
..."Aku dan kau itu nyata, tapi sayangnya yang membuatnya menjadi tak nyata adalah pikiranku yang mengharapkan kau menjadi milikku."...
..._________________...
"Aku tidak tahu dan jangan tanya apa alasannya." Jawab Aleta sendu.
Damar terkekeh sinis mendengar jawaban Aleta.
"Ada beberapa hal yang semuanya tak harus ku jawab, selain aku tak ingin mengungkit masa lalu, aku juga tak ingin orang-orang tahu bahwa aku anak yang dibuang oleh orangtuanya." Terang Aleta panjang lebar.
Hening seketika....
"Berapa pertanyaan lagi yang harus ku jawab?" tanya Aleta balik.
Damar terdiam mematung saat memahami maksud dari penjelasannya, entah kenapa ia sedikit terenyuh mendengar hal itu meski terus berontak dalam pikiran bahwa ucapan Aleta hanyalah sebuah kebohongan namun jauh di lubuk hati, ia mempercayai semua perkataan Aleta.
"Mimpi apa yang ingin kau wujudkan saat ini?" tanya Damar menganti topik pertanyaan.
"Mimpiku ...," ucap Aleta terhenti begitu ia menatap Damar dan melangkah mendekati Damar.
"A--ap--pa?" tanya Damar terbata-bata saat Aleta dengan berani menarik kerah kemejanya untuk mendekati wajah Aleta.
"Kau benar-benar ingin tahu apa mimpiku," ucap Aleta sekali lagi.
"Hm." Damar menjawab dengan singkat.
"Mimpiku, ingin cepat-cepat menjauh dari hidupmu!" jawabnya lantang dan tegas sambil melepaskan genggamannya pada kerah kemeja Damar.
Damar segera merangkul pinggang Aleta yang hendak menjauh darinya. "Kau pikir, kau bisa menjauh dariku? tidak semudah itu." Bisik Damar di telinga Aleta.
Aleta berusaha melepaskan diri dari Damar namun tertahan oleh rangkulan lengan Damar yang begitu erat memeluk pinggangnya.
"Akan ku buat kau jatuh cinta padaku, hingga kau tergila-gila padaku!" sambungnya lagi.
"Dasar narsistik, kau kira dirimu itu hebat sehingga bisa membuat ku jatuh cinta padamu! cih, jangan harap." Balas Aleta berdecak dengan cemoohan.
"Baiklah hari ini akan ku buktikan bahwa ucapan ku tak pernah main-main. Detik ini juga kau akan menjadi milikku seutuhnya," ucap Damar teguh dan percaya diri sambil mencoba mencumbui Aleta.
Aleta berontak sambil memukul-mukul dada bidang Damar, berharap pria itu berhenti menggodanya. Sayangnya Damar tak memperdulikan jerit dan reaksi Aleta, yang Damar lakukan justru semakin menjadi-jadi. Ia mengangkat tubuh Aleta untuk naik di atas pundaknya persis seperti memikul. Damar membawa Aleta masuk menuju kamar.
"Turunkan aku, berengsek!" umpat dan jerit Aleta untuk kesekian kalinya sambil memukul-mukul punggung Damar.
Begitu sampai di dalam kamar, Damar menjatuhkan tubuh Aleta begitu saja seperti orang membanting. Belum sempat Aleta bangun untuk menjauh, Damar justru mengunci pergerakannya. Ia menggenggam kuat kedua pergelangan tangan Aleta.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa lari dariku," ledeknya sedikit mengancam.
"Lepaskan aku sekarang, atau kau akan menyesal nanti!" balas Aleta seraya melepaskan genggaman dari tangan kekarnya.
"Aku ingin tahu seperti apa penyesalan itu." Sahut Damar menyeringai sambil menciumi seluruh wajah Aleta bertubi-tubi.
Sang empunya terus memberontak keras meski ia tahu tenaganya tak sepadan dengan Damar. Tapi hanya itulah yang bisa dilakukannya saat ini. Emosi kemarahannya meningkatkan tatkala Damar tak menggubris sama sekali respon penolakannya.
"Aarggggg!"
Kali ini Damar yang berbalik memekik akibat daun telinganya digigit kuat-kuat oleh Aleta. Ia melepaskan genggaman lalu mengusap-usap telinganya yang memerah.
"Dasar gila, apa kau seekor anjing?" Damar memandang bengis.
Aleta cepat-cepat berdiri. "Itu hukuman bagimu yang menyepelekan ucapan ku," pesan Aleta sebelum berlalu pergi.
"Sial!" umpat Damar melirik sekilas punggung Aleta yang berjalan pergi keluar dari kamar.
...***...
Damar dan Aleta tiba di rumah menjelang sore hari, keduanya terlihat diam dan membuang pandangan satu sama lain. Lagi-lagi, Erick menjadi penonton yang menyaksikan sendiri sikap dan raut wajah keduanya saat turun dari mobil.
"Huft, kenapa lagi dua manusia ini!" monolognya.
"Selamat sore Nona dan selamat datang kembali!" sapa Erick sambil membungkukkan kepala di samping pintu mobil yang telah di bukanya.
Aleta merespon dengan lirik mata sinis dan dingin sebelum berjalan masuk kedalam rumah. Erick hanya menghela napas pasrah setelah mendapatkan sahutan yang tak enak di pandang.
"Selamat sore Bos, bagaimana perjalanan liburan anda?" tanya Erick basa-basi untuk sekedar menyapanya.
Untuk kedua kalinya Erick kembali mendapatkan respon tatapan sinis dan dingin dari sorot mata Damar, cepat-cepat Erick merunduk ciut setelah mengetahui bahwa ia tengah salah menyapa keduanya dan seharusnya ia tak perlu membuka suara apapun dihadapan mereka.
Damar berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan Erick yang masih merunduk kikuk.
"Apa aku salah bicara atau memang mereka yang sensitif?" batinnya mengerutu.
.
.
.
.
__ADS_1
Aleta merebahkan diri di atas ranjang sambil merentangkan kedua tangannya, merasakan bagaimana empuknya ranjang di kamarnya setelah malam kemarin hanya tidur di atas sofa kecil.
"Ranjang ini terasa nyaman sekali!"
ucapnya setelah berbalik badan hingga telungkup sambil mengusap-usap bantal empuknya sampai-sampai matanya terpejam dengan sendirinya dan mulai tertidur di sana.
Sementara Damar terduduk gelisah di atas ruang kerjanya, ia kembali teringat akan perbuatannya itu. Rasa menyesal menghantui pikiran dan hatinya, ia tahu yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan hanya karena emosi mendengar ucapan Aleta lantas membuat dirinya menjadi pria mesum yang tak tahu malu.
Damar pun menghentikan sejenak aktivitasnya untuk pergi melepaskan pikiran yang selalu berseliweran di otaknya. Ia hendak pergi ke salah satu Bar yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah.
...***...
Tiba di sana Damar segera memesan minuman sejenis cocktail. Damar terduduk sambil mengedarkan pandangannya sekilas melihat suasana bar yang tak begitu ramai seperti biasanya.
"Silahkan dinikmati, Tuan." Tutur salah satu bartender yang meletakkan pesanan Damar di atas meja.
"Ya." Balasnya singkat.
Damar menyesap sedikit demi sedikit cocktail tersebut sambil memainkan ponsel miliknya. Tiba-tiba ia mendengar percakapan antara dua orang di belakangnya.
"Cepat atau lambat mereka akan hancur secara bersamaan."
"Apa kau yakin akan membalas perbuatannya?"
"Tentu saja. Dia pikir mudah melemahkan ku."
"Kau harus berhati-hati dengannya, dia bukan orang yang mudah untuk dikalahkan."
"Aku tidak takut, meski nyawa menjadi taruhannya."
"Kau benar-benar percaya diri sekali!"
"Aleta Quenby Elvina, kau akan menjadi sasaran ku!"
Mendengar seseorang dari balik sekat menyebutkan nama Aleta, membuat Damar sedikit terkejut. Ia melirik tajam sambil menelisik suara seseorang yang mungkin mengingatkannya pada salah seorang yang cukup dikenalnya.
Dengan segera Damar menghubungi Erick setelah orang itu pergi meninggalkan Bar. Erick diminta untuk mencari tahu siapa orang yang sedang mengincar Aleta saat ini.
"Cari tahu segera dan laporkan padaku!"
Damar meninggalkan sebuah pesan pada Erick sebelum mengakhiri panggilan tersebut. Ia ingin tahu secara pasti siapa orang-orang itu.
...💕💕💕...
__ADS_1