Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
29 - Ponsel


__ADS_3

..."Jika sesuatu sudah terjadi, kau takkan bisa mengubahnya. Tapi jika kau benar-benar ingin, perbaikilah di masa sekarang. Lakukan yang bisa kau lakukan."...


...__________...


Lampu kamar telah padam menampakkan Damar yang terbaring di atas ranjangnya. Meski kepalanya di atas bantal, namun pikirannya menerawang—membayangkan wajah Aleta yang terus bergelayut di hadapannya.


"Sial! apa tadi aku baru saja melamunkan wanita itu? hahaha dasar gila, itu tidak mungkin Damar. Kau sangat membencinya dan sampai kapan pun akan tetep membencinya." Monolog Damar.


Damar mengibaskan lamunan aneh yang selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Meski Aleta tak berada di dekatnya, nyatanya bayang wajah wanita itu mampu menyihir perasaan Damar yang terombang-ambing.


Malam yang kian menghilang semakin menampakan keheningan dan kesunyian, hanya suara hati yang sedari tadi bising di telinganya, tanpa ada sautan apalagi jawaban.


Cahaya rembulan yang berada di tengah awan, menemani sang malam yang sebentar lagi larut. Lamunan itu tak henti-hentinya menggumpal, semakin jelas di rasa.


Bayang-bayang Aleta kentara nyata di pelupuk matanya.


"AAARRRGGHHH!!!"


Damar terduduk sembari mengusap wajahnya yang tampak gusar. Sepertinya ia mulai jengkel, berharap dapat tidur dengan pulas saat mengubah posisi tidurnya, justru membuatnya semakin tak nyaman dengan isi otaknya malam itu.


.


.


.


.


Tok!


Tok!!


Aleta terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras. Ia pun bergegas menghampiri, guna melihat seseorang yang telah menganggu waktu tidur malamnya. Masih setengah sadar, Aleta meraih handle pintu dan membukanya.


"Bisa tidak kau berhenti mengganggu waktu tidur ku?"


pekik Damar di depan kamar Aleta.


Aleta tersentak, matanya terbuka lebar begitu saja, sesaat Damar mengeraskan suara di depannya. Susah payah ia mencoba menafsirkan ucapan Damar.


"Maksudmu?" tanya Aleta mengerinyit bingung.

__ADS_1


"Berhenti mengangguku!" tegurnya penuh penegasan.


"Dasar gila. Justru yang menganggu itu, kau!" balasnya sinis, "Kau sengaja mengetuk pintu kuat-kuat dan menganggu tidur ku, benar kan!" sambungnya.


Tanpa membalas ucapan Aleta, tiba-tiba Damar melangkah pergi seperti orang linglung.


"Ku rasa dia salah minum obat, sehingga otaknya sedikit tergeser." Gumam Aleta sebelum kembali menutup pintu.


Tok!


Tokk!!


Baru saja ingin melangkah kembali ke tempat tidur, Aleta justru kembali di buat kesal saat mendengar suara ketukan pintu yang sama seperti sebelumnya. Sehingga mau tak mau membuatnya harus membuka ulang pintu tersebut.


"Mau apa lagi?" tanya Aleta di ambang pintu setelah melihat Damar berdiri diam di depannya.


Damar meraih tangan Aleta, "Ikut aku," ucapnya tiba-tiba sambil menarik Aleta untuk ikut bersamanya.


Aleta terkejut sekaligus bingung melihat sikap Damar saat ini. Ia menolak ajakan Damar untuk mengikutinya, kendati Damar tak menghiraukan ucapan penolakan Aleta.


"Hei, lepas! kau mau bawa aku kemana?" tanya Aleta berulang-ulang kali, sambil berusaha menarik tangannya untuk lepas dalam genggaman Damar.


Damar menarik kursi sofa klasik dan di letakkan di samping ranjangnya, setelahnya ia mendudukkan Aleta di atas kursi tersebut.


"Tetap di sini dan jangan pergi!" perintahnya menatap tajam Aleta.


Begitu memberi perintah, Damar segera membaringkan tubuhnya dan menutup mata rapat-rapat. Aleta nampak mengerinyit, mencoba mengartikan maksud dan tujuan Damar yang membawanya ke kamar bernuansa gotic tersebut.


"Apa tujuanmu membawaku ke kamar ini?" tanya Aleta berharap mendapatkan jawaban yang pasti dari mulut Damar.


"Diam dan tidur saja di situ." Balasnya ringkas.


"Aku tidak mau, sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi," tolak Aleta.


Menunggu jawaban dari Damar yang tak terlihat membuka suara—membuat Aleta sedikit kesal, lantas ia pun berdiri dari duduknya.


"Jika kau tidak ingin memberitahu, aku akan pergi dari sini." Gertak Aleta bersiteguh sebelum akhirnya melangkah pergi.


"Aku tidak bisa tidur."


Lirih suara Damar menghentikan langkahnya, ia pun kembali duduk di kursi sofa itu setelah mendengar penuturan Damar yang cukup meyakinkan dirinya.

__ADS_1


"Mungkin ada bagusnya juga aku menemani dia sampai benar-benar tertidur, dengan begitu aku bisa melancarkan aksiku." Batinnya tampak menggebu-gebu.


"Baiklah aku akan tetap di sini sampai kau tertidur, tapi kau jangan macam-macam!" pintanya meski tak mendapatkan sautan dari Damar.


...***...


Berselang 30 menit Aleta memerhatikan Damar yang tertidur pulas. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah Damar, guna memastikan bahwa Damar sudah berada di alam bawah sadarnya.


Dengan sangat hati-hati, Aleta melangkah menjauh dari tempat tidur. Sejak awal kedatangannya di kamar itu, Aleta terus memantau seluruh isi ruang kamar. Memastikan semua titik lokasi yang nantinya akan menjadi target aksinya.


Aleta mulai mencari berkas-berkas atau barang apapun yang berhubung dengan perjanjian Damar dan Ayahnya. Ia juga harus lebih cepat bertemu dengan sang Ayah sebelum Damar yang berhasil mengetahui keberadaannya.


Sialnya setelah susah payah mencari, ia tak dapat menemukan apapun di sana, sebab semua laci di sana terkunci dengan rapat.


"Ayo Aleta berpikir, Ahh!!"


Setelah cukup lama mondar-mandir tak jelas, akhirnya ia menemukan sebuah barang yang sudah pasti banyak menyimpan semua informasi di sana.


Aleta melangkah mendekati ranjang Damar, dikibaskannya lagi tangan di depan wajah Damar. Merasa masih aman, ia segera melancarkan aksinya. Tanpa ragu Aleta mengambil ponsel Damar yang memang saat itu berada di atas nakas.


Disentuhnya layar tersebut yang kemudian memunculkan touch ID. Aleta mendengus kesal, ia tak berpikir jika ponsel itu menggunakan kode kunci untuk bisa membukanya.


Matanya memicing, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya mengangkat salah satu sudut bibirnya. Aleta mendekat ke arah Damar dan menarik jari telunjuknya untuk menyentuh sensor sidik jari pada ponsel pintar milik Damar.


Aleta memekik kegirangan ketika layar ponsel tersebut berhasil terbuka. Secepatnya ia mencari, membuka semua aplikasi yang sekiranya dapat membantunya menemukan satu-persatu teka-teki mengenai keberadaan sang Ayah.


"Apa-apaan ini! menyimpan foto prewedding hanya untuk mencoret-coret wajahku, CK! dan dia juga menambahkan tanduk iblis di atas kepalaku, menyebalkan!" gumam Aleta kesal.


Alih-alih mencari, justru Aleta mendapati foto dirinya saat sesi prewedding bersama Damar telah tercoret oleh tinta hitam pada gambar tersebut.


"Begini caranya menggambar di atas layar, bukan hanya mencoret-coret seperti itu!" gumam Aleta sambil menyunggingkan senyuman.


Aleta terkekeh geli saat menatap wajah Damar yang telah ia gambar menyerupai badut. Tanpa disadari suara tawanya membangunkan sang pemilik ponsel dari tidur nyenyaknya.


"Sudah puas memainkan ponselnya?"


Aleta mendongak melihat Damar yang sudah terduduk menghadapnya sambil bersedekap dada. Ia menelan salivanya dengan susah payah, sebelum akhirnya mengernyih kaku.


"Sepertinya tidurmu sudah cukup pulas, sebaiknya aku kembali ke kamar untuk segera tidur." Dalihnya sembari meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas dan bergegas keluar.


...💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2