatinya, namun hanya dibalas senyum mengejek oleh Aleta.


...****...


Hujan menguyur kota Istanbul saat siang hari, deraan airnya yang menyeka cuaca panas merupakan nikmat tak berujung dari sang pencipta. Impresi menguap di atas tanah lalu larut bersama wewangian hujan.


Aleta menatap derasnya hujan dari balik jendela kamar inap, sambil mengingat seruan hina menyayat jiwa yang diucapkan Yuri pagi tadi. Terasa sekali ia harus beradu dengan nestapa yang menusuk hingga rindu menyeruak keluar saat sosok Damar terpancar dari bayang-bayang rintiknya hujan itu.


Dengan satu tarikan napas gusar, Aleta berusaha menghapus rasa dan bayangan itu. Ia menolak untuk tak lagi memikirkan keadaan Damar, meski dalam lubuk hatinya ia senang melihat Damar telah sadar dari komanya.

__ADS_1


"Tubuh tidak bisa berbohong, saat terluka tubuh akan menangis. Namun hati bisa berbohong, saat terluka hati mampu terdiam."


Ucap seorang wanita tua tiba-tiba dari sebrang ranjangnya. wanita tua itu memerhatikan Aleta sejak tadi saat memandangi hujan. Ia seperti memahami jalan pikiran Aleta, sebab raut wajahnya tergambar jelas.


Aleta pun tersenyum padanya tak berniat membalas ucapan itu karena ia mengira Nenek itu hanya asal bicara saja tanpa tahu tujuan lawan bicaranya.


"Atasi apapun yang membuatmu sedih, karena kamu akan menjadi tangguh setelahnya. Begitulah cara Tuhan menguji umatnya."


Sambung Nenek itu yang berstatus sebagai pasien sama sepertinya. Kini Aleta menatapnya dan memahami maksud ucapannya tadi, rupanya ia baru sadar jika 2 kalimat itu di tunjukkan untuk dirinya.


Aleta tersenyum lalu mengangguk paham, "Iya, Nek. Terima kasih." Ucapnya tulus.


.


.


.


.


Sementara Damar yang juga sama-sama menoleh ke arah derai hujan, terus memikirkan ucapan Aleta. Rasanya ucapannya itu berhasil membuat Aleta marah sehingga ia bisa membalas dengan berkata demikian.


Meski kesal mendengar ledeknya, Damar sedikit puas bisa melihat keadaan Aleta secara langsung, yang terlihat baik-baik saja walau masih terdapat perban yang melingkar di kepalanya.


"Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Meskipun aku mengabaikannya atau menyembunyikannya, perasaan itu kembali saat aku melihatmu."


Batin Damar mengulas senyum sambil memandangi foto Aleta yang sempat ia potret secara diam-diam dari layar ponselnya. Damar teringat kejadian dimana ia mengecup bibir manis milik Aleta saat sang empunya tertidur di kapal pesiar beberapa Minggu yang lalu.


Akibat kecelakaan itu Damar tersadar bahwa ia benar-benar menyukai wanita yang sering disebutnya bodoh, ia tak memungkiri perasaan itu. Bahkan karena rasa cinta itu dapat membuatnya hilang akal karena nekat melukai dirinya sendiri demi menolong wanita yang dicintainya kini.

__ADS_1


...(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)...


__ADS_2