Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
46 - Tipu Muslihat Yuri


__ADS_3

..."Aku ingin mencoba menjalani hidupku sebagai orang yang berbeda, aku ingin pergi ke tempat dimana tidak ada satupun yang mengenaliku dan hidup seolah-olah aku tidak punya masa lalu sama sekali."...


...-----------------------------...


Aleta bersandar di sebuah bangku pinggir jalan sambil menunggu taksi datang. Duduk termenung memikirkan ucapan Ayahnya, rasa keraguan itu hadir saat Emir terus memojokkan keluarga Emilio.


Tak yakin seratus persen dengan semua cerita itu, sebab Aleta sempat membaca catatan perjalanan keluarga Emilio di sebuah folder yang berjudul bitter sweet milik Damar.


Kini timbul kebimbangan dalam hatinya, ia tak mungkin melukai Damar setelah pria itu telah banyak membantunya, meski caranya cukup memaksa. Ia tak lagi melihat Damar sebagai sosok yang menyebalkan.


"Sekarang aku harus apa? aku tidak bisa melakukannya, benar-benar tidak bisa!! bagaimana aku melukai dia sementara aku yakin jika dia pria baik-baik, tidak seperti yang Ayah bicarakan!" batin Aleta berontak.


Ting!


Bunyi pesan pada ponsel Aleta, tertera nama *Si Tampan* pada layar ponselnya. Aleta membuka pesan tersebut.


°Si Tampan°


Malam ini aku akan pulang terlambat, jangan pergi kemanapun saat aku tidak berada di rumah.


Aleta hanya membacanya dan enggan untuk membalas. Bunyi pesan itu terdengar seperti sebuah perintah yang harus ia turuti lagi dan lagi.


Meski bosan selalu menuruti perintahnya, Namun kini Aleta mulai menikmati setiap ucapannya itu. Bibirnya terus menolak untuk mengikuti perintahnya tapi tidak untuk hatinya yang justru bersemangat menaati semua ucapannya.


Ting!


Ponsel Aleta kembali berdering, memunculkan pesan dari pemilik nama yang sama seperti sebelumnya.


°Si Tampan°


Aku tidak ingin kau menghilang dari pandangan ku, jadi jangan pergi dari ku


Belum sampai selesai Aleta membaca pesan itu, kini pesan baru kembali datang secara beruntun hingga membuat kebisingan akan dering nada notifikasi pesan pada ponsel yang kini ia genggam.


Ting!!


°Si Tampan°


Jangan hanya membaca pesan ku, cepat balas!


Apa yang kau lakukan?


Apa kau sibuk?


Sesibuk apa dirimu, hingga tak satupun membalas pesan ku!


cepat balas aku menunggu!!


Hei!!!


Kau dengar ucapan ku kan!

__ADS_1


Aleta Quenby Elvina!!!


^^^Berisik!^^^


Dari beberapa pesan yang dikirimkan Damar, hanya satu kata yang di balas oleh Aleta. Ternyata satu kata itu mampu membuat tenang suara ponselnya, sebab Damar tak terlihat lagi mengirimkan pesan apapun setelah membaca pesan dari Aleta.


Aleta memasukan ponselnya ke dalam tas dan berdiri dari duduknya saat melihat taksi yang berhenti di depannya. Ia pun naik ke dalam kendaran umum tersebut.


Sementara dari arah lawan yang berbeda, Erick samar-samar melihat Aleta yang saat itu menaiki sebuah taksi. Ia memicing mempertegas penglihatannya, namun sayang Aleta sudah masuk lebih dulu ke dalam taksi.


"Apa itu Nona? tapi tidak mungkin ia pergi sendiri dengan menggunakan taksi! ahh mungkin aku salah lihat." Gumam Erick sambil menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia salah.


...***...


Damar masih berada di ruang kerjanya sambil menyandarkan punggung di kursi tahta. Ia masih menatap layar ponselnya dengan senyum tipis dari bibirnya.


°Si Bodoh°


Berisik!


Pesan Aleta membuat dirinya cukup lega bahwa Aleta tak lagi mendiaminya seperti pagi tadi. Damar pun berniat mengganti nama kontak Aleta yang sebelumnya bernama *Si Bodoh*


Drttt!!!


Drttt!!


Damar menghentikan pengeditan nama pada kontak Aleta di buku teleponnya karena beralih melihat notifikasi panggilan pada ponselnya yang terus berdering, terpampang nama Yuri dari layar benda pipih tersebut. Ia sedikit ragu menerima panggilan itu, sebab tak ingin lagi terlibat hubungan dengannya.


"Halo!" Ucap Damar begitu menerima panggilan.


"Ada apa? kau kenapa?" tanya Damar cemas.


"Ahh, perut ku sakit sekali! tolong aku Damar!" jeritnya setengah merintih.


"Aku segera kesana, tunggu saja!" ucap Damar sebelum mengakhiri panggilan.


Damar bergegas pergi menuju Apartemen Yuri, ia mengambil jas yang menggantung di standing hanger setelah itu melesat keluar.


Di depan pintu lift yang terbuka, Damar dan Erick saling bertemu. Erick memanggil Damar yang saat itu tak melihatnya.


"Anda mau pergi kemana, Bos?" tanya Erick segera.


"Aku akan pergi sebentar." Jawabnya singkat tanpa menjelaskan tujuan kemana perginya.


"Saya antar!" tawar Erick.


Menggelengkan kepala. "Tidak perlu, kau selesaikan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan lama." Tolak Damar.


Pintu lift tertutup begitu saja saat Erick belum menyelesaikan pembicaraannya yang ingin menanyakan perihal Aleta.


...***...

__ADS_1


Damar berhenti di lahan parkir yang ada di basement Apartemen. Ia segera turun dan melangkah cepat menuju ruang penginapan Yuri.


Setibanya di depan pintu penginapan, Damar menekan bel yang letaknya di samping pintu. Yuri pun membukakan pintu untuk Damar. Terlihat Yuri memakai pakaian tidur berjenis robe berbahan satin dengan warna soft purple.


"Damar, akhirnya kau datang," ucapnya seraya memegangi perutnya.


"Aku antar kau ke Rumah Sakit," ajak Damar tanpa basa-basi.


"Iya, kau masuklah dulu! aku akan berganti pakaian." Pinta Yuri palsu.


Damar melangkah masuk ke dalam dan duduk di antara sofa untuk menunggu Yuri.


"Aaahhh!!!"


Terdengar jerit Yuri dari dalam kamarnya, cepat-cepat Damar menghampiri Yuri karena terkejut mendengar suara jerit itu. Damar memerhatikan Yuri yang terduduk di lantai kamarnya dan segera menolong Yuri untuk berdiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Damar saat berjongkok.


"Aku terpeleset, kaki ku sakit!" dalih Yuri dengan raut wajah meringis yang di buat-buat.


"Aku bantu kau berdiri," ucap Damar sambil merangkul pinggang Yuri.


"Aahh!!" rintih palsunya dengan berpura-pura menjatuhkan tubuh di dada bidang Damar.


"Kaki ku sangat sakit!" kilahnya memancing Damar.


Melihat Yuri sulit berjalan, Damar pun berinisiatif untuk segera mengangkat tubuhnya dengan gaya bridal style. Di bawanya Yuri untuk bersandar di atas ranjang.


Tak ingin membuang-buang kesempatan, Yuri dengan cepat menarik tengkuk leher Damar untuk mendekat ke arahnya.


"Temani aku malam ini, Damar," bisik Yuri dengan nada menggoda.


Damar melepaskan rangkulan tangan Yuri pada lehernya secara paksa, rupanya saat ini Damar mengetahui tujuan Yuri yang memintanya untuk datang.


"Ku rasa kau sudah sehat sekarang," elak Damar tak ingin menggubris rayuan Yuri.


"Aku benar-benar sakit!" ucapnya teguh, bersikeras untuk membuat Damar mempercayainya.


Tak ingin mendengar omong kosong Yuri, Damar bersiap melangkah namun cepat-cepat Yuri berlari ke arah pintu untuk menutup pintu tersebut lalu menguncinya.


Melihat kebohongan Yuri yang mengatakan bahwa ia tidak bisa berdiri dan berjalan, membuat Damar marah dan kecewa karena telah tertipu. Ia tak menyangka bahwa Yuri yang sekarang sangatlah berbeda dari Yuri yang dulu ia kenal.


"Buka pintu itu sekarang!" perintah Damar dengan nada kesal.


"Aku tidak akan membukanya, sampai kau mau menemani ku malam ini," balasnya tak takut sedikit pun.


"Berhenti bicara omong kosong." Tegas Damar geram.


"Kalau kau benar-benar ingin pergi, silahkan ambil kunci ini sendiri!" ujar Yuri seraya memasukan kunci pintu itu ke dalam belahan dada pada baju tidurnya.


Damar mengeraskan rahang giginya sambil berkata, "Sial!"

__ADS_1


Sementara Yuri terkekeh penuh kemenangan.


...💕💕💕...


__ADS_2