Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
35 - Bertemu Ayah


__ADS_3

..."Percaya pada diri sendiri, meski mungkin saat ini aku sedang bersedih. Karena penyemangat terbesar dalam hidupku adalah diriku sendiri."...


...__________...


Erick memberikan semua laporan mengenai urusan perusahaan dan Yuri. Ia memberitahu bahwa Yuri sempat datang ke ruangan untuk mencari Damar.


"Tampaknya dia kecewa saat aku mengatakan anda sedang bersama Nona." Perjelas Erick.


"Biarkan saja, kau melakukannya dengan baik," puji Damar padanya.


"Dan satu lagi, saya sudah menemukan alasan Nona meminjam tablet itu."


Damar dengan seksama mendengar penuturan Erick mengenai Aleta.


"Nona sengaja meminjamnya, karena ingin melihat data melalui flashdisk dengan bentuk peluru!" terangnya setelah mengetahui dari Gio anak laki-laki sang pemilik tablet.


Mendengar Flashdisk peluru, membuat Damar segera memeriksa benda itu dari kotak yang ia sembunyikan. Untungnya flashdisk itu masih aman tersimpan di dalam kotak.


Setelah sebelumnya Aleta berhasil mengembalikannya ke tempat semula saat Damar tertidur pulas di kamar akibat kurang sehat, waktu itu.


"Flashdisk ini masih aman tersimpan di sini, lalu flashdisk siapa yang dimaksud anak itu?" tanya Damar sambil berpikir keras.


"Saya kurang tahu pasti, tetapi anak laki-laki itu tak ingin meminjamkan tabletnya pada saya." Jelasnya.


"Temui aku dengannya nanti!" perintah Damar.


"Baik, Bos." Erick mengangguk paham dan berpamitan untuk keluar dari ruang kerja Damar.


...***...


Lautan bintang-bintang yang indah malam itu, membawa Aleta dan Damar ke dalam sebuah suasana yang tak mampu diungkapkan. Suara hati kecil mereka seakan berontak, berontak untuk menyikap tebalnya tirai yang menghalangi jalan pikirnya. Rasa itu mulai membelenggu dan memenjarakan kedua hati mereka.


Ketika cinta itu datang menggoda keduanya dan merasa terjebak diantaranya, namun hati masih terus terbelenggu akan sebuah tanya, apakah memang benar itu cinta atau hanya sebuah ***** belaka.


"Aarggghhhh!!!" pekik keduanya di kamar yang berbeda.


Keduanya sama-sama merasa frustasi setelah mengingat tragedi es krim itu, saling bersembunyi di balik selimut tebal agar dapat segera tidur dan melupakan kejadian itu.


Ting!!


Ponsel Damar berbunyi dan memunculkan notifikasi pesan masuk yang di kirim oleh Yuri.


°Yuri°

__ADS_1


Bisakah kita bertemu, selepas istirahat makan siang mu di Kantor? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.


^^^°Damar°^^^


^^^Baiklah.^^^


°Yuri°


Ok. Selamat malam Damar, sampai jumpa besok!


^^^°Damar°^^^


^^^Ya, selamat malam.^^^


Pesan berakhir diikuti Damar yang langsung tertidur begitu saja karena rasa lelahnya, akibat mengayuh perahu bebek. Matanya terpejam rapat-rapat sambil mendengkur halus.


Sedangkan Aleta memikirkan cara untuk bisa lebih cepat menemukan keberadaan sang Ayah sebelum Damar yang lebih dulu mengetahuinya. Sepintas ingatannya kembali akan ucapan Kemal yang dianggapnya tahu akan keberadaan sang Ayah saat ini.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menemui pria bertongkat itu?" batin Aleta berpikir keras.


Bukannya menemukan ide, Aleta justru tertidur dengan sendirinya. Matanya perlahan mulai terpejam meski masih setengah sadar dan lambat laun akhirnya ia mulai memasuki dunia mimpinya.


...***...


Dan selang kemudian Aleta mendapatkan ide. Ia berencana mengunjungi panti asuhan dengan alasan rindu dengan tempat itu, walau terdengar klasik tapi mau tak mau ia harus melakukannya.


Aleta meminta sang Penjaga untuk menelepon Erick, guna menyampaikan pesan pada Damar mengenai perizinannya. Damar pun mengizinkan Aleta untuk pergi ke tempat itu, namun harus didampingi Penjaga dan Sopir untuk memastikan dirinya tak pergi secara diam-diam.


"Apa saya harus mengikutinya, Bos?" tanya Erick di sela-sela makan siangnya.


"Ya, ikuti dia. Kau hanya perlu memantau dari kejauhan, jangan sampai dia tahu kalau kau sedang membuntutinya." Perintah Damar.


"Baik, saya mengerti." Ucap Erick sebelum pamit undur diri.


"Sepertinya cara itu lebih baik. Aku hanya perlu mengizinkannya pergi, agar aku tahu dimana si Tua Bangka itu bersembunyi!" monolognya sambil menyeringai.


.


.


.


.

__ADS_1


Setibanya Aleta di Rumah Kasih, ia bergegas menuju ruang Kemal. Tak ingin basa-basi, Aleta langsung menanyakan keberadaan Ayahnya pada Kemal.


"Buru-buru sekali, santai saja dulu. Kita bisa bicarakan hal yang lain, agar kau lebih mengenalku." Rayunya.


"Aku tidak suka basa-basi, lebih baik kau katakan saja padaku, dimana dia sekarang!" gertak Aleta memandang tajam Kemal yang terduduk santai.


"Baiklah, jika kau memaksaku. Aku akan memberitahu dimana Ayahmu saat ini!" ucap Kemal.


Membuka laci dan melemparkan sebuah kartu nama di atas meja. "Ambil itu dan temui Ayahmu." Lanjutnya.


Aleta mengambil kartu nama yang memperlihatkan nama sang Ayah dan juga alamat tempat tinggalnya. Begitu melangkah Kemal mencoba menghentikannya.


"Apa kau yakin akan pergi menemuinya dengan orang-orang di luar itu?" tanya Kemal menginterupsi.


Aleta berpikir sejenak apa yang Kemal katakan memanglah benar, ia tidak mungkin meminta sang Supir dan bodyguard Damar untuk mengantarnya menemui sang Ayah.


Kemal menawarkan bantuan, ia memberikan kunci mobil milik panti untuk digunakan Aleta, agar bisa lolos dari pengawasan Anak Buah Damar. Aleta bergegas keluar melalui pintu samping yang tak di ketahui siapapun, dengan mengenakan topi dan masker tidak akan memudahkan seseorang untuk mengenali dirinya.


Dan akhirnya Aleta berhasil menaiki mobil tersebut yang kemudian melaju perlahan menuju gerbang panti. Ia sedikit cemas dan ragu saat melewati Sopir dan Penjaga yang menunggu di dekat mobil.


Perlahan namun pasti mobil grandmax akhirnya lolos dari tangkapan sang Anak Buah. Aleta bernapas lega, namun tidak sama dengan Erick yang terus memantau dari dalam mobil di luar pintu gerbang.


Erick menelisik lebih jauh siapa orang yang berada di dalam mobil tersebut, sebab tak biasanya mobil panti di pergunakan bebas oleh orang yang tak membawa satupun penumpang di dalamnya. Beruntung kaca mobil itu terlihat gelap dari luar sehingga menyulitkan Erick untuk memperhatikannya.


"Ku harap itu bukanlah, Nona Aleta!" harapnya sembari terus memantau dari dalam mobil.


...***...


Dengan berbekal kartu nama, Aleta pun tiba di tempat alamat yang tertera di kartu nama tersebut. Ia memarkirkan mobil di depan gerbang tua yang kemudian melangkah keluar untuk menghampiri rumah yang terlihat cukup usang dan tak berpenghuni.


Dibukanya gerbang yang tak terkunci itu—menilik keadaan rumah yang tak layak huni. Halamannya memang cukup luas namun sayangnya dedaunan kering tertimbun menutupinya, sehingga terlihat sedikit menyeramkan.


Tok!!


Tokk!!


Aleta mengetuk pintu, perasaanya mulai bercampur aduk. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika yang ditemuinya saat ini memanglah benar Ayahnya. Ayah yang sudah sekian lama tak pernah lagi ia lihat.


Bagaimana kabarnya dan entah dengan siapa ia tinggal, semua terpikirkan olehnya begitu melihat keadaan rumah yang sangat menyedihkan.


Kreeek...


Pintu usang itu terbuka perlahan hingga memperlihatkan seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. Aleta tertegun saat melihatnya, matanya membulat lebar namun mulutnya terkunci rapat.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


__ADS_2