
..."Masa lalu dan masa depan itu penting. Tapi kenapa kau dan aku tidak fokus untuk tetap bahagia di masa kini."...
...__________...
"Aku membutuhkanmu, jadi tetaplah disini dan temani aku!" lirih Damar yang masih enggan membuka mata.
Ia menghentikan Aleta yang hendak berdiri dari duduknya. Aleta menatap heran, merasa Damar sedang berpura-pura menutup mata, sedangkan pria itu telah sadar dari tidurnya sejak Aleta menenangkannya.
"Sial, jadi dia sudah bangun sejak tadi! itu berarti dia tahu jika aku menyentuhnya?" gumam Aleta tersipu.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tahu saat ini kau merasa malu," ujarnya.
"Cepat buka matamu, jangan berpura-pura!" pintanya seraya melepaskan tangan dari genggaman tangan Damar.
Damar menoleh ke arahnya, "Sudah ku katakan, temani aku dan jangan pergi!" perintah Damar menguatkan genggamnya meski tak sekuat biasanya.
Aleta dapat merasakan dari sentuhan tangannya, jika suhu tubuh Damar masih terasa panas. Lagi, ia menurunkan sifat egonya, guna menyelesaikan tugas yang diminta Erick.
Sambil berdecak kesal Aleta kembali duduk, sementara Damar kembali memejamkan mata seperti sebelumnya. Aleta menoleh ke arah nakas, melihat piring dan gelas berisi sarapan pagi Damar, yang belum di sentuhnya sama sekali.
"Hei, Apa kau tidak lapar?" tanyanya ragu-ragu.
Damar bergeming.
"Sarapan mu sudah dingin, sebaiknya kau makan dan segera minum obat," sambungnya lagi.
"Tidak perlu, aku bisa sembuh tanpa harus minum obat." Jawab Damar ringkas.
"Tapi tubuhmu butuh nutrisi, jadi segeralah sarapan," tuturnya sedikit kesal mendengar jawaban Damar yang keras kepala.
"Diam dan duduk saja, aku tidak mau mendengar ocehan dari mulutmu!" balas Damar.
Bukannya patuh mendengar ucapan Damar, justru Aleta semakin berupaya, agar Damar segera menghabiskan sarapannya. Begitu jengkel, ia menarik tubuh Damar untuk segera bangun dan terduduk bersandar yang kemudian meletakan nampan kayu yang berisi semangkuk bubur dan segelas air mineral, di atas kedua paha Damar.
"Duduk dan cepatlah makan, aku bosan berlama-lama di sini!" geramnya sambil menatap sinis Damar.
Damar kembali menolak dan mencoba meletakkan kembali nampan kayu tersebut. Dengan sigapnya, Aleta segera menghalanginya. Ia mengambil sendok dan menyendok bubur kemudian di masukannya ke dalam mulut Damar, yang saat itu tengah sedikit terbuka.
"Ka...," terpotong akibat bubur yang masuk kedalam rongga mulutnya.
"Bagaimana? enak bukan? cepat habiskan ya!" seru Aleta penuh penekanan di setiap katanya seakan mengintimidasi Damar.
"Ka..u..kur..a..nng..aj...a...," ucapnya susah payah efek bubur yang terus saja masuk ke mulut, hingga mau tak mau Damar harus mengunyah makanan tersebut.
"Uh, pintar sekali Damar menghabiskan sarapannya! ayo satu suap lagi," puji Aleta alih-alih Damar tak banyak bicara.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, akhirnya Damar menyelesaikan sarapannya hingga piring itu bersih tak tersisa. Namun Damar kembali mengoceh, mengumpat Aleta karena kesal.
"Ssttt!" Aleta mengarahkan telunjuknya ke bibir Damar, "Marah-marahnya nanti saja, jika tenaga mu sudah cukup kuat melawanku hari ini, ok!" saran Aleta yang terkesan seperti mengejeknya.
Deg!!
Tiba-tiba jantung Damar berdetak cukup kuat, hanya karena jari telunjuk Aleta menyentuh bibirnya, lantas membuat Damar membayangkan wanita yang di hadapannya kini sedang merayu mesra dirinya. Ia hanya mendengar sayup-sayup perkataannya.
Damar memandang jelas netra coklat Aleta yang seolah-olah mengajak dirinya untuk masuk ke dalam angan-angan indah dalam pikirannya. Jari jemarinya perlahan menggapai kedua pipi Aleta dan mengusapnya lembut.
Tok!
Tok!!
Sang pelayan mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar, ia hendak mengantarkan surat undangan kepada Damar, tapi rasanya ia salah timing.
"Permisi...," terputus—mulutnya menganga diikuti matanya yang terbelalak kaget.
Damar dan Aleta refleks menoleh ke arah pintu dan menyaksikan jika pelayan itu terkejut dengan adegan yang baru saja Damar lakukan pada Aleta. Sementara sepengetahuannya, keduanya tidak pernah terlihat seakur saat ini.
Sang pelayan terkekeh kaku, "Sepertinya, saya akan kembali nanti" Ucapnya seraya melangkah keluar dan segera menutup kembali pintu kamar Damar.
Masih dalam posisi sebelumnya, Damar dan Aleta sama-sama tersadar, keduanya pun lekas menjauh dan membuang muka.
Damar dan Aleta terlihat salah tingkah, akibat bingung harus merespon bagaimana agar tidak terlihat canggung.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin menjauhkan wajamu dari pandanganku," kilah Damar percaya diri.
"Cih, kau pikir aku mau memandang wajahmu!" balas Aleta dibuat kesal oleh Damar
"Cepat habiskan obat itu." Perintah Aleta tegas.
.
.
.
.
Satu harian penuh Aleta mengurus kondisi Damar, seperti permintaan yang diminta Erick. Ia tampak kewalahan mengurus pria yang wataknya keras kepala, keduanya bahkan selalu beradu mulut hanya karena hal sepele.
"Sudah ku katakan, kau harus memakai kaos ini!" tawar Aleta berulang-ulang kali.
"Aku tidak mau, aku suka baju yang ini." Tolak Damar tak mau kalah.
__ADS_1
"Itu tidak bagus untuk kau pakai sekarang, terlalu tebal." Komentar Aleta tak suka.
"Apa urusannya, jika aku memakai pakaian tebal ini!" protes Damar.
"Kau itu masih demam, tidak baik memakai pakaian tebal. Kaos ini lebih baik!" jelasnya menyerahkan kaos pada Damar yang justru di jatuhkan oleh Damar.
"Aku ingin pakai ini." Balas Damar bersikukuh.
Melihat sikap Damar yang keras kepala, membuat Aleta semakin geram, ia menarik dengan cepat pakaian yang di pegang Damar dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Hei cepat kembalikan baju itu!" Pinta Damar menengadahkan tangan.
"Kalau bisa, ambilah!" Ledek Aleta seraya menjulurkan lidah.
"Kau jangan main-main denganku," tegur Damar kesal.
"Kau mau baju ini kan, ayo ambilah!" seru Aleta semakin menjadi-jadi membuat Damar kesal.
Keduanya pun terlibat memperebutkan pakaian layaknya anak kecil. Sementara di depan pintu kamar Damar, seluruh pelayan dan bodyguard telah bergantian menguping satu-persatu. Mereka terkekeh geli melihat pasangan suami-istri yang menurut penilaian mereka terkesan unik dan aneh.
"Eekhmm!"
Erick berdeham di depan Aleta dan Damar, keduanya menoleh dan terkejut dengan kedatangan Erick yang tak mereka sadari. Erick pun sempat melihat perdebatan di antara keduanya, hingga menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Sudah selesai berdebatnya?" tanya Erick mengintimidasi.
Aleta melepaskan tangannya dari rambut Damar, sementara Damar menjatuhkan pakaian yang berhasil di raihnya. Mereka tertunduk malu di depan Erick yang sedang menceramahi keduanya.
"Dasar kepala batu!" gumam Aleta melirik sinis Damar.
"Burung beo!" gumam Damar membalas, melirik sinis.
Mereka tak memperdulikan ocehan dari mulut Erick yang terus mengingatkan mengenai surat perjanjian pra nikah keduanya. Akhirnya Erick sadar, jika sejak tadi Damar dan. Aleta tak sama sekali mendengarnya, hingga akhirnya Erick menghentikan pembicaraan dan langsung menyerahkan piyama yang akan Damar kenakan malam ini, tidak dengan pilihan Aleta maupun Damar melainkan pilihannya sendiri.
"Ini." ucap Erick memberikan piyama berlengan pendek.
Aleta dan Damar sama-sama menatap piyama tersebut. Setelah cukup lama berdebat yang tak akan pernah membuahkan hasil, keputusannya justru jatuh di tangan Erick.
"Pakai, Bos." Perintah Erick.
"Ok." Balas Damar patuh.
Seketika Aleta mengerinyit bingung, hanya dengan menyodorkan piyama yang di pilihkan Erick, Damar segera mengangguk patuh.
...❥❥❥...
__ADS_1