Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
10 - Berontak


__ADS_3

..."Jika kau menghadapi wanita dengan sikap kasarmu, maka akan sulit untukmu meluluhkan hatinya. Karena sejatinya wanita akan luluh dengan sikap pria yang lembut dan hangat."...


..._______...


Pagi itu pelayan rumah tengah masuk kedalam kamar Aleta sembari membawakan nampan yang berisikan sarapan untuknya. Ia mengetuk pintu kamar Aleta sebelum masuk kedalam.


"Selamat pagi, Nona!"


Sapa pelayan itu sambil melemparkan senyuman pada Aleta yang masih duduk bersandar di ranjang, diam termenung.


"Saya membawakan sarapan untuk anda," lanjutnya.


"Bawa kembali makanan itu!" tolaknya mentah.


Pelayan itu tetap meletakkan nampan di atas nakas dan segera membuka gorden kamar, agar cahaya matahari pagi dapat masuk kedalam ruangan setelah itu ia keluar.


Aleta meradang setelah ia berusaha menahan kemelut yang membuncah dalam batinnya, nampan yang baru saja diletakkan sang pelayan serta-merta dilemparkan ke lantai, sehingga membuat serpihan kaca piring dan gelas beserta isinya berhamburan di atas granit.


Batinnya terombang-ambing dan pikirannya kosong, ia tidak dapat mengontrol emosinya sehingga seperti orang gila yang sedang mengamuk. Semua amarah diluapkannya pada benda-benda seisi kamar.


"AAARRRGGHHH!!!!"


Pekiknya sembari melemparkan vas bunga keramik didekatnya. Tangisnya pecah bersamaan dengan jeritnya. Dadanya terasa sesak dan sakit menerima kenyataan hidup yang berjalan tak sesuai dengan harapannya.


Sambil terisak-isak Aleta memukul dadanya sesak, berada disana justru membuatnya semakin terpuruk terlebih harus di hadapkan oleh pria yang tega melukai seorang wanita dengan sengaja.


Kini Aleta akan sulit untuk pergi dari sana, sebab kaki kanannya terluka akibat ulah Damar yang menembaknya kemarin sore. Ia sangat membenci Damar dan berniat ingin membunuhnya.


...•••...


Damar yang saat ini berada di ruang rapat menghentikan aktifitas meeting bersama dengan klien, sebab Erick mengabarkan bahwa Aleta tengah mengamuk di ruang kamarnya.


"Apa yang dilakukan wanita bodoh itu?" tanya Damar


bengis.


"Dia terus mengancam semua petugas di rumah dengan pisau, Bos," jawabnya.


"Dasar bodoh, mereka benar-benar tidak becus mengawasinya!" berang Damar sambil mengepalkan tangan.


Sifat emosional Damar memuncak tatkala mendengar kabar itu dari Erick, ia segera menghentikan rapat saat itu juga hanya untuk kembali ke rumah dan menghentikan aksi Aleta.


Damar bergegas menuju mobil dan meninggalkan Erick disana. Ia mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam kurun waktu 15 menit saja, ia tiba di kediamannya dan bergegas melangkah menuju ruang kamar Aleta.


Setibanya di kamar, Damar langsung meneriaki Aleta dengan lantang yang berhasil membuat kehebohan itu berhenti sejenak.


Semua pasang mata mengarah ke arahnya, suaranya yang khas mampu membuat semua pekerja disana menunduk takut dan gemetar. Namun tidak bagi Aleta, ia tidak memedulikan suara Damar, justru ia semakin tertantang memancing Damar untuk mendekatinya.


Dan benar saja, Damar menghampiri Aleta dengan berani tidak peduli dengan pisau yang digenggam Aleta saat ini. Ia memandang tajam Aleta sembari mengeraskan rahangnya, garis venanya juga tercetak jelas di kedua tangannya ketika ia mengepalkan tangannya kuat.

__ADS_1


"Bagus akhirnya kau datang," ucap Aleta menyeringai.


"Berikan pisau itu!" pintanya tanpa basa-basi.


"Tidak, aku membutuhkannya." Aleta meletakkan ujung pisau tepat di pergelangan tangan, "Kau bilang ingin membunuhku secara perlahan, cih! itu tidak akan pernah terjadi, bedebah! aku tidak ingin mati ditanganmu, lebih baik aku mati di tanganku sendiri!" ucap Aleta sengit.


Damar melangkah maju untuk menghalangi niat Aleta. Namun segera dihentikan oleh Aleta, ia mengancam Damar jika berani mendekatinya maka Aleta siap menyayat urat nadinya sendiri.


Sayangnya Damar tidak memedulikan ancaman itu, ia justru semakin berani melangkah mendekati Aleta, hingga keduanya terlibat memperebutkan pisau tersebut.


Damar berusaha merampas pisau dari genggaman Aleta, sialnya sebelum pisau berhasil dirampasnya, Aleta dengan cepat mengoreskan luka di lengan kekar Damar, yang ternyata sengaja ia lakukan untuk membalaskan dendamnya atas perlakuan kemarin sore.


Kemeja Damar pun ikut tersayat dan terlihat tetesan darah yang mengalir dari lengannya hingga membuat bercak darah di kemejanya.


Damar hanya menoleh sekilas lengannya yang terluka sebelum akhirnya ia berhasil merebut pisau dan menyuntikkan jarum bius di tengkuk Aleta.


Aleta pun ambruk tak berdaya, ia terjatuh tepat di depan dada Damar. Sementara Damar hanya diam tak merespon apapun dengan keadaan Aleta.


...•••...


Aleta masih saja berteriak dan melemparkan semua benda-benda di dalam kamar, setelah tersadar dari obat bius yang diberikan Damar. Ia juga tak sama sekali menyentuh makanan dan minuman yang di letakkan sang pelayan di depan pintu kamar.


Kini suasana kamar itu tak lagi terlihat rapi, semua hancur berantakan persis seperti kapal pecah. Petugas dan pelayan disana juga tidak berani masuk kedalam kamar, sebab Aleta masih mengamuk. Mereka takut jika nanti akan mendapati luka yang sama seperti Damar.


Sementara Damar yang baru saja tiba di rumah setelah kepulangannya dari kantor, hanya bergegas masuk kedalam kamarnya hendak membersihkan tubuhnya.


Walau sempat didengarnya suara jerit Aleta dari luar kamar, ia menghiraukannya. Justru Damar melewati kamarnya dengan santai.


Dilihat lengannya itu sebelum ia bersandar pada kaca dan memejamkan mata sembari mengadahkan wajahnya kearah pancuran air.


Damar kembali teringat akan ucapan Ajudannya itu, Erick mengatakan jika wanita sekeras Aleta tidak akan bisa diluluhkan dengan sikap yang sama. Wanita itu akan luluh hanya dengan kelembutan dan kehangatan.


Ucapan Erick selalu terngiang-ngiang dipikirannya, menurutnya ucapan itu ada benarnya, meski sulit baginya melakukan cara itu di depan Aleta, sebab jika di dekatnya saja amarah dan emosi pria itu akan meradang dan tak bisa menahannya.


...•••...


Malam semakin larut tak juga membuat Aleta lelah dengan membanting semua barang-barang disana. Walau sulit untuk melangkah, ia tetap mencoba mencari benda yang dapat digunakannya untuk dapat kabur dari Damar.


Damar yang terganggu dengan suara dentuman benda keras pun terbangun dari istirahatnya. Ia benar-benar terusik dengan tingkah Aleta yang tak pernah berhenti berontak, walau jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.20am.


Ia melangkah menuju kamar Aleta dan membuka pintu kamar. Matanya terbuka lebar tatkala menyaksikan jelas isi ruangan itu yang sudah tak layak lagi disebut sebagai kamar, sebab ruangan itu benar-benar hancur.


"Keras kepala!"


Damar mengedarkan pandangannya mencari sosok Aleta yang tak ditemukannya disana. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, agar tak terinjak serpihan kaca disana.


Melihat pintu kamar mandi yang tertutup membuat Damar sedikit curiga, lantas ia pun memanggil anak buahnya untuk menanyakan penjagaan di ruang kamar Aleta.


"Apa kalian sudah menutup semua celah di kamar ini dan kamar mandi?" tanya Damar gamang.

__ADS_1


"Sudah Bos, semua sudah kami tutup dan periksa kembali, "jawab kedua anak buahnya yang saat itu bertugas menjaga di depan kamar.


"Periksa cctv sekarang juga!" perintahnya tegas.


"Baik Bos!"


Perintah darinya segera dilaksanakan, mereka tak ingin mendapatkan kemarahan dari Bosnya itu.


"Apa yang dilakukan wanita itu di dalam sana? Tidak mungkin ia mandi di jam sekarang ini!"


Tok!!


Tok!!


Tokk!!


Damar mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Aleta, namun sayangnya tidak terdengar sautan apapun dari dalam sana. Hanya terdengar suara aliran air yang sedang memenuhi isi bak.


Begitu penasarannya dengan tingkah Aleta yang dilakukannya saat ini membuat Damar mendobrak pintu itu dengan kuat.


Ketika pintu terbuka Damar segera melangkah masuk memastikan apa yang terjadi di dalam sana. Matanya terus tertuju pada bathtub yang sudah dibanjiri air.


Ia mendekat dan termangu ketika mendapati Aleta yang sudah memucat dan tak sadarkan diri di dalam sana.


Damar segera mengeluarkan Aleta dari bathtub dan membawanya keruangan lain. Ia juga memerintahkan pelayan wanita untuk menggantikan baju Aleta, sementara Damar menghubungi Dokter pribadinya.


Mungkin seharian ini, Damar sudah menghubungi dan meminta Dokter pribadinya itu untuk datang sebanyak tiga kali.


"Sebenarnya ada apa dengan wanita ini dan siapa dia?"


Pertanyaan sang Dokter mendadak membuatnya sedikit berpikir, ia tidak bisa berbohong pada Dokter yang sudah dianggapnya sebagai Ayah keduanya. Dokter yang telah lama mengurus keluarga Damar ketika sakit.


"Dia..." terbata seraya berpikir.


"Calon istrimu!"


Tebak sang Dokter refleks membuat Damar mengangguk tanpa ia harus menafsirkan jawaban lagi.


Sambil menepuk pundak Damar, "Tolong jaga dia! Pikirannya saat ini sedang kacau jangan sampai dia depresi, Damar!" pesan sang Dokter penuh penekanan diakhir kalimatnya.


"Ya, baik!" sahut Damar paham meski cukup senang mendengar Aleta memiliki riwayat trauma akut, kendati tak mengetahui apa penyebabnya.


"Nah ini resep obatnya, obat itu bisa kau berikan padanya setelah dia makan. Untuk sekarang biarkan dia istirahat!" amanat sang Dokter sebelum melangkah pergi.


"Baiklah, terimakasih Dok!"


Damar kembali kekamarnya setelah mengantarkan Dokter itu kedepan pintu rumah. Ia duduk tepat di samping ranjang sembari melihat wajah Aleta yang masih memucat meski tak seburuk seperti sebelumnya.


"Dasar bodoh! sudah ku katakan, kau hanya boleh mati ditanganku. Kau wanita keras kepala!"

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2